Wednesday, December 15, 2021

La Nina sampai kapan??

 Membicarakan peristiwa La Nina selalu menarik perhatian mengingat dampak yang terjadi akibat peristiwa alam ini pada kehidupan di muka bumi besar. Peristiwa yang terjadi di samudra Pasifik tropis ini untuk Indonesia mempunyai dampak peningkatan jumlah curah hujan mengingat biasanya wilayah perairan Indonesia menghangat sehingga awan konvektif banyak terbentuk. Ditambah lagi peristiwa konvergensi karena tekanan rendah yang terbentuk di wilayah Indonesia. Dari analisis terhadap apa yang disampaikan terkait ENSO dan DM oleh Biro Meteorologi Australia maka prakiraan/prediksi/ramalan kondisi cuaca dan musim di Indonesia dapat dibaca di sini.  Faktor ketidakpastian dalam prediksi tetap akan ada dan nilainya akan membesar seiring dengan bertambahnya waktu dan ruang ke depan. Tingkat resolusi model prediksi yang terus menerus diperbaiki  akan makin mengurangi ketidakpastian ini. 

Perubahan iklim tampaknya juga berpengaruh pada kejadian La Nina dan El Nino meskipun sejauh ini masih belum jelas bagaimana kaitannya. Namun histori dari ENSO tersebut menunjukkan bahwa selama perubahan iklim puluhan tahun terakhir terjadi hubungan atau korelasi yang positif. Kejadian ENSO meningkat seiring dengan peningkatan pemanasan global dan perubahan iklim. Mencairnya es di kutub yang makin cepat kejadiannya sehingga membawa pengaruh besar pada perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut harus dipandang sebagai bagian yang terintegrasi dalam sistem iklim yang memang sedang mengalami perubahan dan upaya natural bumi untuk menjaga kesetimbangannya. Bahwa ada yang percaya dari hasil penelitiannya perubahan iklim yang terjadi sampai tahun 2100 akan menyebabkan kiamat, hal itu sah-sah saja karena kajiannya berdasarkan saintifik. Namun bahwa ada yang meninjaunya dari sudut pandang agama, itupun juga sah-sah saja. Jangan dibentur-benturkan karena basis kajiannya berbeda. 

Wednesday, December 8, 2021

Akankah banjir lahar dingin Semeru terjadi lagi??

 Gunung Semeru yang Sabtu kemarin meletus mengakibatkan puluhan jiwa melayang dan kerusakan yang parah pada bangunan, pekarangan dan kebun serta infrastruktur yang lain di beberapa desa di sekitarnya. Jembatan juga terputus sehingga beberapa wilayah tertentu terisolasi. Hujan yang terjadi di puncak dan lereng gunung tersebut membawa lahar dingin ke bawah dan juga menambah dampak kerusakan di wilayah yang dilaluinya. 

Tinggi gunung yang 3676 meter merupakan salah satu gunung tinggi di Indonesia yang masih aktif. Seperti juga gunung-gunung lain yang masih aktif, banyak lahan subur yang diusahakan oleh penduduk. Ini karena material gunung api yang termuntahkan setiap kali erupsi atau eksplosi menyebabkan kandungan hara yang sangat dibutuhkan tanaman di tanah meningkat. Oleh karena itu tidak heran kalau banyak penduduk yang tinggal di wilayah gunung-gunung aktif mengusahakan lahan untuk tujuan pertanian dan peternakan. Temperatur dan kelembapan relatif yang ada di sekitar gunung api terasa nyaman dan menyehatkan bagi makhluk hidup khususnya manusia.

Situasi gunung Semeru saat ini dapat dilihat pada link berikut ini. Tampak bahwa angin menuju ke arah utara dengan kecepatan rendah. Bila terjadi kepulan asap saat ini maka kemungkinan besar akan menuju ke arah utara. Semoga Semeru segera mereda dan suasana kembali normal terjadi. Masih ada kemungkinan banjir lahar dingin (banjir bandang) terjadi mengingat puncak musim hujan belum terlampaui, oleh karena itu harus tetap waspada. Bukan tidak mungkin terjadi letusan gunung api di tempat lain mengingat beberapa waktu yang lalu gunung Merapi di Jateng juga batuk-batuk kecil. 

