Berbagai langkah yang bisa dilakukan oleh generasi muda kita, para mahasiswa sesuai dengan bidang atau fakultasnya bisa disajikan di bawah ini. Ini merupakan contoh positif mengingat aksi iklim akan lebih bermakna dan memberikan kontribusi nyata dalam upaya mereduksi laju perubahan iklim, tidak hanya sekedar omon omon semata. Sudah selayaknya bila hal ini bersifat melembaga sehingga dampaknya akan dirasakan lebih nyata oleh masyarakat pada berbagai skala ruang dan waktu.
Obyektif, Independen, Sportif, Berpikir Positif, Berjiwa BESAR
Sunday, October 4, 2026
Monday, September 7, 2026
Webinar Sedekah Ilmu : Karhutla 2026
Untuk keempat kalinya, kami menyelenggarakan webinar sedekah ilmu, suatu gerakan berbagi ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas, tidak hanya di kalangan kampus, tetapi juga masyarakat umum dari lintas keilmuan, budaya, dan generasi dalam menanggapi permasalahan yang terjadi di publik. Keresahan-keresahan yang kami rasakan dalam kurun waktu tahun ini misalnya, adalah adanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus-menerus merusak lingkungan dan berdampak buruk pada berbagai bidang kehidupan. Sungai-sungai besar yang mengering di Kalimantan, misalnya, membawa dampak buruk pada aktivitas perekonomian masyarakat. Jalur sungai yang selama ini dimanfaatkan untuk aktivitas masyarakat dan industri, seperti Barito, Mahakam, dan Kapuas, sudah tidak
dapat lagi dilalui. Ini tentu saja sangat memukul perekonomian pada skala lokal, bahkan nasional global. Contoh mudahnya adalah transportasi batu bara yang praktis berhenti karena tongkang tidak mampu membawanya ke tempat lain dan kandas di sungai. Batu bara ini dimanfaatkan oleh perusahaan dalam negeri dan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan energi dan lain-lain. Jika ada gangguan distribusi, maka Anda bisa membayangkan bagaimana dampak selanjutnya. Bila cuaca dan musim tidak bersahabat akibat El NiƱo super kuat dan Dipole Mode positif serta monsoon Australia, maka sulit untuk mengharapkan hujan sering. Upaya hujan buatan yang sesekali menghasilkan hujan masih jauh dari harapan karena memang bahan baku hujan buatan tidak selalu tersedia di atmosfer. Syarat agar berhasil adalah bila ada awan potensial (awan konvektif), aerosol yang higroskopik, dan kelembapan relatif udara mencapai level 75% ke atas pada ketinggian 850 sampai 500 mb. Saat musim monsun Asia berkuasa dalam beberapa waktu ke depan, diharapkan hujan akan bertambah sering terjadi dan karhutla akan bisa berhenti sama sekali. Dalam beberapa waktu ini, bila monsoon Asia lebih kuat pengaruhnya dibandingkan dengan ENSO dan IOD positif (saat ini netral), maka daerah berpola curah hujan monsoonal akan lebih cepat memadamkan karhutla. Ingat bahwa dampak ENSO, IOD, dan kombinasi keduanya tidak selalu sama di setiap wilayah. Wilayah Indonesia mempunyai 3 tipe curah hujan, yakni monsoonal (tipe A), ekuatorial (B) dan lokal (C) dimana penamaan wilayah tersebut menunjukkan efek apa yang mendominasi pengaruh hujannya.
Pada kesempatan yang kedua yang dikemukakan oleh Prof. Halmar Halide dari FMIPA Universitas Hasanuddin, dinyatakan bahwa posisi saat ini: perancangan model prediksi hotspot Kalimantan hingga 14 hari ke depan — menggunakan model-model Persistence, Climate-All, dan Phase-Space — menekankan pentingnya aspek mitigasi bencana melalui peringatan dini hotspot, dibandingkan dengan pemadaman kebakaran yang sudah membesar, meluas, dan menghabiskan biaya besar. Hasil permodelan menunjukkan bahwa keterampilan (skill) prediksi melalui nilai korelasi dan RMSE cukup berguna untuk lead time pendek, namun ketrampilan model menurun seiring bertambahnya prediction horizon (lead time). Model Phase-Space tetap kompetitif dan layak digunakan, meskipun ketidakpastian ramalan masih cukup besar. Hal ini menegaskan bahwa pendekatan berbasis embedding dimension dan delay time yang tak membutuhkan prediksi cuaca hingga 14 hari ke depan terbukti mampu menangkap dinamika kompleks hotspot untuk mendukung strategi mitigasi yang lebih proaktif.
