Monday, December 28, 2020

Bencana nasional 2020

 Akhir tahun 2020 ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis berita bahwa selama kurun waktu satu tahun ini telah terjadi 2921 bencana alam di seluruh tanah air dimana 1064 kejadiannya berupa bencana alam banjir. Jadi lebih dari sepertiga bencana alam berupa banjir. Ini tentu saja peristiwa yang tidak mengenakkan dan menyengsarakan bagi masyarakat terdampak. Rinciannya adalah 16 gempa bumi, 7 letusan gunung api, 326 kebakaran hutan dan lahan, 29 kejadian kekeringan, 570 kejadian tanah longsor, 872 putting beliung, 32 gelombang pasang dan abrasi dan kejadian non alam yakni pandemi Covid-19 dimana sampai dengan hari ini kecenderungan jumlah penderitanya bertambah. Sebanyak 713.365 orang terkonfirmasi terkena Covid. Lebih dari 21 ribu jiwa meninggal dunia dengan tingkat kesembuhan mencapai lebih dari 580 ribu orang.

 

Urutan kejadian bencana alam didominasi oleh Sumatera, diikuti oleh Jawa, Kalimantan dan Papua. Kerusakan total fasilitas public mencapai 1543 unit dimana 672 buah di antaranya berupa fasilitas pendidikan, 728 fasilitas ibadah dan 143 fasilitas kesehatan. Lebih dari 6 juta jiwa mengungsi dan 370 jiwa meninggal dunia, 39 hilang dan luka-luka sebanyak 356 orang.

Generasi muda dan kebencanaan

 Latar belakang dan motivasi

Abad 21 merupakan abad teknologi informasi; setiap orang dari mulai balita sampai orang-orang jompo terpapar oleh informasi yang disampaikan melalui media masa dan media sosial. Selama 24 jam sehari, pemberitaan dan pertukaran informasi terjadi melalui media elektronik dan media cetak. Oleh karena itu seolah-olah tidak ada batas negara dalam hal informasi. Namun informasi-informasi tersebut bercampur aduk, ada yang benar dan ada pula yang salah/hoaks. Bahkan tidak jarang informasi diselewengkan untuk tujuan-tujuan yang tidak benar dan merusak. Karenanya dibutuhkan filter dan tameng untuk melindungi masyarakat dari informasi yang tidak benar dan merusak tersebut dengan memberikan pemahaman yang benar salah satunya tentang kebencanaan kepada generasi muda. Peran dari penyampai berita baik perorangan maupun lembaga tentu sering menyebabkan kekisruhan di masyarakat. Dengan perkembangan teknologi yang demikian pesat, peroranganpun bisa menjadi penyampai berita yang sangat cepat. Ini merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat khususnya generasi mudanya dan awak media dalam meningkatkan mutu pemberitaan. Diharapkan dengan meningkatkan pemahaman tentang bencana kebumian di Indonesia dan sekitarnya bagi para generasi muda di pondok-pondok pesantren ASWAJA maka sedikit demi sedikit pemahaman masyarakat dan generasi muda akan masalah kebencanaan menjadi lebih baik. Generasi muda  menjadi mitra strategis dalam menyampaikan berita tersebut

https://jakarta.bisnis.com/

Deskripsi masalah dan Tujuan

Beberapa tahun terakhir ini fenomena cuaca dan iklim ekstrim seperti banjir, kekeringan, angin kencang, angin puting beliung dan siklon tropis serta bencana kebumian yang lain seperti gempa bumi, letusan gunung api, tsunami makin sering melanda dunia. Pemberitaan tentang hal tersebut dapat dijumpai di berbagai macam media masa seperti koran, majalah, buletin, televisi, radio dan media sosial lainnya seperti twitter, facebook, dll. Dengan demikian maka hampir semua kalangan masyarakat terpapar oleh pemberitaan tersebut. Namun sayangnya, sering pemberitaan tersebut tidak tepat sehingga informasi yang diterima masyarakat juga tidak tepat. Akibatnya pemahaman masyarakat tentang fenomena cuaca dan iklim serta bencana kebumian yang lain menjadi tidak tepat juga. Ini merupakan tanggungjawab kita bersama; pemerintah, dunia pendidikan yang terkait dengan ilmu dan teknologi kebumian, masyarakat khususnya generasi muda  dan media masa (khususnya wartawan) untuk meluruskannya.

Pemberitaan yang sering tidak tepat menggelitik kami untuk mencoba meningkatkan mutu dan meluruskannya melalui kegiatan ceramah interaktif ke pondok-pondok pesantren ASWAJA agar generasi muda kita melek atau paham tentang bencana-bencana tersebut yang terjadi di Indonesia. Diharapkan ada efek bola salju dari kegiatan ini dalam memahami fenomena alam dan mensikapinya.

Metodologi

Pemahaman masyarakat tentang bencana kebumian khususnya akibat cuaca dan iklim akan sedikit demi sedikit menjadi lebih baik karena perbaikan pemahaman generasi muda tentang berita yang sampai kepada mereka. Ini karena setiap saat warga masyarakat terpapar oleh berita, tidak terkecuali berita tentang bencana alam tersebut. Oleh karena itu, santriwan dan santriwati pondok pesantren ASWAJA merupakan mitra strategis bagi perguruan tinggi. Berita dan informasi tersebut akan dengan cepat dapat diluruskan bila semakin banyak generasi muda memahami dengan benar dan saling bahu membahu  bekerjasama dalam menyampaikan berita dan informasi yang benar kepada masyarakat luas melalui berbagai forum dan media.

Target luaran: video pembelajaran dan buku serta publikasi di media massa

Kelompok sasaran : generasi muda pontren ASWAJA di Jabar, Jateng, DIY dan Jatim serta propinsi-propinsi lain di Indonesia

Outcome:

Diharapkan dengan mengikuti kegiatan ini pemahamansantriwan/santriwati pontren ASWAJA tentang bencana kebumian makin meningkat.