Saturday, October 31, 2020

Bencana hidrometeor

 Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia sudah mengalami musim penghujan. Bagi kalangan tertentu, ini merupakan berita yang sangat menggembirakan, namun mungkin tidak bagi kalangan yang lain. Pembangunan bidang pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan dan lingkungan hidup dll tentu merupakan berita yang bagus karena bisa melakukan aktivitasnya dengan baik, tidak terkendala oleh cuaca dan musim. Namun bagi kegiatan infrastruktur luar ruangan, ini berita yang agak kurang menggembirakan karena pekerjaan bisa tertunda. Semoga tulisan saya terdahulu yang menyatakan bahwa kita harus menyesuaikan kegiatan pembangunan dengan cuaca musim dan iklim benar-benar dilaksanakan sehingga terjadi efisiensi dalam penganggaran, waktu dan sebagainya. Meskipun mungkin dengan adanya bencana hidrometeor bisa berdampak pada pembangunan infrastruktur baru namun dengan adanya hujan yang mungkin akan turun hampir setiap hari maka tetap saja akan terpengaruh berbagai kegiatan di dalamnya. 

Saya sengaja mengatakan bencana hidrometeor, bukan hidrometeorologi mengingat bahwa hidrometeorologi adalah ilmu tentang hidrometeor. Jadi semestinya bencananya adalah bencana hidrometeor, bukan bencana hidrometeorologi. Karena sudah salah kaprah maka akhirnya banyak orang menyebutnya sebagai bencana hidrometeorologi. Itu sekelumit kisah mengapa saya menuliskannya sebagai bencana hidrometeor. 

Kembali ke hal yang sudah saya sampaikan di atas. Saat ini pengembangan pertanian sangat diuntungkan dengan adanya hujan. Pada saat kemarau kemarin, kekeringan melanda sejumlah wilayah bahkan dikhawatirkan timbul bencana kebakaran hutan dan lahan. Kekeringan sendiri mempunyai 4 jenis yakni kekeringan meteorologi, hidrologi, pertanian dan sosial ekonomi. Tiadanya hujan karena siklus air yang tidak berjalan dengan baik menjadikan lahan pertanian tidak bisa berproduksi optimal sehingga berdampak pada sosial ekonomi masyarakat. Dengan kecukupan air semestinya dikembangkan tanaman-tanaman yang membutuhkan air banyak atau tanaman yang berdaun lebar serta bisa pula berbudidaya mina padi. Suatu sistem yang menggabungkan antara tanaman dan hewan yang saling menguntungkan. Tanaman padi mendapatkan pupuk dari kotoran ikan, sedangkan ikan 

mendapatkan bahan pangan dan oksigen dari tanaman. Hama dan penyakit tanaman akan terkurangi potensi keberadaannya karena adanya mina (ikan). Pola-pola pertanian ganda semacam ini sebenarnya sangat dibutuhkan mengingat bisa merupakan langkah intensifikasi pertanian dimana bila dilakukan secara masif akan bisa meningkatkan produktivitas. Peternakan yang disandingkan dengan budidaya tanaman akan sangat menguntungkan juga mengingat ada simbiosis mutualisma yang terjadi. Ini merupakan pertanian yang ramah lingkungan dan mengorganisasikan seluruh potensi untuk dikembalikan ke alam, tidak menyisakan residu yang berarti. Masyarakat akan diuntungkan dengan sistem LEISA (low external input and sustainable agriculture) ini. Inilah saatnya untuk menggenjot produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan tidak menggantungkan diri pada import. Kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan harus terus menerus diupayakan agar negara betul-betul otonom terhadap semua kebutuhan rakyatnya. Negara maju yang disokong dengan kedaulatan pangan akan merupakan negara yang disegani. Gemah ripah loh jinawi, titi tentrem kerto raharjo. Subur makmur damai sejahtera dunia dan akheratnya.

Sunday, October 11, 2020

La Nina 2020

 Pertanyaan yang sampai sekarang menggelitik saya yang bergelut dengan meteorologi dan klimatologi sejak puluhan tahun yang lalu seperti yang pernah saya tulis dalam buku "Benarkah pemahaman anda tentang El Nino dan La Nina??" tahun 1998 adalah apakah yang bisa dilakukan ketika mendengar ada El Nino dan La Nina?? BANYAK! Setidak-tidaknya kita bisa berjaga-jaga atas segala kemungkinan yang terjadi terhadap bencana yang ditimbulkan akibat keduanya. Mengingat bahwa saat ini adalah saat terjadinya La Nina dimana bila anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 adalah kurang dari -0,5 terjadi selama 3 bulan berturut-turut. Lautan di wilayah Indonesia pada saat La Nina adalah relatif lebih hangat daripada biasanya, sedangkan di wilayah samudra Pasifik bagian tengah dan timur mendingin. Mekanisme terkait dengan La Nina ini telah secara gamblang disampaikan dalam buku di atas dan buku "Cuaca, musim dan iklim tropis" tulisan saya. 


Bencana yang mengiringi terjadinya La Nina adalah bencana banjir, banjir bandang, tanah longsor,  puting beliung, dan banyak petir akibat banyak terbentuk perawanan besar yang berada di atas wilayah Indonesia. Bisa dipahami mengingat pola konvergensi angin yang membawa uap air dan penguapan yang besar dari perairan Indonesia yang hangat meningkatkan pembentukan awan hujan. Wajar bila bencana-bencana seperti telah tersebut di atas jumlahnya meningkat. Jadi, tidak perlu lagi dijelaskan bagaimana harus bersiap-siap menghadapi bencana-bencana tersebut to? Saya yakin masyarakat sudah tahu apa yang harus dilakukan bila mendengar bahwa kemungkinan banjir, banjir bandang, puting beliun dan petir akan makin meningkat. Yang perlu disosialisasikan adalah bahwa bila mendengar tentang La Nina maka kemungkinan potensi bencana seperti tersebut di atas meningkat.

Di bidang pertanian, curah hujan yang meningkat bisa dimaknai dengan kalender tanam yang berubah atau penggunaan tanaman-tanaman tertentu yang lebih banyak membutuhkan air. Petani garam yang membuka ladang garam, siap-siap untuk sementara waktu tidak bisa melakukan panen garam. Nelayan perlu diingatkan bahwa angin tenggara sampai angin timur menguat mengingat pusat tekanan rendah di Pasifik tenggara menguat dan siap-siap melaut dengan cuaca yang hangat dan basah. Pembangunan infrastruktur juga akan mengalami masalah dengan adanya musim yang lebih basah daripada biasanya. Silahkan dirinci untuk setiap kementrian, apa saja yang mesti dilakukan dengan cuaca dan musim seperti itu.