Tuesday, March 23, 2021

Hari Meteorologi Sedunia: meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan

 Hari ini merupakan hari Meteorologi sedunia yang diperingati oleh berbagai negara di dunia ini dengan beragam cara. Tema peringatan tahun ini adalah "Lautan, iklim dan cuaca kita" yang mengingatkan kepada kita peran dari lautan pada iklim dan cuaca dunia. Kita mengetahui bahwa antara hidrosfer dan atmosfer mempunyai konektivitas yang demikian kompleks sehingga mewarnai kehidupan di muka bumi. Interaksi sub-sub sistem iklim yang terdiri dari hidrosfer, atmosfer, lithosfer, kriosfer, biosfer dan humanosfer yang membentuk ikatan dan interaksi yang demikian kompleks sangat dipengaruhi oleh keberadaan matahari yang ada di luar sistem bumi. Tanpa adanya radiasi matahari, tidak mungkin sistem iklim di bumi seperti saat ini. 

Dari tema di atas terlihat betapa pentingnya lautan akan masa depan iklim di muka bumi. Statement dari WMO (World Meteorological Organization) dan bahkan Perserikatan Bangsa Bangsa adalah bahwa laut merupakan masa depan umat manusia. Terlihat bahwa para ahli meteorologi dan negara-negara di seluruh dunia sepakat memandang penting keberadaan laut di tengah-tengah kita. Tanpa lautan maka sistem iklim akan pincang dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam siklus hidrologi misalnya, sebagian besar penguapan berasal dari permukaan laut. Dengan luas lautan yang mencapai 70% permukaan bumi maka peristiwa yang terjadi di laut akan berdampak pula pada peristiwa di darat. Penguapan yang tinggi memicu terbentuknya perawanan yang bila didorong oleh angin menuju daratan maka bisa membentuk hujan orografis ketika membentur pegunungan. Dengan kata lain bila dari massa udara yang bertiup dari wilayah lautan ke arah daratan dan membawa cukup uap air untuk mengalami proses kondensasi di ketinggian atmosfer dekat pegunungan maka terbentuk awan-awan orografis yang notabene bisa menghasilkan efek Foehn pada sisi balik gunung (leeward). 

Peristiwa pembentukan awan-awan konvergensi pun juga dipengaruhi oleh keberadaan lautan. ITCZ yang merupakan zone dimana konvergensi di wilayah tropis terjadi merupakan faktor penting yang sangat berpengaruh pada cuaca dan musim serta iklim di suatu negara. Indonesia yang terletak di sekitar ekuator banyak dipengaruhi oleh sistem tekanan rendah ini. Gerak semu matahari yang memicu penguapan di suatu tempat (daratan dan lautan) akan menyebabkan adanya pergeseran dari wilayah ITCZ. Wilayah perawanan ini bergeser sesuai dengan gerak semu matahari.

Peristiwa cuaca ekstrim seperti siklon tropis terbentuk ketika salah satunya yakni syarat Palmer terjadi. Suhu permukaan laut harus lebih dari 26.5 derajat Celcius sampai kedalaman 60 meter. Ini hanya dimungkinkan terjadi di wilayah tropis. Beberapa syarat lain agar siklon tropis terjadi antara lain geser angin vertikal rendah, dan kelembapan cukup untuk terbentuknya ketidakstabilan yang besar di atmosfer khususnya pada ketinggian 5 kilometer. Sementara itu untuk wilayah lintang tengah pembentukan siklon luar tropis terjadi dipicu oleh keberadaan sistem frontal.

Pemanasan global yang disebabkan oleh meningkatnya gas-gas rumah kaca di atmosfer membawa dampak besar pada sub sistem di bumi. Mencairnya es di kutub sehingga permukaan air laut meningkat, merendam daratan di wilayah-wilayah kepulauan bahkan dikhawatirkan sepertiga dari wilayah Bangladesh bisa tenggelam bila suhu udara mengalami peningkatan beberapa derajat. Pemanasan global ini menyebabkan sistem iklim dunia berubah. Dengan kata lain pemanasan global yang diakibatkan oleh aktivitas manusia dan alam menyebabkan adanya perubahan iklim dunia. Inilah yang kemudian banyak disadari oleh para saintis, masyarakat umumnya dan para pemimpin dunia akan pentingnya menjaga lingkungan khususnya lautan agar tetap bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Langkah-langkah kecil namun pasti itu lebih baik daripada langkah besar namun tidak dilaksanakan, hanya sekedar wacana atau mimpi besar saja. Marilah mengambil bagian dalam upaya menyelamatkan makhluk hidup di muka bumi dengan mengambil sejumlah langkah baik kecil maupun besar bersama-sama. Bergandengan tangan di antara pihak pentahelix yakni pemerintah, swasta, perguruan tinggi, komunitas, dan media sangat diharapkan agar terlaksananya pembangunan yang berwawasan lingkungan sehingga dunia masih nyaman dan lestari. 

