Tuesday, June 30, 2026

Mungkinkah gelombang panas bisa terjadi di Indonesia??

Menyimak berita yang termuat di sini mengingatkan kita akan peluang terjadi peristiwa gelombang panas serupa di Indonesia. Meskipun dari berbagai teori peluang terjadinya gelombang panas seperti terjadi di Eropa kecil. Ini mengingat Indonesia berada di sekitar garis khatulistiwa sehingga merupakan wilayah bertekanan rendah. Sementara di Eropa yang terletak di lintang menengah, sering mempunyai tekanan udara tinggi yang merupakan syarat terbentuknya gelombang panas. Seperti telah saya sebut dalam beberapa postingan sebelumnya, gelombang panas terjadi ketika di dekat permukaan bumi padat/daratan mempunyai tekanan tinggi sehingga merupakan wilayah subsidensi yang berasal dari lapisan troposfer atas yang relatif kering. Subsidensi inilah yang kemudian ketika mencapai permukaan bumi akan menyebar secara horizontal/menjadikannya adveksi/gerak divergensi yang kemudian kita sebut dengan gelombang panas. Pada setahun dua tahun yang lalu, gelombang panas juga terjadi di Eropa dimana waktu itu suhu permukaan laut samudra Atlantik bagian utara mengalami pemanasan sehingga udara bertekanan rendah sementara di daratan bertekanan tinggi. Oleh sebab itu berhembuslah angin dari daratan ke lautan yang bertekanan rendah. Massa udara yang bergerak tersebut merupakan udara kering yang kelembapan relatifnya rendah. Ini yang membawa dampak pada kesehatan manusia apalagi mereka mereka yang peka terhadap cuaca panas sampai 40 an derajat Celcius bahkan bisa lebih. Para lanjut usia, anak anak, bayi dan ibu hamil merupakan kelompok yang rentan terhadap gangguan cuaca ini. Bahkan menurut berita di atas, sudah lebih dari 1300 orang yang meninggal akibat gelombang panas sejak 21 Juni kemarin. Mari kita lihat gambar berikut ini:
Terlihat bahwa bila pasangan antara temperatur udara dan kelembapan relatifnya bernilai lebih dari 85 maka bisa dipastikan masyarakat akan tersengat udara panas yang bisa menyebabkan kematian. Inilah yang harus dihindari, sehingga tidak aneh kalau di banyak kota di Eropa di taman taman kota atau banyak masyarakat biasa berkumpul, banyak semprotan air dari kendaraan tertentu seperti pemadam kebakaran dan keran keran air minum yang mengalir dengan deras. Ini menyebabkan udara relatif lembap dan mengurangi keringat mengucur deras. Apa hubungannya dengan pemanasan global dan perubahan iklim? Kedua hal ini merupakan keranjang sampah dari semua permasalahan anomali cuaca dan iklim global karena memang dengan meningkatnya emisi karbon ke atmosfer hal hal tersebut terjadi. Oleh sebab itu maka pedulilah tentang issue keduanya. Kita turut berperan dalam kerusakan bumi melalui emisi karbon yang kita lepaskan sehari hari, dari hal hal yang kecil sekalipun. Terkait jejak karbon dan langkah langkah apa yang bisa dilakukan, silahkan baca pada postingan sebelumnya atau dari blog saya yang lain yang alamatnya tertera dalam blog ini. Semoga postingan ini membawa pencerahan.

Wednesday, June 17, 2026

Analisis jejak karbon mahasiswa ITB 2026

Hasil perbandingan jejak karbon antara peserta mata kuliah Agrometeorologi, Agroklimatologi, dan Perubahan Iklim yang dilakukan surveynya pada akhir Mei awal Juni 2026 kemarin bertujuan untuk meningkatkan kesadaran para mahasiswa agar makin peduli pada lingkungan khususnya pemanasan global dan perubahan iklim. Diharapkan para mahasiswa tersebut akan makin cepat menularkannya kepada keluarga dan Masyarakat melalui kegiatan kadarling (keluarga sadar lingkungan) dan massalim (Masyarakat sadar cuaca dan iklim) yang telah kami gelorakan Bersama dengan para mahasiswa dan kelompok muda lainnya melalui para dosen ITB. Terkait dengan 2 hal ini bisa anda peroleh informasinya dalam blogspot saya yang lain yakni djokowiratmo.blogspot.co.id. Selengkapnya perbandingan survey tersebut bisa saudara lihat pada link table berikut ini:

1. Perbandingan Metadata & Hasil Statistik Emisi

Indikator / Parameter

Jejak Karbon Agromet 2026

Jejak Karbon Agroklimat 2026

Jejak Karbon Periklim 2026

Mata Kuliah

Agrometeorologi

Agroklimatologi

Perubahan Iklim

Periode Pengumpulan Data

Mei – Juni 2026

Mei 2026

Juni 2025

Jumlah Responden

59 Mahasiswa

59 Mahasiswa

87 Mahasiswa

Jumlah Kolom Kuesioner

16 Kolom (Paling Detail)

13 Kolom

13 Kolom

Kalkulator Acuan

Spesifik: jejakkarbonku.id

Kalkulator Umum

Kalkulator Umum

Median Jejak Karbon

1,51 Ton -eq/tahun

1,89 Ton -eq/tahun

2,17 Ton -eq/tahun

Rata-Rata Jejak Karbon

2,33 Ton -eq/tahun

2,54 Ton -eq/tahun

2,70 Ton -eq/tahun

Median Target Pengurangan

0,50 Ton -eq/tahun

1,00 Ton -eq/tahun

0,86 Ton -eq/tahun

Kajian Industri

2 Industri (Tingkat Fakultas)

1 Industri (Tingkat Prodi)

1 Industri (Tingkat Prodi)

 

