Berbagai langkah yang bisa dilakukan oleh generasi muda kita, para mahasiswa sesuai dengan bidang atau fakultasnya bisa disajikan di bawah ini. Ini merupakan contoh positif mengingat aksi iklim akan lebih bermakna dan memberikan kontribusi nyata dalam upaya mereduksi laju perubahan iklim, tidak hanya sekedar omon omon semata. Sudah selayaknya bila hal ini bersifat melembaga sehingga dampaknya akan dirasakan lebih nyata oleh masyarakat pada berbagai skala ruang dan waktu.
Obyektif, Independen, Sportif, Berpikir Positif, Berjiwa BESAR
Sunday, October 4, 2026
Monday, September 7, 2026
Webinar Sedekah Ilmu : Karhutla 2026
Untuk keempat kalinya, kami menyelenggarakan webinar sedekah ilmu, suatu gerakan berbagi ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas, tidak hanya di kalangan kampus, tetapi juga masyarakat umum dari lintas keilmuan, budaya, dan generasi dalam menanggapi permasalahan yang terjadi di publik. Keresahan-keresahan yang kami rasakan dalam kurun waktu tahun ini misalnya, adalah adanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus-menerus merusak lingkungan dan berdampak buruk pada berbagai bidang kehidupan. Sungai-sungai besar yang mengering di Kalimantan, misalnya, membawa dampak buruk pada aktivitas perekonomian masyarakat. Jalur sungai yang selama ini dimanfaatkan untuk aktivitas masyarakat dan industri, seperti Barito, Mahakam, dan Kapuas, sudah tidak
dapat lagi dilalui. Ini tentu saja sangat memukul perekonomian pada skala lokal, bahkan nasional global. Contoh mudahnya adalah transportasi batu bara yang praktis berhenti karena tongkang tidak mampu membawanya ke tempat lain dan kandas di sungai. Batu bara ini dimanfaatkan oleh perusahaan dalam negeri dan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan energi dan lain-lain. Jika ada gangguan distribusi, maka Anda bisa membayangkan bagaimana dampak selanjutnya. Bila cuaca dan musim tidak bersahabat akibat El NiƱo super kuat dan Dipole Mode positif serta monsoon Australia, maka sulit untuk mengharapkan hujan sering. Upaya hujan buatan yang sesekali menghasilkan hujan masih jauh dari harapan karena memang bahan baku hujan buatan tidak selalu tersedia di atmosfer. Syarat agar berhasil adalah bila ada awan potensial (awan konvektif), aerosol yang higroskopik, dan kelembapan relatif udara mencapai level 75% ke atas pada ketinggian 850 sampai 500 mb. Saat musim monsun Asia berkuasa dalam beberapa waktu ke depan, diharapkan hujan akan bertambah sering terjadi dan karhutla akan bisa berhenti sama sekali. Dalam beberapa waktu ini, bila monsoon Asia lebih kuat pengaruhnya dibandingkan dengan ENSO dan IOD positif (saat ini netral), maka daerah berpola curah hujan monsoonal akan lebih cepat memadamkan karhutla. Ingat bahwa dampak ENSO, IOD, dan kombinasi keduanya tidak selalu sama di setiap wilayah. Wilayah Indonesia mempunyai 3 tipe curah hujan, yakni monsoonal (tipe A), ekuatorial (B) dan lokal (C) dimana penamaan wilayah tersebut menunjukkan efek apa yang mendominasi pengaruh hujannya.
Pada kesempatan yang kedua yang dikemukakan oleh Prof. Halmar Halide dari FMIPA Universitas Hasanuddin, dinyatakan bahwa posisi saat ini: perancangan model prediksi hotspot Kalimantan hingga 14 hari ke depan — menggunakan model-model Persistence, Climate-All, dan Phase-Space — menekankan pentingnya aspek mitigasi bencana melalui peringatan dini hotspot, dibandingkan dengan pemadaman kebakaran yang sudah membesar, meluas, dan menghabiskan biaya besar. Hasil permodelan menunjukkan bahwa keterampilan (skill) prediksi melalui nilai korelasi dan RMSE cukup berguna untuk lead time pendek, namun ketrampilan model menurun seiring bertambahnya prediction horizon (lead time). Model Phase-Space tetap kompetitif dan layak digunakan, meskipun ketidakpastian ramalan masih cukup besar. Hal ini menegaskan bahwa pendekatan berbasis embedding dimension dan delay time yang tak membutuhkan prediksi cuaca hingga 14 hari ke depan terbukti mampu menangkap dinamika kompleks hotspot untuk mendukung strategi mitigasi yang lebih proaktif.
