Friday, October 11, 2019

Pengamanan pejabat negara …

Peristiwa yang mengejutkan terjadi kemarin. Seorang pejabat negara sekelas Menko Polhukam di Menes Pandeglang Banten ditusuk oleh seseorang dimana ini merupakan peristiwa sangat langka di tanah air meskipun di beberapa bagian dunia yang lain pernah beberapa kali terjadi. Sekelas Presiden bahkan Perdana Menteri pernah terluka ataupun terbunuh karena berbagai sebab, mungkin akibat kebijakan-kebijakan yang diambilnya yang merugikan pihak peluka atau pembunuh atau kelompoknya atau masyarakat luas. Di  AS ada Presiden Ronald Reagan dan John F. Kennedy, PM Benazir Bhutto di Pakistan, PM Rajiv Ghandi di India, Anwar Sadat di Mesir, Moammar Khadaffi di Libya, dll. Orang-orang di pucuk pimpinan suatu negeri pasti banyak diterpa angin kencang baik karena motif ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan hankam. Peluang sekecil apapun kadangkala dimanfaatkan oleh lawan politiknya atau orang-orang yang berseberangan dengan kebijakannya atau orang-orang yang sakit hati dan dendam untuk melampiaskan kekesalan dan kemarahannya yang kadangkala dilakukan dengan cara-cara destruktif. Seperti tidak ada toleransi terhadap kekeliruan sekecil apapun oleh pejabat publik karena pejabat publik dianggap sebagai orang yang sempurna (tidak boleh salah sekecil apapun ucapan dan tindakannya). Pokoknya sudah harus seperti manusia dewa; suatu tindakan yang keliru karena tidak pernah ada manusia yang sempurna meskipun diciptakan sempurna oleh Allah SWT. Dianggap seperti mesin yang sudah diprogram sempurna sehingga tidak boleh ada kesalahan sekecil apapun padahal sebagai manusia kadangkala ada rasanya lelah dan capai karena banyak kepentingan publik yang diurusnya. Mesin saja butuh istirahat apalagi manusia. Kejenuhan karena hal yang sama terus menerus cenderung bisa menyebabkan seseorang salah ucap, salah bertindak dll yang akhirnya kadangkala merasa serba salah dalam meresponnya. Hal ini berbeda dengan peraturan atau pernyataan tertulis yang memang dituntut untuk sempurna bahkan karena typo sekalipun. Meskipun semua itu merupakan tuntutan yang wajar-wajar saja. Salah satu ukuran suatu peraturan atau kebijakan baik adalah jika tidak sampai timbul gejolak yang tidak terkendali. cmiiw
Di era sekarang ini, teknologi informasi begitu mendukung terjadinya percepatan baik dalam hal positif maupun negatif. Suatu peristiwa di suatu tempat bisa tersampaikan dengan hitungan detik ke berbagai belahan dunia lainnya yang mengundang respon yang beragam. Ibarat gelombang yang berkejaran. Ditambah lagi berita yang sudah berlalu kadangkala diungkap lagi karena orang-orang yang terlambat dalam menanggapinya. Misalnya berita yang telah berlalu yang kasusnya sudah selesai diungkap lagi ke permukaan atau banyaknya berita hoaks yang sengaja disebarkan untuk mengelabui orang yang belum cepat move on. Orang yang belum cepat move on seringkali akan merespon dengan tindakan yang destruktif dan anarkis sehingga merugikan publik yang kemudian ikut-ikutan panas. Ditambah lagi bila kemudian ada pihak yang mengompori misalnya politikus atau media massa yang menulis tanpa cek dan ricek serta cross check atau yang kemudian dikenal dengan istilah jurnalisme predator maka jadilah seperti api yang disiram bensin. Terkadang kita akan kehabisan energi untuk mengatasi hal-hal semacam ini sehingga pembangunan menjadi tertunda atau bahkan fasilitas umum dan pribadi yang ada juga turut rusak. Siapa yang dirugikan? Kita semua!!! Negara lain sudah melangkah lebih cepat, kita masih jalan di tempat karena mengurus yang begitu-begitu dan itu-itu saja yang tidak pernah bisa selesai karena kita memang bangsa yang sangat majemuk, jauh lebih majemuk daripada bangsa-bangsa lain di dunia ini. Tidak bisakah kita berlapang dada menerima fakta yang sesungguhnya dan memberi kesempatan yang sedang memegang amanah rakyat untuk menjadi pejabat negara?? Saya yakin kita semua bisa. Kalau tidak bisa ya usahakan sebisa-bisanya berpijak pada kenyataan.
Sudah saatnya bagi kita semua untuk berperan serta aktif dalam pembangunan dengan segala kemampuan dan fasilitas yang ada. Mengoptimalkan semua potensi sambil tetap memikirkan langkah-langkah strategisnya dalam mencapai tujuan pembangunan nasional. Kedekatan antara pejabat negara/pemerintah dan rakyat (pejabat yang merakyat) ini jangan sampai berubah karena noda peristiwa di Pandeglang tersebut. Sistem prosedur operasi standard (SOP) meski tetap ditegakkan dengan tegas dan disiplinserta terukur tapi tidak sampai menyebabkan jurang pemisah antara pemimpin dan rakyatnya. Peristiwa yang terjadi merupakan kehendak Illahi Robbi, jadi setelah semua hal kita coba benahi dan usahakan sebaik-baiknya namun pada akhirnya hanya Allah SWT yang maha menentukan segalanya.


No comments:

Post a Comment