Tuesday, March 16, 2021

Hujan hari ini

 Kalau hari ini di tempat anda hujan cukup deras, khususnya di pulau Jawa, maka hal tersebut wajar mengingat perawanan cukup tebal terjadi sepanjang pulau Jawa. Hanya sebagian kecil yang tidak tertutup awan bahkan mungkin bebas sama sekali. Ini terlihat pada citra satelit berikut ini:

Sebagian wilayah Sumatera pun juga mengalami hujan demikian pula Kalimantan bagian selatan, sebagian Sulawesi dan Maluku serta Papua. Sebenarnya jika menilik pada kondisi angin yang umumnya relatif kalem (calm) maka hal tersebut wajar saja. Pembentukan awan-awan yang disebabkan oleh awan konvektif yang bercampur dengan awan konvergensi menyebabkan hal tersebut terjadi. Untuk wilayah di sekitar pegunungan juga pengaruh orografi cukup mendukung pembentukan awan hujan. Matahari yang makin mendekati ekuator (namun hari ini masih di selatan ekuator) mendorong perawanan juga makin menuju ekuator. Gangguan tekanan rendah di selatan sampai barat daya pulau Jawa yang terjadi beberapa waktu yang lalu sudah mereda dan ini lebih mendorong pada pergeseran awan yang makin menuju utara. Banjir yang terjadi hari ini di Gresik Jawa Timur diakibatkan oleh hujan deras yang terjadi sejak tadi malam. Oleh karena itu maka tidak boleh tidak, semua pihak harus waspada mengingat sampai dengan bulan April mendatang, bulan basah masih mendominasi wilayah Indonesia, seperti yang diramalkan oleh BMKG. Kalau melihat apa yang tertulis sebelumnya yang menunjukkan bahwa ENSO menunjukkan trend normal dan Indeks Dipole Mode yang menunjukkan nilai netral maka sekali lagi perlu ditegaskan bahwa kondisi saat ini lebih didominasi oleh pengaruh monsoon barat. Bila itu terjadi maka Oktober sampai Maret merupakan musim hujan dan April sampai September merupakan musim kemarau untuk yang mempunyai tipe curah hujan monsoonal. Sedangkan yang mempunyai pola curah hujan tipe ekuatorial yang berada di wilayah sekitar khatulistiwa akan mengalami puncak hujan sekitar bulan April dan Oktober sementara yang mempunyai tipe curah hujan lokal akan mempunyai puncak curah hujan sekitar Agustus. 


Thursday, March 11, 2021

Pola umum cuaca dan musim

 Prediksi berdasarkan kondisi ENSO (El Nino and Southern Oscillation) dan IOD (Indian Ocean Dipole) dapat disampaikan sebagai berikut. Selama bulan Maret 2021, kita telah melampaui puncak La Nina dan menuju kondisi netral demikian pula dengan Dipole Mode nya, hal ini bisa dilihat pada kedua link di bawah ini yakni http://www.bom.gov.au/climate/model-summary/images/ms_nino_07.png dan  

http://www.bom.gov.au/climate/model-summary/images/ms_iod_11.png . Ini berarti bahwa kondisi cuaca dan musim di Indonesia lebih dipengaruhi oleh aktivitas monsoon khususnya dalam hal ini diprediksi sampai bulan Juli. Dan itu berarti bahwa cuaca dan musim akan biasa-biasa saja.  Pada saat ini cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia dipengaruhi oleh angin barat sampai barat laut di belahan bumi selatan dan angin timur laut di belahan bumi utara. Ini menunjukkan bahwa bulan basah masih bisa terjadi, apalagi pada hari-hari ini berkembang pusat tekanan rendah di lepas pantai selatan Jawa, meskipun belum begitu masif yang ditunjukkan dengan belum kuatnya perawanan yang terjadi di wilayah tersebut. Di Nusa Tenggara juga terdapat angin barat daya yang berasal dari Australia yang bertemu dengan angin baratan dari benua Asia. Pola angin sangat terlihat pada wilayah perairan sedangkan di wilayah daratan agak mengalami pola acak akibat gesekan dengan permukaan daratan. Ini terdapat di semua pulau dimana angin permukaan tidak mengikuti betul pola angin umum seperti yang terdapat di atas permukaan laut, terutama di pulau-pulau besar. 