Arah pengembangan ke depan: Untuk meningkatkan kualitas ramalan Phase-Space, salah satu strategi yang menjanjikan adalah penerapan metode ensemble yang dapat mengurangi variabilitas dan memberikan estimasi ketidakpastian prediksi hotspot terukur. Selain itu, pengembangan model prediktif ini perlu diperluas dari peramalan titik menjadi peramalan spasial, sehingga distribusi geografis hotspot dapat diprediksi secara lebih komprehensif. Dengan kombinasi ensemble dan cakupan spasial, model Phase-Space berpotensi menjadi alat operasional yang lebih handal dalam mendukung sistem peringatan dini, memperkuat mitigasi kebakaran hutan dan lahan, serta mengurangi ketergantungan pada pemadaman yang mahal dan berisiko. Terkait model yang Prof. Halmar sampaikan ini, bisa kontak langsung beliau atau melalui saya: wiratmo@itb.ac.id Berikut materi pemaparannya: https://drive.google.com/drive/folders/1Nc_TTJw07C7hKM1nYIywZ9yPtD8di6Jc?usp=sharing
Sunday, August 30, 2026
Kerahkan segenap usaha memadamkan karhutla
Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) sudah terjadi sejak beberapa waktu ini yang dipicu oleh suhu tinggi dan kelembapan relatif udara yang kecil serta campur tangan manusia yang memicu percikan api akibat membuang puntung rokok sembarangan, membiarkan pecahan kaca atau lensa berada di rerumputan atau perdu yang kering, dan pembakaran yang disengaja untuk memperluas area perkebunan dll. Suhu tinggi dan kelembapan relatif udara yang rendah memungkinkan fenomena El Nino super, Dipole mode positif dan monsoon Australia yang bertiup makin memudahkan memicu kebakaran.
Sejumlah langkah telah dilakukan, mulai dengan cara cara konvensional sampai dengan cara cara modern seperti water bombing, modifikasi cuaca, sampai dengan teknologi tepung singkong pemadam kebakaran. Kanal air di lahan lahan gambut yang semula akan digunakan untuk memudahkan penampungan air dihentikan karena dikhawatirkan bisa memicu karhutla yang makin besar akibat lahan gambut yang makin mengering.
Saturday, August 29, 2026
Kedaulatan energi harus diwujudkan!
Masalah energi merupakan hajat hidup kita bersama. Selama ini bahan bakar utama dalam negeri kita adalah bahan bakar fosil dimana ketersediaannya makin menipis dan sejak bertahun tahun yang lalu kita harus mengimportnya dari negara lain. Ketika negara negara penghasil minyak tersebut sedang mengalami perang maka mau tidak mau ketersediaan bahan bakar untuk dunia juga terganggu, tak terkecuali negara kita. Oleh karena itu maka selain mengoptimalkan bahan bakar fosil dalam negeri serta mencari sumber BBF baru di seluruh wilayah tanah air, kita juga harus mengoptimalkan potensi sumber daya energi baru terbarukan yang berasal dari berbagai sumber alam. Simak poster berikut ini:
Tuesday, August 25, 2026
Kondisi terkini musim kemarau di Indonesia
Kebakaran hutan di Indonesia melanda pulau pulau besar dimana saat ini ribuan titik api terdeteksi. Bisa dipahami mengapa demikian, terlepas dari fakta bahwa ada orang suruhan dari korporasi (besar) swasta yang memanfaatkan kondisi dengan membakar hutan karena ini merupakan cara mudah untuk membuka lahan. Terlepas dari upaya law enforcement yang ditempuh pemerintah untuk mengatasi hal ini, sejumlah usaha telah dilakukan pemerintah meskipun dengan hasil yang masih sangat jauh dari harapan.
Kalau kita menengok Kondisi anomali suhu permukaan laut saat ini di perairan Indonesia dan Pasifik serta Hndia, kita jumpai bahwa wilayah Nino 1, 2, 3 dan 3.4 menunjukkan penyimpangan suhu yang besar, bahkan di beberapa kawasan melampaui 2,5 bahkan 3 derajat Celcius. Ini tentu saja sudah sangat super sehingga menyebabkan berbagai penyimpangan atau anomali cuaca dan iklim di seluruh dunia. Sementara itu di perairan Indonesia suhunya relatif dingin sehingga menghambat pembentukan awan hujan. Curah hujan yang tidak turun ke permukaan wilayah Indonesia dalam waktu cukup lama menyebabkan kekeringan yang memicu karhutla. Segala upaya telah dilakukan pemerintah seperti water bombing, cara cara pemadaman manual juga dilakukan sementara modifikasi cuaca hujan buatan belum menghasilkan dampak signifikan karena tidak tersedianya awan berpotensi hujan dan kelembapan relatif udara yang rendah. Kalau melihat anomali suhu permukaan laut seperti yang digambarkan di atas, kita masih harus bersabar. Memang, cara modifikasi cuaca jauh lebih efektif dibanding water bombing (perhitungannya bisa dilihat pada postingan sebelumnya dengan kata kunci: karhutla) namun modifikasi cuaca akan berhasil ketika dilakukan pada saat peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, jadi sekitar bulan September/Oktober mendatang.
