Showing posts sorted by date for query banjir. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query banjir. Sort by relevance Show all posts

Wednesday, May 31, 2023

Banjir rob makin marak??

 Rob (tidal flood) merupakan salah satu bencana alam yang terjadi di wilayah pantai yang landai. Berkaitan dengan hal tersebut maka ada 3 hal yang mesti ditinjau, yakni kondisi laut, daratan, dan muara sungai. Kita tinjau satu persatu. Kondisi laut saat ini mengalami peningkatan permukaan air laut (sea level rise) dimana terjadi penambahan beberapa milimeter per tahun yang  dalam jangka panjang angka yang terlihat kecil ini akan menghasilkan peningkatan yang tinggi dari permukaan air laut. Hal ini terjadi karena pemanasan global yang berlangsung  selama ini sehingga banyak es/lapisan kriosfer mencair.  Proses pemanasan global dapat dilihat di:  https://djokowiratmo.blogspot.com/2010/05/adakah-hubungan-antara-el-nino-dan.html

Pemanasan global dan perubahan iklim bisa berdampak pada peningkatan cuaca ekstrim misalnya siklon, angin kencang, waterspout, dan lain-lain. Siklon dan angin kencang meningkatkan ketinggian gelombang yang ketika mencapai pantai barangkali ia akan menjorok jauh ke area daratan yang kemudian kita sebut sebagai rob. Bila tidak ada hutan mangrove, misalnya, di daerah pantai maka rob ini akan makin jauh masuk ke wilayah daratan.

Source: https://www.nu.or.id/nasional/lpbinu-jelaskan-dua-penyebab-banjir-rob-semarang-j4qyO

Daratan yang mengalami subsiden akan meningkatkan peluang air laut yang lagi pasang masuk ke wilayah daratan. Subsidensi ini terjadi karena pengambilan air tanah yang berlebihan, intrusi air laut, beban bangunan atau gedung-gedung di wilayah dekat pantai yang makin besar. Semakin besar tiga hal tersebut maka subsidensi makin meningkat. Beberapa waktu yang lalu dikabarkan bahwa wilayah pantai utara Jawa mengalami subsidensi yang makin meningkat, seperti yang dikemukakan oleh rekan-rekan dari Geodesi ITB. 

Yang ketiga yakni wilayah muara sungai. Pada saat musim hujan peluang terjadinya banjir rob makin meningkat karena aliran sungai yang kencang dan meninggi. Hal ini bisa menyebabkan wilayah pantai yang  dipasang tanggul bisa menjadi jebol. Ini menyebabkan peluang terjadinya banjir meningkat apalagi bila lautan mengalami pasang.

Sehingga bila 3 hal di atas berlangsung bersamaan, dalam hal ini terjadi pasang, daratan landai dan mengalami subsidensi, dan air banjir dari arah hulu sungai maka berdampak pada meningkatnya potensi banjir rob. 


Wednesday, January 18, 2023

ITCZ masih di belahan selatan Indonesia

 ITCZ atau intertropical convergence zone hari ini masih berada di belahan bumi selatan Indonesia. Ini tentu saja berpengaruh pada curah hujan di kawasan tersebut dimana peluang terjadi bencana alam banjir dan sejenisnya lebih banyak terjadi di wilayah selatan. Ini terlihat pada link di bawah ini:

 http://inderaja.bmkg.go.id/IMAGE/HIMA/H08_EH_Indonesia.png?id=47463h1fuqvdsvsxjmn89yo

Perlu juga diketahui, meskipun beberapa hari terakhir curah hujan relatif kecil, bukan berarti bahwa kemungkinan hujan sampai dengan akhir bulan ini mengecil. Bisa jadi di wilayah lain curah hujan cukup besar mengingat puncak musim hujan di berbagai tempat di tanah air bisa berbeda-beda. Secara garis besar ada 3 pola curah hujan di Indonesia yakni monsoonal, ekuatorial dan lokal. Bisa jadi pola ini tidak tergambar dengan jelas karena merupakan kombinasi dari ketiganya, hanya saja yang paling dominan yang mana ... itu yang akan tergambar lebih jelas polanya dibanding yang lain. Barangkali anda juga tahu bahwa banyak faktor yang mempengaruhi curah hujan di Indonesia baik yang dalam arah zonal maupun meridional serta lokal. Beberapa yang bisa disebut adalah monsoon, IOD, ENSO, MJO, SAO, PDO, gelombang-gelombang atmosfer, dan berbagai faktor lain yang belum terungkap sampai dengan saat ini.  

Penelitian-penelitian baik yang dilakukan oleh PT maupun BRIN masih belum optimal dalam mengungkap semua fenomena yang disebut di atas. Bahkan barangkali akan muncul fenomena-fenomena alam baru yang belum ditemukan sampai dengan saat ini mengingat demikian kompleksnya hubungan antar sub sistem iklim dalam skala waktu detik sampai waktu tak terhingga. Model-model peramalan cuaca yang ada saat ini merupakan penyederhanaan berbagai proses yang diperhitungkan di sana. Oleh karena itu para peneliti dan akademisi serta praktisi seharusnya makin mendalami hal-hal tersebut.

Dampak curah hujan yang terjadi pada waktu ke depan ini bisa jadi akan menyebabkan banjir, longsor, erosi, banjir bandang dsb sehingga perlu tetap waspada akan kemungkinan bencana-bencana tersebut. Semoga saja, dengan berkaca pada peristiwa yang sudah terjadi, langkah-langkah preventif, adaptif dan kuratif bisa dilakukan sesegera mungkin. Tulisan saya sebelum-sebelumnya banyak menyampaikan masalah ini. 

Tuesday, January 3, 2023

Banjir rob di pantai Utara Jawa

 Beberapa hari ini, banjir melanda berbagai tempat di wilayah pantai utara pulau Jawa. Cukup tinggi bahkan bisa mencapai satu meter. Mengapa hal ini bisa terjadi?? Beberapa hal yang bisa disebut di sini adalah penurunan permukaan tanah akibat penyedotan air tanah yang berlebihan dan aktivitas manusia yang makin banyak di atas permukaan tanah tersebut. Lho kok bisa karena penyedotan air tanah?? Hal ini tidak lain karena fluida atau cairan atau air itu selalu mengisi ruang kosong, pori-pori tanah sehingga bila air ini disedot maka banyak ruang kosong yang tak terisi. Akibatnya karena di atas permukaan tanah dibangun berbagai macam jenis infrastruktur dan aktivitas manusia yang makin meningkat maka menjadi beban bagi tanah dan tanah menjadi dipadatkan. Oleh karena itu maka permukaan tanah menjadi turun.