Monday, March 1, 2021

Kejar tayang ...

 Beberapa waktu ini terdapat kesan bahwa apa yang dipublish di media massa seperti kejar tayang, kurang begitu memperhatikan kevalidan data dan informasi. Mungkin ada juga peneliti yang tampaknya juga mengejar publikasi pokoknya berlomba-lomba memberikan keterangan kepada masyarakat tanpa begitu memperhatikan keakuratannya dan dampaknya kepada masyarakat. Pokoknya sudah seperti selebritis atau wartawan yang mengejar sensasi semu. Euforia demokrasi yang menjangkiti banyak pihak menyebabkan seolah seenak sendiri dalam memberitakan dan menyampaikan pendapat tanpa didasari kaidah ilmiah. Dalam kebencanaan misalnya, dengan menganggap bahwa peristiwa yang sama bisa berulang pada tempat yang sama maka seorang yang tidak berkompeten pada bidangnya akan mencari arsip dan pada tanggal tertentu terjadi bencana anu. Maka dengan mendaur ulang tanpa pertimbangan yang matang dia publish informasi tersebut sebagai berita terkini. Orang yang tidak teliti akan menganggap bahwa berita semacam itu baru saja terjadi (tidak melihat tanggal kejadian) sehingga bisa menimbulkan analisa-analisa atau bahkan tindakan yang tidak tepat. Pokoknya bersuara, itu sepertinya yang menjangkiti sebagian masyarakat kita. Padahal yang harus diingat bahwa peristiwa bencana tidak berlangsung secara eksak, misal pada tanggal tertentu tahun lalu atau beberapa tahun lalu, maka tahun ini akan terjadi peristiwa yang sama pada lokasi yang sama. Bumi mempunyai mekanisme sendiri dalam mengatur dirinya dalam mencapai kesetimbangan dan sulit untuk diprediksi dengan tepat kemauannya. Di sisi yang lain, wartawan yang merupakan salah satu garda depan dalam mengawal demokrasi dan rasa nasionalisme serta jiwa membangun, sering terjebak pada keberpihakan pada salah satu pihak, tidak merdeka dalam pemberitaannya. Prinsip kehati-hatian dalam pemberitaan akan mendorong pencapaian keadilan sosial lebih terjaga. 

Thursday, February 25, 2021

Bersiap terhadap bencana mendatang

 Dalam beberapa waktu ini telah terjadi bencana alam banjir di beberapa wilayah di Indonesia. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa telah terjadi banjir di wilayah Kalimantan Selatan yang merusak banyak sarana prasarana di propinsi tersebut akibat berbagai masalah lingkungan. Peristiwa banjir juga melanda Jakarta, Nganjuk (Jawa Timur), Pekalongan, Kudus dan Semarang (Jawa Tengah). Semuanya diakibatkan oleh curah hujan yang lebat, tidak tertampungnya air oleh saluran drainase, permasalahan kerusakan lingkungan akibat perubahan tata guna lahan dan perilaku masyarakat, Semoga peristiwa ini tidak berulang lagi dalam waktu mendatang mengingat curah hujan makin berkurang dari waktu ke waktu khususnya untuk wilayah yang mempunyai curah hujan monsoonal.

Di wilayah Sumatera Utara sudah mulai terjadi kebakaran hutan. Ini menunjukkan ada daerah-daerah yang sudah menginjak musim kemarau dan bila mengingat apa yang diramalkan oleh BMKG maka hal ini memang patut untuk diwaspadai dan ditindaklanjuti. Perhatikan gambar berikut ini:

Terlihat bahwa wilayah Indonesia yang berada di Utara ekuator diprakirakan pada dasarian ketiga bulan Pebruari ini sudah mengalami curah hujan yang rendah kurang dari 50 mm sehingga peluang dari terjadinya kering dan kekeringan meningkat. Kalau dilihat baru pada bulan Maret, April dan Mei 2021 terjadi El Nino lemah dan Dipole Mode menunjukkan arah menuju IOD positif maka kemungkinan kering meningkat dan menjadi bulan-bulan kering meskipun tidak ekstrim.