Itupun dengan syarat monsoon Asia lebih kuat dibanding pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD) dan ENSO/El Nino dalam arah zonal. Kalau sebaliknya maka tampaknya kekeringan akan merupakan makanan sehari hari sampai awal tahun depan. Tapi saya yakin bahwa hal yang dikhawatirkan terakhir tersebut tidak akan terjadi mengingat sebagian besar wilayah Indonesia bertipe curah hujan monsoonal.
Tuesday, July 7, 2026
Mahasiswa ITB sadar jejak karbon
Lebih jauh, perguruan tinggi berfungsi
sebagai laboratorium solusi bangsa, melahirkan inovasi yang menjawab tantangan
zaman, seperti ketimpangan ekonomi dan krisis lingkungan. Kolaborasi antara
dosen, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat sangat penting untuk menghasilkan
penelitian aplikatif yang berdampak langsung. Dengan demikian, perguruan tinggi
harus keluar dari menara gading dan menjadi pusat penggerak perubahan,
berkontribusi nyata dalam kemajuan sosial dan demokrasi bangsa.
Dalam hal perubahan iklim, hal yang bisa dilakukan perguruan tinggi banyak sekali dan bisa sangat membumi. Untuk mengetahui bagaimana perspektif mahasiswa terkait masalah tersebut, telah dilakukan survey beberapa waktu yang lalu tentang jejak karbon mahasiswa ITB peserta MK Perubahan iklim dan bagaimana komitmen mereka dalam mengurangi jejak karbon tersebut. Profil peserta pengisi survey tersebut bisa disajikan sebagai berikut:
· FTI (Fakultas Teknologi Industri): 15 peserta (26%)
· FTMD (Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara): 9 peserta (15%)
· FTTM (Fakultas Teknik Tambang dan Perminyakan): 7 peserta (12%)
· SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen): 5 peserta (9%)
· FTSL (Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan): 4 peserta (7%)
· FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam): 1 peserta (2%)
Terkait jejak karbon dan target pengurangannya bisa dinyatakan bahwa:
· Jejak karbon individu bervariasi cukup luas, dari kurang dari 1 ton CO2-eq hingga lebih dari 17 ton CO2-eq per tahun.
· Target pengurangan emisi karbon juga bervariasi, dari nol hingga lebih dari 4 ton per tahun.
· Mayoritas peserta melakukan pengurangan emisi dari kegiatan seperti transportasi, daya rumah tangga, makanan, alat rumah tangga, dan sampah.
Berkaitan dengan industri besar yang terkait dengan bidang studinya maka mahasiswa merespon sebagai berikut:
· Industri besar yang paling banyak disebut terkait dengan program studi adalah: teknologi informasi, energi (minyak dan gas, petrokimia, panas bumi), pertambangan, dirgantara, dan manufaktur.
· Nama perusahaan besar yang paling banyak muncul: Google, Microsoft, Boeing, Pertamina, PT Freeport, ArcelorMittal, dan beberapa perusahaan besar lain sesuai bidang.
Ketika ditanyakan tentang emisi karbon Perusahaan tersebut dan teknologi pengurangannya, mereka menjawab sebagai berikut:
· Teknologi pengurangan emisi yang digunakan meliputi:
o Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS)
o Efisiensi energi (data center, produksi, dan operasi)
o Energi terbarukan (solar, angin, geothermal)
o Optimasi proses produksi dan penggunaan AI
o Pengurangan bahan bakar fosil dan elektrifikasi peralatan
- · Peserta survei menunjukkan kesadaran yang baik terhadap jejak karbon pribadi dan menetapkan target pengurangan yang realistis.
- · Pengurangan emisi dilakukan pada beberapa aspek utama yang berkontribusi paling besar terhadap emisi, yaitu transportasi dan penggunaan energi di rumah.
- · Industri yang menjadi fokus mayoritas peserta memberikan gambaran teknologi dan langkah-langkah nyata dalam pengurangan emisi karbon, yang dapat menjadi contoh bagi individu dan organisasi lain.
- · Rekomendasi:
o Memperkuat edukasi dan kampanye pengurangan jejak karbon di kalangan mahasiswa.o Mendorong adopsi teknologi hijau di tingkat individu maupun institusi.o Membuat program kolaborasi antara fakultas dengan perusahaan terkait untuk riset dan pengembangan teknologi rendah karbon.
Tuesday, June 30, 2026
Mungkinkah gelombang panas bisa terjadi di Indonesia??
Tuesday, June 2, 2026
Ribut ribut tentang El Nino Super (lagi)
Sebenarnya masyarakat bisa memperoleh banyak informasi dari AI seperti yang saya cantumkan di bawah ini. Meskipun demikian peningkatan literasi informasi cuaca dan iklim di wilayah Indonesia harus terus menerus dilakukan agar masyarakat tidak bimbang dan ragu serta termakan hoaks yang disebarkan pihak tertentu. Edukasi semacam ini akan mengurangi kepanikan masyarakat tentang berbagai informasi cuaca dan iklim apalagi di awal tahun ini sejumlah pihak sudah menyebut El Nino Godzilla atau super El Nino. ENG ini bila bersuposisi dengan Dipole Mode positif yang kuat dan terjadi saat musim kemarau dimana angin dari wilayah Australia bertiup ke Asia maka akan makin besar dampaknya bagi Indonesia dimana berdasarkan sejarah akan berakibat pada timbulnya kekeringan yang panjang dan hebat. Silahkan simak langkah langkah yang harus dilakukan oleh berbagai pihak menyikapi bila kejadiannya seperti digambarkan di atas.
