Tuesday, July 7, 2026

Mahasiswa ITB sadar jejak karbon

Perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam membangun nalar publik yang sehat dan kritis, serta berfokus pada kepentingan masyarakat. Di tengah derasnya arus informasi dan persoalan sosial yang kompleks, kampus harus menyediakan ruang diskusi yang ilmiah dan terbuka, serta berintegritas. Melalui pendidikan dan penelitian, perguruan tinggi dapat mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten tetapi juga mampu berpikir rasional dan menghargai perbedaan.

Lebih jauh, perguruan tinggi berfungsi sebagai laboratorium solusi bangsa, melahirkan inovasi yang menjawab tantangan zaman, seperti ketimpangan ekonomi dan krisis lingkungan. Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat sangat penting untuk menghasilkan penelitian aplikatif yang berdampak langsung. Dengan demikian, perguruan tinggi harus keluar dari menara gading dan menjadi pusat penggerak perubahan, berkontribusi nyata dalam kemajuan sosial dan demokrasi bangsa.

Dalam hal perubahan iklim, hal yang bisa dilakukan perguruan tinggi banyak sekali dan  bisa sangat membumi. Untuk mengetahui bagaimana perspektif mahasiswa terkait masalah tersebut, telah dilakukan survey beberapa waktu yang lalu tentang jejak karbon mahasiswa ITB peserta MK Perubahan iklim  dan bagaimana komitmen mereka dalam mengurangi jejak karbon tersebut. Profil peserta pengisi survey tersebut bisa disajikan sebagai berikut:

· STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika): 18 peserta (31%)
· FTI (Fakultas Teknologi Industri): 15 peserta (26%)
· FTMD (Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara): 9 peserta (15%)
· FTTM (Fakultas Teknik Tambang dan Perminyakan): 7 peserta (12%)
· SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen): 5 peserta (9%)
· FTSL (Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan): 4 peserta (7%)
· FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam): 1 peserta (2%)

Terkait jejak karbon dan target pengurangannya bisa dinyatakan bahwa:
· Jejak karbon individu bervariasi cukup luas, dari kurang dari 1 ton CO2-eq hingga lebih dari 17 ton CO2-eq per tahun.
· Target pengurangan emisi karbon juga bervariasi, dari nol hingga lebih dari 4 ton per tahun.
· Mayoritas peserta melakukan pengurangan emisi dari kegiatan seperti transportasi, daya rumah tangga, makanan, alat rumah tangga, dan sampah.

Berkaitan dengan industri besar yang terkait dengan bidang studinya maka mahasiswa merespon sebagai berikut:
· Industri besar yang paling banyak disebut terkait dengan program studi adalah: teknologi informasi, energi (minyak dan gas, petrokimia, panas bumi), pertambangan, dirgantara, dan manufaktur.
· Nama perusahaan besar yang paling banyak muncul: Google, Microsoft, Boeing, Pertamina, PT Freeport, ArcelorMittal, dan beberapa perusahaan besar lain sesuai bidang.

Ketika ditanyakan tentang emisi karbon Perusahaan tersebut dan teknologi pengurangannya, mereka menjawab sebagai berikut:
· Emisi karbon perusahaan besar berkisar dari sangat kecil (misalnya ratusan ribu ton CO2-eq) hingga sangat besar (puluhan hingga ratusan juta ton CO2-eq per tahun).
· Teknologi pengurangan emisi yang digunakan meliputi:
o Penggunaan bahan bakar ramah lingkungan (biofuel, SAF/Sustainable Aviation Fuel)
o Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS)
o Efisiensi energi (data center, produksi, dan operasi)
o Energi terbarukan (solar, angin, geothermal)
o Optimasi proses produksi dan penggunaan AI
o Pengurangan bahan bakar fosil dan elektrifikasi peralatan

Dengan demikian maka bisa disimpulkan bahwa:
  1. · Peserta survei menunjukkan kesadaran yang baik terhadap jejak karbon pribadi dan menetapkan target pengurangan yang realistis.
  2. · Pengurangan emisi dilakukan pada beberapa aspek utama yang berkontribusi paling besar terhadap emisi, yaitu transportasi dan penggunaan energi di rumah.
  3. · Industri yang menjadi fokus mayoritas peserta memberikan gambaran teknologi dan langkah-langkah nyata dalam pengurangan emisi karbon, yang dapat menjadi contoh bagi individu dan organisasi lain.
  4. · Rekomendasi:
o Memperkuat edukasi dan kampanye pengurangan jejak karbon di kalangan mahasiswa.
o Mendorong adopsi teknologi hijau di tingkat individu maupun institusi.
o Membuat program kolaborasi antara fakultas dengan perusahaan terkait untuk riset dan pengembangan teknologi rendah karbon.
 

Tuesday, June 30, 2026

Mungkinkah gelombang panas bisa terjadi di Indonesia??