Arah pengembangan ke depan: Untuk meningkatkan kualitas ramalan Phase-Space, salah satu strategi yang menjanjikan adalah penerapan metode ensemble yang dapat mengurangi variabilitas dan memberikan estimasi ketidakpastian prediksi hotspot terukur. Selain itu, pengembangan model prediktif ini perlu diperluas dari peramalan titik menjadi peramalan spasial, sehingga distribusi geografis hotspot dapat diprediksi secara lebih komprehensif. Dengan kombinasi ensemble dan cakupan spasial, model Phase-Space berpotensi menjadi alat operasional yang lebih handal dalam mendukung sistem peringatan dini, memperkuat mitigasi kebakaran hutan dan lahan, serta mengurangi ketergantungan pada pemadaman yang mahal dan berisiko. Terkait model yang Prof. Halmar sampaikan ini, bisa kontak langsung beliau atau melalui saya: wiratmo@itb.ac.id Berikut materi pemaparannya: https://drive.google.com/drive/folders/1Nc_TTJw07C7hKM1nYIywZ9yPtD8di6Jc?usp=sharing
Sunday, August 30, 2026
Kerahkan segenap usaha memadamkan karhutla
Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) sudah terjadi sejak beberapa waktu ini yang dipicu oleh suhu tinggi dan kelembapan relatif udara yang kecil serta campur tangan manusia yang memicu percikan api akibat membuang puntung rokok sembarangan, membiarkan pecahan kaca atau lensa berada di rerumputan atau perdu yang kering, dan pembakaran yang disengaja untuk memperluas area perkebunan dll. Suhu tinggi dan kelembapan relatif udara yang rendah memungkinkan fenomena El Nino super, Dipole mode positif dan monsoon Australia yang bertiup makin memudahkan memicu kebakaran.
Sejumlah langkah telah dilakukan, mulai dengan cara cara konvensional sampai dengan cara cara modern seperti water bombing, modifikasi cuaca, sampai dengan teknologi tepung singkong pemadam kebakaran. Kanal air di lahan lahan gambut yang semula akan digunakan untuk memudahkan penampungan air dihentikan karena dikhawatirkan bisa memicu karhutla yang makin besar akibat lahan gambut yang makin mengering.
Saturday, August 29, 2026
Kedaulatan energi harus diwujudkan!
Masalah energi merupakan hajat hidup kita bersama. Selama ini bahan bakar utama dalam negeri kita adalah bahan bakar fosil dimana ketersediaannya makin menipis dan sejak bertahun tahun yang lalu kita harus mengimportnya dari negara lain. Ketika negara negara penghasil minyak tersebut sedang mengalami perang maka mau tidak mau ketersediaan bahan bakar untuk dunia juga terganggu, tak terkecuali negara kita. Oleh karena itu maka selain mengoptimalkan bahan bakar fosil dalam negeri serta mencari sumber BBF baru di seluruh wilayah tanah air, kita juga harus mengoptimalkan potensi sumber daya energi baru terbarukan yang berasal dari berbagai sumber alam. Simak poster berikut ini:
Tuesday, August 25, 2026
Kondisi terkini musim kemarau di Indonesia
Kebakaran hutan di Indonesia melanda pulau pulau besar dimana saat ini ribuan titik api terdeteksi. Bisa dipahami mengapa demikian, terlepas dari fakta bahwa ada orang suruhan dari korporasi (besar) swasta yang memanfaatkan kondisi dengan membakar hutan karena ini merupakan cara mudah untuk membuka lahan. Terlepas dari upaya law enforcement yang ditempuh pemerintah untuk mengatasi hal ini, sejumlah usaha telah dilakukan pemerintah meskipun dengan hasil yang masih sangat jauh dari harapan.