Sebenarnya kekeringan itu masalah tarik menarik lokasi awan antara barat timur dan utara selatan, kuat kuatan yang mana. Itu fenomena tahunan dan antar tahunan, belum lagi bila antar musiman dan dekadean serta harian. Begitu kompleks sebenarnya masalah ini namun bisa disederhanakan seperti hal yang disampaikan di atas. Yuk perbaiki literasinya dan ajak masyarakat untuk makin peduli pada masalah cuaca, musim dan iklim.
Monday, June 1, 2026
Beberapa perbandingan ...
Saya beberapa waktu yang lalu mencoba melihat keunggulan dan kelemahan BMKG kita dibanding beberapa negara maju dunia seperti Jepang, Jerman, Amerika Serikat, Australia dan Swedia. Kelima negara tersebut merupakan beberapa contoh raksasa dunia dalam bidang meteorologi, klimatologi, geofisika dan hidrologi. Sebenarnya dibanding kelima negara tersebut, negara kita tidak kalah jauh apalagi sekarang upaya otomatisasi alat makin ditingkatkan, kualitas SDM nya juga makin meningkat dimana banyak yang dikuliahkan lagi baik di institusi dalam negeri maupun luar negeri. Berikut ini perbandingannya:
Sunday, May 3, 2026
Perubahan iklim: Ancaman nyata, tanggungjawab generasi pemimpin
Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu masa depan, melainkan kenyataan yang telah terjadi sejak masa lalu, terasa nyata pada masa kini, dan akan terus menentukan arah kehidupan di masa depan. Dampaknya hadir dalam bentuk bencana hidrometeorologi, krisis pangan, kerusakan lingkungan, penurunan kualitas kesehatan masyarakat, hingga ancaman terhadap stabilitas sosial dan ekonomi bangsa. Pertanyaannya, sudahkah kita sebagai generasi yang saat ini memegang amanah pemerintahan benar-benar siap menghadapi tantangan tersebut?
Generasi X yang saat ini berada dalam posisi strategis pemerintahan memikul tanggung jawab besar sebagai penentu arah kebijakan nasional. Pengalaman panjang, kematangan berpikir, serta kapasitas kepemimpinan yang dimiliki harus menjadi kekuatan utama dalam merumuskan langkah nyata menghadapi perubahan iklim. Belajar dari berbagai peristiwa masa lalu, termasuk kegagalan dalam pengelolaan lingkungan dan pembangunan yang kurang berkelanjutan, menjadi landasan penting untuk membangun masa depan yang lebih kuat, sehat, dan berkeadilan.
Setiap keputusan kecil dalam pemerintahan memiliki dampak besar bagi masyarakat luas. Oleh karena itu, seluruh potensi ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan publik, serta tata kelola pemerintahan harus dimanfaatkan secara optimal untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan. Langkah-langkah sederhana namun strategis seperti efisiensi energi, pengelolaan sumber daya air, ketahanan pangan, pengurangan emisi, serta penguatan mitigasi bencana harus menjadi prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional.
Sebagai pemimpin bangsa, Generasi X tidak hanya bertugas menjaga stabilitas hari ini, tetapi juga menyiapkan masa depan bagi generasi berikutnya. Dunia sedang menghadapi ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik, krisis energi, ancaman pangan, hingga perubahan iklim ekstrem. Dalam situasi seperti ini, dibutuhkan keberanian untuk menyusun kebijakan yang visioner, inovatif, dan berorientasi jangka panjang, bukan sekadar solusi sesaat yang bersifat populis.
Aksi nyata jauh lebih bermakna daripada sekadar wacana kepedulian. Berbagai bencana yang terjadi di tanah air menjadi ujian kepemimpinan sekaligus ujian moral bagi para penyelenggara negara. Apakah nasionalisme masih menjadi ruh pengabdian? Apakah semangat persatuan, kesetiakawanan sosial, dan rasa kemanusiaan masih menjadi dasar dalam setiap keputusan? Kepemimpinan sejati diuji bukan saat keadaan nyaman, tetapi ketika bangsa menghadapi kesulitan besar.
Dengan semangat gotong royong, kolaborasi lintas sektor, dan optimisme yang kuat, bangsa ini mampu menghadapi berbagai tantangan tersebut. Lokomotif kemajuan Indonesia harus tetap berpijak pada lima pilar kebangsaan: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945, dan semangat Sumpah Pemuda. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi moral dan arah strategis dalam menjaga persatuan serta memperkuat ketahanan nasional.