Menyimak berita yang termuat di sini mengingatkan kita akan peluang terjadi peristiwa gelombang panas serupa di Indonesia. Meskipun dari berbagai teori peluang terjadinya gelombang panas seperti terjadi di Eropa kecil. Ini mengingat Indonesia berada di sekitar garis khatulistiwa sehingga merupakan wilayah bertekanan rendah. Sementara di Eropa yang terletak di lintang menengah, sering mempunyai tekanan udara tinggi yang merupakan syarat terbentuknya gelombang panas. Seperti telah saya sebut dalam beberapa postingan sebelumnya, gelombang panas terjadi ketika di dekat permukaan bumi padat/daratan mempunyai tekanan tinggi sehingga merupakan wilayah subsidensi yang berasal dari lapisan troposfer atas yang relatif kering. Subsidensi inilah yang kemudian ketika mencapai permukaan bumi akan menyebar secara horizontal/menjadikannya adveksi/gerak divergensi yang kemudian kita sebut dengan gelombang panas. Pada setahun dua tahun yang lalu, gelombang panas juga terjadi di Eropa dimana waktu itu suhu permukaan laut samudra Atlantik bagian utara mengalami pemanasan sehingga udara bertekanan rendah sementara di daratan bertekanan tinggi. Oleh sebab itu berhembuslah angin dari daratan ke lautan yang bertekanan rendah. Massa udara yang bergerak tersebut merupakan udara kering yang kelembapan relatifnya rendah. Ini yang membawa dampak pada kesehatan manusia apalagi mereka mereka yang peka terhadap cuaca panas sampai 40 an derajat Celcius bahkan bisa lebih. Para lanjut usia, anak anak, bayi dan ibu hamil merupakan kelompok yang rentan terhadap gangguan cuaca ini. Bahkan menurut berita di atas, sudah lebih dari 1300 orang yang meninggal akibat gelombang panas sejak 21 Juni kemarin. Mari kita lihat gambar berikut ini:
Terlihat bahwa bila pasangan antara temperatur udara dan kelembapan relatifnya bernilai lebih dari 85 maka bisa dipastikan masyarakat akan tersengat udara panas yang bisa menyebabkan kematian. Inilah yang harus dihindari, sehingga tidak aneh kalau di banyak kota di Eropa di taman taman kota atau banyak masyarakat biasa berkumpul, banyak semprotan air dari kendaraan tertentu seperti pemadam kebakaran dan keran keran air minum yang mengalir dengan deras. Ini menyebabkan udara relatif lembap dan mengurangi keringat mengucur deras. Apa hubungannya dengan pemanasan global dan perubahan iklim? Kedua hal ini merupakan keranjang sampah dari semua permasalahan anomali cuaca dan iklim global karena memang dengan meningkatnya emisi karbon ke atmosfer hal hal tersebut terjadi. Oleh sebab itu maka pedulilah tentang issue keduanya. Kita turut berperan dalam kerusakan bumi melalui emisi karbon yang kita lepaskan sehari hari, dari hal hal yang kecil sekalipun. Terkait jejak karbon dan langkah langkah apa yang bisa dilakukan, silahkan baca pada postingan sebelumnya atau dari blog saya yang lain yang alamatnya tertera dalam blog ini. Semoga postingan ini membawa pencerahan.

Tuesday, June 2, 2026

Ribut ribut tentang El Nino Super (lagi)

 Sebenarnya masyarakat bisa memperoleh banyak informasi dari AI seperti yang saya cantumkan di bawah ini. Meskipun demikian peningkatan literasi informasi cuaca dan iklim di wilayah Indonesia harus terus menerus dilakukan agar masyarakat tidak bimbang dan ragu serta termakan hoaks yang disebarkan pihak tertentu. Edukasi semacam ini akan mengurangi kepanikan masyarakat tentang berbagai informasi cuaca dan iklim apalagi di awal tahun ini sejumlah pihak sudah menyebut El Nino Godzilla atau super El Nino. ENG ini bila bersuposisi dengan Dipole Mode positif yang kuat dan terjadi saat musim kemarau dimana angin dari wilayah Australia bertiup ke Asia maka akan makin besar dampaknya bagi Indonesia dimana berdasarkan sejarah akan berakibat pada timbulnya kekeringan yang panjang dan hebat. Silahkan simak langkah langkah yang harus dilakukan oleh berbagai pihak menyikapi bila kejadiannya seperti digambarkan di atas. 

Sebenarnya kekeringan itu masalah tarik menarik lokasi awan antara barat timur dan utara selatan, kuat kuatan yang mana. Itu fenomena tahunan dan antar tahunan, belum lagi bila antar musiman dan dekadean serta harian. Begitu kompleks sebenarnya masalah ini namun bisa disederhanakan seperti hal yang disampaikan di atas. Yuk perbaiki literasinya dan ajak masyarakat untuk makin peduli pada masalah cuaca, musim dan iklim. 




Monday, June 1, 2026

Beberapa perbandingan ...

 Saya beberapa waktu yang lalu mencoba melihat keunggulan dan kelemahan BMKG kita dibanding beberapa negara maju dunia seperti Jepang, Jerman, Amerika Serikat, Australia dan Swedia. Kelima negara tersebut merupakan beberapa contoh raksasa dunia dalam bidang meteorologi, klimatologi, geofisika dan hidrologi. Sebenarnya dibanding kelima negara tersebut, negara kita tidak kalah jauh apalagi sekarang upaya otomatisasi alat makin ditingkatkan, kualitas SDM nya juga makin meningkat dimana banyak yang dikuliahkan lagi baik di institusi dalam negeri maupun luar negeri. Berikut ini perbandingannya: 




Sunday, May 3, 2026

Perubahan iklim: Ancaman nyata, tanggungjawab generasi pemimpin

Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu masa depan, melainkan kenyataan yang telah terjadi sejak masa lalu, terasa nyata pada masa kini, dan akan terus menentukan arah kehidupan di masa depan. Dampaknya hadir dalam bentuk bencana hidrometeorologi, krisis pangan, kerusakan lingkungan, penurunan kualitas kesehatan masyarakat, hingga ancaman terhadap stabilitas sosial dan ekonomi bangsa. Pertanyaannya, sudahkah kita sebagai generasi yang saat ini memegang amanah pemerintahan benar-benar siap menghadapi tantangan tersebut?

Generasi X yang saat ini berada dalam posisi strategis pemerintahan memikul tanggung jawab besar sebagai penentu arah kebijakan nasional. Pengalaman panjang, kematangan berpikir, serta kapasitas kepemimpinan yang dimiliki harus menjadi kekuatan utama dalam merumuskan langkah nyata menghadapi perubahan iklim. Belajar dari berbagai peristiwa masa lalu, termasuk kegagalan dalam pengelolaan lingkungan dan pembangunan yang kurang berkelanjutan, menjadi landasan penting untuk membangun masa depan yang lebih kuat, sehat, dan berkeadilan.

https://www.msn.com/id-id/berita/teknologidansains/10-bukti-pemanasan-global-memang-nyata-bukan-main-dampaknya/ar-AA20KK1F?ocid=entnewsntp&pc=LCTS&cvid=050adf2864354d5fa327f67b5811d7e9&ei=17

Setiap keputusan kecil dalam pemerintahan memiliki dampak besar bagi masyarakat luas. Oleh karena itu, seluruh potensi ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan publik, serta tata kelola pemerintahan harus dimanfaatkan secara optimal untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan. Langkah-langkah sederhana namun strategis seperti efisiensi energi, pengelolaan sumber daya air, ketahanan pangan, pengurangan emisi, serta penguatan mitigasi bencana harus menjadi prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional.