Sunday, January 17, 2021

Kita kurang ajar

  Kurang ajar ... kata itu sering disampaikan oleh orang tua kepada anaknya atau seseorang kepada orang lain yang melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan atau menyinggung perasaan. Sering diartikan pula sebagai umpatan terhadap seseorang. Tapi maksudnya dalam hal ini adalah "kurang belajar" ... kita kurang belajar dari teori atau praktek yang sudah berlangsung beberapa waktu atau jauh-jauh hari sebelumnya. Misalnya dari kasus longsor. Longsor terjadi pada area yang memiliki kelerengan tertentu, penguat tanah tidak berfungsi dengan baik (vegetasi), karakteristik tanah (tekstur dan struktur) yang memudahkan hujan menggerus dan membawa tanah ke tempat lain atau lebih rendah atau sebab gempa. Lingkungan yang rusak  ditandai dengan kondisi kalau musim hujan banjir atau longsor sedangkan saat musim kemarau kekeringan serta sedikitnya/berkurangnya jumlah mata air yang ada. Siklus hidrologi pada berbagai skala menjadi berubah dan makin menyulitkan memperoleh air bersih secara alami merupakan tanda-tanda alam yang sudah selayaknya untuk dipahami dan dibaca serta ditindaklanjuti bahwa alam sudah mengalami kerusakan.

Pembangunan infrastruktur yang tidak terkendali dan penataan ruang yang tidak terkontrol merupakan sebab lain yang cukup besar pengaruhnya pada bentang alam dan siklus hidrologi. Perhatikan gambar berikut ini yang menunjukkan bahwa luas hutan dari waktu ke waktu mengalami pengurangan yang sangat signifikan. Kebakaran hutan dan lahan, konversi hutan menjadi lahan pertanian dan perkebunan, penebangan liar dan kalahnya laju penghijauan kembali dengan laju kerusakannya merupakan penyebab yang sampai sekarang belum mendapatkan porsi perhatian yang lebih dari semestinya. cmiiw


Menyimak dari gambar tersebut maka wajar bila seandainya di Kalimantan akan makin sering terjadi banjir di wilayah-wilayah yang selama waktu sebelumnya belum pernah mengalaminya. Bila tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin bencana alam akan merupakan langganan bagi mereka yang menghuni kawasan tersebut. 

Mari belajar dari pengalaman dan mengambil langkah konkrit dalam mengupayakan agar kawasan pulau Kalimantan dan pulau-pulau lain di Indonesia tidak menjadi langganan bencana alam. 

Monday, December 28, 2020

Bencana nasional 2020

 Akhir tahun 2020 ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis berita bahwa selama kurun waktu satu tahun ini telah terjadi 2921 bencana alam di seluruh tanah air dimana 1064 kejadiannya berupa bencana alam banjir. Jadi lebih dari sepertiga bencana alam berupa banjir. Ini tentu saja peristiwa yang tidak mengenakkan dan menyengsarakan bagi masyarakat terdampak. Rinciannya adalah 16 gempa bumi, 7 letusan gunung api, 326 kebakaran hutan dan lahan, 29 kejadian kekeringan, 570 kejadian tanah longsor, 872 putting beliung, 32 gelombang pasang dan abrasi dan kejadian non alam yakni pandemi Covid-19 dimana sampai dengan hari ini kecenderungan jumlah penderitanya bertambah. Sebanyak 713.365 orang terkonfirmasi terkena Covid. Lebih dari 21 ribu jiwa meninggal dunia dengan tingkat kesembuhan mencapai lebih dari 580 ribu orang.

 

Urutan kejadian bencana alam didominasi oleh Sumatera, diikuti oleh Jawa, Kalimantan dan Papua. Kerusakan total fasilitas public mencapai 1543 unit dimana 672 buah di antaranya berupa fasilitas pendidikan, 728 fasilitas ibadah dan 143 fasilitas kesehatan. Lebih dari 6 juta jiwa mengungsi dan 370 jiwa meninggal dunia, 39 hilang dan luka-luka sebanyak 356 orang.

Generasi muda dan kebencanaan

 Latar belakang dan motivasi

Abad 21 merupakan abad teknologi informasi; setiap orang dari mulai balita sampai orang-orang jompo terpapar oleh informasi yang disampaikan melalui media masa dan media sosial. Selama 24 jam sehari, pemberitaan dan pertukaran informasi terjadi melalui media elektronik dan media cetak. Oleh karena itu seolah-olah tidak ada batas negara dalam hal informasi. Namun informasi-informasi tersebut bercampur aduk, ada yang benar dan ada pula yang salah/hoaks. Bahkan tidak jarang informasi diselewengkan untuk tujuan-tujuan yang tidak benar dan merusak. Karenanya dibutuhkan filter dan tameng untuk melindungi masyarakat dari informasi yang tidak benar dan merusak tersebut dengan memberikan pemahaman yang benar salah satunya tentang kebencanaan kepada generasi muda. Peran dari penyampai berita baik perorangan maupun lembaga tentu sering menyebabkan kekisruhan di masyarakat. Dengan perkembangan teknologi yang demikian pesat, peroranganpun bisa menjadi penyampai berita yang sangat cepat. Ini merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat khususnya generasi mudanya dan awak media dalam meningkatkan mutu pemberitaan. Diharapkan dengan meningkatkan pemahaman tentang bencana kebumian di Indonesia dan sekitarnya bagi para generasi muda di pondok-pondok pesantren ASWAJA maka sedikit demi sedikit pemahaman masyarakat dan generasi muda akan masalah kebencanaan menjadi lebih baik. Generasi muda  menjadi mitra strategis dalam menyampaikan berita tersebut