Sampai kapan bencana hidrometeorologi terjadi??

Bila ditanyakan sampai kapan artinya tidak dibatasi ruang dan waktu maka sebenarnya bencana hidrometeorologi akan selalu terjadi di dunia ini. Namun bila ditanyakan dalam musim hujan kali ini bencana hidrometeorologi (misalnya banjir, banjir bandang, siklon dst) maka berdasarkan analisis dari model prakiraan yang dikembangkan oleh BMKG dan BoM Australia menunjukkan hasil yang berbeda. Model yang dikembangkan oleh BMKG cenderung menyatakan bahwa sampai dengan bulan depan, baik kondisi ENSO maupun IOD, menunjukkan kondisi normal. Ini artinya bahwa tidak terjadi penyimpangan besar pada suhu permukaan laut baik di samudra Pasifik maupun di samudra Hindia. Pengaruh monsoon terasakan saat ini dengan adanya pusat tekanan rendah di belahan bumi selatan dan utara di samudra Pasifik. Di samudra Hindia khususnya di selatan Jawa ada siklon Teratai yang makin menjauhi wilayah kita. Di dekat Papua Nugini ada pusat tekanan rendah 93P dan di utara Papua ada 93W. Ini semua menyebabkan arah angin monsoon berbelok ke arah timur setelah melewati ekuator dari BBU dan ini banyak membawa uap air. Kalau kemarin (bahkan hari ini) di beberapa tempat terjadi banjir itu tidak lain karena terjadi superposisi dari pengaruh La Nina di samudra Pasifik, Dipole mode netral di samudra Hindia, dan monsoon Asia. Berikut ini adalah bukti bahwa di samudra Pasifik terjadi La Nina.

Terlihat bahwa terjadi anomali negatif suhu permukaan laut di samudra Pasifik di wilayah tengah dan timur ekuator, sedangkan di wilayah Indonesia relatif hangat. Madden Julian Oscillation sekarang sampai dengan akhir bulan ini masih belum memasuki wilayah Indonesia sehingga pengaruhnya pada curah hujan di Indonesia dalam kurun waktu tersebut relatif kecil. Seruak dingin (cold surge) mungkin juga turut berpengaruh. Berdasarkan prakiraan terkait ketiga hal di atas (ENSO, DM, dan monsoon) maka dapat dianalisis bahwa kemungkinan bencana hidrometeorologi akan berlangsung sampai akhir Pebruari 2022. Semoga saja tidak sampai banyak menimbulkan korban baik harta benda maupun nyawa manusia. Berikut ini link youtube webinar terkait kebencanaan yang dimaksud.  


Thursday, November 25, 2021

Pelatihan generasi muda pontren tentang kebencanaan

 Seperti telah disampaikan dalam blog ini beberapa waktu yang lalu, kegiatan pelatihan untuk generasi muda pondok pesantren dilakukan dalam rangka untuk mengerahkan segala potensi yang ada untuk mengcounter berita-berita hoaks yang terkait dengan kebencanaan. Hoaks bencana alam, non alam dan sosial memang saat sekarang masih ada saja yang tersebar  sehingga bila tidak segera dicounter maka bisa ditunggangi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab ataupun menjadikan pengetahuan masyarakat yang salah. Sebagai contoh berita tentang El Nino yang dianggap sebagai badai dan penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ada lagi misal ajakan kepada masyarakat untuk menaruh sebaskom air di halaman agar bisa menghasilkan awan dan hujan untuk mengatasi kekeringan. 

Untuk tahun ini kegiatan pelatihan dilakukan di pondok pesantren Tebu Ireng Jombang Jawa Timur dan diikuti oleh 40 orang peserta. Kegiatan serupa diharapkan dapat dilakukan di pondok pesantren lain di Jawa Tengah. Semoga sesuai dengan tujuan dilaksanakan kegiatan-kegiatan semacam ini akan makin banyak tersebar berita positif dan benar terkait dengan bencana kebumian.


Foto menunjukkan sebagian peserta pelatihan tersebut.


Monday, November 8, 2021

Akankah banjir merupakan peristiwa sehari-hari di musim hujan ??