Sebagai pemimpin bangsa, Generasi X tidak hanya bertugas menjaga stabilitas hari ini, tetapi juga menyiapkan masa depan bagi generasi berikutnya. Dunia sedang menghadapi ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik, krisis energi, ancaman pangan, hingga perubahan iklim ekstrem. Dalam situasi seperti ini, dibutuhkan keberanian untuk menyusun kebijakan yang visioner, inovatif, dan berorientasi jangka panjang, bukan sekadar solusi sesaat yang bersifat populis.

Aksi nyata jauh lebih bermakna daripada sekadar wacana kepedulian. Berbagai bencana yang terjadi di tanah air menjadi ujian kepemimpinan sekaligus ujian moral bagi para penyelenggara negara. Apakah nasionalisme masih menjadi ruh pengabdian? Apakah semangat persatuan, kesetiakawanan sosial, dan rasa kemanusiaan masih menjadi dasar dalam setiap keputusan? Kepemimpinan sejati diuji bukan saat keadaan nyaman, tetapi ketika bangsa menghadapi kesulitan besar.

Dengan semangat gotong royong, kolaborasi lintas sektor, dan optimisme yang kuat, bangsa ini mampu menghadapi berbagai tantangan tersebut. Lokomotif kemajuan Indonesia harus tetap berpijak pada lima pilar kebangsaan: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945, dan semangat Sumpah Pemuda. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi moral dan arah strategis dalam menjaga persatuan serta memperkuat ketahanan nasional.

Kini saatnya Generasi X yang berada di pemerintahan menunjukkan warisan terbaiknya bagi bangsa. Bukan sekadar jabatan yang dikenang, tetapi keberanian mengambil keputusan besar demi keselamatan masa depan Indonesia. Mari bekerja dengan integritas, bertindak dengan keberanian, dan mengabdi dengan ketulusan untuk mewujudkan Indonesia yang maju, adil, sejahtera, dan bermartabat bagi seluruh rakyat serta generasi yang akan datang.

Monday, April 13, 2026

Kadarling dan Massalim: ISTF Maret 2026

 Berikut ini konsep kadarling dan massalim yang diinisasi untuk meningkatkan kesadaran tentang lingkungan dan cuaca serta iklim yang kami ujicobakan kepada para generasi muda, siswa sekolah menengah atas dan santri pondok pesantren. Baca khususnya pada halaman 36-38.

https://drive.google.com/file/d/13iRyCeyWVT7t5aFM71GssiEve4x15WHv/view?usp=sharing

Publikasi di International Society for Tropical Forester, Maret 2026 kemarin

Dengan dikolaborasikan kegiatan pembinaan calon calon garda depan informasi cuaca dan iklim Indonesia diharapkan dampaknya lebih signifikan membawa perubahan menuju masyarakat yang melek cuaca dan iklim. 

Thursday, April 2, 2026

Gajahnya Godzila: ENSO, IOD, monsoon

 Berikut ini disampaikan bagaimana Gajahnya Godzila akan berpengaruh pada pola tanam di wilayah Indonesia. Ini berdasarkan klimatologis kejadian sehingga penting untuk diketahui publik baik oleh pemerintah maupun swasta, PT dan BRIN, media masa dan publik atau masyarakat secara umum khususnya para (kelompok) tani. Antisipasi atas berbagai kemungkinan musim yang akan terjadi harus disadarkan ke semua pihak tanpa kecuali termasuk dalam bidang kehutanan karena kemungkinan karhutla (kebakaran hutan dan lahan).


Silahkan disimak dalam file di atas.   


Wednesday, December 31, 2025

Webinar Iklim, budaya dan bencana: Perspektif mikro sampai global

Untuk yang ketiga kalinya, dilakukan webinar Sedekah Ilmu dengan judul di atas dimana pembicaranya adalah Dr. Joko Wiratmo MP dan Prof. Halmar Halide pada 27 Desember 2025. Webinar yang dibuka oleh Wakil Dekan FITB Dr. Rusmawan Suwarman ini berlangsung dengan meriah dan dihadiri oleh para dosen, akademisi, guru, mahasiswa, pelajar, konsultan, ASN/PNS misal dari BMKG dan BNPB dan lain lain. Selengkapnya tentang acara tersebut bisa dilihat pada link:

https://youtu.be/RGxasKeoSwg? si=GqQX9dS3Ydywpnpu  oleh WDS FITB 

https://youtu.be/gs1AvMvq0Io?si=FEERh8jD0h1rko5f  oleh Dr. Joko Wiratmo MP (ITB)

https://youtu.be/muNyiQSrmag?si=3deX2vhZy5euJNV5  oleh Prof. Halmar Halide (UNHAS)



Tuesday, November 11, 2025

Sedekah Ilmu Cuaca dan Iklim

 Hari Sabtu tanggal 8 November 2025 kemarin telah diselenggarakan kegiatan Sedekah Ilmu bertema: Kejadian cuaca dan iklim ekstrem: Tantangan dan Prospeksnya di tahun 2025/2026. Dalam kegiatan tersebut hadir Dr. Supari (BMKG), Prof. Eddy Hermawan (BRIN), Dr. Joko Wiratmo MP (ITB), Prof. Rahmat Gernowo (UNDIP), Prof. Ruminta (UNPAD), dan Dr. Sorja Koesuma (UNS) yang dimoderatori oleh Dr. Nurjana Joko Trilaksono (ITB). Kegiatan sedekah ilmu ini merupakan upaya kami para individu yang ada di PT dan instansi lainnya untuk mencerahkan dan  memberi wawasan kepada publik/masyarakat tentang berbagai hal menyangkut cuaca dan iklim secara sukarela. Ini sebagai wujud dari tanggungjawab moral kami kepada masyarakat terhadap diskursus, issue issue, serta berita berita yang beredar di masyarakat yang bisa jadi meresahkan atau perlu dijernihkan. Kegiatan Sedekah Ilmu ini merupakan yang kedua kalinya kami lakukan dengan para narasumber yang sebagian berbeda. Flyer publikasinya bisa dilihat di link berikut ini:  