Kalau kita menengok Kondisi anomali suhu permukaan laut saat ini di perairan Indonesia dan Pasifik serta Hndia, kita jumpai bahwa wilayah Nino 1, 2, 3 dan 3.4 menunjukkan penyimpangan suhu yang besar, bahkan di beberapa kawasan melampaui 2,5 bahkan 3 derajat Celcius. Ini tentu saja sudah sangat super sehingga menyebabkan berbagai penyimpangan atau anomali cuaca dan iklim di seluruh dunia. Sementara itu di perairan Indonesia suhunya relatif dingin sehingga menghambat pembentukan awan hujan. Curah hujan yang tidak turun ke permukaan wilayah Indonesia dalam waktu cukup lama menyebabkan kekeringan yang memicu karhutla. Segala upaya telah dilakukan pemerintah seperti water bombing, cara cara pemadaman manual juga dilakukan sementara modifikasi cuaca hujan buatan belum menghasilkan dampak signifikan karena tidak tersedianya awan berpotensi hujan dan kelembapan relatif udara yang rendah. Kalau melihat anomali suhu permukaan laut seperti yang digambarkan di atas, kita masih harus bersabar. Memang, cara modifikasi cuaca jauh lebih efektif dibanding water bombing (perhitungannya bisa dilihat pada postingan sebelumnya dengan kata kunci: karhutla) namun modifikasi cuaca akan berhasil ketika dilakukan pada saat peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, jadi sekitar bulan September/Oktober mendatang.
Itupun dengan syarat monsoon Asia lebih kuat dibanding pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD) dan ENSO/El Nino dalam arah zonal. Kalau sebaliknya maka tampaknya kekeringan akan merupakan makanan sehari hari sampai awal tahun depan. Tapi saya yakin bahwa hal yang dikhawatirkan terakhir tersebut tidak akan terjadi mengingat sebagian besar wilayah Indonesia bertipe curah hujan monsoonal.
Tuesday, July 7, 2026
Mahasiswa ITB sadar jejak karbon
Lebih jauh, perguruan tinggi berfungsi
sebagai laboratorium solusi bangsa, melahirkan inovasi yang menjawab tantangan
zaman, seperti ketimpangan ekonomi dan krisis lingkungan. Kolaborasi antara
dosen, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat sangat penting untuk menghasilkan
penelitian aplikatif yang berdampak langsung. Dengan demikian, perguruan tinggi
harus keluar dari menara gading dan menjadi pusat penggerak perubahan,
berkontribusi nyata dalam kemajuan sosial dan demokrasi bangsa.
Dalam hal perubahan iklim, hal yang bisa dilakukan perguruan tinggi banyak sekali dan bisa sangat membumi. Untuk mengetahui bagaimana perspektif mahasiswa terkait masalah tersebut, telah dilakukan survey beberapa waktu yang lalu tentang jejak karbon mahasiswa ITB peserta MK Perubahan iklim dan bagaimana komitmen mereka dalam mengurangi jejak karbon tersebut. Profil peserta pengisi survey tersebut bisa disajikan sebagai berikut:
· FTI (Fakultas Teknologi Industri): 15 peserta (26%)
· FTMD (Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara): 9 peserta (15%)
· FTTM (Fakultas Teknik Tambang dan Perminyakan): 7 peserta (12%)
· SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen): 5 peserta (9%)
· FTSL (Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan): 4 peserta (7%)
· FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam): 1 peserta (2%)
Terkait jejak karbon dan target pengurangannya bisa dinyatakan bahwa:
· Jejak karbon individu bervariasi cukup luas, dari kurang dari 1 ton CO2-eq hingga lebih dari 17 ton CO2-eq per tahun.
· Target pengurangan emisi karbon juga bervariasi, dari nol hingga lebih dari 4 ton per tahun.
· Mayoritas peserta melakukan pengurangan emisi dari kegiatan seperti transportasi, daya rumah tangga, makanan, alat rumah tangga, dan sampah.
Berkaitan dengan industri besar yang terkait dengan bidang studinya maka mahasiswa merespon sebagai berikut:
· Industri besar yang paling banyak disebut terkait dengan program studi adalah: teknologi informasi, energi (minyak dan gas, petrokimia, panas bumi), pertambangan, dirgantara, dan manufaktur.
· Nama perusahaan besar yang paling banyak muncul: Google, Microsoft, Boeing, Pertamina, PT Freeport, ArcelorMittal, dan beberapa perusahaan besar lain sesuai bidang.
Ketika ditanyakan tentang emisi karbon Perusahaan tersebut dan teknologi pengurangannya, mereka menjawab sebagai berikut:
· Teknologi pengurangan emisi yang digunakan meliputi:
o Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS)
o Efisiensi energi (data center, produksi, dan operasi)
o Energi terbarukan (solar, angin, geothermal)
o Optimasi proses produksi dan penggunaan AI
o Pengurangan bahan bakar fosil dan elektrifikasi peralatan
- · Peserta survei menunjukkan kesadaran yang baik terhadap jejak karbon pribadi dan menetapkan target pengurangan yang realistis.