 Kali ini, menjelang puncak musim hujan telah terjadi banjir di beberapa tempat di Indonesia. Di Jawa Timur ada banjir bandang khususnya di kota Batu. Kemarin banjir juga melanda wilayah pusat ibukota negara kita, Jakarta., sekarang belum surut. Sebenarnya sudah bisa ditebak, jika telah mulai masuk musim hujan maka pasti terjadi surplus air di Jakarta yang merupakan dataran rendah seperti juga sudah disampaikan beberapa waktu yang lalu di blog ini. Langkah-langkah penanggulangannya juga sudah disampaikan. Yang penting harus dilakukan secara konsisten dengan lebih banyak melibatkan masyarakat pada berbagai macam skala ruang dan waktu dalam proses pembangunan. Yuk  bantu pemerintah menangani berbagai masalah keseharian masyarakat agar masyarakat merasa nyaman dan tenang, tidak waswas misalnya pada musim hujan seperti saat ini. Tunggu tulisan berikutnya ya.

Sunday, October 31, 2021

Pelatihan guru geografi Indonesia: nantikan lagi tahun depan

 Sebagai kelanjutan dari pelatihan para guru geografi se pulau Kalimantan bulan Juni yang lalu, maka pada tanggal 18 sampai 22 Oktober 2021 dilakukan pelatihan serupa. Mengingat saat tersebut telah dibuka pertemuan tatap muka sekolah maka peserta silih berganti setiap harinya. Dari pendaftar sejumlah 167 guru, yang aktif dalam satu hari sekitar 50 an peserta. Mengingat pula agar tidak timbul kecemburuan guru dari wilayah lain yang bukan binaan, maka pelatihan ini dibuka untuk para guru seluruh Indonesia. Berikut ini sebagian peserta yang mengikuti pelatihan. Semoga mereka mendapat manfaat yang berarti bagi peningkatan kualitas guru geografi. 





Wednesday, June 30, 2021

Peningkatan kualitas guru geografi SMA se pulau Kalimantan

  Pada tanggal 28 dan 29 Juni 2021 dilaksanakan kegiatan pelatihan guru geografi se pulau Kalimantan yang diikuti oleh 72 orang guru SMA seperti yang tertera dalam daftar peserta dalam link berikut ini.

https://docs.google.com/forms/d/1V3_eRzqxK9wR7V7m1vTkwiQ8oQr6QiHDHs6AjCHxvco/edit?ts=60cb1902#responses

Pembukaan dilakukan oleh ketua Panitia pelatihan yakni Dr. Joko Wiratmo yang memaparkan kenapa perlu dilakukan pelatihan tersebut. Pertimbangannya adalah sebagai berikut. Guru SMA harus ditingkatkan kualitasnya dalam belajar mengajar, khususnya bidang geografi. Hal ini karena perkembangan yang cepat dalam bidang geografi baik menyangkut aspek fisik (iklim, pertanian, geodesi, kebencanaan, dll) maupun sosialnya (ekonomi, kependudukan, dll). Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat seringkali tidak dapat diikuti dengan baik oleh para guru karena berbagai prinsip dasar yang belum diketahui dengan baik. Sumber informasi memang banyak terdapat di dunia online, namun tanpa kehadiran seorang pengajar, rata-rata sulit untuk mengikuti materi geografi dengan baik seperti juga dialami oleh para siswa sekolah berbagai level pendidikan. Di sisi lain, Kalimantan yang diproyeksikan sebagai pusat dimana ibukota negara terletak, membutuhkan sumber daya lokal yang mumpuni. Kebutuhan sumber daya manusia unggul sangat bertumpu pada kemampuan generasi mudanya. Sayangnya bukti SDM unggul dari pulau Kalimantan tidak terwujud misal dalam kegiatan olimpiade/kompetisi sains nasional (OSN/KSN) dimana propinsi-propinsi dari Kalimantan selalu menempati urutan menengah ke bawah. Dalam bidang geografi, selama lebih dari 7 tahun pelaksanaan OSN/KSN, baru satu orang yang masuk dalam pelatihan nasional (pelatnas) tahun 2017 dan gugur pada pelatnas pertama. Ini tentu tidak lepas dari peran guru geografi di sekolah-sekolah menengah atas semua propinsi di Kalimantan. Padahal kecintaan kepada tanah air dan bangsa bisa ditumbuhkan dari pendidikan geografi yang ditularkan dari mulai lingkungan sekolah. Hal ini tidak lepas dari peran para guru dalam membimbing siswanya. Berbagai keluhan yang disampaikan oleh para guru geografi kepada kami dalam berbagai kesempatan tentang keinginan mereka untuk maju dan berkembang serta dengan pertimbangan tersebut di atas maka sangat diperlukan adanya tutorial bagi para guru geografi sepulau Kalimantan agar kualitas mereka meningkat dari waktu ke waktu. Ini sekaligus juga memetakan sebaran kualitas guru di pulau Kalimantan sehingga bisa ditindaklanjuti. Pelatihan ini dilaksanakan secara multi year agar dampaknya bisa dirasakan oleh para guru dan siswa di wilayah binaan pulau Kalimantan. Sebagai langkah antisipatif terhadap Covid-19 maka untuk tahun pertama dilakukan secara daring.

