Tuesday, July 7, 2026

Mahasiswa ITB sadar jejak karbon

Perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam membangun nalar publik yang sehat dan kritis, serta berfokus pada kepentingan masyarakat. Di tengah derasnya arus informasi dan persoalan sosial yang kompleks, kampus harus menyediakan ruang diskusi yang ilmiah dan terbuka, serta berintegritas. Melalui pendidikan dan penelitian, perguruan tinggi dapat mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten tetapi juga mampu berpikir rasional dan menghargai perbedaan.

Lebih jauh, perguruan tinggi berfungsi sebagai laboratorium solusi bangsa, melahirkan inovasi yang menjawab tantangan zaman, seperti ketimpangan ekonomi dan krisis lingkungan. Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat sangat penting untuk menghasilkan penelitian aplikatif yang berdampak langsung. Dengan demikian, perguruan tinggi harus keluar dari menara gading dan menjadi pusat penggerak perubahan, berkontribusi nyata dalam kemajuan sosial dan demokrasi bangsa.

Dalam hal perubahan iklim, hal yang bisa dilakukan perguruan tinggi banyak sekali dan  bisa sangat membumi. Untuk mengetahui bagaimana perspektif mahasiswa terkait masalah tersebut, telah dilakukan survey beberapa waktu yang lalu tentang jejak karbon mahasiswa ITB peserta MK Perubahan iklim  dan bagaimana komitmen mereka dalam mengurangi jejak karbon tersebut. Profil peserta pengisi survey tersebut bisa disajikan sebagai berikut:

· STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika): 18 peserta (31%)
· FTI (Fakultas Teknologi Industri): 15 peserta (26%)
· FTMD (Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara): 9 peserta (15%)
· FTTM (Fakultas Teknik Tambang dan Perminyakan): 7 peserta (12%)
· SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen): 5 peserta (9%)
· FTSL (Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan): 4 peserta (7%)
· FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam): 1 peserta (2%)

Terkait jejak karbon dan target pengurangannya bisa dinyatakan bahwa:
· Jejak karbon individu bervariasi cukup luas, dari kurang dari 1 ton CO2-eq hingga lebih dari 17 ton CO2-eq per tahun.
· Target pengurangan emisi karbon juga bervariasi, dari nol hingga lebih dari 4 ton per tahun.
· Mayoritas peserta melakukan pengurangan emisi dari kegiatan seperti transportasi, daya rumah tangga, makanan, alat rumah tangga, dan sampah.

Berkaitan dengan industri besar yang terkait dengan bidang studinya maka mahasiswa merespon sebagai berikut:
· Industri besar yang paling banyak disebut terkait dengan program studi adalah: teknologi informasi, energi (minyak dan gas, petrokimia, panas bumi), pertambangan, dirgantara, dan manufaktur.
· Nama perusahaan besar yang paling banyak muncul: Google, Microsoft, Boeing, Pertamina, PT Freeport, ArcelorMittal, dan beberapa perusahaan besar lain sesuai bidang.

Ketika ditanyakan tentang emisi karbon Perusahaan tersebut dan teknologi pengurangannya, mereka menjawab sebagai berikut:
· Emisi karbon perusahaan besar berkisar dari sangat kecil (misalnya ratusan ribu ton CO2-eq) hingga sangat besar (puluhan hingga ratusan juta ton CO2-eq per tahun).
· Teknologi pengurangan emisi yang digunakan meliputi:
o Penggunaan bahan bakar ramah lingkungan (biofuel, SAF/Sustainable Aviation Fuel)
o Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS)
o Efisiensi energi (data center, produksi, dan operasi)
o Energi terbarukan (solar, angin, geothermal)
o Optimasi proses produksi dan penggunaan AI
o Pengurangan bahan bakar fosil dan elektrifikasi peralatan