Hasil dari kegiatan tersebut dapat disimak dari link video berikut ini. https://drive.google.com/file/d/1nbyvgWQpaQT-51pFruFOmhuEYgUqTabi/view?usp=sharing
sedangkan ppt nya dapat diperoleh dari link berikut: https://drive.google.com/drive/folders/1RsrfFUbCRO3houTxN-KKWzLSDe9pEHL8?usp=sharing
Semoga apa yang kami sampaikan ini benar benar bermanfaat bagi khalayak umum. Acara ini tetap akan kami lanjutkan di masa mendatang manakala ada hal hal yang beredar di masyarakat yang perlu dicerahkan. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT dan berkah bagi semuanya. Aamiin.



Friday, August 29, 2025

Rangkaian Kadarling dan Masyarakat Cerdas Iklim

 Gerakan Kadarling dan masyarakat cerdas iklim yang kami lakukan sudah dirintis sejak 2022 meskipun embrionya sebenarnya sudah puluhan tahun yang lalu diinisiasi melalui kegiatan KKN baik reguler maupun terpadu bersama UI dan IPB. Pada tahun 2022 itulah yang diupayakan lebih terstruktur dan terorganisir dengan bantuan rekan rekan se fakultas maupun lain fakultas. Beberapa dokumentasi yang bisa disajikan terlihat pada gambar berikut ini. Kami coba upayakan agar kegiatan semacam ini bisa menjadi contoh baik kalangan perguruan tinggi di dalam negeri maupun lembaga swadaya masyarakat atau perguruan tinggi di luar negeri. Salah satu upayanya adalah dengan mempublikasikannya ke media massa atau media sosial yang menjangkau seluruh dunia. Itu bisa terlihat pada postingan sebelumnya. 


Semoga upaya yang kami rintis ini bisa berlanjut dengan dukungan dana dari dalam negeri ataupun luar negeri serta menjadi gerakan massal yang masiv dan bermanfaat banyak bagi kemanusiaan. Ini semata mata kami lakukan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap bidang lingkungan dan iklim yang menguasai hajat hidup orang banyak.

Monday, August 4, 2025

Mari bentuk keluarga yang sadar lingkungan

 Keluarga merupakan unit terkecil dalam strata masyarakat namun berpengaruh besar bagi kebaikan dan kerusakan lingkungan. Pendidikan tentang lingkungan harus dimulai dari anggota keluarga agar dampaknya bisa makin membesar, baik skala ruang maupun skala waktunya. Dari kumpulan keluarga akan membentuk masyarakat dari mulai tingkat RT, RW, desa/kelurahan, kecamatan, kota/kabupaten, propinsi, negara, kawasan/regional bahkan global. Bila kebaikan kebaikan dilakukan pada berbagai skala tersebut maka kebaikan di bumi juga akan makin mengemuka. Kesadaran lingkungan yang baik akan membawa dampak pada kebaikan global.

Generasi muda merupakan elemen bangsa yang sangat menentukan pada masa kini dan nanti. Oleh sebab itu pendidikan kesadaran lingkungan harus diberikan kepada mereka sejak dini agar bisa berkontribusi besar pada perbaikan dan kebaikan lingkungan. Lingkungan yang mendukung akan menyamankan hidup dan membahagiakan. Simak tulisan saya yang dimuat di ISTF (International Society for Tropical Foresters) edisi bulan Juni 2025 yang dipublish 3 Agustus 2025 kemarin halaman 19 sampai 21 berikut ini.

https://tropicalforesters.org/istf-global-news/  https://drive.google.com/drive/folders/1zoyRheg04F_Pb_Uchiz9MR93DQTT28A_?usp=sharing



Friday, July 11, 2025

Perubahan iklim harus kita kendalikan

 Beberapa waktu terakhir ini banyak peristiwa anomali cuaca dan iklim yang mengakibatkan kerugian harta benda dan nyawa di berbagai belahan dunia, khususnya di benua Asia. Tahun lalu berbagai bencana besar terjadi yang kemungkinan diakibatkan oleh meningkatnya suhu bumi dan merupakan tahun terpanas sejak rata rata tahun 1850-1900 di wilayah Asia. Kondisi ini dari waktu ke waktu makin sulit untuk diprediksi mengingat efek berantai dari peristiwa pemanasan global yang dipicu oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Tahun 2024 pula telah disepakati meskipun tidak bulat dan angkanya kecil bahwa dana aksi iklim hanya 300 milyar dollar Amerika, jauh dari yang diharapkan yakni 1300 milyar dollar. Tahun ini akan dibahas lagi di pertemuan IPCC di Brazil Amerika Selatan. Semoga hasilnya lebih nyata dan dirasakan dalam keseharian hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di bumi ini. 

Beberapa waktu yang lalu telah dilaksanakan kuesioner terkait masalah pemanasan global dan perubahan iklim terhadap 84 peserta mata kuliah Perubahan iklim yang berasal dari 8 fakultas di ITB. Dan berikut inilah kesimpulan hasil survey tersebut yang kemudian dipublikasikan di  Berita ITB . 


Simak terus ya. Lihat juga https://jokowiratmo.blogspot.com/2025/07/hasil-survey-perubahan-iklim-itb-juni.html  Oleh karena itu maka aksi iklim harus dilakukan dari mulai dunia pendidikan sejak usia dini.