https://jakarta.bisnis.com/

Deskripsi masalah dan Tujuan

Beberapa tahun terakhir ini fenomena cuaca dan iklim ekstrim seperti banjir, kekeringan, angin kencang, angin puting beliung dan siklon tropis serta bencana kebumian yang lain seperti gempa bumi, letusan gunung api, tsunami makin sering melanda dunia. Pemberitaan tentang hal tersebut dapat dijumpai di berbagai macam media masa seperti koran, majalah, buletin, televisi, radio dan media sosial lainnya seperti twitter, facebook, dll. Dengan demikian maka hampir semua kalangan masyarakat terpapar oleh pemberitaan tersebut. Namun sayangnya, sering pemberitaan tersebut tidak tepat sehingga informasi yang diterima masyarakat juga tidak tepat. Akibatnya pemahaman masyarakat tentang fenomena cuaca dan iklim serta bencana kebumian yang lain menjadi tidak tepat juga. Ini merupakan tanggungjawab kita bersama; pemerintah, dunia pendidikan yang terkait dengan ilmu dan teknologi kebumian, masyarakat khususnya generasi muda  dan media masa (khususnya wartawan) untuk meluruskannya.

Pemberitaan yang sering tidak tepat menggelitik kami untuk mencoba meningkatkan mutu dan meluruskannya melalui kegiatan ceramah interaktif ke pondok-pondok pesantren ASWAJA agar generasi muda kita melek atau paham tentang bencana-bencana tersebut yang terjadi di Indonesia. Diharapkan ada efek bola salju dari kegiatan ini dalam memahami fenomena alam dan mensikapinya.

Metodologi

Pemahaman masyarakat tentang bencana kebumian khususnya akibat cuaca dan iklim akan sedikit demi sedikit menjadi lebih baik karena perbaikan pemahaman generasi muda tentang berita yang sampai kepada mereka. Ini karena setiap saat warga masyarakat terpapar oleh berita, tidak terkecuali berita tentang bencana alam tersebut. Oleh karena itu, santriwan dan santriwati pondok pesantren ASWAJA merupakan mitra strategis bagi perguruan tinggi. Berita dan informasi tersebut akan dengan cepat dapat diluruskan bila semakin banyak generasi muda memahami dengan benar dan saling bahu membahu  bekerjasama dalam menyampaikan berita dan informasi yang benar kepada masyarakat luas melalui berbagai forum dan media.

Target luaran: video pembelajaran dan buku serta publikasi di media massa

Kelompok sasaran : generasi muda pontren ASWAJA di Jabar, Jateng, DIY dan Jatim serta propinsi-propinsi lain di Indonesia

Outcome:

Diharapkan dengan mengikuti kegiatan ini pemahamansantriwan/santriwati pontren ASWAJA tentang bencana kebumian makin meningkat.

Thursday, November 19, 2020

Mengapa musim hujan tidak setiap hari hujan

 Sejak beberapa waktu yang lalu kita telah memasuki musim hujan. Musim hujan diartikan sebagai periode dimana hujan banyak terjadi. Ukurannya adalah bila sudah memasuki dasarian yang curah hujannya melebihi 50 mm setelah tiga dasarian berturut-turut masing-masing mempunyai curah hujan lebih dari 50 mm. Pada musim hujan, hujan merupakan fenomena yang sering terjadi sedangkan pada musim kemarau, curah hujan jarang terjadi meskipun bisa saja terjadi hujan dengan besar dalam satu dasariannya kurang dari 50 mm. Bila kita amati dalam beberapa waktu terakhir, pada kadar antara jarang dan sering, curah hujan terjadi. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa curah hujan tidak terjadi?? Mari kita lihat peta sinoptik berikut ini.

