Untuk keempat kalinya, kami menyelenggarakan webinar sedekah ilmu, suatu gerakan berbagi ilmu pengetahuan kepada masyarakat luas, tidak hanya di kalangan kampus, tetapi juga masyarakat umum dari lintas keilmuan, budaya, dan generasi dalam menanggapi permasalahan yang terjadi di publik. Keresahan-keresahan yang kami rasakan dalam kurun waktu tahun ini misalnya, adalah adanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus-menerus merusak lingkungan dan berdampak buruk pada berbagai bidang kehidupan. Sungai-sungai besar yang mengering di Kalimantan, misalnya, membawa dampak buruk pada aktivitas perekonomian masyarakat. Jalur sungai yang selama ini dimanfaatkan untuk aktivitas masyarakat dan industri, seperti Barito, Mahakam, dan Kapuas, sudah tidak
dapat lagi dilalui. Ini tentu saja sangat memukul perekonomian pada skala lokal, bahkan nasional global. Contoh mudahnya adalah transportasi batu bara yang praktis berhenti karena tongkang tidak mampu membawanya ke tempat lain dan kandas di sungai. Batu bara ini dimanfaatkan oleh perusahaan dalam negeri dan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan energi dan lain-lain. Jika ada gangguan distribusi, maka Anda bisa membayangkan bagaimana dampak selanjutnya. Bila cuaca dan musim tidak bersahabat akibat El NiƱo super kuat dan Dipole Mode positif serta monsoon Australia, maka sulit untuk mengharapkan hujan sering. Upaya hujan buatan yang sesekali menghasilkan hujan masih jauh dari harapan karena memang bahan baku hujan buatan tidak selalu tersedia di atmosfer. Syarat agar berhasil adalah bila ada awan potensial (awan konvektif), aerosol yang higroskopik, dan kelembapan relatif udara mencapai level 75% ke atas pada ketinggian 850 sampai 500 mb. Saat musim monsun Asia berkuasa dalam beberapa waktu ke depan, diharapkan hujan akan bertambah sering terjadi dan karhutla akan bisa berhenti sama sekali. Dalam beberapa waktu ini, bila monsoon Asia lebih kuat pengaruhnya dibandingkan dengan ENSO dan IOD positif (saat ini netral), maka daerah berpola curah hujan monsoonal akan lebih cepat memadamkan karhutla. Ingat bahwa dampak ENSO, IOD, dan kombinasi keduanya tidak selalu sama di setiap wilayah. Wilayah Indonesia mempunyai 3 tipe curah hujan, yakni monsoonal (tipe A), ekuatorial (B) dan lokal (C) dimana penamaan wilayah tersebut menunjukkan efek apa yang mendominasi pengaruh hujannya.
Pada kesempatan yang kedua yang dikemukakan oleh Prof. Halmar Halide dari FMIPA Universitas Hasanuddin, dinyatakan bahwa posisi saat ini: perancangan model prediksi hotspot Kalimantan hingga 14 hari ke depan — menggunakan model-model Persistence, Climate-All, dan Phase-Space — menekankan pentingnya aspek mitigasi bencana melalui peringatan dini hotspot, dibandingkan dengan pemadaman kebakaran yang sudah membesar, meluas, dan menghabiskan biaya besar. Hasil permodelan menunjukkan bahwa keterampilan (skill) prediksi melalui nilai korelasi dan RMSE cukup berguna untuk lead time pendek, namun ketrampilan model menurun seiring bertambahnya prediction horizon (lead time). Model Phase-Space tetap kompetitif dan layak digunakan, meskipun ketidakpastian ramalan masih cukup besar. Hal ini menegaskan bahwa pendekatan berbasis embedding dimension dan delay time yang tak membutuhkan prediksi cuaca hingga 14 hari ke depan terbukti mampu menangkap dinamika kompleks hotspot untuk mendukung strategi mitigasi yang lebih proaktif.
Arah pengembangan ke depan: Untuk meningkatkan kualitas ramalan Phase-Space, salah satu strategi yang menjanjikan adalah penerapan metode ensemble yang dapat mengurangi variabilitas dan memberikan estimasi ketidakpastian prediksi hotspot terukur. Selain itu, pengembangan model prediktif ini perlu diperluas dari peramalan titik menjadi peramalan spasial, sehingga distribusi geografis hotspot dapat diprediksi secara lebih komprehensif. Dengan kombinasi ensemble dan cakupan spasial, model Phase-Space berpotensi menjadi alat operasional yang lebih handal dalam mendukung sistem peringatan dini, memperkuat mitigasi kebakaran hutan dan lahan, serta mengurangi ketergantungan pada pemadaman yang mahal dan berisiko. Terkait model yang Prof. Halmar sampaikan ini, bisa kontak langsung beliau atau melalui saya: wiratmo@itb.ac.id

No comments:
Post a Comment