Thursday, April 10, 2025

Webinar Garda depan: nantikan kegiatan selanjutnya

 Beberapa waktu yang lalu diselenggarakan webinar peningkatan kualitas calon garda depan informasi cuaca dan iklim Indonesia 2025 yang menghadirkan beberapa narasumber seperti Prof. Dwikorita (BMKG, UGM), Prof. Eddy Hermawan (BRIN), Dr. Joko Wiratmo (ITB), Dr. Palto M Siregar (ITB), Prof. Iskhaq Iskandar (UNSRI), Prof. Rahmat Gernowo (UNDIP), Prof. Halmar Halide (UNHAS), dan Prof. Ismunandar (staf ahli Menbud, ITB). Webinar ini merupakan kelanjutan dari webinar di tahun 2024 yang lalu sehingga sebagian peserta merupakan peserta tahun lalu. Ini menggembirakan mengingat informasi cuaca dan iklim Indonesia yang demikian unik menarik minat masyarakat untuk turut memikirkan agar tidak sampai terjadi berita hoaks dan informasi cuaca dan iklim bisa dikemas menjadi berita yang menarik bagi masyarakat. Apa yang disampaikan dalam kesempatan tersebut sebagian merupakan pendalaman materi dari yang telah disampaikan tahun lalu sekaligus juga memberikan dasar dasar bagi penguasaan materi cuaca dan iklim yang bersifat umum bagi kalangan awam yang wajib untuk diketahui. 

Dari pendaftar yang mencapai 200 an lebih, yang hadir dalam zoom tersebut sekitar 175 an peserta yang datang dari seluruh wilayah Indonesia. Antuasme yang tinggi dari para peserta tersebut mengindikasikan bahwa banyak di kalangan masyarakat yang amat peduli pada masalah cuaca dan iklim serta bersedia untuk menjadi garda depan hal tersebut. Semoga komunikasi yang telah terjalin baik melalui media masa maupun media sosial benar benar bermanfaat bagi masyarakat luas. Nantikan pada webinar webinar di masa mendatang dari kami di Institut Teknologi Bandung.

Thursday, October 24, 2024

Hasil kuesioner tentang Jejak Karbon

 Berikut ini adalah hasil dari kuesioner yang diberikan pada mata kuliah Perubahan Iklim yang saya ampu yang melibatkan 76 mahasiswa dari 8 Fakultas dan Sekolah di Insitut Teknologi Bandung (ITB). Kegiatan kuesioner semacam ini bermanfaat bagi banyak hal khususnya secara individu untuk mengetahui seberapa banyak aktivitasnya selama ini dalam menyumbang emisi karbon ke atmosfer serta menargetkan untuk menguranginya secara revolusioner. Kuesioner ini juga bermanfaat untuk mengetahui bagaimana industri yang terkait dengan keilmuannya menyumbang emisi karbon dan sumbang saran dari para mahasiswa untuk menguranginya. Selengkapnya bisa dibaca dalam tulisan berikut ini.

 1. Berapa jejak karbon anda sebagai satu individu? Rata-rata = 2.45 Ton 

 2. Berapa target pengurangan emisi karbon yang Anda hasilkan? Rata-rata = 1.65 Ton 45% responden menargetkan 1-2 Ton

 3. Bagaimana cara Anda untuk mencapai target tersebut? 1. Transportasi dan energi merupakan area fokus utama, dengan sekitar 40% responden menyebutkan perubahan pola transportasi (beralih ke transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki) dan 35% menyebutkan penghematan energi (terutama listrik dan AC) sebagai strategi utama mereka. 2. Perubahan pola konsumsi menjadi strategi kedua terpopuler, dengan fokus pada pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan perubahan pola makan (mengurangi konsumsi daging dan beralih ke diet nabati). 3. Metode yang paling sering disebutkan adalah penggunaan transportasi umum, penghematan listrik, dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, menunjukkan bahwa responden cenderung memilih metode yang praktis dan dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

 4. Industri yang berkaitan dengan program studi anda 1. Sektor energi fosil dan transportasi mendominasi, mencakup sekitar 60% dari total industri yang disebutkan, yang mengindikasikan tingginya potensi emisi karbon dari industri-industri terkait program studi responden. Industri-industri ini umumnya memiliki intensitas karbon yang tinggi (>1000 gCO2/kWh untuk energi fosil). 2. Terdapat keseimbangan antara industri konvensional (fosil) dan industri yang berorientasi pada keberlanjutan, dengan munculnya energi terbarukan (seperti PLTS dan geothermal) sebagai sektor yang berkembang, mencakup sekitar 15% dari total industri yang disebutkan. 3. Sektor manufaktur dan teknologi membentuk porsi signifikan (sekitar 25%) dari industri yang disebutkan, dengan tingkat intensitas karbon yang bervariasi dari rendah hingga sedang, menunjukkan adanya potensi untuk implementasi praktik-praktik ramah lingkungan dalam sektor-sektor ini. 

 5. Hitunglah jejak karbon untuk industri yang berkaitan dengan program studi anda! 1. Industri Energi dan Listrik- PLTU menghasilkan emisi terbesar, dengan contoh PLTU Suralaya mencapai 28.175.000 ton CO₂/tahun- PT PLNtotal emisi mencapai 270,338 juta ton CO₂e (2022) dari scope 1, 2, dan 3- Panel surya relatif lebih rendah dengan 1.875 kg CO2eq per 1 kW selama 25 tahun 2. Industri Migas dan Kimia- Sektor Chemical dan Petrochemical menyumbang 3.135 GtCO2e (6.6% dari total emisi global)- PT Pertamina menghasilkan sekitar 25,078 juta ton CO2- Industri minyak dan gas secara umum menghasilkan 5-6 miliar ton CO2 per tahun 3. Industri Transportasi- Penerbangan menghasilkan sekitar 90-100 gram CO₂ per penumpang per kilometer- Formula 1 mencatat 223.031 tCO2e (2022)- Industri perkapalan global menghasilkan sekitar 1.119,6 juta ton CO2 per tahun Dari data tersebut terlihat bahwa industri energi dan migas masih menjadi penyumbang terbesar jejak karbon di antara sektor-sektor lainnya. 