Peta di atas adalah prakiraan untuk hari ini. Mengamati peta sinoptik beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa angin tenggara - timur begitu dominan di selatan ekuator. Mengingat bahwa umumnya tidak banyak mengandung uap air maka pembentukan perawanan juga kurang mendukung untuk terjadinya hujan. Wajar pula mengapa panas begitu menyengat, tidak lain karena matahari berada di lintang selatan dekat pulau Jawa. Penguapan yang terus menerus dari permukaan bumi khususnya yang dialami di sebagian besar wilayah selatan ekuator menyebabkan panas terasa lebih dari biasanya. Keberadaan uap air dari perawanan ini barangkali dikurangi oleh efek kurangnya aerosol higroskopis yang melayang-layang di atmosfer akibat jauh berkurangnya aktivitas manusia selama pandemi. Angin yang berubah-ubah arah dan keberadaan pusat tekanan rendah di utara Indonesia memberi kontribusi juga pada terbentuknya kondisi "kurangnya" hujan. Tekanan rendah di lepas pantai Sumatera Utara memberi kontribusi pada terjadinya banjir di wilayah tersebut, khususnya di Medan. Sedangkan di Banyumas Jawa Tengah kejadian banjir lebih dipengaruhi oleh efek lokal yakni pegunungan di sekitarnya. 

Friday, November 6, 2020

Percepatan pembangunan bisa terjadi

 Saat-saat semacam ini, alangkah baiknya bagi kita semua untuk merenung dan memikirkan kembali apakah pembangunan sudah memperhatikan dan memperhitungkan cuaca, musim dan iklim dengan seksama. Selama puluhan tahun, masalah cuaca musim dan iklim seolah-olah hanya sekedar sebagai pengisi waktu sela antara satu acara televisi dengan acara televisi yang lain. Orang akan melihat bahwa ramalan cuaca (waktu jaman dulu menggunakan istilah tersebut, namun setelah judi porkas SDSB dll marak maka istilah ramalan diganti dengan prakiraan) merupakan acara yang mungkin bagi sebagian besar orang terasa menjemukan. Ada masa dimana sejak ada televisi swasta, acara prakiraan cuaca menjadi terasa demikian menarik seperti siaran-siaran luar negeri karena kiblat penyiaran ramalan cuaca waktu itu adalah Amerika Serikat. Namun karena dikhawatirkan terjadi perbedaan antara ramalan cuaca di TVRI dan di televisi swasta yang dikhawatirkan akan membingungkan masyarakat maka acara tersebut tidak lagi disiarkan. Setelah beberapa waktu kemudian, siaran ramalan cuaca di televisi swasta disampaikan lagi dengan format yang mirip namun dengan sumber yang sama dengan yang dipakai TVRI. Apalagi kemudian muncul UU Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (MKG) maka sudah merupakan kewajiban untuk menyiarkan hasil ramalan cuaca versi BMKG. Sebenarnya bila saja dimungkinkan swasta menggunakan sumber siarannya sendiri maka bisa menjadi pembanding yang baik bagi perkembangan MKG. Terlepas dari pasang surutnya perkembangan hak siaran MKG, saya ingin menyoroti masalah pembangunan di tanah air yang dikaitkan dengan kondisi cuaca musim dan iklim di Indonesia.

Seperti saya sering sebut sebelumnya, kita mengenal tiga pola curah hujan di Indonesia. Ini perlu berkali kali saya ulangi mengingat parameter curah hujan merupakan parameter paling penting di wilayah tropis seperti negara kita ini. Curah hujan mempunyai pola monsoonal, ekuatorial, dan lokal. Distribusi lokasi dari pola-pola tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Selama puluhan tahun pola ini tidak mengalami banyak perubahan, hanya berubah detail-detailnya saja akibat perubahan iklim atau lingkungan yang berubah. Warna hijau menunjukkan pola ekuatorial dimana terdapat dua puncak curah hujan dalam satu tahun yakni sekitar bulan-bulan MAM dan SON sedangkan bulan-bulan lain masih ada curah hujannya. Pola lokal ditandai dengan warna merah karena pengaruh topografi setempat atau pola angin darat angin laut,  sedangkan warna putih menunjukkan pola monsoonal yang umumnya curah hujan pada bulan JJA jauh berkurang dibanding bulan-bulan lain. 
Gradien temperatur dan tekanan relatif rendah sedangkan angin juga relatif tidak besar, berkisar pada kecepatan 3 meter per detik saja. Oleh karena itu tidak setiap tempat di Indonesia mempunyai potensi tenaga angin yang besar untuk menggerakkan kincir angin. Potensi radiasi matahari lebih menjanjikan sebenarnya mengingat hampir sepanjang tahun wilayah Indonesia dilalui oleh gerak semu matahari dimana panjang harinya mempunyai kisaran waktu sekitar 10-12 jam. Dengan potensi yang besar ini maka energi terbarukan semestinya bisa dibangun lebih banyak di seluruh wilayah tanah air. Di daerah-daerah yang mempunyai kecepatan angin rendahpun bisa dibangun mini atau mikrowind, selain mini atau mikrohidro. Untuk kebutuhan penduduk dalam satu kawasan tertentu hal ini bisa dilakukan, demikian pula dengan tenaga matahari. Bahkan solar panel raksasa seperti yang dibangun China juga bisa diaplikasikan di Indonesia.
Kembali pada hal yang telah disebut di atas. Masalah hujan sangat bermanfaat khususnya pada saat musim kemarau tapi bisa menjadi masalah besar ketika musim hujan yang terus menerus terjadi. Oleh karena itu manajemen air menjadi hal yang sangat penting untuk disikapi. Kemampuan peramalan cuaca dan musim yang akurat akan sangat membantu dalam memenej waktu turunnya anggaran untuk pembangunan. Semestinya dengan teknologi informasi dan komunikasi yang makin modern maka akan makin cepat eksekusi suatu program. Percepatan-percepatan pembangunan yang didukung oleh sistem TIK ini akan banyak terealisasi dengan tingkat kesalahan yang makin kecil. Mari kita upayakan dengan kerja keras dan cerdas melalui langkah-langkah revolusioner dalam bidang realisasi penganggaran tepat waktu. 