Kini saatnya Generasi X yang berada di pemerintahan menunjukkan warisan terbaiknya bagi bangsa. Bukan sekadar jabatan yang dikenang, tetapi keberanian mengambil keputusan besar demi keselamatan masa depan Indonesia. Mari bekerja dengan integritas, bertindak dengan keberanian, dan mengabdi dengan ketulusan untuk mewujudkan Indonesia yang maju, adil, sejahtera, dan bermartabat bagi seluruh rakyat serta generasi yang akan datang.
Monday, April 13, 2026
Kadarling dan Massalim: ISTF Maret 2026
Berikut ini konsep kadarling dan massalim yang diinisasi untuk meningkatkan kesadaran tentang lingkungan dan cuaca serta iklim yang kami ujicobakan kepada para generasi muda, siswa sekolah menengah atas dan santri pondok pesantren. Baca khususnya pada halaman 36-38.
https://drive.google.com/file/d/13iRyCeyWVT7t5aFM71GssiEve4x15WHv/view?usp=sharing
Dengan dikolaborasikan kegiatan pembinaan calon calon garda depan informasi cuaca dan iklim Indonesia diharapkan dampaknya lebih signifikan membawa perubahan menuju masyarakat yang melek cuaca dan iklim.
Thursday, April 2, 2026
Gajahnya Godzila: ENSO, IOD, monsoon
Berikut ini disampaikan bagaimana Gajahnya Godzila akan berpengaruh pada pola tanam di wilayah Indonesia. Ini berdasarkan klimatologis kejadian sehingga penting untuk diketahui publik baik oleh pemerintah (K/L) maupun swasta, PT dan BRIN, media masa dan publik atau masyarakat secara umum khususnya para (kelompok) tani. Antisipasi atas berbagai kemungkinan musim yang akan terjadi harus disadarkan ke semua pihak tanpa kecuali termasuk dalam bidang kehutanan karena kemungkinan karhutla (kebakaran hutan dan lahan).
Silahkan disimak dalam file di atas.
Wednesday, December 31, 2025
Webinar Iklim, budaya dan bencana: Perspektif mikro sampai global
Untuk yang ketiga kalinya, dilakukan webinar Sedekah Ilmu dengan judul di atas dimana pembicaranya adalah Dr. Joko Wiratmo MP dan Prof. Halmar Halide pada 27 Desember 2025. Webinar yang dibuka oleh Wakil Dekan FITB Dr. Rusmawan Suwarman ini berlangsung dengan meriah dan dihadiri oleh para dosen, akademisi, guru, mahasiswa, pelajar, konsultan, ASN/PNS misal dari BMKG dan BNPB dan lain lain. Selengkapnya tentang acara tersebut bisa dilihat pada link:
https://youtu.be/RGxasKeoSwg? si=GqQX9dS3Ydywpnpu oleh WDS FITB
https://youtu.be/gs1AvMvq0Io?si=FEERh8jD0h1rko5f oleh Dr. Joko Wiratmo MP (ITB)
https://youtu.be/muNyiQSrmag?si=3deX2vhZy5euJNV5 oleh Prof. Halmar Halide (UNHAS)
Tuesday, November 11, 2025
Sedekah Ilmu Cuaca dan Iklim
Hari Sabtu tanggal 8 November 2025 kemarin telah diselenggarakan kegiatan Sedekah Ilmu bertema: Kejadian cuaca dan iklim ekstrem: Tantangan dan Prospeksnya di tahun 2025/2026. Dalam kegiatan tersebut hadir Dr. Supari (BMKG), Prof. Eddy Hermawan (BRIN), Dr. Joko Wiratmo MP (ITB), Prof. Rahmat Gernowo (UNDIP), Prof. Ruminta (UNPAD), dan Dr. Sorja Koesuma (UNS) yang dimoderatori oleh Dr. Nurjana Joko Trilaksono (ITB). Kegiatan sedekah ilmu ini merupakan upaya kami para individu yang ada di PT dan instansi lainnya untuk mencerahkan dan memberi wawasan kepada publik/masyarakat tentang berbagai hal menyangkut cuaca dan iklim secara sukarela. Ini sebagai wujud dari tanggungjawab moral kami kepada masyarakat terhadap diskursus, issue issue, serta berita berita yang beredar di masyarakat yang bisa jadi meresahkan atau perlu dijernihkan. Kegiatan Sedekah Ilmu ini merupakan yang kedua kalinya kami lakukan dengan para narasumber yang sebagian berbeda. Flyer publikasinya bisa dilihat di link berikut ini:
Semoga apa yang kami sampaikan ini benar benar bermanfaat bagi khalayak umum. Acara ini tetap akan kami lanjutkan di masa mendatang manakala ada hal hal yang beredar di masyarakat yang perlu dicerahkan. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT dan berkah bagi semuanya. Aamiin.