Faktor lain yang berpengaruh adalah kenaikan permukaan air laut (MSL) akibat pemanasan global. Saat ini suhu udara di bumi semakin meningkat sehingga lempengan dan gunung-gunung es serta gletsyer makin mencair . Karena pencairan lapisan kriosfer tersebut  maka permukaan air laut juga meningkat meskipun ordenya sangat kecil yakni hanya berorde milimeter per tahun. 

Faktor ketiga yang turut berperan dalam hal tersebut adalah peningkatan cuaca ekstrim khususnya hujan deras yang terjadi di daratan yang akhirnya mencapai laut akibat perubahan iklim. Berkali-kali dalam blogspot ini saya menyebut dan menulis tentang perubahan iklim ini sekaligus juga videonya. Perubahan iklim ini membawa dampak signifikan terhadap anomali kejadian cuaca, musim dan iklim turunannya. 

Bila ketiga hal di atas terjadi secara bersamaan, saluran drainase tidak berfungsi dengan baik, terjadi pasang laut yang tinggi maka banjir rob di pantai akan dengan mudah terjadi. Lalu apa yang bisa dilakukan bila hal tersebut terjadi?? Banyak hal!! Contoh kecil adalah aktivitas memerangi perubahan iklim dengan cara perbanyak tanam pohon, kurangi pemakaian energi yang berlebihan, kurangi pemakaian kertas, dan lain-lain. Hal-hal tersebut lebih berupa upaya mitigasi. 

Wednesday, December 8, 2021

Akankah banjir lahar dingin Semeru terjadi lagi??

 Gunung Semeru yang Sabtu kemarin meletus mengakibatkan puluhan jiwa melayang dan kerusakan yang parah pada bangunan, pekarangan dan kebun serta infrastruktur yang lain di beberapa desa di sekitarnya. Jembatan juga terputus sehingga beberapa wilayah tertentu terisolasi. Hujan yang terjadi di puncak dan lereng gunung tersebut membawa lahar dingin ke bawah dan juga menambah dampak kerusakan di wilayah yang dilaluinya. 

Tinggi gunung yang 3676 meter merupakan salah satu gunung tinggi di Indonesia yang masih aktif. Seperti juga gunung-gunung lain yang masih aktif, banyak lahan subur yang diusahakan oleh penduduk. Ini karena material gunung api yang termuntahkan setiap kali erupsi atau eksplosi menyebabkan kandungan hara yang sangat dibutuhkan tanaman di tanah meningkat. Oleh karena itu tidak heran kalau banyak penduduk yang tinggal di wilayah gunung-gunung aktif mengusahakan lahan untuk tujuan pertanian dan peternakan. Temperatur dan kelembapan relatif yang ada di sekitar gunung api terasa nyaman dan menyehatkan bagi makhluk hidup khususnya manusia.

Situasi gunung Semeru saat ini dapat dilihat pada link berikut ini. Tampak bahwa angin menuju ke arah utara dengan kecepatan rendah. Bila terjadi kepulan asap saat ini maka kemungkinan besar akan menuju ke arah utara. Semoga Semeru segera mereda dan suasana kembali normal terjadi. Masih ada kemungkinan banjir lahar dingin (banjir bandang) terjadi mengingat puncak musim hujan belum terlampaui, oleh karena itu harus tetap waspada. Bukan tidak mungkin terjadi letusan gunung api di tempat lain mengingat beberapa waktu yang lalu gunung Merapi di Jateng juga batuk-batuk kecil. 

Sampai kapan bencana hidrometeorologi terjadi??

Bila ditanyakan sampai kapan artinya tidak dibatasi ruang dan waktu maka sebenarnya bencana hidrometeorologi akan selalu terjadi di dunia ini. Namun bila ditanyakan dalam musim hujan kali ini bencana hidrometeorologi (misalnya banjir, banjir bandang, siklon dst) maka berdasarkan analisis dari model prakiraan yang dikembangkan oleh BMKG dan BoM Australia menunjukkan hasil yang berbeda. Model yang dikembangkan oleh BMKG cenderung menyatakan bahwa sampai dengan bulan depan, baik kondisi ENSO maupun IOD, menunjukkan kondisi normal. Ini artinya bahwa tidak terjadi penyimpangan besar pada suhu permukaan laut baik di samudra Pasifik maupun di samudra Hindia. Pengaruh monsoon terasakan saat ini dengan adanya pusat tekanan rendah di belahan bumi selatan dan utara di samudra Pasifik. Di samudra Hindia khususnya di selatan Jawa ada siklon Teratai yang makin menjauhi wilayah kita. Di dekat Papua Nugini ada pusat tekanan rendah 93P dan di utara Papua ada 93W. Ini semua menyebabkan arah angin monsoon berbelok ke arah timur setelah melewati ekuator dari BBU dan ini banyak membawa uap air. Kalau kemarin (bahkan hari ini) di beberapa tempat terjadi banjir itu tidak lain karena terjadi superposisi dari pengaruh La Nina di samudra Pasifik, Dipole mode netral di samudra Hindia, dan monsoon Asia. Berikut ini adalah bukti bahwa di samudra Pasifik terjadi La Nina.

Terlihat bahwa terjadi anomali negatif suhu permukaan laut di samudra Pasifik di wilayah tengah dan timur ekuator, sedangkan di wilayah Indonesia relatif hangat. Madden Julian Oscillation sekarang sampai dengan akhir bulan ini masih belum memasuki wilayah Indonesia sehingga pengaruhnya pada curah hujan di Indonesia dalam kurun waktu tersebut relatif kecil. Seruak dingin (cold surge) mungkin juga turut berpengaruh. Berdasarkan prakiraan terkait ketiga hal di atas (ENSO, DM, dan monsoon) maka dapat dianalisis bahwa kemungkinan bencana hidrometeorologi akan berlangsung sampai akhir Pebruari 2022. Semoga saja tidak sampai banyak menimbulkan korban baik harta benda maupun nyawa manusia. Berikut ini link youtube webinar terkait kebencanaan yang dimaksud.  