Materi pelatihan sendiri dapat dilihat pada link-link berikut ini. Pembukaan disajikan dalam https://drive.google.com/file/d/1LzttGLRWteV97zgj93i_EVvw_tIplaOF/view?usp=sharing

Dokumentasi https://drive.google.com/drive/folders/13mWgk_eC2w7v_COo8xOeuhuaal2hdfBk?usp=sharing

Pemateri Hari Pertama terdapat dalam link  https://drive.google.com/file/d/1fQOV5IccwJHpNkPYpE-ud2nWcnIwrv_v/view?usp=sharing

Pemateri Hari Kedua  dapat ditemukan dalam link  https://drive.google.com/file/d/1oPCUZKYZBN-AdDC8ih7XTi-jbikXvWO8/view?usp=sharing

 

Tuesday, April 6, 2021

Perkuat jaringan observasi dan tingkatkan SDM

 Kemarin malam kami berdiskusi dengan beberapa kolega dari instansi pemerintah seperti LAPAN dan BMKG serta PT meskipun tidak mewakili lembaga-lembaga tersebut secara resmi. Bincang-bincang santai meskipun yang dibicarakan adalah permasalahan yang sangat serius yakni mengenai peristiwa banjir di Nusa Tenggara Timur. Kami bicara tentang siklon tropis yang terbentuk sampai dengan hari ini dan menurut Badan Meteorologi Australia akan makin menjauh dari wilayah Indonesia dan meluruh di arah barat laut dekat Australia. Siklon Seroja, itu nama yang diberikan BMKG atas siklon yang terbentuk di wilayah Indonesia tersebut. Seperti mungkin anda sudah ketahui, Indonesia mempunyai wewenang untuk memberikan nama pada siklon yang terbentuk di sebelah lintang selatan wilayah Indonesia. Kami memperbicangkan bagaimana siklon tersebut terbentuk, bagaimana kemungkinan perkembangannya, dan bagaimana cuaca dan musim dalam beberapa waktu ke depan. Siklon terbentuk jika syarat Palmer terjadi yakni jika suhu permukaan lautnya lebih dari 26,5oC dimana ini terjadi di wilayah tropis sehingga kelembapan atmosfer tinggi dan perawanan konvektif terbentuk (dalam hal ini awan-awan Cumulonimbus). Skala untuk menggambarkan siklon ini adalah skala Saffir Simphson. 

Berbagai dampak kejadian siklon tropis Seroja tersebut sudah banyak didengar, dilihat dan dibaca dari media massa baik cetak maupun elektronik serta media sosial berantai. Perbincangan selain menyangkut aspek atmosfer, juga mencakup aspek daratan dimana kemungkinan lingkungan juga rusak meskipun harus dilihat faktualnya seperti apa. Hujan tinggi yang terjadi di wilayah Florest Timur yang mencapai 154 mm sementara di sekitarnya jauh lebih kecil menunjukkan bahwa wilayah tersebut merupakan wilayah dekat dengan dinding mata siklon. Meskipun angka ini masih dirasa kecil dibandingkan kejadian curah hujan yang menyebabkan banjir di Jakarta tahun lalu. 