- · Pengurangan emisi dilakukan pada beberapa aspek utama yang berkontribusi paling besar terhadap emisi, yaitu transportasi dan penggunaan energi di rumah.
- · Industri yang menjadi fokus mayoritas peserta memberikan gambaran teknologi dan langkah-langkah nyata dalam pengurangan emisi karbon, yang dapat menjadi contoh bagi individu dan organisasi lain.
- · Rekomendasi:
o Memperkuat edukasi dan kampanye pengurangan jejak karbon di kalangan mahasiswa.o Mendorong adopsi teknologi hijau di tingkat individu maupun institusi.o Membuat program kolaborasi antara fakultas dengan perusahaan terkait untuk riset dan pengembangan teknologi rendah karbon.
Tuesday, June 30, 2026
Mungkinkah gelombang panas bisa terjadi di Indonesia??
Tuesday, June 2, 2026
Ribut ribut tentang El Nino Super (lagi)
Sebenarnya masyarakat bisa memperoleh banyak informasi dari AI seperti yang saya cantumkan di bawah ini. Meskipun demikian peningkatan literasi informasi cuaca dan iklim di wilayah Indonesia harus terus menerus dilakukan agar masyarakat tidak bimbang dan ragu serta termakan hoaks yang disebarkan pihak tertentu. Edukasi semacam ini akan mengurangi kepanikan masyarakat tentang berbagai informasi cuaca dan iklim apalagi di awal tahun ini sejumlah pihak sudah menyebut El Nino Godzilla atau super El Nino. ENG ini bila bersuposisi dengan Dipole Mode positif yang kuat dan terjadi saat musim kemarau dimana angin dari wilayah Australia bertiup ke Asia maka akan makin besar dampaknya bagi Indonesia dimana berdasarkan sejarah akan berakibat pada timbulnya kekeringan yang panjang dan hebat. Silahkan simak langkah langkah yang harus dilakukan oleh berbagai pihak menyikapi bila kejadiannya seperti digambarkan di atas.
Sebenarnya kekeringan itu masalah tarik menarik lokasi awan antara barat timur dan utara selatan, kuat kuatan yang mana. Itu fenomena tahunan dan antar tahunan, belum lagi bila antar musiman dan dekadean serta harian. Begitu kompleks sebenarnya masalah ini namun bisa disederhanakan seperti hal yang disampaikan di atas. Yuk perbaiki literasinya dan ajak masyarakat untuk makin peduli pada masalah cuaca, musim dan iklim.
Monday, June 1, 2026
Beberapa perbandingan ...
Saya beberapa waktu yang lalu mencoba melihat keunggulan dan kelemahan BMKG kita dibanding beberapa negara maju dunia seperti Jepang, Jerman, Amerika Serikat, Australia dan Swedia. Kelima negara tersebut merupakan beberapa contoh raksasa dunia dalam bidang meteorologi, klimatologi, geofisika dan hidrologi. Sebenarnya dibanding kelima negara tersebut, negara kita tidak kalah jauh apalagi sekarang upaya otomatisasi alat makin ditingkatkan, kualitas SDM nya juga makin meningkat dimana banyak yang dikuliahkan lagi baik di institusi dalam negeri maupun luar negeri. Berikut ini perbandingannya:
Sunday, May 3, 2026
Perubahan iklim: Ancaman nyata, tanggungjawab generasi pemimpin
Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu masa depan, melainkan kenyataan yang telah terjadi sejak masa lalu, terasa nyata pada masa kini, dan akan terus menentukan arah kehidupan di masa depan. Dampaknya hadir dalam bentuk bencana hidrometeorologi, krisis pangan, kerusakan lingkungan, penurunan kualitas kesehatan masyarakat, hingga ancaman terhadap stabilitas sosial dan ekonomi bangsa. Pertanyaannya, sudahkah kita sebagai generasi yang saat ini memegang amanah pemerintahan benar-benar siap menghadapi tantangan tersebut?