Monday, November 8, 2021

Akankah banjir merupakan peristiwa sehari-hari di musim hujan ??

 Kali ini, menjelang puncak musim hujan telah terjadi banjir di beberapa tempat di Indonesia. Di Jawa Timur ada banjir bandang khususnya di kota Batu. Kemarin banjir juga melanda wilayah pusat ibukota negara kita, Jakarta., sekarang belum surut. Sebenarnya sudah bisa ditebak, jika telah mulai masuk musim hujan maka pasti terjadi surplus air di Jakarta yang merupakan dataran rendah seperti juga sudah disampaikan beberapa waktu yang lalu di blog ini. Langkah-langkah penanggulangannya juga sudah disampaikan. Yang penting harus dilakukan secara konsisten dengan lebih banyak melibatkan masyarakat pada berbagai macam skala ruang dan waktu dalam proses pembangunan. Yuk  bantu pemerintah menangani berbagai masalah keseharian masyarakat agar masyarakat merasa nyaman dan tenang, tidak waswas misalnya pada musim hujan seperti saat ini. Tunggu tulisan berikutnya ya.

Tuesday, April 6, 2021

Perkuat jaringan observasi dan tingkatkan SDM

 Kemarin malam kami berdiskusi dengan beberapa kolega dari instansi pemerintah seperti LAPAN dan BMKG serta PT meskipun tidak mewakili lembaga-lembaga tersebut secara resmi. Bincang-bincang santai meskipun yang dibicarakan adalah permasalahan yang sangat serius yakni mengenai peristiwa banjir di Nusa Tenggara Timur. Kami bicara tentang siklon tropis yang terbentuk sampai dengan hari ini dan menurut Badan Meteorologi Australia akan makin menjauh dari wilayah Indonesia dan meluruh di arah barat laut dekat Australia. Siklon Seroja, itu nama yang diberikan BMKG atas siklon yang terbentuk di wilayah Indonesia tersebut. Seperti mungkin anda sudah ketahui, Indonesia mempunyai wewenang untuk memberikan nama pada siklon yang terbentuk di sebelah lintang selatan wilayah Indonesia. Kami memperbicangkan bagaimana siklon tersebut terbentuk, bagaimana kemungkinan perkembangannya, dan bagaimana cuaca dan musim dalam beberapa waktu ke depan. Siklon terbentuk jika syarat Palmer terjadi yakni jika suhu permukaan lautnya lebih dari 26,5oC dimana ini terjadi di wilayah tropis sehingga kelembapan atmosfer tinggi dan perawanan konvektif terbentuk (dalam hal ini awan-awan Cumulonimbus). Skala untuk menggambarkan siklon ini adalah skala Saffir Simphson. 

Berbagai dampak kejadian siklon tropis Seroja tersebut sudah banyak didengar, dilihat dan dibaca dari media massa baik cetak maupun elektronik serta media sosial berantai. Perbincangan selain menyangkut aspek atmosfer, juga mencakup aspek daratan dimana kemungkinan lingkungan juga rusak meskipun harus dilihat faktualnya seperti apa. Hujan tinggi yang terjadi di wilayah Florest Timur yang mencapai 154 mm sementara di sekitarnya jauh lebih kecil menunjukkan bahwa wilayah tersebut merupakan wilayah dekat dengan dinding mata siklon. Meskipun angka ini masih dirasa kecil dibandingkan kejadian curah hujan yang menyebabkan banjir di Jakarta tahun lalu. 

Beberapa hal yang akhirnya kemudian menjadi rekomendasi dari kami adalah peningkatan kualitas SDM bidang meteorologi yang mendukung pada peningkatan kualitas layanan meteorologi dan klimatologi, memperkuat jaringan pengamatan baik menggunakan satelit, radar, maupun automatic weather station (AWS). Selain itu juga mendorong keberanian BMKG untuk menyampaikan informasi (early warning system, EWS) secara lebih akurat agar masyarakat makin menyadari bahwa memang wilayah Indonesia merupakan supermarket bencana alam. Kerjasama dengan negara lain (misal dengan Australia) juga didorong untuk meningkatkan kualitas layanan EWS. 

Tuesday, March 16, 2021

Hujan hari ini

 Kalau hari ini di tempat anda hujan cukup deras, khususnya di pulau Jawa, maka hal tersebut wajar mengingat perawanan cukup tebal terjadi sepanjang pulau Jawa. Hanya sebagian kecil yang tidak tertutup awan bahkan mungkin bebas sama sekali. Ini terlihat pada citra satelit berikut ini:

Sebagian wilayah Sumatera pun juga mengalami hujan demikian pula Kalimantan bagian selatan, sebagian Sulawesi dan Maluku serta Papua. Sebenarnya jika menilik pada kondisi angin yang umumnya relatif kalem (calm) maka hal tersebut wajar saja. Pembentukan awan-awan yang disebabkan oleh awan konvektif yang bercampur dengan awan konvergensi menyebabkan hal tersebut terjadi. Untuk wilayah di sekitar pegunungan juga pengaruh orografi cukup mendukung pembentukan awan hujan. Matahari yang makin mendekati ekuator (namun hari ini masih di selatan ekuator) mendorong perawanan juga makin menuju ekuator. Gangguan tekanan rendah di selatan sampai barat daya pulau Jawa yang terjadi beberapa waktu yang lalu sudah mereda dan ini lebih mendorong pada pergeseran awan yang makin menuju utara. Banjir yang terjadi hari ini di Gresik Jawa Timur diakibatkan oleh hujan deras yang terjadi sejak tadi malam. Oleh karena itu maka tidak boleh tidak, semua pihak harus waspada mengingat sampai dengan bulan April mendatang, bulan basah masih mendominasi wilayah Indonesia, seperti yang diramalkan oleh BMKG. Kalau melihat apa yang tertulis sebelumnya yang menunjukkan bahwa ENSO menunjukkan trend normal dan Indeks Dipole Mode yang menunjukkan nilai netral maka sekali lagi perlu ditegaskan bahwa kondisi saat ini lebih didominasi oleh pengaruh monsoon barat. Bila itu terjadi maka Oktober sampai Maret merupakan musim hujan dan April sampai September merupakan musim kemarau untuk yang mempunyai tipe curah hujan monsoonal. Sedangkan yang mempunyai pola curah hujan tipe ekuatorial yang berada di wilayah sekitar khatulistiwa akan mengalami puncak hujan sekitar bulan April dan Oktober sementara yang mempunyai tipe curah hujan lokal akan mempunyai puncak curah hujan sekitar Agustus. 


