Beberapa hari ini ramai diberitakan di media masa bahwa BMKG dan BNPB melaksanakan operasi modifikasi cuaca untuk menghalau kabut asap akibat karhutla, seperti misalnya dapat dibaca pada berita Satgas udara tebar 1,6 ton dry ice dan 8,8 ton garam untuk rangsang awan hujan di Palembang
Pemerintah menggunakan es kering dan garam dapur untuk merangsang pembentukan presipitasi (endapan) di Palembang. Kenapa saya sebut presipitasi? Tidak lain karena kedua material yang disemai tersebut akan menghasilkan dua jenis endapan, yakni kristal es/salju dan curah hujan. Penggunaan es kering yang sangat jarang digunakan di Indonesia membutuhkan awan dingin potensial yang bisa memicu terbentuknya proses Bergeron, sedangkan penggunaan garam dapur sudah biasa dilakukan dan menghasilkan curah hujan. Proses hujan buatan sudah sering saya tulis di blog ini. Silakan dilihat pada postingan-postingan yang telah lalu, misalnya di link: https://djokowiratmo.blogspot.com/2012/09/hujan-buatan-sebaiknya-tidak-dilakukan.html Mengingat hal ini, saya tidak perlu mengulangi lagi penjelasan proses mikrofisika awan untuk menghasilkan hujan buatan. Saya akan berkonsentrasi untuk menjelaskan tentang penggunaan es kering.
Es kering umum digunakan pada awan dingin, demikian pula dengan perak iodida. Es kering ketika ditebarkan ke atmosfer akan mengalami proses sublimasi, yakni proses perubahan dari fasa padat menjadi gas. Proses ini akan menyebabkan suhu udara yang sangat dingin di wilayah lokal yang memicu pembentukan kristal es di atmosfer. Kristal es ini akan ditempeli oleh air cair sangat dingin di atmosfer akibat perbedaan tekanan uap antara keduanya, atau lebih dikenal sebagai proses Bergeron (lengkapnya Wegener-Bergeron-Findeisen), sehingga terjadi peningkatan ukuran kristal es dan penyusutan konsentrasi air cair superdingin. Maka ketika gaya gravitasinya lebih besar daripada gaya angkatnya, jatuhlah kristal es tersebut ke bawah sehingga terbentuklah endapan kristal es atau salju. Proses Bergeron tersebut bisa terjadi pada ketinggian di atas 500 mb dan di wilayah tropis seperti Indonesia, ketinggiannya bisa mencapai 7 kilometer ke atas di atas MSL. Pada ketinggian yang lebih rendah, misalnya pada 4 km, penebaran es kering menyebabkan penurunan suhu drastis akibat proses sublimasi, kristal es terbentuk dan proses kondensasi terjadi yang memunculkan kabut. Sayangnya, menurut penelitian, kabut ini akan memperparah visibilitas yang disebabkan oleh kabut asap (kabas) yang sudah ada. Jadi tidak efektif.
Dalam kasus yang digambarkan dalam berita di atas, meskipun mungkin hasilnya tidak memuaskan, semua teknologi modifikasi cuaca layak untuk diujicoba. Ini untuk menunjukkan perhatian dan empati pemerintah serta memenuhi kebutuhan psikologis masyarakat.
No comments:
Post a Comment