Friday, August 29, 2025
Rangkaian Kadarling dan Masyarakat Cerdas Iklim
Gerakan Kadarling dan masyarakat cerdas iklim yang kami lakukan sudah dirintis sejak 2022 meskipun embrionya sebenarnya sudah puluhan tahun yang lalu diinisiasi melalui kegiatan KKN baik reguler maupun terpadu bersama UI dan IPB. Pada tahun 2022 itulah yang diupayakan lebih terstruktur dan terorganisir dengan bantuan rekan rekan se fakultas maupun lain fakultas. Beberapa dokumentasi yang bisa disajikan terlihat pada gambar berikut ini. Kami coba upayakan agar kegiatan semacam ini bisa menjadi contoh baik kalangan perguruan tinggi di dalam negeri maupun lembaga swadaya masyarakat atau perguruan tinggi di luar negeri. Salah satu upayanya adalah dengan mempublikasikannya ke media massa atau media sosial yang menjangkau seluruh dunia. Itu bisa terlihat pada postingan sebelumnya.
Monday, August 4, 2025
Mari bentuk keluarga yang sadar lingkungan
Keluarga merupakan unit terkecil dalam strata masyarakat namun berpengaruh besar bagi kebaikan dan kerusakan lingkungan. Pendidikan tentang lingkungan harus dimulai dari anggota keluarga agar dampaknya bisa makin membesar, baik skala ruang maupun skala waktunya. Dari kumpulan keluarga akan membentuk masyarakat dari mulai tingkat RT, RW, desa/kelurahan, kecamatan, kota/kabupaten, propinsi, negara, kawasan/regional bahkan global. Bila kebaikan kebaikan dilakukan pada berbagai skala tersebut maka kebaikan di bumi juga akan makin mengemuka. Kesadaran lingkungan yang baik akan membawa dampak pada kebaikan global.
Generasi muda merupakan elemen bangsa yang sangat menentukan pada masa kini dan nanti. Oleh sebab itu pendidikan kesadaran lingkungan harus diberikan kepada mereka sejak dini agar bisa berkontribusi besar pada perbaikan dan kebaikan lingkungan. Lingkungan yang mendukung akan menyamankan hidup dan membahagiakan. Simak tulisan saya yang dimuat di ISTF (International Society for Tropical Foresters) edisi bulan Juni 2025 yang dipublish 3 Agustus 2025 kemarin halaman 19 sampai 21 berikut ini.
https://tropicalforesters.org/istf-global-news/ https://drive.google.com/drive/folders/1zoyRheg04F_Pb_Uchiz9MR93DQTT28A_?usp=sharing
Friday, July 11, 2025
Perubahan iklim harus kita kendalikan
Beberapa waktu terakhir ini banyak peristiwa anomali cuaca dan iklim yang mengakibatkan kerugian harta benda dan nyawa di berbagai belahan dunia, khususnya di benua Asia. Tahun lalu berbagai bencana besar terjadi yang kemungkinan diakibatkan oleh meningkatnya suhu bumi dan merupakan tahun terpanas sejak rata rata tahun 1850-1900 di wilayah Asia. Kondisi ini dari waktu ke waktu makin sulit untuk diprediksi mengingat efek berantai dari peristiwa pemanasan global yang dipicu oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Tahun 2024 pula telah disepakati meskipun tidak bulat dan angkanya kecil bahwa dana aksi iklim hanya 300 milyar dollar Amerika, jauh dari yang diharapkan yakni 1300 milyar dollar. Tahun ini akan dibahas lagi di pertemuan IPCC di Brazil Amerika Selatan. Semoga hasilnya lebih nyata dan dirasakan dalam keseharian hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di bumi ini.
Beberapa waktu yang lalu telah dilaksanakan kuesioner terkait masalah pemanasan global dan perubahan iklim terhadap 84 peserta mata kuliah Perubahan iklim yang berasal dari 8 fakultas di ITB. Dan berikut inilah kesimpulan hasil survey tersebut yang kemudian dipublikasikan di Berita ITB .
Simak terus ya. Lihat juga https://jokowiratmo.blogspot.com/2025/07/hasil-survey-perubahan-iklim-itb-juni.html Oleh karena itu maka aksi iklim harus dilakukan dari mulai dunia pendidikan sejak usia dini.
Thursday, April 10, 2025
Webinar Garda depan: nantikan kegiatan selanjutnya
Beberapa waktu yang lalu diselenggarakan webinar peningkatan kualitas calon garda depan informasi cuaca dan iklim Indonesia 2025 yang menghadirkan beberapa narasumber seperti Prof. Dwikorita (BMKG, UGM), Prof. Eddy Hermawan (BRIN), Dr. Joko Wiratmo (ITB), Dr. Palto M Siregar (ITB), Prof. Iskhaq Iskandar (UNSRI), Prof. Rahmat Gernowo (UNDIP), Prof. Halmar Halide (UNHAS), dan Prof. Ismunandar (staf ahli Menbud, ITB). Webinar ini merupakan kelanjutan dari webinar di tahun 2024 yang lalu sehingga sebagian peserta merupakan peserta tahun lalu. Ini menggembirakan mengingat informasi cuaca dan iklim Indonesia yang demikian unik menarik minat masyarakat untuk turut memikirkan agar tidak sampai terjadi berita hoaks dan informasi cuaca dan iklim bisa dikemas menjadi berita yang menarik bagi masyarakat. Apa yang disampaikan dalam kesempatan tersebut sebagian merupakan pendalaman materi dari yang telah disampaikan tahun lalu sekaligus juga memberikan dasar dasar bagi penguasaan materi cuaca dan iklim yang bersifat umum bagi kalangan awam yang wajib untuk diketahui.