Thursday, February 25, 2021

Bersiap terhadap bencana mendatang

 Dalam beberapa waktu ini telah terjadi bencana alam banjir di beberapa wilayah di Indonesia. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa telah terjadi banjir di wilayah Kalimantan Selatan yang merusak banyak sarana prasarana di propinsi tersebut akibat berbagai masalah lingkungan. Peristiwa banjir juga melanda Jakarta, Nganjuk (Jawa Timur), Pekalongan, Kudus dan Semarang (Jawa Tengah). Semuanya diakibatkan oleh curah hujan yang lebat, tidak tertampungnya air oleh saluran drainase, permasalahan kerusakan lingkungan akibat perubahan tata guna lahan dan perilaku masyarakat, Semoga peristiwa ini tidak berulang lagi dalam waktu mendatang mengingat curah hujan makin berkurang dari waktu ke waktu khususnya untuk wilayah yang mempunyai curah hujan monsoonal.

Di wilayah Sumatera Utara sudah mulai terjadi kebakaran hutan. Ini menunjukkan ada daerah-daerah yang sudah menginjak musim kemarau dan bila mengingat apa yang diramalkan oleh BMKG maka hal ini memang patut untuk diwaspadai dan ditindaklanjuti. Perhatikan gambar berikut ini:

Terlihat bahwa wilayah Indonesia yang berada di Utara ekuator diprakirakan pada dasarian ketiga bulan Pebruari ini sudah mengalami curah hujan yang rendah kurang dari 50 mm sehingga peluang dari terjadinya kering dan kekeringan meningkat. Kalau dilihat baru pada bulan Maret, April dan Mei 2021 terjadi El Nino lemah dan Dipole Mode menunjukkan arah menuju IOD positif maka kemungkinan kering meningkat dan menjadi bulan-bulan kering meskipun tidak ekstrim.


Sunday, January 17, 2021

Kita kurang ajar

  Kurang ajar ... kata itu sering disampaikan oleh orang tua kepada anaknya atau seseorang kepada orang lain yang melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan atau menyinggung perasaan. Sering diartikan pula sebagai umpatan terhadap seseorang. Tapi maksudnya dalam hal ini adalah "kurang belajar" ... kita kurang belajar dari teori atau praktek yang sudah berlangsung beberapa waktu atau jauh-jauh hari sebelumnya. Misalnya dari kasus longsor. Longsor terjadi pada area yang memiliki kelerengan tertentu, penguat tanah tidak berfungsi dengan baik (vegetasi), karakteristik tanah (tekstur dan struktur) yang memudahkan hujan menggerus dan membawa tanah ke tempat lain atau lebih rendah atau sebab gempa. Lingkungan yang rusak  ditandai dengan kondisi kalau musim hujan banjir atau longsor sedangkan saat musim kemarau kekeringan serta sedikitnya/berkurangnya jumlah mata air yang ada. Siklus hidrologi pada berbagai skala menjadi berubah dan makin menyulitkan memperoleh air bersih secara alami merupakan tanda-tanda alam yang sudah selayaknya untuk dipahami dan dibaca serta ditindaklanjuti bahwa alam sudah mengalami kerusakan.

Pembangunan infrastruktur yang tidak terkendali dan penataan ruang yang tidak terkontrol merupakan sebab lain yang cukup besar pengaruhnya pada bentang alam dan siklus hidrologi. Perhatikan gambar berikut ini yang menunjukkan bahwa luas hutan dari waktu ke waktu mengalami pengurangan yang sangat signifikan. Kebakaran hutan dan lahan, konversi hutan menjadi lahan pertanian dan perkebunan, penebangan liar dan kalahnya laju penghijauan kembali dengan laju kerusakannya merupakan penyebab yang sampai sekarang belum mendapatkan porsi perhatian yang lebih dari semestinya. cmiiw


Menyimak dari gambar tersebut maka wajar bila seandainya di Kalimantan akan makin sering terjadi banjir di wilayah-wilayah yang selama waktu sebelumnya belum pernah mengalaminya. Bila tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin bencana alam akan merupakan langganan bagi mereka yang menghuni kawasan tersebut. 

Mari belajar dari pengalaman dan mengambil langkah konkrit dalam mengupayakan agar kawasan pulau Kalimantan dan pulau-pulau lain di Indonesia tidak menjadi langganan bencana alam. 

Monday, December 28, 2020

Bencana nasional 2020

 Akhir tahun 2020 ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis berita bahwa selama kurun waktu satu tahun ini telah terjadi 2921 bencana alam di seluruh tanah air dimana 1064 kejadiannya berupa bencana alam banjir. Jadi lebih dari sepertiga bencana alam berupa banjir. Ini tentu saja peristiwa yang tidak mengenakkan dan menyengsarakan bagi masyarakat terdampak. Rinciannya adalah 16 gempa bumi, 7 letusan gunung api, 326 kebakaran hutan dan lahan, 29 kejadian kekeringan, 570 kejadian tanah longsor, 872 putting beliung, 32 gelombang pasang dan abrasi dan kejadian non alam yakni pandemi Covid-19 dimana sampai dengan hari ini kecenderungan jumlah penderitanya bertambah. Sebanyak 713.365 orang terkonfirmasi terkena Covid. Lebih dari 21 ribu jiwa meninggal dunia dengan tingkat kesembuhan mencapai lebih dari 580 ribu orang.

 

Urutan kejadian bencana alam didominasi oleh Sumatera, diikuti oleh Jawa, Kalimantan dan Papua. Kerusakan total fasilitas public mencapai 1543 unit dimana 672 buah di antaranya berupa fasilitas pendidikan, 728 fasilitas ibadah dan 143 fasilitas kesehatan. Lebih dari 6 juta jiwa mengungsi dan 370 jiwa meninggal dunia, 39 hilang dan luka-luka sebanyak 356 orang.