2. Perbandingan Fokus Aksi Iklim Mahasiswa

Kategori Aksi Iklim

Agromet (59 resp)

Agroklimat (59 resp)

Periklim (87 resp)

Bentuk Aksi Konkret Utama

Transportasi Berkelanjutan

Sangat Tinggi (2 Kolom Aksi)

72,9%

83,9%

Jalan kaki, sepeda, bus kampus/KRL, carpooling, dan kendaraan listrik.

Efisiensi Energi Listrik

Sangat Tinggi (2 Kolom Aksi)

59,3%

79,3%

Mematikan lampu/AC saat keluar, atur suhu AC 24–25°C, cabut steker.

Pengelolaan Sampah & Konsumsi

Tinggi

40,7%

27,6%

Membawa tumbler/wadah makan, kurangi plastik sekali pakai, tekan food waste.

Penghijauan / Menanam Pohon

Tinggi

16,9%

21,8%

Menanam pohon/tanaman di kos/asrama, program reboisasi.

Aksi Kolektif & Komunitas

72,9% (Ditanyakan Khusus)

0,0% (Tidak ditanyakan)

5,7%

Clean-up lingkungan bersama himpunan/UKM, edukasi iklim, volunteer.

 3. Poin-Poin Kesimpulan Utama

  • Sektor Dominan: Transportasi umum/ramah lingkungan dan penghematan energi listrik/elektronik secara konsistent menjadi dua pilihan aksi iklim utama (>60%–80%) di seluruh kelompok mahasiswa.
  • Tingkat Emisi: Rata-rata emisi tahunan mahasiswa berada pada rentang 1,51 – 2,70 Ton -eq/tahun, yang mencerminkan pola konsumsi dan mobilitas khas kehidupan kampus/asrama.
  • Kelengkapan Instrumen: Berkas Agromet 2026 memiliki instrumen pengumpulan data paling komprehensif karena memisahkan antara rencana target individu dan realisasi aksi iklim nyata (baik mandiri maupun kolektif bersama rekan mahasiswa).

Tuesday, June 2, 2026

Ribut ribut tentang El Nino Super (lagi)

 Sebenarnya masyarakat bisa memperoleh banyak informasi dari AI seperti yang saya cantumkan di bawah ini. Meskipun demikian peningkatan literasi informasi cuaca dan iklim di wilayah Indonesia harus terus menerus dilakukan agar masyarakat tidak bimbang dan ragu serta termakan hoaks yang disebarkan pihak tertentu. Edukasi semacam ini akan mengurangi kepanikan masyarakat tentang berbagai informasi cuaca dan iklim apalagi di awal tahun ini sejumlah pihak sudah menyebut El Nino Godzilla atau super El Nino. ENG ini bila bersuposisi dengan Dipole Mode positif yang kuat dan terjadi saat musim kemarau dimana angin dari wilayah Australia bertiup ke Asia maka akan makin besar dampaknya bagi Indonesia dimana berdasarkan sejarah akan berakibat pada timbulnya kekeringan yang panjang dan hebat. Silahkan simak langkah langkah yang harus dilakukan oleh berbagai pihak menyikapi bila kejadiannya seperti digambarkan di atas. 

Sebenarnya kekeringan itu masalah tarik menarik lokasi awan antara barat timur dan utara selatan, kuat kuatan yang mana. Itu fenomena tahunan dan antar tahunan, belum lagi bila antar musiman dan dekadean serta harian. Begitu kompleks sebenarnya masalah ini namun bisa disederhanakan seperti hal yang disampaikan di atas. Yuk perbaiki literasinya dan ajak masyarakat untuk makin peduli pada masalah cuaca, musim dan iklim. 





Monday, June 1, 2026

Beberapa perbandingan ...

 Saya beberapa waktu yang lalu mencoba melihat keunggulan dan kelemahan BMKG kita dibanding beberapa negara maju dunia seperti Jepang, Jerman, Amerika Serikat, Australia dan Swedia. Kelima negara tersebut merupakan beberapa contoh raksasa dunia dalam bidang meteorologi, klimatologi, geofisika dan hidrologi. Sebenarnya dibanding kelima negara tersebut, negara kita tidak kalah jauh apalagi sekarang upaya otomatisasi alat makin ditingkatkan, kualitas SDM nya juga makin meningkat dimana banyak yang dikuliahkan lagi baik di institusi dalam negeri maupun luar negeri. Berikut ini perbandingannya: 


dan kita juga beruntung mengingat kita merupakan kawasan supermarket bencana dari mulai bencana yang ada di darat, laut maupun udara yang mempunyai ciri yang khas yang tidak dapat dijumpai di kawasan  manapun di dunia ini. Itu sebabnya ada banyak keunggulan kita dibanding mereka namun ada banyak juga kekurangan kita dalam pandangan mereka. Ini tidak lain karena kita harus selalu mengasah kemampuan di semua bidang dan instrumentasi untuk mengetahui bagaimana kelakuan dari bencana alam yang berpotensi melanda Indonesia.