Beberapa hal yang akhirnya kemudian menjadi rekomendasi dari kami adalah peningkatan kualitas SDM bidang meteorologi yang mendukung pada peningkatan kualitas layanan meteorologi dan klimatologi, memperkuat jaringan pengamatan baik menggunakan satelit, radar, maupun automatic weather station (AWS). Selain itu juga mendorong keberanian BMKG untuk menyampaikan informasi (early warning system, EWS) secara lebih akurat agar masyarakat makin menyadari bahwa memang wilayah Indonesia merupakan supermarket bencana alam. Kerjasama dengan negara lain (misal dengan Australia) juga didorong untuk meningkatkan kualitas layanan EWS. 

Thursday, March 25, 2021

Webinar Hari Meteorologi sedunia

Webinar ini dilaksanakan dalam rangka memperingati hari Meteorologi Sedunia yang jatuh pada tanggal 23 Maret 2021. Tahun ini tema yang diangkat adalah The Ocean, Our Climate and Weather. Silahkan mendaftarkan diri dalam webinar ini. Gratis. Pelaksanaan pada Minggu, 28 Maret 2021 jam 14 WIB sampai dengan selesai. Pendaftaran bisa dilakukan sampai dengan hari Sabtu, 27 Maret 2021 jam 23.59 WIB via link: bit.ly/webinarmeteo           
Disediakan e-sertifikat. 


Ditunggu kedatangannya ya. Salam hangat untuk kita semua.

 

Tuesday, March 23, 2021

Hari Meteorologi Sedunia: meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan

 Hari ini merupakan hari Meteorologi sedunia yang diperingati oleh berbagai negara di dunia ini dengan beragam cara. Tema peringatan tahun ini adalah "Lautan, iklim dan cuaca kita" yang mengingatkan kepada kita peran dari lautan pada iklim dan cuaca dunia. Kita mengetahui bahwa antara hidrosfer dan atmosfer mempunyai konektivitas yang demikian kompleks sehingga mewarnai kehidupan di muka bumi. Interaksi sub-sub sistem iklim yang terdiri dari hidrosfer, atmosfer, lithosfer, kriosfer, biosfer dan humanosfer yang membentuk ikatan dan interaksi yang demikian kompleks sangat dipengaruhi oleh keberadaan matahari yang ada di luar sistem bumi. Tanpa adanya radiasi matahari, tidak mungkin sistem iklim di bumi seperti saat ini. 

Dari tema di atas terlihat betapa pentingnya lautan akan masa depan iklim di muka bumi. Statement dari WMO (World Meteorological Organization) dan bahkan Perserikatan Bangsa Bangsa adalah bahwa laut merupakan masa depan umat manusia. Terlihat bahwa para ahli meteorologi dan negara-negara di seluruh dunia sepakat memandang penting keberadaan laut di tengah-tengah kita. Tanpa lautan maka sistem iklim akan pincang dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam siklus hidrologi misalnya, sebagian besar penguapan berasal dari permukaan laut. Dengan luas lautan yang mencapai 70% permukaan bumi maka peristiwa yang terjadi di laut akan berdampak pula pada peristiwa di darat. Penguapan yang tinggi memicu terbentuknya perawanan yang bila didorong oleh angin menuju daratan maka bisa membentuk hujan orografis ketika membentur pegunungan. Dengan kata lain bila dari massa udara yang bertiup dari wilayah lautan ke arah daratan dan membawa cukup uap air untuk mengalami proses kondensasi di ketinggian atmosfer dekat pegunungan maka terbentuk awan-awan orografis yang notabene bisa menghasilkan efek Foehn pada sisi balik gunung (leeward). 

Peristiwa pembentukan awan-awan konvergensi pun juga dipengaruhi oleh keberadaan lautan. ITCZ yang merupakan zone dimana konvergensi di wilayah tropis terjadi merupakan faktor penting yang sangat berpengaruh pada cuaca dan musim serta iklim di suatu negara. Indonesia yang terletak di sekitar ekuator banyak dipengaruhi oleh sistem tekanan rendah ini. Gerak semu matahari yang memicu penguapan di suatu tempat (daratan dan lautan) akan menyebabkan adanya pergeseran dari wilayah ITCZ. Wilayah perawanan ini bergeser sesuai dengan gerak semu matahari.