Generasi muda dan kebencanaan

 Latar belakang dan motivasi

Abad 21 merupakan abad teknologi informasi; setiap orang dari mulai balita sampai orang-orang jompo terpapar oleh informasi yang disampaikan melalui media masa dan media sosial. Selama 24 jam sehari, pemberitaan dan pertukaran informasi terjadi melalui media elektronik dan media cetak. Oleh karena itu seolah-olah tidak ada batas negara dalam hal informasi. Namun informasi-informasi tersebut bercampur aduk, ada yang benar dan ada pula yang salah/hoaks. Bahkan tidak jarang informasi diselewengkan untuk tujuan-tujuan yang tidak benar dan merusak. Karenanya dibutuhkan filter dan tameng untuk melindungi masyarakat dari informasi yang tidak benar dan merusak tersebut dengan memberikan pemahaman yang benar salah satunya tentang kebencanaan kepada generasi muda. Peran dari penyampai berita baik perorangan maupun lembaga tentu sering menyebabkan kekisruhan di masyarakat. Dengan perkembangan teknologi yang demikian pesat, peroranganpun bisa menjadi penyampai berita yang sangat cepat. Ini merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat khususnya generasi mudanya dan awak media dalam meningkatkan mutu pemberitaan. Diharapkan dengan meningkatkan pemahaman tentang bencana kebumian di Indonesia dan sekitarnya bagi para generasi muda di pondok-pondok pesantren ASWAJA maka sedikit demi sedikit pemahaman masyarakat dan generasi muda akan masalah kebencanaan menjadi lebih baik. Generasi muda  menjadi mitra strategis dalam menyampaikan berita tersebut

https://jakarta.bisnis.com/

Deskripsi masalah dan Tujuan

Beberapa tahun terakhir ini fenomena cuaca dan iklim ekstrim seperti banjir, kekeringan, angin kencang, angin puting beliung dan siklon tropis serta bencana kebumian yang lain seperti gempa bumi, letusan gunung api, tsunami makin sering melanda dunia. Pemberitaan tentang hal tersebut dapat dijumpai di berbagai macam media masa seperti koran, majalah, buletin, televisi, radio dan media sosial lainnya seperti twitter, facebook, dll. Dengan demikian maka hampir semua kalangan masyarakat terpapar oleh pemberitaan tersebut. Namun sayangnya, sering pemberitaan tersebut tidak tepat sehingga informasi yang diterima masyarakat juga tidak tepat. Akibatnya pemahaman masyarakat tentang fenomena cuaca dan iklim serta bencana kebumian yang lain menjadi tidak tepat juga. Ini merupakan tanggungjawab kita bersama; pemerintah, dunia pendidikan yang terkait dengan ilmu dan teknologi kebumian, masyarakat khususnya generasi muda  dan media masa (khususnya wartawan) untuk meluruskannya.

Pemberitaan yang sering tidak tepat menggelitik kami untuk mencoba meningkatkan mutu dan meluruskannya melalui kegiatan ceramah interaktif ke pondok-pondok pesantren ASWAJA agar generasi muda kita melek atau paham tentang bencana-bencana tersebut yang terjadi di Indonesia. Diharapkan ada efek bola salju dari kegiatan ini dalam memahami fenomena alam dan mensikapinya.

Metodologi

Pemahaman masyarakat tentang bencana kebumian khususnya akibat cuaca dan iklim akan sedikit demi sedikit menjadi lebih baik karena perbaikan pemahaman generasi muda tentang berita yang sampai kepada mereka. Ini karena setiap saat warga masyarakat terpapar oleh berita, tidak terkecuali berita tentang bencana alam tersebut. Oleh karena itu, santriwan dan santriwati pondok pesantren ASWAJA merupakan mitra strategis bagi perguruan tinggi. Berita dan informasi tersebut akan dengan cepat dapat diluruskan bila semakin banyak generasi muda memahami dengan benar dan saling bahu membahu  bekerjasama dalam menyampaikan berita dan informasi yang benar kepada masyarakat luas melalui berbagai forum dan media.

Target luaran: video pembelajaran dan buku serta publikasi di media massa

Kelompok sasaran : generasi muda pontren ASWAJA di Jabar, Jateng, DIY dan Jatim serta propinsi-propinsi lain di Indonesia

Outcome:

Diharapkan dengan mengikuti kegiatan ini pemahamansantriwan/santriwati pontren ASWAJA tentang bencana kebumian makin meningkat.

Thursday, November 19, 2020

Mengapa musim hujan tidak setiap hari hujan

 Sejak beberapa waktu yang lalu kita telah memasuki musim hujan. Musim hujan diartikan sebagai periode dimana hujan banyak terjadi. Ukurannya adalah bila sudah memasuki dasarian yang curah hujannya melebihi 50 mm setelah tiga dasarian berturut-turut masing-masing mempunyai curah hujan lebih dari 50 mm. Pada musim hujan, hujan merupakan fenomena yang sering terjadi sedangkan pada musim kemarau, curah hujan jarang terjadi meskipun bisa saja terjadi hujan dengan besar dalam satu dasariannya kurang dari 50 mm. Bila kita amati dalam beberapa waktu terakhir, pada kadar antara jarang dan sering, curah hujan terjadi. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa curah hujan tidak terjadi?? Mari kita lihat peta sinoptik berikut ini.

Peta di atas adalah prakiraan untuk hari ini. Mengamati peta sinoptik beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa angin tenggara - timur begitu dominan di selatan ekuator. Mengingat bahwa umumnya tidak banyak mengandung uap air maka pembentukan perawanan juga kurang mendukung untuk terjadinya hujan. Wajar pula mengapa panas begitu menyengat, tidak lain karena matahari berada di lintang selatan dekat pulau Jawa. Penguapan yang terus menerus dari permukaan bumi khususnya yang dialami di sebagian besar wilayah selatan ekuator menyebabkan panas terasa lebih dari biasanya. Keberadaan uap air dari perawanan ini barangkali dikurangi oleh efek kurangnya aerosol higroskopis yang melayang-layang di atmosfer akibat jauh berkurangnya aktivitas manusia selama pandemi. Angin yang berubah-ubah arah dan keberadaan pusat tekanan rendah di utara Indonesia memberi kontribusi juga pada terbentuknya kondisi "kurangnya" hujan. Tekanan rendah di lepas pantai Sumatera Utara memberi kontribusi pada terjadinya banjir di wilayah tersebut, khususnya di Medan. Sedangkan di Banyumas Jawa Tengah kejadian banjir lebih dipengaruhi oleh efek lokal yakni pegunungan di sekitarnya. 