Dari pendaftar yang mencapai 200 an lebih, yang hadir dalam zoom tersebut sekitar 175 an peserta yang datang dari seluruh wilayah Indonesia. Antuasme yang tinggi dari para peserta tersebut mengindikasikan bahwa banyak di kalangan masyarakat yang amat peduli pada masalah cuaca dan iklim serta bersedia untuk menjadi garda depan hal tersebut. Semoga komunikasi yang telah terjalin baik melalui media masa maupun media sosial benar benar bermanfaat bagi masyarakat luas. Nantikan pada webinar webinar di masa mendatang dari kami di Institut Teknologi Bandung.
Thursday, October 24, 2024
Hasil kuesioner tentang Jejak Karbon
Berikut ini adalah hasil dari kuesioner yang diberikan pada mata kuliah Perubahan Iklim yang saya ampu yang melibatkan 76 mahasiswa dari 8 Fakultas dan Sekolah di Insitut Teknologi Bandung (ITB). Kegiatan kuesioner semacam ini bermanfaat bagi banyak hal khususnya secara individu untuk mengetahui seberapa banyak aktivitasnya selama ini dalam menyumbang emisi karbon ke atmosfer serta menargetkan untuk menguranginya secara revolusioner. Kuesioner ini juga bermanfaat untuk mengetahui bagaimana industri yang terkait dengan keilmuannya menyumbang emisi karbon dan sumbang saran dari para mahasiswa untuk menguranginya. Selengkapnya bisa dibaca dalam tulisan berikut ini.
1. Berapa jejak karbon anda sebagai satu individu? Rata-rata = 2.45 Ton
2. Berapa target pengurangan emisi karbon yang Anda hasilkan? Rata-rata = 1.65 Ton 45% responden menargetkan 1-2 Ton
4. Industri yang berkaitan dengan program studi anda 1. Sektor energi fosil dan transportasi mendominasi, mencakup sekitar 60% dari total industri yang disebutkan, yang mengindikasikan tingginya potensi emisi karbon dari industri-industri terkait program studi responden. Industri-industri ini umumnya memiliki intensitas karbon yang tinggi (>1000 gCO2/kWh untuk energi fosil). 2. Terdapat keseimbangan antara industri konvensional (fosil) dan industri yang berorientasi pada keberlanjutan, dengan munculnya energi terbarukan (seperti PLTS dan geothermal) sebagai sektor yang berkembang, mencakup sekitar 15% dari total industri yang disebutkan. 3. Sektor manufaktur dan teknologi membentuk porsi signifikan (sekitar 25%) dari industri yang disebutkan, dengan tingkat intensitas karbon yang bervariasi dari rendah hingga sedang, menunjukkan adanya potensi untuk implementasi praktik-praktik ramah lingkungan dalam sektor-sektor ini.
5. Hitunglah jejak karbon untuk industri yang berkaitan dengan program studi anda! 1. Industri Energi dan Listrik- PLTU menghasilkan emisi terbesar, dengan contoh PLTU Suralaya mencapai 28.175.000 ton CO₂/tahun- PT PLNtotal emisi mencapai 270,338 juta ton CO₂e (2022) dari scope 1, 2, dan 3- Panel surya relatif lebih rendah dengan 1.875 kg CO2eq per 1 kW selama 25 tahun 2. Industri Migas dan Kimia- Sektor Chemical dan Petrochemical menyumbang 3.135 GtCO2e (6.6% dari total emisi global)- PT Pertamina menghasilkan sekitar 25,078 juta ton CO2- Industri minyak dan gas secara umum menghasilkan 5-6 miliar ton CO2 per tahun 3. Industri Transportasi- Penerbangan menghasilkan sekitar 90-100 gram CO₂ per penumpang per kilometer- Formula 1 mencatat 223.031 tCO2e (2022)- Industri perkapalan global menghasilkan sekitar 1.119,6 juta ton CO2 per tahun Dari data tersebut terlihat bahwa industri energi dan migas masih menjadi penyumbang terbesar jejak karbon di antara sektor-sektor lainnya.