Dengan demikian maka bisa disimpulkan bahwa:
  1. · Peserta survei menunjukkan kesadaran yang baik terhadap jejak karbon pribadi dan menetapkan target pengurangan yang realistis.
  2. · Pengurangan emisi dilakukan pada beberapa aspek utama yang berkontribusi paling besar terhadap emisi, yaitu transportasi dan penggunaan energi di rumah.
  3. · Industri yang menjadi fokus mayoritas peserta memberikan gambaran teknologi dan langkah-langkah nyata dalam pengurangan emisi karbon, yang dapat menjadi contoh bagi individu dan organisasi lain.
  4. · Rekomendasi:
o Memperkuat edukasi dan kampanye pengurangan jejak karbon di kalangan mahasiswa.
o Mendorong adopsi teknologi hijau di tingkat individu maupun institusi.
o Membuat program kolaborasi antara fakultas dengan perusahaan terkait untuk riset dan pengembangan teknologi rendah karbon.
 

Tuesday, June 30, 2026

Mungkinkah gelombang panas bisa terjadi di Indonesia??

Menyimak berita yang termuat di sini mengingatkan kita akan peluang terjadi peristiwa gelombang panas serupa di Indonesia. Meskipun dari berbagai teori peluang terjadinya gelombang panas seperti terjadi di Eropa kecil. Ini mengingat Indonesia berada di sekitar garis khatulistiwa sehingga merupakan wilayah bertekanan rendah. Sementara di Eropa yang terletak di lintang menengah, sering mempunyai tekanan udara tinggi yang merupakan syarat terbentuknya gelombang panas. Seperti telah saya sebut dalam beberapa postingan sebelumnya, gelombang panas terjadi ketika di dekat permukaan bumi padat/daratan mempunyai tekanan tinggi sehingga merupakan wilayah subsidensi yang berasal dari lapisan troposfer atas yang relatif kering. Subsidensi inilah yang kemudian ketika mencapai permukaan bumi akan menyebar secara horizontal/menjadikannya adveksi/gerak divergensi yang kemudian kita sebut dengan gelombang panas. Pada setahun dua tahun yang lalu, gelombang panas juga terjadi di Eropa dimana waktu itu suhu permukaan laut samudra Atlantik bagian utara mengalami pemanasan sehingga udara bertekanan rendah sementara di daratan bertekanan tinggi. Oleh sebab itu berhembuslah angin dari daratan ke lautan yang bertekanan rendah. Massa udara yang bergerak tersebut merupakan udara kering yang kelembapan relatifnya rendah. Ini yang membawa dampak pada kesehatan manusia apalagi mereka mereka yang peka terhadap cuaca panas sampai 40 an derajat Celcius bahkan bisa lebih. Para lanjut usia, anak anak, bayi dan ibu hamil merupakan kelompok yang rentan terhadap gangguan cuaca ini. Bahkan menurut berita di atas, sudah lebih dari 1300 orang yang meninggal akibat gelombang panas sejak 21 Juni kemarin. Mari kita lihat gambar berikut ini:
Terlihat bahwa bila pasangan antara temperatur udara dan kelembapan relatifnya bernilai lebih dari 85 maka bisa dipastikan masyarakat akan tersengat udara panas yang bisa menyebabkan kematian. Inilah yang harus dihindari, sehingga tidak aneh kalau di banyak kota di Eropa di taman taman kota atau banyak masyarakat biasa berkumpul, banyak semprotan air dari kendaraan tertentu seperti pemadam kebakaran dan keran keran air minum yang mengalir dengan deras. Ini menyebabkan udara relatif lembap dan mengurangi keringat mengucur deras. Apa hubungannya dengan pemanasan global dan perubahan iklim? Kedua hal ini merupakan keranjang sampah dari semua permasalahan anomali cuaca dan iklim global karena memang dengan meningkatnya emisi karbon ke atmosfer hal hal tersebut terjadi. Oleh sebab itu maka pedulilah tentang issue keduanya. Kita turut berperan dalam kerusakan bumi melalui emisi karbon yang kita lepaskan sehari hari, dari hal hal yang kecil sekalipun. Terkait jejak karbon dan langkah langkah apa yang bisa dilakukan, silahkan baca pada postingan sebelumnya atau dari blog saya yang lain yang alamatnya tertera dalam blog ini. Semoga postingan ini membawa pencerahan.