 6. Jelaskan secara singkat, metode apa yang anda gunakan untuk menghitung jejak karbon tersebut? 1. Metode Perhitungan Dominan:- Mayoritas responden menggunakan pendekatan faktor emisi sebagai metode utama, di mana aktivitas atau konsumsi energi dikalikan dengan faktor emisi standar- Life Cycle Assessment (LCA) juga sering disebutkan sebagai metode komprehensif untuk menganalisis jejak karbon dari seluruh siklus hidup produk/proses- Banyak yang menggunakan pendekatan scope (1,2,3) sesuai Greenhouse Gas Protocol untuk mengkategorikan dan menghitung emisi 2. Sumber Data:- Sebagian besar mengandalkan data sekunder dan laporan keberlanjutan (sustainability report) perusahaan- Beberapa menggunakan standar internasional dan pedoman dari lembaga seperti IPCC, EPA, atau regulasi nasional- Data aktivitas yang umum digunakan meliputi konsumsi energi, bahan bakar, jarak tempuh, dan kapasitas produksi 3. Variasi Tingkat Kedalaman Analisis:- Ada perbedaan signifikan dalam kedalaman analisis, dari perhitungan sederhana hingga analisis komprehensif- Beberapa responden memberikan perhitungan detail dengan rumus spesifik dan asumsi yang jelas- Sebagian lain memberikan jawaban lebih umum atau hanya mengandalkan data dari literatur tanpa perhitungan mandiri 

 7. Berikan satu contoh perusahaan dan jelaskan menurut Anda dan berdasarkan riset terdahulu bagaimana cara perusahaan terkait dapat mengurangi jejak karbon pada industri tersebut? 1. Transisi ke Energi Bersih: Pemanfaatan Energi Terbarukan: Mengganti sumber energi fosil dengan energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, hidro, dan geothermal. Efisiensi Energi: Mengoptimalkan penggunaan energi dalam proses produksi dan operasional untuk mengurangi konsumsi energi secara keseluruhan. Pengembangan Teknologi Baru: Menerapkan teknologi seperti baterai, sel bahan bakar, dan kendaraan listrik untuk mengurangi emisi dari sektor transportasi. 2. Pengelolaan Karbon: Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS): Menangkap emisi karbon, memanfaatkannya untuk berbagai keperluan, dan menyimpannya di tempat yang aman. Pengelolaan Hutan: Melakukan reforestasi, menjaga kelestarian hutan, dan menerapkan praktik pengelolaan hutan berkelanjutan. Daur Ulang dan Pengelolaan Limbah: Mengurangi produksi limbah dan meningkatkan tingkat daur ulang untuk mengurangi emisi dari proses produksi. 3. Inovasi Proses Produksi: Material Ramah Lingkungan: Menggunakan bahan baku yang lebih ramah lingkungan dan mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya. Desain Produk Berkelanjutan: Mendesain produk yang mudah didaur ulang dan memiliki umur pakai yang lebih panjang. Optimasi Distribusi: Mengurangi emisi dari proses transportasi dan distribusi produk. 

 8. Bagaimana anda sebagai mahasiswa dapat berkontribusi untuk mengurangi jejak karbon industri berkaitan tersebut? 1. Inovasi dan Pengembangan: Mahasiswa dapat menciptakan solusi inovatif untuk mengurangi jejak karbon melalui penelitian, pengembangan teknologi baru, dan desain produk yang berkelanjutan. Ini mencakup pengembangan energi terbarukan, efisiensi energi, dan material ramah lingkungan. 2. Advokasi dan Edukasi: Mahasiswa berperan penting dalam menyebarkan kesadaran tentang pentingnya mengurangi jejak karbon. Ini dapat dilakukan melalui kampanye, sosialisasi, dan partisipasi dalam pembuatan kebijakan publik yang mendukung keberlanjutan. 3. Implementasi dalam Kehidupan Sehari-hari: Mahasiswa dapat menjadi contoh dengan menerapkan gaya hidup berkelanjutan, seperti mengurangi konsumsi, memilih produk ramah lingkungan, dan berpartisipasi dalam kegiatan aksi lingkungan. Selain itu, mahasiswa juga dapat mendorong perubahan di lingkungan sekitar mereka dengan mengajak teman dan keluarga untuk turut serta dalam upaya mengurangi jejak karbon

Tuesday, October 22, 2024

Apa kaitannya perubahan iklim dengan keterlambatan monsoon Asia??

 Saat ini monsoon Australia bertiup dominan di wilayah Indonesia sehingga sebagian besar wilayah kita mengalami musim kemarau. Seperti diketahui dominannya angin tenggara di wilayah selatan katulistiwa membawa dampak pada sedikitnya kelembapan udara yang cukup untuk terbentuknya perawanan hujan. Ini karena angin tenggara tersebut kurang mendapatkan suplai uap air selama melintas dari Australia menuju Indonesia. Hal ini berbeda dengan monsoon Asia yang banyak mengalami pengayakan uap air karena banyak melintasi wilayah perairan. Ingat bahwa sifat massa udara bisa berubah tergantung pada permukaan yang dilaluinya.

Gambaran tentang bagaimana streamline angin dari Australia tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini. 

Tampak dalam gambar tersebut, saat ini angin tenggara sampai selatan banyak bertiup khususnya di sebelah selatan ekuator. Biasanya pada bulan Oktober ini massa udara dari Asia sudah banyak bertiup di wilayah Indonesia dan lebih kuat daripada angin tenggara sehingga di sebagian wilayah selatan ekuator mengalami angin barat - barat laut yang berdampak pada terjadinya awal musim hujan. Sehingga tipe curah hujan monsoonal di wilayah Indonesia biasanya adalah sebagai berikut.  Musim hujan terjadi pada bulan Oktober sampai dengan Maret dan musim kemarau terjadi pada bulan April sampai September. Variasi awal musim hujan di setiap tempat bisa berbeda yang tergantung pula pada tipe pola curah hujannya. Seperti diketahui bahwa Indonesia mempunyai 3 tipe curah hujan yakni tipe A (monsoonal), tipe B (ekuatorial) dan tipe C (lokal). Terkait tipe curah hujan ini sudah saya jelaskan pada postingan sebelumnya.
Variasi awal curah hujan ini dipengaruhi oleh kontrol iklim yang bisa jadi mengalami perubahan. Kontrol iklim tersebut antara lain adalah lintas edar bumi mengelilingi matahari, jarak bumi - matahari, ketebalan lapisan atmosfer, lintang tempat, distribusi daratan - lautan, sirkulasi air laut berskala besar (Gyre), lokasi tekanan rendah & tinggi semi permanen, topografi dan sebagainya. Mengingat kontrol iklim tersebut bisa mengalami perubahan dalam skala besar maka interaksi berbagai sub sistem iklim bisa mengalami perubahan pula. 
Kita tahu bahwa terdapat 6 sub sistem iklim yang saling berinteraksi dengan kerumitan dan kompleksitas hubungan yang sangat luar biasa sehingga perubahan pada sub sistem tertentu akan berdampak pula pada sub sistem yang lain. Perubahan pada sub sistem udara, air dan daratan akan berdampak pada makhluk hidup di bumi dan lapisan es di kutub dan sebaliknya dimana penjelasannya sangat panjang. Untuk mempersingkatnya boleh dikatakan bahwa pemanasan global dan perubahan iklim akan mempengaruhi cuaca dan musim di dunia ini. Belum lagi kalau kita bicara variabilitas iklim seperti ENSO, IOD dan monsoon. Hubungan ini demikian kompleks sehingga dampaknya bisa kita rasakan saat ini dimana tampaknya musim hujan agak mundur daripada biasanya. 