Peristiwa cuaca ekstrim seperti siklon tropis terbentuk ketika salah satunya yakni syarat Palmer terjadi. Suhu permukaan laut harus lebih dari 26.5 derajat Celcius sampai kedalaman 60 meter. Ini hanya dimungkinkan terjadi di wilayah tropis. Beberapa syarat lain agar siklon tropis terjadi antara lain geser angin vertikal rendah, dan kelembapan cukup untuk terbentuknya ketidakstabilan yang besar di atmosfer khususnya pada ketinggian 5 kilometer. Sementara itu untuk wilayah lintang tengah pembentukan siklon luar tropis terjadi dipicu oleh keberadaan sistem frontal.

Pemanasan global yang disebabkan oleh meningkatnya gas-gas rumah kaca di atmosfer membawa dampak besar pada sub sistem di bumi. Mencairnya es di kutub sehingga permukaan air laut meningkat, merendam daratan di wilayah-wilayah kepulauan bahkan dikhawatirkan sepertiga dari wilayah Bangladesh bisa tenggelam bila suhu udara mengalami peningkatan beberapa derajat. Pemanasan global ini menyebabkan sistem iklim dunia berubah. Dengan kata lain pemanasan global yang diakibatkan oleh aktivitas manusia dan alam menyebabkan adanya perubahan iklim dunia. Inilah yang kemudian banyak disadari oleh para saintis, masyarakat umumnya dan para pemimpin dunia akan pentingnya menjaga lingkungan khususnya lautan agar tetap bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Langkah-langkah kecil namun pasti itu lebih baik daripada langkah besar namun tidak dilaksanakan, hanya sekedar wacana atau mimpi besar saja. Marilah mengambil bagian dalam upaya menyelamatkan makhluk hidup di muka bumi dengan mengambil sejumlah langkah baik kecil maupun besar bersama-sama. Bergandengan tangan di antara pihak pentahelix yakni pemerintah, swasta, perguruan tinggi, komunitas, dan media sangat diharapkan agar terlaksananya pembangunan yang berwawasan lingkungan sehingga dunia masih nyaman dan lestari. 

Tuesday, March 16, 2021

Hujan hari ini

 Kalau hari ini di tempat anda hujan cukup deras, khususnya di pulau Jawa, maka hal tersebut wajar mengingat perawanan cukup tebal terjadi sepanjang pulau Jawa. Hanya sebagian kecil yang tidak tertutup awan bahkan mungkin bebas sama sekali. Ini terlihat pada citra satelit berikut ini:

Sebagian wilayah Sumatera pun juga mengalami hujan demikian pula Kalimantan bagian selatan, sebagian Sulawesi dan Maluku serta Papua. Sebenarnya jika menilik pada kondisi angin yang umumnya relatif kalem (calm) maka hal tersebut wajar saja. Pembentukan awan-awan yang disebabkan oleh awan konvektif yang bercampur dengan awan konvergensi menyebabkan hal tersebut terjadi. Untuk wilayah di sekitar pegunungan juga pengaruh orografi cukup mendukung pembentukan awan hujan. Matahari yang makin mendekati ekuator (namun hari ini masih di selatan ekuator) mendorong perawanan juga makin menuju ekuator. Gangguan tekanan rendah di selatan sampai barat daya pulau Jawa yang terjadi beberapa waktu yang lalu sudah mereda dan ini lebih mendorong pada pergeseran awan yang makin menuju utara. Banjir yang terjadi hari ini di Gresik Jawa Timur diakibatkan oleh hujan deras yang terjadi sejak tadi malam. Oleh karena itu maka tidak boleh tidak, semua pihak harus waspada mengingat sampai dengan bulan April mendatang, bulan basah masih mendominasi wilayah Indonesia, seperti yang diramalkan oleh BMKG. Kalau melihat apa yang tertulis sebelumnya yang menunjukkan bahwa ENSO menunjukkan trend normal dan Indeks Dipole Mode yang menunjukkan nilai netral maka sekali lagi perlu ditegaskan bahwa kondisi saat ini lebih didominasi oleh pengaruh monsoon barat. Bila itu terjadi maka Oktober sampai Maret merupakan musim hujan dan April sampai September merupakan musim kemarau untuk yang mempunyai tipe curah hujan monsoonal. Sedangkan yang mempunyai pola curah hujan tipe ekuatorial yang berada di wilayah sekitar khatulistiwa akan mengalami puncak hujan sekitar bulan April dan Oktober sementara yang mempunyai tipe curah hujan lokal akan mempunyai puncak curah hujan sekitar Agustus. 