Tuesday, June 2, 2026

Ribut ribut tentang El Nino Super (lagi)

 Sebenarnya masyarakat bisa memperoleh banyak informasi dari AI seperti yang saya cantumkan di bawah ini. Meskipun demikian peningkatan literasi informasi cuaca dan iklim di wilayah Indonesia harus terus menerus dilakukan agar masyarakat tidak bimbang dan ragu serta termakan hoaks yang disebarkan pihak tertentu. Edukasi semacam ini akan mengurangi kepanikan masyarakat tentang berbagai informasi cuaca dan iklim apalagi di awal tahun ini sejumlah pihak sudah menyebut El Nino Godzilla atau super El Nino. ENG ini bila bersuposisi dengan Dipole Mode positif yang kuat dan terjadi saat musim kemarau dimana angin dari wilayah Australia bertiup ke Asia maka akan makin besar dampaknya bagi Indonesia dimana berdasarkan sejarah akan berakibat pada timbulnya kekeringan yang panjang dan hebat. Silahkan simak langkah langkah yang harus dilakukan oleh berbagai pihak menyikapi bila kejadiannya seperti digambarkan di atas. 

Sebenarnya kekeringan itu masalah tarik menarik lokasi awan antara barat timur dan utara selatan, kuat kuatan yang mana. Itu fenomena tahunan dan antar tahunan, belum lagi bila antar musiman dan dekadean serta harian. Begitu kompleks sebenarnya masalah ini namun bisa disederhanakan seperti hal yang disampaikan di atas. Yuk perbaiki literasinya dan ajak masyarakat untuk makin peduli pada masalah cuaca, musim dan iklim. 




Monday, June 1, 2026

Beberapa perbandingan ...

 Saya beberapa waktu yang lalu mencoba melihat keunggulan dan kelemahan BMKG kita dibanding beberapa negara maju dunia seperti Jepang, Jerman, Amerika Serikat, Australia dan Swedia. Kelima negara tersebut merupakan beberapa contoh raksasa dunia dalam bidang meteorologi, klimatologi, geofisika dan hidrologi. Sebenarnya dibanding kelima negara tersebut, negara kita tidak kalah jauh apalagi sekarang upaya otomatisasi alat makin ditingkatkan, kualitas SDM nya juga makin meningkat dimana banyak yang dikuliahkan lagi baik di institusi dalam negeri maupun luar negeri. Berikut ini perbandingannya: 




Sunday, May 3, 2026

Perubahan iklim: Ancaman nyata, tanggungjawab generasi pemimpin

Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu masa depan, melainkan kenyataan yang telah terjadi sejak masa lalu, terasa nyata pada masa kini, dan akan terus menentukan arah kehidupan di masa depan. Dampaknya hadir dalam bentuk bencana hidrometeorologi, krisis pangan, kerusakan lingkungan, penurunan kualitas kesehatan masyarakat, hingga ancaman terhadap stabilitas sosial dan ekonomi bangsa. Pertanyaannya, sudahkah kita sebagai generasi yang saat ini memegang amanah pemerintahan benar-benar siap menghadapi tantangan tersebut?

Generasi X yang saat ini berada dalam posisi strategis pemerintahan memikul tanggung jawab besar sebagai penentu arah kebijakan nasional. Pengalaman panjang, kematangan berpikir, serta kapasitas kepemimpinan yang dimiliki harus menjadi kekuatan utama dalam merumuskan langkah nyata menghadapi perubahan iklim. Belajar dari berbagai peristiwa masa lalu, termasuk kegagalan dalam pengelolaan lingkungan dan pembangunan yang kurang berkelanjutan, menjadi landasan penting untuk membangun masa depan yang lebih kuat, sehat, dan berkeadilan.

https://www.msn.com/id-id/berita/teknologidansains/10-bukti-pemanasan-global-memang-nyata-bukan-main-dampaknya/ar-AA20KK1F?ocid=entnewsntp&pc=LCTS&cvid=050adf2864354d5fa327f67b5811d7e9&ei=17

Setiap keputusan kecil dalam pemerintahan memiliki dampak besar bagi masyarakat luas. Oleh karena itu, seluruh potensi ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan publik, serta tata kelola pemerintahan harus dimanfaatkan secara optimal untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan. Langkah-langkah sederhana namun strategis seperti efisiensi energi, pengelolaan sumber daya air, ketahanan pangan, pengurangan emisi, serta penguatan mitigasi bencana harus menjadi prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional.