Sunday, October 11, 2020

La Nina 2020

 Pertanyaan yang sampai sekarang menggelitik saya yang bergelut dengan meteorologi dan klimatologi sejak puluhan tahun yang lalu seperti yang pernah saya tulis dalam buku "Benarkah pemahaman anda tentang El Nino dan La Nina??" tahun 1998 adalah apakah yang bisa dilakukan ketika mendengar ada El Nino dan La Nina?? BANYAK! Setidak-tidaknya kita bisa berjaga-jaga atas segala kemungkinan yang terjadi terhadap bencana yang ditimbulkan akibat keduanya. Mengingat bahwa saat ini adalah saat terjadinya La Nina dimana bila anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 adalah kurang dari -0,5 terjadi selama 3 bulan berturut-turut. Lautan di wilayah Indonesia pada saat La Nina adalah relatif lebih hangat daripada biasanya, sedangkan di wilayah samudra Pasifik bagian tengah dan timur mendingin. Mekanisme terkait dengan La Nina ini telah secara gamblang disampaikan dalam buku di atas dan buku "Cuaca, musim dan iklim tropis" tulisan saya. 


Bencana yang mengiringi terjadinya La Nina adalah bencana banjir, banjir bandang, tanah longsor,  puting beliung, dan banyak petir akibat banyak terbentuk perawanan besar yang berada di atas wilayah Indonesia. Bisa dipahami mengingat pola konvergensi angin yang membawa uap air dan penguapan yang besar dari perairan Indonesia yang hangat meningkatkan pembentukan awan hujan. Wajar bila bencana-bencana seperti telah tersebut di atas jumlahnya meningkat. Jadi, tidak perlu lagi dijelaskan bagaimana harus bersiap-siap menghadapi bencana-bencana tersebut to? Saya yakin masyarakat sudah tahu apa yang harus dilakukan bila mendengar bahwa kemungkinan banjir, banjir bandang, puting beliun dan petir akan makin meningkat. Yang perlu disosialisasikan adalah bahwa bila mendengar tentang La Nina maka kemungkinan potensi bencana seperti tersebut di atas meningkat.

Di bidang pertanian, curah hujan yang meningkat bisa dimaknai dengan kalender tanam yang berubah atau penggunaan tanaman-tanaman tertentu yang lebih banyak membutuhkan air. Petani garam yang membuka ladang garam, siap-siap untuk sementara waktu tidak bisa melakukan panen garam. Nelayan perlu diingatkan bahwa angin tenggara sampai angin timur menguat mengingat pusat tekanan rendah di Pasifik tenggara menguat dan siap-siap melaut dengan cuaca yang hangat dan basah. Pembangunan infrastruktur juga akan mengalami masalah dengan adanya musim yang lebih basah daripada biasanya. Silahkan dirinci untuk setiap kementrian, apa saja yang mesti dilakukan dengan cuaca dan musim seperti itu.


Friday, September 25, 2020

Mari peduli lingkungan: banjir

 Beberapa hari terakhir banyak terjadi banjir baik di Sumatera maupun di Jawa. Sebut saja misalnya Aceh, Sumut, Sumbar, Jabar dan DKI Jakarta. Pola cuaca mendukung untuk itu apalagi didukung oleh IOD negatif dan La Nina. Kedua fenomena tersebut menunjukkan nilai negatif. Ini berarti peningkatan kebasahan di atmosfer Indonesia terjadi. Meskipun angin tenggara masih bertiup namun mengingat matahari sudah bergerak ke selatan ekuator maka demikian pula dengan perawanannya. Dengan demikian maka sebagian besar wilayah Indonesia akan segera mengalami musim hujan. Pola musim hujan ini akan makin kuat ketika angin pasat timur laut di utara khatulistiwa berkembang dan menjadi angin barat laut di wilayah Indonesia. Ketika angin ini steady/tunak/dominan maka Indonesia akan benar benar mengalami musim hujan dan wajib bagi kita untuk mempersiapkan diri akan kemungkinan datangnya bencana banjir. Mumpung masih ada waktu maka marilah berbenah diri, memfungsikan semua sarana dan prasarana yang ada untuk meminimalisasi kemungkinan banjir.




Friday, July 17, 2020

Banjir di Sulawesi, Kalimantan dan Papua

Meski sebenarnya sudah bisa diduga bahwa di banyak tempat di Indonesia masih ada yang mempunyai curah hujan cukup untuk menghasilkan banjir mengingat ada tiga pola curah hujan di tanah air, namun peristiwa banjir di Masamba Sulawesi ini memang tidak diduga sebelumnya. Curah hujan yang sedang hingga tinggi sebelum kejadian menyebabkan banjir bandang terjadi. Puluhan korban jiwa sampai hari ini dilaporkan, dan banyak kawasan mengalami kerusakan karena air bah yang membawa lumpur. Secara meteorologis bisa dijelaskan bahwa daerah tersebut mengalami pola curah hujan lokal karena juga ada perbukitan di sekitarnya. Pola curah hujan ini berkebalikan dengan pola monsoonal dimana justru pada bulan Juni Juli Agustus curah hujannya tinggi. Pembentukan perawanan cumulonimbus pada saat kejadian hujan sedang dan deras sebelumnya mempunyai pengaruh kuat pada pembentukan banjir bandang.
Warga melakukan pencarian klorban tertimbun lumpur akibat banjir bandang di Desa Radda, Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, Selasa (14/07/2020)
sumber: Kompas, 14/7/2020
Di Sintang Kalimantan dan Sorong Papua juga terjadi banjir. Banjir yang mengakibatkan berbagai kerugian disebabkan oleh pola curah hujan ekuatorial dan lokal yang terjadi di tempat tersebut selain karena pengaruh wilayah yang sudah rusak ekologinya dan juga tanahnya sudah mengalami kejenuhan ketika banjir terjadi. Tanah yang jenuh ini diakibatkan oleh air hujan yang cukup untuk menjenuhkan tanah. Kemudian air tidak lagi dapat meresap ke dalam tanah dan akhirnya run off terjadi yang makin lama makin besar. Bila run off ini tidak tertampung di sungai atau badan-badan air maka bisa meluber dan menyebabkan banjir atau memperparah genangan. Oleh karena itu bila kita bicara masalah banjir maka kita bicara juga masalah lingkungan, selain faktor kebiasaan manusia, infrastruktur dan juga faktor meteorologi. Baca misalnya di sini dan di sini.