Saturday, October 31, 2020

Bencana hidrometeor

 Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia sudah mengalami musim penghujan. Bagi kalangan tertentu, ini merupakan berita yang sangat menggembirakan, namun mungkin tidak bagi kalangan yang lain. Pembangunan bidang pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan dan lingkungan hidup dll tentu merupakan berita yang bagus karena bisa melakukan aktivitasnya dengan baik, tidak terkendala oleh cuaca dan musim. Namun bagi kegiatan infrastruktur luar ruangan, ini berita yang agak kurang menggembirakan karena pekerjaan bisa tertunda. Semoga tulisan saya terdahulu yang menyatakan bahwa kita harus menyesuaikan kegiatan pembangunan dengan cuaca musim dan iklim benar-benar dilaksanakan sehingga terjadi efisiensi dalam penganggaran, waktu dan sebagainya. Meskipun mungkin dengan adanya bencana hidrometeor bisa berdampak pada pembangunan infrastruktur baru namun dengan adanya hujan yang mungkin akan turun hampir setiap hari maka tetap saja akan terpengaruh berbagai kegiatan di dalamnya. 

Saya sengaja mengatakan bencana hidrometeor, bukan hidrometeorologi mengingat bahwa hidrometeorologi adalah ilmu tentang hidrometeor. Jadi semestinya bencananya adalah bencana hidrometeor, bukan bencana hidrometeorologi. Karena sudah salah kaprah maka akhirnya banyak orang menyebutnya sebagai bencana hidrometeorologi. Itu sekelumit kisah mengapa saya menuliskannya sebagai bencana hidrometeor. 

Kembali ke hal yang sudah saya sampaikan di atas. Saat ini pengembangan pertanian sangat diuntungkan dengan adanya hujan. Pada saat kemarau kemarin, kekeringan melanda sejumlah wilayah bahkan dikhawatirkan timbul bencana kebakaran hutan dan lahan. Kekeringan sendiri mempunyai 4 jenis yakni kekeringan meteorologi, hidrologi, pertanian dan sosial ekonomi. Tiadanya hujan karena siklus air yang tidak berjalan dengan baik menjadikan lahan pertanian tidak bisa berproduksi optimal sehingga berdampak pada sosial ekonomi masyarakat. Dengan kecukupan air semestinya dikembangkan tanaman-tanaman yang membutuhkan air banyak atau tanaman yang berdaun lebar serta bisa pula berbudidaya mina padi. Suatu sistem yang menggabungkan antara tanaman dan hewan yang saling menguntungkan. Tanaman padi mendapatkan pupuk dari kotoran ikan, sedangkan ikan 

mendapatkan bahan pangan dan oksigen dari tanaman. Hama dan penyakit tanaman akan terkurangi potensi keberadaannya karena adanya mina (ikan). Pola-pola pertanian ganda semacam ini sebenarnya sangat dibutuhkan mengingat bisa merupakan langkah intensifikasi pertanian dimana bila dilakukan secara masif akan bisa meningkatkan produktivitas. Peternakan yang disandingkan dengan budidaya tanaman akan sangat menguntungkan juga mengingat ada simbiosis mutualisma yang terjadi. Ini merupakan pertanian yang ramah lingkungan dan mengorganisasikan seluruh potensi untuk dikembalikan ke alam, tidak menyisakan residu yang berarti. Masyarakat akan diuntungkan dengan sistem LEISA (low external input and sustainable agriculture) ini. Inilah saatnya untuk menggenjot produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan tidak menggantungkan diri pada import. Kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan harus terus menerus diupayakan agar negara betul-betul otonom terhadap semua kebutuhan rakyatnya. Negara maju yang disokong dengan kedaulatan pangan akan merupakan negara yang disegani. Gemah ripah loh jinawi, titi tentrem kerto raharjo. Subur makmur damai sejahtera dunia dan akheratnya.