Thursday, March 11, 2021

Pola umum cuaca dan musim

 Prediksi berdasarkan kondisi ENSO (El Nino and Southern Oscillation) dan IOD (Indian Ocean Dipole) dapat disampaikan sebagai berikut. Selama bulan Maret 2021, kita telah melampaui puncak La Nina dan menuju kondisi netral demikian pula dengan Dipole Mode nya, hal ini bisa dilihat pada kedua link di bawah ini yakni http://www.bom.gov.au/climate/model-summary/images/ms_nino_07.png dan  

http://www.bom.gov.au/climate/model-summary/images/ms_iod_11.png . Ini berarti bahwa kondisi cuaca dan musim di Indonesia lebih dipengaruhi oleh aktivitas monsoon khususnya dalam hal ini diprediksi sampai bulan Juli. Dan itu berarti bahwa cuaca dan musim akan biasa-biasa saja.  Pada saat ini cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia dipengaruhi oleh angin barat sampai barat laut di belahan bumi selatan dan angin timur laut di belahan bumi utara. Ini menunjukkan bahwa bulan basah masih bisa terjadi, apalagi pada hari-hari ini berkembang pusat tekanan rendah di lepas pantai selatan Jawa, meskipun belum begitu masif yang ditunjukkan dengan belum kuatnya perawanan yang terjadi di wilayah tersebut. Di Nusa Tenggara juga terdapat angin barat daya yang berasal dari Australia yang bertemu dengan angin baratan dari benua Asia. Pola angin sangat terlihat pada wilayah perairan sedangkan di wilayah daratan agak mengalami pola acak akibat gesekan dengan permukaan daratan. Ini terdapat di semua pulau dimana angin permukaan tidak mengikuti betul pola angin umum seperti yang terdapat di atas permukaan laut, terutama di pulau-pulau besar. 

Monday, March 1, 2021

Kejar tayang ...

 Beberapa waktu ini terdapat kesan bahwa apa yang dipublish di media massa seperti kejar tayang, kurang begitu memperhatikan kevalidan data dan informasi. Mungkin ada juga peneliti yang tampaknya juga mengejar publikasi pokoknya berlomba-lomba memberikan keterangan kepada masyarakat tanpa begitu memperhatikan keakuratannya dan dampaknya kepada masyarakat. Pokoknya sudah seperti selebritis atau wartawan yang mengejar sensasi semu. Euforia demokrasi yang menjangkiti banyak pihak menyebabkan seolah seenak sendiri dalam memberitakan dan menyampaikan pendapat tanpa didasari kaidah ilmiah. Dalam kebencanaan misalnya, dengan menganggap bahwa peristiwa yang sama bisa berulang pada tempat yang sama maka seorang yang tidak berkompeten pada bidangnya akan mencari arsip dan pada tanggal tertentu terjadi bencana anu. Maka dengan mendaur ulang tanpa pertimbangan yang matang dia publish informasi tersebut sebagai berita terkini. Orang yang tidak teliti akan menganggap bahwa berita semacam itu baru saja terjadi (tidak melihat tanggal kejadian) sehingga bisa menimbulkan analisa-analisa atau bahkan tindakan yang tidak tepat. Pokoknya bersuara, itu sepertinya yang menjangkiti sebagian masyarakat kita. Padahal yang harus diingat bahwa peristiwa bencana tidak berlangsung secara eksak, misal pada tanggal tertentu tahun lalu atau beberapa tahun lalu, maka tahun ini akan terjadi peristiwa yang sama pada lokasi yang sama. Bumi mempunyai mekanisme sendiri dalam mengatur dirinya dalam mencapai kesetimbangan dan sulit untuk diprediksi dengan tepat kemauannya. Di sisi yang lain, wartawan yang merupakan salah satu garda depan dalam mengawal demokrasi dan rasa nasionalisme serta jiwa membangun, sering terjebak pada keberpihakan pada salah satu pihak, tidak merdeka dalam pemberitaannya. Prinsip kehati-hatian dalam pemberitaan akan mendorong pencapaian keadilan sosial lebih terjaga. 