Sebagai pemimpin bangsa, Generasi X tidak hanya bertugas menjaga stabilitas hari ini, tetapi juga menyiapkan masa depan bagi generasi berikutnya. Dunia sedang menghadapi ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik, krisis energi, ancaman pangan, hingga perubahan iklim ekstrem. Dalam situasi seperti ini, dibutuhkan keberanian untuk menyusun kebijakan yang visioner, inovatif, dan berorientasi jangka panjang, bukan sekadar solusi sesaat yang bersifat populis.

Aksi nyata jauh lebih bermakna daripada sekadar wacana kepedulian. Berbagai bencana yang terjadi di tanah air menjadi ujian kepemimpinan sekaligus ujian moral bagi para penyelenggara negara. Apakah nasionalisme masih menjadi ruh pengabdian? Apakah semangat persatuan, kesetiakawanan sosial, dan rasa kemanusiaan masih menjadi dasar dalam setiap keputusan? Kepemimpinan sejati diuji bukan saat keadaan nyaman, tetapi ketika bangsa menghadapi kesulitan besar.

Dengan semangat gotong royong, kolaborasi lintas sektor, dan optimisme yang kuat, bangsa ini mampu menghadapi berbagai tantangan tersebut. Lokomotif kemajuan Indonesia harus tetap berpijak pada lima pilar kebangsaan: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945, dan semangat Sumpah Pemuda. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi moral dan arah strategis dalam menjaga persatuan serta memperkuat ketahanan nasional.

Kini saatnya Generasi X yang berada di pemerintahan menunjukkan warisan terbaiknya bagi bangsa. Bukan sekadar jabatan yang dikenang, tetapi keberanian mengambil keputusan besar demi keselamatan masa depan Indonesia. Mari bekerja dengan integritas, bertindak dengan keberanian, dan mengabdi dengan ketulusan untuk mewujudkan Indonesia yang maju, adil, sejahtera, dan bermartabat bagi seluruh rakyat serta generasi yang akan datang.

Monday, April 13, 2026

Kadarling dan Massalim: ISTF Maret 2026

 Berikut ini konsep kadarling dan massalim yang diinisasi untuk meningkatkan kesadaran tentang lingkungan dan cuaca serta iklim yang kami ujicobakan kepada para generasi muda, siswa sekolah menengah atas dan santri pondok pesantren. Baca khususnya pada halaman 36-38.

https://drive.google.com/file/d/13iRyCeyWVT7t5aFM71GssiEve4x15WHv/view?usp=sharing

Publikasi di International Society for Tropical Forester, Maret 2026 kemarin

Dengan dikolaborasikan kegiatan pembinaan calon calon garda depan informasi cuaca dan iklim Indonesia diharapkan dampaknya lebih signifikan membawa perubahan menuju masyarakat yang melek cuaca dan iklim. 

Thursday, April 2, 2026

Gajahnya Godzila: ENSO, IOD, monsoon

 Berikut ini disampaikan bagaimana Gajahnya Godzila akan berpengaruh pada pola tanam di wilayah Indonesia. Ini berdasarkan klimatologis kejadian sehingga penting untuk diketahui publik baik oleh pemerintah maupun swasta, PT dan BRIN, media masa dan publik atau masyarakat secara umum khususnya para (kelompok) tani. Antisipasi atas berbagai kemungkinan musim yang akan terjadi harus disadarkan ke semua pihak tanpa kecuali termasuk dalam bidang kehutanan karena kemungkinan karhutla (kebakaran hutan dan lahan).


Silahkan disimak dalam file di atas.