Sunday, October 11, 2020

La Nina 2020

 Pertanyaan yang sampai sekarang menggelitik saya yang bergelut dengan meteorologi dan klimatologi sejak puluhan tahun yang lalu seperti yang pernah saya tulis dalam buku "Benarkah pemahaman anda tentang El Nino dan La Nina??" tahun 1998 adalah apakah yang bisa dilakukan ketika mendengar ada El Nino dan La Nina?? BANYAK! Setidak-tidaknya kita bisa berjaga-jaga atas segala kemungkinan yang terjadi terhadap bencana yang ditimbulkan akibat keduanya. Mengingat bahwa saat ini adalah saat terjadinya La Nina dimana bila anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 adalah kurang dari -0,5 terjadi selama 3 bulan berturut-turut. Lautan di wilayah Indonesia pada saat La Nina adalah relatif lebih hangat daripada biasanya, sedangkan di wilayah samudra Pasifik bagian tengah dan timur mendingin. Mekanisme terkait dengan La Nina ini telah secara gamblang disampaikan dalam buku di atas dan buku "Cuaca, musim dan iklim tropis" tulisan saya. 


Bencana yang mengiringi terjadinya La Nina adalah bencana banjir, banjir bandang, tanah longsor,  puting beliung, dan banyak petir akibat banyak terbentuk perawanan besar yang berada di atas wilayah Indonesia. Bisa dipahami mengingat pola konvergensi angin yang membawa uap air dan penguapan yang besar dari perairan Indonesia yang hangat meningkatkan pembentukan awan hujan. Wajar bila bencana-bencana seperti telah tersebut di atas jumlahnya meningkat. Jadi, tidak perlu lagi dijelaskan bagaimana harus bersiap-siap menghadapi bencana-bencana tersebut to? Saya yakin masyarakat sudah tahu apa yang harus dilakukan bila mendengar bahwa kemungkinan banjir, banjir bandang, puting beliun dan petir akan makin meningkat. Yang perlu disosialisasikan adalah bahwa bila mendengar tentang La Nina maka kemungkinan potensi bencana seperti tersebut di atas meningkat.

Di bidang pertanian, curah hujan yang meningkat bisa dimaknai dengan kalender tanam yang berubah atau penggunaan tanaman-tanaman tertentu yang lebih banyak membutuhkan air. Petani garam yang membuka ladang garam, siap-siap untuk sementara waktu tidak bisa melakukan panen garam. Nelayan perlu diingatkan bahwa angin tenggara sampai angin timur menguat mengingat pusat tekanan rendah di Pasifik tenggara menguat dan siap-siap melaut dengan cuaca yang hangat dan basah. Pembangunan infrastruktur juga akan mengalami masalah dengan adanya musim yang lebih basah daripada biasanya. Silahkan dirinci untuk setiap kementrian, apa saja yang mesti dilakukan dengan cuaca dan musim seperti itu.


Friday, September 25, 2020

Mari peduli lingkungan: banjir

 Beberapa hari terakhir banyak terjadi banjir baik di Sumatera maupun di Jawa. Sebut saja misalnya Aceh, Sumut, Sumbar, Jabar dan DKI Jakarta. Pola cuaca mendukung untuk itu apalagi didukung oleh IOD negatif dan La Nina. Kedua fenomena tersebut menunjukkan nilai negatif. Ini berarti peningkatan kebasahan di atmosfer Indonesia terjadi. Meskipun angin tenggara masih bertiup namun mengingat matahari sudah bergerak ke selatan ekuator maka demikian pula dengan perawanannya. Dengan demikian maka sebagian besar wilayah Indonesia akan segera mengalami musim hujan. Pola musim hujan ini akan makin kuat ketika angin pasat timur laut di utara khatulistiwa berkembang dan menjadi angin barat laut di wilayah Indonesia. Ketika angin ini steady/tunak/dominan maka Indonesia akan benar benar mengalami musim hujan dan wajib bagi kita untuk mempersiapkan diri akan kemungkinan datangnya bencana banjir. Mumpung masih ada waktu maka marilah berbenah diri, memfungsikan semua sarana dan prasarana yang ada untuk meminimalisasi kemungkinan banjir.