6. Jelaskan secara singkat, metode apa yang anda gunakan untuk menghitung jejak karbon tersebut? 1. Metode Perhitungan Dominan:- Mayoritas responden menggunakan pendekatan faktor emisi sebagai metode utama, di mana aktivitas atau konsumsi energi dikalikan dengan faktor emisi standar- Life Cycle Assessment (LCA) juga sering disebutkan sebagai metode komprehensif untuk menganalisis jejak karbon dari seluruh siklus hidup produk/proses- Banyak yang menggunakan pendekatan scope (1,2,3) sesuai Greenhouse Gas Protocol untuk mengkategorikan dan menghitung emisi 2. Sumber Data:- Sebagian besar mengandalkan data sekunder dan laporan keberlanjutan (sustainability report) perusahaan- Beberapa menggunakan standar internasional dan pedoman dari lembaga seperti IPCC, EPA, atau regulasi nasional- Data aktivitas yang umum digunakan meliputi konsumsi energi, bahan bakar, jarak tempuh, dan kapasitas produksi 3. Variasi Tingkat Kedalaman Analisis:- Ada perbedaan signifikan dalam kedalaman analisis, dari perhitungan sederhana hingga analisis komprehensif- Beberapa responden memberikan perhitungan detail dengan rumus spesifik dan asumsi yang jelas- Sebagian lain memberikan jawaban lebih umum atau hanya mengandalkan data dari literatur tanpa perhitungan mandiri
7. Berikan satu contoh perusahaan dan jelaskan menurut Anda dan berdasarkan riset terdahulu bagaimana cara perusahaan terkait dapat mengurangi jejak karbon pada industri tersebut? 1. Transisi ke Energi Bersih: Pemanfaatan Energi Terbarukan: Mengganti sumber energi fosil dengan energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, hidro, dan geothermal. Efisiensi Energi: Mengoptimalkan penggunaan energi dalam proses produksi dan operasional untuk mengurangi konsumsi energi secara keseluruhan. Pengembangan Teknologi Baru: Menerapkan teknologi seperti baterai, sel bahan bakar, dan kendaraan listrik untuk mengurangi emisi dari sektor transportasi. 2. Pengelolaan Karbon: Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS): Menangkap emisi karbon, memanfaatkannya untuk berbagai keperluan, dan menyimpannya di tempat yang aman. Pengelolaan Hutan: Melakukan reforestasi, menjaga kelestarian hutan, dan menerapkan praktik pengelolaan hutan berkelanjutan. Daur Ulang dan Pengelolaan Limbah: Mengurangi produksi limbah dan meningkatkan tingkat daur ulang untuk mengurangi emisi dari proses produksi. 3. Inovasi Proses Produksi: Material Ramah Lingkungan: Menggunakan bahan baku yang lebih ramah lingkungan dan mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya. Desain Produk Berkelanjutan: Mendesain produk yang mudah didaur ulang dan memiliki umur pakai yang lebih panjang. Optimasi Distribusi: Mengurangi emisi dari proses transportasi dan distribusi produk.
8. Bagaimana anda sebagai mahasiswa dapat berkontribusi untuk mengurangi jejak karbon industri berkaitan tersebut? 1. Inovasi dan Pengembangan: Mahasiswa dapat menciptakan solusi inovatif untuk mengurangi jejak karbon melalui penelitian, pengembangan teknologi baru, dan desain produk yang berkelanjutan. Ini mencakup pengembangan energi terbarukan, efisiensi energi, dan material ramah lingkungan. 2. Advokasi dan Edukasi: Mahasiswa berperan penting dalam menyebarkan kesadaran tentang pentingnya mengurangi jejak karbon. Ini dapat dilakukan melalui kampanye, sosialisasi, dan partisipasi dalam pembuatan kebijakan publik yang mendukung keberlanjutan. 3. Implementasi dalam Kehidupan Sehari-hari: Mahasiswa dapat menjadi contoh dengan menerapkan gaya hidup berkelanjutan, seperti mengurangi konsumsi, memilih produk ramah lingkungan, dan berpartisipasi dalam kegiatan aksi lingkungan. Selain itu, mahasiswa juga dapat mendorong perubahan di lingkungan sekitar mereka dengan mengajak teman dan keluarga untuk turut serta dalam upaya mengurangi jejak karbon
Tuesday, October 22, 2024
Apa kaitannya perubahan iklim dengan keterlambatan monsoon Asia??
Saat ini monsoon Australia bertiup dominan di wilayah Indonesia sehingga sebagian besar wilayah kita mengalami musim kemarau. Seperti diketahui dominannya angin tenggara di wilayah selatan katulistiwa membawa dampak pada sedikitnya kelembapan udara yang cukup untuk terbentuknya perawanan hujan. Ini karena angin tenggara tersebut kurang mendapatkan suplai uap air selama melintas dari Australia menuju Indonesia. Hal ini berbeda dengan monsoon Asia yang banyak mengalami pengayakan uap air karena banyak melintasi wilayah perairan. Ingat bahwa sifat massa udara bisa berubah tergantung pada permukaan yang dilaluinya.
Gambaran tentang bagaimana streamline angin dari Australia tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini.










.jpg)








.png)