Thursday, March 26, 2020

ITCZ masih di selatan ...



ITCZ atau intertropical convergence zone adalah daerah pertemuan antara angin pasat yang umumnya banyak perawanan di sana karena konvergensi ini membawa banyak uap air. Biasanya awan-awan yang terbentuk adalah awan-awan konvergensi yang sering bercampur dengan awan-awan konvektif yang mempunyai potensi pada terbentuknya curah hujan. Seperti terlihat pada gambar ramalan cuaca di samping maka kemungkinan besar bahwa awan-awan yang terbentuk adalah berada di sepanjang Jawa sampai Nusa Tenggara demikian pula di Sumatera dan sekitar kepala burung Papua. Saat ini matahari baru saja meninggalkan wilayah ekuator dan bergerak ke belahan bumi Utara. Ini berarti bahwa ITCZ juga bergerak ke Utara. Hal ini dikuatkan dengan adanya angin yang masih membawa uap air yang banyak di hampir seluruh wilayah Indonesia. Angin pasat timur laut masih mendesak ke selatan katulistiwa yang berarti bahwa pengaruh dari Samudra Pasifik dan benua Asia yang masih dingin masih kuat. Kalau melihat distribusi uap air seperti terlihat di bawah maka tampak bahwa masih banyak wilayah di Indonesia yang mempunyai potensi hujan besar terjadi, misal di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung, Banten, DKI Jaya, Jabar, sebagian Jawa Tengah, Bali, sebagian Kalimantan, dan

sebagian Papua. Awan-awan yang tidak terlalu tebal banyak bertebaran di pulau-pulau di seluruh Indonesia. Oleh karena itu kemungkinan banjir di tengah pandemi Corona ini masih mungkin terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Semoga saja dampak positifnya bagi pengurangan pandemi Covid-19 ini bisa nyata terlihat dengan tersapunya virus bersama air khususnya untuk yang ada di luar ruangan, meski faktanya masih harus diteliti lebih lanjut.

Sunday, February 2, 2020

Memang lagi waktunya ...

Saat ini banyak kota yang mengalami banjir ataupun genangan. Berbagai sebab memungkinkan hal tersebut terjadi. Saluran drainase yang tersumbat, sungai yang mengalami pendangkalan, perbukitan yang rusak akibat perambahan hutan atau untuk tujuan pertanian, pemukiman, dll. Selain itu tentu saja yang paling utama adalah curah hujan yang tinggi yang datang dalam waktu cukup lama atau curah hujan deras dalam waktu singkat sehingga menyebabkan air tidak dapat tertampung di saluran drainase atau meresap ke dalam tanah. Kalau kita tengok ramalan cuaca yang dilakukan BMKG dan hasil observasi mendekati real time, terlihat bahwa saat ini memang sedang saatnya musim hujan. Musim hujan juga bukan berarti selalu setiap hari hujan, namun bila dalam kurun waktu tertentu mempunyai curah hujan tertentu.
Pusat-pusat tekanan rendah dan area konvergensi banyak terjadi di wilayah Indonesia dan sekitarnya. Ini makin memperkuat adanya pembentukan awan-awan konvektif dan konvergensi di wilayah kita. Hal ini dikuatkan oleh keberadaan awan-awan tebal yang banyak mengandung uap air seperti terlihat pada gambar berikut yang diambil tanggal 2 Pebruari 2020 jam 10 UTC:
Di sebagian Papua, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara tertutup oleh awan potensial. Jadi bila hari ini terjadi banjir lagi di beberapa wilayah di tanah merupakan hal yang wajar, bila hujan yang jatuh tidak mampu tertampung oleh saluran drainase. Upaya mitigasi dan adaptasi sudah harus disiapkan sesegera mungkin karena musim hujan masih akan berlangsung sampai Maret nanti. Ini kalau kita lihat iklimnya lho ya, meskipun tergantung pada wilayahnya apakah curah hujannya mengikuti pola monsoonal, ekuatorial atau lokal. Program-program jangka pendek, menengah dan panjang sudah selayaknya untuk dipersiapkan dan dilaksanakan. Semoga dengan manajemen air yang lebih baik maka di musim hujan kita tidak kebanjiran dan di musim kemarau tidak kekurangan air atau bahkan kekeringan.