Friday, September 6, 2024

Jangan sepelekan isu pemanasan global dan perubahan iklim!

 Hari hari ini makin sering para petinggi negara bicara tentang perubahan iklim. Pada skala dunia pun, Antonio Gutteress setiap berkunjung ke luar negeri dalam setiap sambutannya selalu menyinggung pemanasan atau pendidihan global dan perubahan iklim. Himbauan ke negara negara di dunia agar makin peduli pada masalah global tersebut dimana pada tahap implementasinya diwujudkan dalam 17 SDGs. Indonesia pun tanggap terhadap permasalahan permasalahan tersebut meskipun porsi pendanaan untuk itu masih kecil dibanding aspek lain yang juga harus mendapatkan perhatian seksama. 

Ribut ribut yang sering terjadi adalah tentang pengereman laju pemanasan global jangan sampai suhu udara global meningkat lebih dari 1,5 derajat Celcius dibandingkan suhu rata rata global tahun 1850 sampai 1900 pada tahun 2030. Saat sekarang ini angka ini makin mendekat dengan laju yang relatif cepat. Mengapa kemudian para pemimpin negara yang menyadari hal tersebut begitu cerewet mengingatkan warga negaranya tentang isu global tersebut?? Tidak lain karena memang semua sendi kehidupan tidak lepas dari pengaruh cuaca dan iklim global. Simak gambar di bawah ini: 

Terlihat pada gambar di atas bahwa untuk kenaikan suhu 1 derajat Celcius saja bisa menyebabkan kepunahan spesies langka, kehancuran terumbu karang, tenggelamnya pulau pulau tertentu dan sebagainya. Sedangkan pada kenaikan suhu 2 derajat Celcius terjadi kepunahan beruang kutub, rawan pangan, air bersih dan energi, pencairan permafrost misal di Greenland, dan sebagainya. Dengan demikian bila suhu meningkat menjadi 1,5 derajat Celcius maka kira kira kondisi dunia antara kenaikan 1 sampai 2 derajat Celcius tersebut. Betapa mengerikannya.
Barangkali di antara kita tidak akan mengalami kondisi yang dijelaskan di atas karena sudah meninggal. Namun bagaimana dengan anak, cucu, dan keturunannya?? Pasti mereka semua akan mengalaminya. Oleh karena itu maka sebagai tanggungjawab kita terhadap seluruh umat manusia di seluruh dunia, upaya pengereman laju peningkatan suhu tersebut sudah harus dilakukan segera secara masif dan terorganisir. Kontribusi setiap orang di seluruh dunia tentang masalah bersama tersebut sudah harus dimulai secara revolusioner. Pemerintah, perguruan tinggi, swasta, komunitas dan media masa harus secara bahu membahu mengkombat peningkatan suhu udara global yang dikhawatirkan tersebut. Yuk, lakukan semampu kita mulai dari diri sendiri dan keluarga agar tercipta Keluarga Sadar Lingkungan (Kadarling). 



Monday, July 29, 2024

Kalau mendengar berita bahwa bumi makin panas, lalu ngapain??

 Sering kita dengar berita tentang menghangatnya suhu permukaan bumi dimana sekarang sudah mendekati 1,5oC dibanding rata rata tahun 1850-1900. Seperti telah diketahui bersama bahwa peningkatan 1,5oC tersebut membawa dampak luar biasa bagi kehidupan di muka bumi. Semakin banyak es di kutub yang mencair, banyak hewan dan tumbuhan yang punah sehingga bisa mengancam kehidupan umat manusia, meningkatnya permukaan air laut sehingga mengancam pulau pulau atau Negara pulau yang relatif rendah ketinggiannya dari permukaan laut, sulitnya mendapatkan air bersih dan sebagainya.

Lalu setelah mendengar kabar bahwa di beberapa bagian di bumi sudah mengalami suhu 50oC, kita perlu/harus melakukan apa?? Anda tahu to bahwa suhu yang besar semacam itu akan meningkatkan penggunaan energi  agar kehidupan manusia sehari hari relatif nyaman. Misal dengan menyalakan AC, menguatkan blower, bangunan bangunan harus menggunakan bahan bahan yang relatif menyerap panas, meningkatkan lahan bertanaman atau lahan hijau dan sebagainya. Energi yang digunakan pun seharusnya yang sedikit melepaskan karbon ke atmosfer karena karbon adalah gas rumah kaca yang berpotensi untuk menghasilkan pemanasan atau pendidihan global serta perubahan iklim global.

Jadi sebenarnya setiap orang bisa berkontribusi untuk mengurangi laju pemanasan global dan perubahan iklim karena dia mengeluarkan gas rumah kaca dalam setiap aktivitasnya. Jika aksi iklim global benar benar bisa terwujud dan terlaksana maka bisa diharapkan bumi tidak secepat laju pemanasan saat ini dan hasilnya akan kita nikmati bersama anak cucu keturunan kita di masa mendatang.

