Tuesday, August 25, 2026

Kondisi terkini musim kemarau di Indonesia

 Kebakaran hutan di Indonesia melanda pulau pulau besar dimana saat ini ribuan titik api terdeteksi. Bisa dipahami mengapa demikian, terlepas dari fakta bahwa ada orang suruhan dari korporasi (besar) swasta yang memanfaatkan kondisi dengan membakar hutan karena ini merupakan cara mudah untuk membuka lahan. Terlepas dari upaya law enforcement yang ditempuh pemerintah untuk mengatasi hal ini, sejumlah usaha telah dilakukan pemerintah meskipun dengan hasil yang masih sangat jauh dari harapan. 

Kalau kita menengok Kondisi anomali suhu permukaan laut saat ini di perairan Indonesia dan Pasifik serta Hndia, kita jumpai bahwa wilayah Nino 1, 2, 3 dan 3.4 menunjukkan penyimpangan suhu yang besar, bahkan di beberapa kawasan melampaui 2,5 bahkan 3 derajat Celcius. Ini tentu saja sudah sangat super sehingga menyebabkan berbagai penyimpangan atau anomali cuaca dan iklim di seluruh dunia. Sementara itu di perairan Indonesia suhunya relatif dingin sehingga menghambat pembentukan awan hujan. Curah hujan yang tidak turun ke permukaan wilayah Indonesia dalam waktu cukup lama menyebabkan kekeringan yang memicu karhutla. Segala upaya telah dilakukan pemerintah seperti water bombing, cara cara pemadaman manual juga dilakukan sementara modifikasi cuaca hujan buatan belum menghasilkan dampak signifikan karena tidak tersedianya awan berpotensi hujan dan kelembapan relatif udara yang rendah. Kalau melihat anomali suhu permukaan laut seperti yang digambarkan di atas, kita masih harus bersabar. Memang, cara modifikasi cuaca jauh lebih efektif dibanding water bombing (perhitungannya bisa dilihat pada postingan sebelumnya dengan kata kunci: karhutla) namun modifikasi cuaca akan berhasil ketika dilakukan pada saat peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, jadi sekitar bulan September/Oktober mendatang. 

Prakiraan wilayah wilayah yang mengalami curah hujan sangat rendah sehingga memicu kondisi makin kering bulan September 2026 mendatang (sumber: BMKG)

Itupun dengan syarat monsoon Asia lebih kuat dibanding pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD) dan ENSO/El Nino dalam arah zonal. Kalau sebaliknya maka tampaknya kekeringan akan merupakan makanan sehari hari sampai awal tahun depan. Tapi saya yakin bahwa hal yang dikhawatirkan terakhir tersebut tidak akan terjadi mengingat sebagian besar wilayah Indonesia bertipe curah hujan monsoonal. 

Tuesday, July 7, 2026

Mahasiswa ITB sadar jejak karbon

Perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam membangun nalar publik yang sehat dan kritis, serta berfokus pada kepentingan masyarakat. Di tengah derasnya arus informasi dan persoalan sosial yang kompleks, kampus harus menyediakan ruang diskusi yang ilmiah dan terbuka, serta berintegritas. Melalui pendidikan dan penelitian, perguruan tinggi dapat mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten tetapi juga mampu berpikir rasional dan menghargai perbedaan.

Lebih jauh, perguruan tinggi berfungsi sebagai laboratorium solusi bangsa, melahirkan inovasi yang menjawab tantangan zaman, seperti ketimpangan ekonomi dan krisis lingkungan. Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat sangat penting untuk menghasilkan penelitian aplikatif yang berdampak langsung. Dengan demikian, perguruan tinggi harus keluar dari menara gading dan menjadi pusat penggerak perubahan, berkontribusi nyata dalam kemajuan sosial dan demokrasi bangsa.

Dalam hal perubahan iklim, hal yang bisa dilakukan perguruan tinggi banyak sekali dan  bisa sangat membumi. Untuk mengetahui bagaimana perspektif mahasiswa terkait masalah tersebut, telah dilakukan survey beberapa waktu yang lalu tentang jejak karbon mahasiswa ITB peserta MK Perubahan iklim  dan bagaimana komitmen mereka dalam mengurangi jejak karbon tersebut. Profil peserta pengisi survey tersebut bisa disajikan sebagai berikut:

· STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika): 18 peserta (31%)
· FTI (Fakultas Teknologi Industri): 15 peserta (26%)
· FTMD (Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara): 9 peserta (15%)
· FTTM (Fakultas Teknik Tambang dan Perminyakan): 7 peserta (12%)
· SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen): 5 peserta (9%)
· FTSL (Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan): 4 peserta (7%)
· FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam): 1 peserta (2%)

Terkait jejak karbon dan target pengurangannya bisa dinyatakan bahwa:
· Jejak karbon individu bervariasi cukup luas, dari kurang dari 1 ton CO2-eq hingga lebih dari 17 ton CO2-eq per tahun.
· Target pengurangan emisi karbon juga bervariasi, dari nol hingga lebih dari 4 ton per tahun.
· Mayoritas peserta melakukan pengurangan emisi dari kegiatan seperti transportasi, daya rumah tangga, makanan, alat rumah tangga, dan sampah.

Berkaitan dengan industri besar yang terkait dengan bidang studinya maka mahasiswa merespon sebagai berikut:
· Industri besar yang paling banyak disebut terkait dengan program studi adalah: teknologi informasi, energi (minyak dan gas, petrokimia, panas bumi), pertambangan, dirgantara, dan manufaktur.
· Nama perusahaan besar yang paling banyak muncul: Google, Microsoft, Boeing, Pertamina, PT Freeport, ArcelorMittal, dan beberapa perusahaan besar lain sesuai bidang.

Ketika ditanyakan tentang emisi karbon Perusahaan tersebut dan teknologi pengurangannya, mereka menjawab sebagai berikut:
· Emisi karbon perusahaan besar berkisar dari sangat kecil (misalnya ratusan ribu ton CO2-eq) hingga sangat besar (puluhan hingga ratusan juta ton CO2-eq per tahun).
· Teknologi pengurangan emisi yang digunakan meliputi:
o Penggunaan bahan bakar ramah lingkungan (biofuel, SAF/Sustainable Aviation Fuel)
o Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS)
o Efisiensi energi (data center, produksi, dan operasi)
o Energi terbarukan (solar, angin, geothermal)
o Optimasi proses produksi dan penggunaan AI
o Pengurangan bahan bakar fosil dan elektrifikasi peralatan

Dengan demikian maka bisa disimpulkan bahwa:
  1. · Peserta survei menunjukkan kesadaran yang baik terhadap jejak karbon pribadi dan menetapkan target pengurangan yang realistis.
  2. · Pengurangan emisi dilakukan pada beberapa aspek utama yang berkontribusi paling besar terhadap emisi, yaitu transportasi dan penggunaan energi di rumah.
  3. · Industri yang menjadi fokus mayoritas peserta memberikan gambaran teknologi dan langkah-langkah nyata dalam pengurangan emisi karbon, yang dapat menjadi contoh bagi individu dan organisasi lain.
  4. · Rekomendasi:
o Memperkuat edukasi dan kampanye pengurangan jejak karbon di kalangan mahasiswa.
o Mendorong adopsi teknologi hijau di tingkat individu maupun institusi.
o Membuat program kolaborasi antara fakultas dengan perusahaan terkait untuk riset dan pengembangan teknologi rendah karbon.