Thursday, January 30, 2020

Membangun rumah Indonesia sehat dan Corona

Ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang dengan sangat cepat. Siapa sangka dalam kurun waktu beberapa tahun saja suatu profesi menjadi terangkat dan banyak menjadi pilihan pekerjaan utama, semisal menjadi influencer, motivator atau jualan online. Siapa sangka gadget berkembang dengan sangat pesat dimana banyak menu di dalamnya yang bisa mengusik ketentraman seseorang karena mampu memindai telepon genggam orang lain. Siapa sangka orang dengan cepat berubah dari budaya baca menjadi budaya audio visual. Banyak koran-koran yang tadinya beroplah banyak tetapi kemudian bergeser menjadi berita online. Orang juga lebih suka membaca media sosial karena merupakan hal yang sangat mengasyikkan. Media sosial begitu ramai dan gegap gempita oleh berbagai uneg-uneg atau berita yang suka-suka orang mengirimnya. Kelompok-kelompok kerohanian, warga suatu kompleks, teman-teman masa kecil sampai dewasa, kelompok kegemaran yang sama, dan sebagainya berseliweran di dunia maya. Berbagai jenis media sosial juga berkembang dengan sangat ramainya. Suatu grup bisa mempunyai ratusan ribu bahkan jutaan penggemar. Semua teknologi yang ada saat ini memungkinkan hal itu terjadi.
Ramainya dunia media sosial dan makin bebasnya orang berekspresi di ruang publik menyebabkan tatanan suatu negara bisa berubah cepat. Warga negara suatu bangsa sudah seperti warga dunia yang tidak ada batasan negara. Dunia dapat dengan cepat berubah dari kondisi satu menjadi kondisi yang lain. Dunia yang tadinya aman tentram dan seolah terisolasi antara satu dengan yang lain menjadi demikian liar dan seolah tanpa aturan. Dari perspektif kedaulatan negara, ini merupakan hal yang cukup berisiko. Kebobolan keamanan negara bisa dikendalikan dari beberapa titik tertentu di bumi yang mempunyai sumber daya unggul dan berteknologi tinggi. Pergerakan manusia yang demikian bebas bisa pula mengancam pada kesehatan masyarakat, seperti issue virus Corona saat ini. Virus yang menular dengan sangat cepat ini menggoncangkan dunia karena ditularkan lewat orang per orang, bukan lagi dari hewan ke manusia. Bahkan Wuhan dan beberapa kota di sekitarnya di China sudah diisolasi agar penyebaran virus yang diduga berasal dari wilayah ini tidak sampai menyebar makin luas dan makin cepat. Di beberapa negara juga sudah tertular virus ini. Banyak negara yang kemudian memulangkan para wisatawan China atau mengkarantina orang-orang China yang datang ke suatu negara untuk jangka waktu tertentu untuk memastikan bahwa dia tidak terdampak virus tersebut. Sampai hari kemarin diberitakan ada 131 orang yang sudah meninggal dan ribuan yang tertular di China khususnya. Ada sementara kota yang sudah seperti kota mati karena wabah tersebut yang sangat menakutkan. Aktivitas penduduk bahkan untuk berbelanja memenuhi kebutuhan sehari-haripun sudah cukup sulit mengingat tidak setiap saat toko buka. Sampai sekarang belum ada obat yang ditemukan untuk menangani penyakit ini. Semoga penyebaran virus Corona dan berbagai virus berbahaya lainnya tidak melalui udara atau dipengaruhi cuaca dan musim. Rumah sakit khusus yang dibangun di China ditargetkan selesai dalam waktu 10 hari, suatu pekerjaan infrastruktur yang luar biasa cepatnya. Teknologi ini seandainya bisa juga diterapkan untuk membangun infrastruktur di Indonesia akan merupakan kemajuan pesat dan mempercepat proses pensejajaran negara kita dengan negara maju. Ini mengingat kita masih kalah atau tertinggal beberapa waktu dalam masalah infrastruktur yang memang nyata-nyata dibutuhkan oleh negara kita yang berwujud kepulauan.
Pembangunan infrastruktur banjir juga bisa dikebut dan bencana banjir bisa diminimalisasi dengan adanya percepatan konstruksi. Pembangunan rumah Indonesia sehat baik fisik maupun non fisik bisa cepat tercapai melalui berbagai percepatan bila sumber daya manusia unggul dan sehat. Kesehatan merupakan barang yang mahal, oleh karena itu investasi dalam bidang kesehatan juga penting untuk diprioritaskan. Para petugas kesehatan juga tidak menjadikan pekerjaannya sebagai ladang pengerukan kekayaan dari banyak orang yang menderita karena sakit. cmiiw. Ketahanan tubuh akan berfungsi dengan baik bila cukup makanan bergizi, minum air bening dan vitamin, cukup istirahat, dan olah raga yang teratur. Boleh dikatakan bila fisik ini sudah terjaga maka 50% penyakit akan menjauh. Selebihnya adalah masalah psikologis atau mindset yang terorganisasi dengan baik. Psikologis, keamanan fisik, sandang, pangan, papan, manajemen, informasi, aktualisasi diri yang baik yang berujung pada keikhlasan diri akan menjadikan Indonesia ini sehat lahir batin, bahagia di dunia dan akherat. In sya allah. Aamiin.

Friday, January 17, 2020

Berbagai sudut pandang generasi muda tentang banjir

Banjir telah terjadi di banyak wilayah di tanah air. Tidak jarang kepala daerah bahkan presiden sekalipun dibully oleh sebagian masyarakat. Terdapat pro dan kontra yang berkembang di masyarakat, sebagian menyalahkan dan sebagian membela pihak-pihak tertentu, sesuatu yang biasa dalam negara kita yang demikian majemuk. Namun demikian tidak sedikit yang urun rembug bagaimana mengatasi masalah yang selalu berulang ini. Setiap kali musim hujan dipastikan di berbagai tempat di tanah air menjadi langganan banjir. Berikut ini beberapa sumbangsih pemikiran khususnya dari generasi muda kita yang menarik untuk diperhitungkan dalam membuat kebijakan.
Penanaman vegetasi di sepanjang bantaran sungai akan memperkuat tanah dan mengurangi laju erosi sehingga tidak terjadi pendangkalan sungai patut untuk diperhitungkan. Daerah-daerah aliran sungai dihijaukan demikian pula dengan wilayah sekitar muara sungai yang berbatasan dengan laut menggunakan tanaman bakau. Daerah banjir dan genangan yang meningkat akibat rob bisa dikurangi dampaknya dengan cara ini, selain pembangunan infrastruktur yang sudah seringkali dianggap menjadi cara utama mengatasi banjir. Pada prinsipnya sebenarnya adalah bagaimana caranya agar air yang masuk ke dalam saluran drainase dan sungai tidak sampai meluap. Memperbesar daya tampung saluran drainase dan sungai merupakan salah satu cara utama mengurangi luapan air. Hujan yang jatuh pada suatu permukaan pada suatu wilayah tertentu bisa dihitung berapa volumenya demikian pula dengan daya tampung sungai.85% banjir diakibatkan oleh curah hujan (Ann HS dan PJ Robinson, 1986), oleh karenanya jika kita mengetahui dengan betul bagaimana prinsip siklus hidrologi maka akan banyak mengurangi potensi banjir. Imbas tentang hal tersebut adalah bagaimana menata ruang dan waktu agar terhindar banjir dan genangan.
Sebenarnya banyak kontribusi dari riset-riset yang terkait dengan berbagai bidang termasuk meteorologi, klimatologi dan hidrologi yang bisa dimanfaatkan untuk tujuan mitigasi dan adaptasi terhadap banjir. Masalahnya kita mau atau tidak untuk memanfaatkan hasil riset.
Contoh yang lain terkait dengan peraturan daerah (perda). Peraturan daerah yang mengatur tata ruang dan peruntukannya sering menjadi masalah karena berbagai kepentingan, siapa yang kuat modalnya dan pengaruhnya maka dia lah yang menguasai perda. Agar berbagai kepentingan tidak tumpang tindih maka harus ada payung hukum nasional yang harus dipatuhi oleh pembuat perda di bawahnya, bila menyimpang langsung dicabut. Tajam ke atas tajam ke bawah. Ini semua perlu pembenahan secara bertahap dan revolusioner agar banjir tidak menjadi langganan kejadian di musim hujan.