Tuesday, July 16, 2024

Mengapa bulan ini terasa dingin sekali??

 Bagi saudara yang berada di sisi selatan ekuator, saat ini khususnya bulan bulan Juni Juli Agustus merasakan udara yang dingin sekali. Di beberapa wilayah yang saya dengar langsung dari kalangan masyarakat, mereka merasakan dingin yang tidak biasanya. Hal ini sebenarnya mudah sekali dijelaskan bila saudara mengetahui lintas edar bumi mengelilingi matahari dan gerak semu matahari. 

Perlu saudara ketahui, bulan JJA adalah puncak musim dingin di belahan bumi selatan. Australia mengalami musim dingin sehingga mengalirlah angin dari wilayah Australia menuju ke benua Asia. Hal ini terlihat dari termometer yang menunjukkan suhu rendah belasan derajat pada pagi hari atau malam hari. Ditambah lagi pada tanggal 4 Juli 2024 kemarin jarak bumi - matahari adalah yang terjauh dalam satu tahun atau yang kita sebut sebagai aphelion. Mengingat matahari merupakan sumber energi panas utama di bumi maka dengan makin jauhnya jarak bumi - matahari, suhu di bumi makin dingin. Kombinasi kedua hal itulah yang menyebabkan masyarakat Indonesia merasakan suhu yang rendah / dingin.


Kalau kita kaitkan dalam skala harian, malam hari terasa dingin dibanding siang hari khususnya pada JJA, hal ini bisa dijelaskan dengan fakta bahwa pada malam hari tidak terbentuk awan yang menghadang radiasi panas yang dilepaskan oleh permukaan bumi. Kalau biasanya di awal malam hari terasa hangat karena reradiasi ini maka tiadanya perawanan yang terbentuk masif di pagi sampai siang hari menyebabkan pada malam hari tidak ada penghalang reradiasi bumi tersebut. Oleh sebab itu kalau ada yang alergi kulit seperti gatal gatal akibat udara dingin (kaligata) maka JJA ini merupakan siksaan. Berjemur sinar matahari pada pagi hari akan lebih menghangatkan badan dan menghilangkan kaligata ini. Selamat mencoba.

Wednesday, June 12, 2024

Bagaimana kelakuan La Nina tahun 2024 ini ??

 Menarik untuk selalu membicarakan tentang Bocah Kecil baik Laki laki (El Nino) maupun Perempuan (La Nina) karena seringkali ulahnya menyebabkan kondisi cuaca, musim dan iklim dunia menjadi tidak seperti biasanya. Kenakalan kenakalan mereka cukup banyak meresahkan penduduk dunia. Tahun 2024 ini ada beberapa lembaga dunia yang menyatakan bahwa akan terjadi La Nina meskipun kekuatannya diprediksi tidak sama oleh lembaga lembaga tersebut. Untuk mengurangi penyebaran berita yang tidak benar atau hoaks berkembang di publik serta upaya kami untuk menciptakan garda depan informasi cuaca, musim dan iklim nasional maka dilaksanakanlah kegiatan Sedekah Ilmu ini. Selengkapnya tentang webinar ini yang dipandu oleh Dr. Joko Wiratmo (ITB) dan Prof. Eddy Hermawan (BRIN) dapat dilihat pada dua link berikut ini:

https://youtu.be/3EGStiGl-SU?si=Uqy_CVErpT5CieSo



https://youtu.be/8WRe9GdI464?si=fFMW1sNcf5x6LAeS


Semoga upaya kami dalam memberikan Sedekah Ilmu ini bisa memuaskan dahaga saudara saudara semua tentang Ilmu Pengetahuan khususnya terkait Cuaca, Musim dan Iklim.


Monday, June 3, 2024

Jawaban Chatgpt terhadap artikel: https://djokowiratmo.blogspot.com/2016/01/sesuaikan-perencanaan-dan-pelaksanaan.html

 Artikel tersebut menyoroti pentingnya keselarasan antara perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dengan kondisi cuaca dan musim di Indonesia. Beberapa poin yang disoroti termasuk:

  1. Kurangnya Kesesuaian Antara Perencanaan Pembangunan dan Kondisi Cuaca: Artikel tersebut menunjukkan bahwa seringkali perencanaan pembangunan tidak memperhitungkan kondisi cuaca dan musim di Indonesia, seperti pembangunan infrastruktur yang dilakukan pada musim hujan, yang berdampak pada efektivitas dan efisiensi pembangunan.

  2. Pentingnya Memperhitungkan Pola Curah Hujan: Dengan mengidentifikasi tiga pola curah hujan di Indonesia (monsoonal, ekuatorial, dan lokal), artikel menyoroti pentingnya memperhitungkan pola curah hujan ini dalam perencanaan pembangunan.

  3. Keterbatasan dalam Pemanfaatan Informasi Cuaca: Artikel mengkritik bahwa meskipun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan ramalan cuaca secara teratur, informasi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam perencanaan pembangunan. Ada kebutuhan untuk meningkatkan akses dan pemanfaatan data cuaca dan iklim oleh instansi pemerintah dan masyarakat.

  4. Perlunya Modernisasi Infrastruktur Pengumpulan Data Cuaca: Artikel mengusulkan modernisasi infrastruktur pengumpulan data cuaca dengan peningkatan jumlah dan resolusi stasiun cuaca otomatis (AWS), serta peningkatan teknologi untuk pengumpulan, penyimpanan, dan pengolahan data cuaca.

  5. Pelibatan Masyarakat dalam Pengumpulan Data Cuaca: Artikel menekankan pentingnya melibatkan masyarakat dalam pengumpulan data cuaca melalui berbagai sarana komunikasi, seperti SMS, media sosial, dan telepon, untuk meningkatkan resolusi dan kecintaan masyarakat terhadap informasi cuaca.

Secara keseluruhan, artikel tersebut mengajukan sejumlah kritik dan rekomendasi untuk meningkatkan kesesuaian perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dengan kondisi cuaca dan musim di Indonesia, serta meningkatkan pemanfaatan informasi cuaca dan partisipasi masyarakat dalam pengumpulan data cuaca.