Thursday, February 25, 2021

Bersiap terhadap bencana mendatang

 Dalam beberapa waktu ini telah terjadi bencana alam banjir di beberapa wilayah di Indonesia. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa telah terjadi banjir di wilayah Kalimantan Selatan yang merusak banyak sarana prasarana di propinsi tersebut akibat berbagai masalah lingkungan. Peristiwa banjir juga melanda Jakarta, Nganjuk (Jawa Timur), Pekalongan, Kudus dan Semarang (Jawa Tengah). Semuanya diakibatkan oleh curah hujan yang lebat, tidak tertampungnya air oleh saluran drainase, permasalahan kerusakan lingkungan akibat perubahan tata guna lahan dan perilaku masyarakat, Semoga peristiwa ini tidak berulang lagi dalam waktu mendatang mengingat curah hujan makin berkurang dari waktu ke waktu khususnya untuk wilayah yang mempunyai curah hujan monsoonal.

Di wilayah Sumatera Utara sudah mulai terjadi kebakaran hutan. Ini menunjukkan ada daerah-daerah yang sudah menginjak musim kemarau dan bila mengingat apa yang diramalkan oleh BMKG maka hal ini memang patut untuk diwaspadai dan ditindaklanjuti. Perhatikan gambar berikut ini:

Terlihat bahwa wilayah Indonesia yang berada di Utara ekuator diprakirakan pada dasarian ketiga bulan Pebruari ini sudah mengalami curah hujan yang rendah kurang dari 50 mm sehingga peluang dari terjadinya kering dan kekeringan meningkat. Kalau dilihat baru pada bulan Maret, April dan Mei 2021 terjadi El Nino lemah dan Dipole Mode menunjukkan arah menuju IOD positif maka kemungkinan kering meningkat dan menjadi bulan-bulan kering meskipun tidak ekstrim.


Sunday, January 17, 2021

Kita kurang ajar

  Kurang ajar ... kata itu sering disampaikan oleh orang tua kepada anaknya atau seseorang kepada orang lain yang melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan atau menyinggung perasaan. Sering diartikan pula sebagai umpatan terhadap seseorang. Tapi maksudnya dalam hal ini adalah "kurang belajar" ... kita kurang belajar dari teori atau praktek yang sudah berlangsung beberapa waktu atau jauh-jauh hari sebelumnya. Misalnya dari kasus longsor. Longsor terjadi pada area yang memiliki kelerengan tertentu, penguat tanah tidak berfungsi dengan baik (vegetasi), karakteristik tanah (tekstur dan struktur) yang memudahkan hujan menggerus dan membawa tanah ke tempat lain atau lebih rendah atau sebab gempa. Lingkungan yang rusak  ditandai dengan kondisi kalau musim hujan banjir atau longsor sedangkan saat musim kemarau kekeringan serta sedikitnya/berkurangnya jumlah mata air yang ada. Siklus hidrologi pada berbagai skala menjadi berubah dan makin menyulitkan memperoleh air bersih secara alami merupakan tanda-tanda alam yang sudah selayaknya untuk dipahami dan dibaca serta ditindaklanjuti bahwa alam sudah mengalami kerusakan.

Pembangunan infrastruktur yang tidak terkendali dan penataan ruang yang tidak terkontrol merupakan sebab lain yang cukup besar pengaruhnya pada bentang alam dan siklus hidrologi. Perhatikan gambar berikut ini yang menunjukkan bahwa luas hutan dari waktu ke waktu mengalami pengurangan yang sangat signifikan. Kebakaran hutan dan lahan, konversi hutan menjadi lahan pertanian dan perkebunan, penebangan liar dan kalahnya laju penghijauan kembali dengan laju kerusakannya merupakan penyebab yang sampai sekarang belum mendapatkan porsi perhatian yang lebih dari semestinya. cmiiw


Menyimak dari gambar tersebut maka wajar bila seandainya di Kalimantan akan makin sering terjadi banjir di wilayah-wilayah yang selama waktu sebelumnya belum pernah mengalaminya. Bila tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin bencana alam akan merupakan langganan bagi mereka yang menghuni kawasan tersebut. 

Mari belajar dari pengalaman dan mengambil langkah konkrit dalam mengupayakan agar kawasan pulau Kalimantan dan pulau-pulau lain di Indonesia tidak menjadi langganan bencana alam.