Generasi X yang saat ini berada dalam posisi strategis pemerintahan memikul tanggung jawab besar sebagai penentu arah kebijakan nasional. Pengalaman panjang, kematangan berpikir, serta kapasitas kepemimpinan yang dimiliki harus menjadi kekuatan utama dalam merumuskan langkah nyata menghadapi perubahan iklim. Belajar dari berbagai peristiwa masa lalu, termasuk kegagalan dalam pengelolaan lingkungan dan pembangunan yang kurang berkelanjutan, menjadi landasan penting untuk membangun masa depan yang lebih kuat, sehat, dan berkeadilan.
Setiap keputusan kecil dalam pemerintahan memiliki dampak besar bagi masyarakat luas. Oleh karena itu, seluruh potensi ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan publik, serta tata kelola pemerintahan harus dimanfaatkan secara optimal untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan. Langkah-langkah sederhana namun strategis seperti efisiensi energi, pengelolaan sumber daya air, ketahanan pangan, pengurangan emisi, serta penguatan mitigasi bencana harus menjadi prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional.
Sebagai pemimpin bangsa, Generasi X tidak hanya bertugas menjaga stabilitas hari ini, tetapi juga menyiapkan masa depan bagi generasi berikutnya. Dunia sedang menghadapi ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik, krisis energi, ancaman pangan, hingga perubahan iklim ekstrem. Dalam situasi seperti ini, dibutuhkan keberanian untuk menyusun kebijakan yang visioner, inovatif, dan berorientasi jangka panjang, bukan sekadar solusi sesaat yang bersifat populis.
Aksi nyata jauh lebih bermakna daripada sekadar wacana kepedulian. Berbagai bencana yang terjadi di tanah air menjadi ujian kepemimpinan sekaligus ujian moral bagi para penyelenggara negara. Apakah nasionalisme masih menjadi ruh pengabdian? Apakah semangat persatuan, kesetiakawanan sosial, dan rasa kemanusiaan masih menjadi dasar dalam setiap keputusan? Kepemimpinan sejati diuji bukan saat keadaan nyaman, tetapi ketika bangsa menghadapi kesulitan besar.
Dengan semangat gotong royong, kolaborasi lintas sektor, dan optimisme yang kuat, bangsa ini mampu menghadapi berbagai tantangan tersebut. Lokomotif kemajuan Indonesia harus tetap berpijak pada lima pilar kebangsaan: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945, dan semangat Sumpah Pemuda. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi moral dan arah strategis dalam menjaga persatuan serta memperkuat ketahanan nasional.
Kini saatnya Generasi X yang berada di pemerintahan menunjukkan warisan terbaiknya bagi bangsa. Bukan sekadar jabatan yang dikenang, tetapi keberanian mengambil keputusan besar demi keselamatan masa depan Indonesia. Mari bekerja dengan integritas, bertindak dengan keberanian, dan mengabdi dengan ketulusan untuk mewujudkan Indonesia yang maju, adil, sejahtera, dan bermartabat bagi seluruh rakyat serta generasi yang akan datang.
Monday, April 13, 2026
Kadarling dan Massalim: ISTF Maret 2026
Berikut ini konsep kadarling dan massalim yang diinisasi untuk meningkatkan kesadaran tentang lingkungan dan cuaca serta iklim yang kami ujicobakan kepada para generasi muda, siswa sekolah menengah atas dan santri pondok pesantren. Baca khususnya pada halaman 36-38.
https://drive.google.com/file/d/13iRyCeyWVT7t5aFM71GssiEve4x15WHv/view?usp=sharing
Dengan dikolaborasikan kegiatan pembinaan calon calon garda depan informasi cuaca dan iklim Indonesia diharapkan dampaknya lebih signifikan membawa perubahan menuju masyarakat yang melek cuaca dan iklim.
Thursday, April 2, 2026
Gajahnya Godzila: ENSO, IOD, monsoon
Berikut ini disampaikan bagaimana Gajahnya Godzila akan berpengaruh pada pola tanam di wilayah Indonesia. Ini berdasarkan klimatologis kejadian sehingga penting untuk diketahui publik baik oleh pemerintah (K/L) maupun swasta, PT dan BRIN, media masa dan publik atau masyarakat secara umum khususnya para (kelompok) tani. Antisipasi atas berbagai kemungkinan musim yang akan terjadi harus disadarkan ke semua pihak tanpa kecuali termasuk dalam bidang kehutanan karena kemungkinan karhutla (kebakaran hutan dan lahan).
Silahkan disimak dalam file di atas.










.jpg)








.png)