Kamis, 30 Desember 2010

Mencari solusi perubahan iklim

Rabu, 29 Desember 2010 | 03:51 WIB

RENÉ L PATTIRADJAWANE

Perubahan iklim global dan bencana alam yang terjadi di kawasan Asia Tenggara dan Australia mengkhawatirkan semua pihak dan menyedot dana dalam jumlah relatif besar anggaran setiap negara yang mengalaminya. Letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah, hujan salju di Australia, gempa di Selandia Baru, sekali lagi menunjukkan betapa tidak ramahnya alam terhadap kehidupan manusia modern.Para penguasa dunia masih tidak sadar krusialnya ancaman perubahan iklim dan bencana yang setiap saat muncul di mana-mana. Pertemuan para negosiator perubahan iklim yang berlangsung awal Desember ini di Cancun, Meksiko, merupakan pertemuan UN Climate Change Conference sangat rendah dibandingkan dengan pertemuan tingkat tinggi terakhir yang berlangsung di Kopenhagen, Denmark.

Banyak faktor memengaruhi perubahan iklim dan bencana alam menyebabkan berbagai negara dan pemerintahan menguras dana dalam jumlah masif, seperti sekarang terjadi akibat badai salju di Eropa dan Amerika Utara. Ribuan jadwal penerbangan terhenti, jalur transportasi tidak mampu digunakan untuk mendorong logistik bagi ekonomi dan perdagangan, tersumbatnya sumber energi, dan berbagai persoalan lain.

Dari Kopenhagen muncul persoalan negara berkembang tidak ingin menghentikan atau memperlambat pertumbuhan ekonominya sampai dunia mampu menghasilkan hitungan ekonomi kompetitif terhadap alternatif pembangkit listrik berbasis batu bara. Pertemuan Cancun yang lalu pun tidak mampu menghasilkan kesatuan agenda perubahan iklim yang bisa disepakati oleh negara berkembang dan negara kaya.

Salah satu faktor penting dalam kebijaksanaan perubahan iklim adalah China sebagai pengguna energi terbesar di dunia, dan juga pasar otomotif paling besar di dunia. Posisi China ini menyebabkan negara dengan penduduk terbesar dan cadangan devisa mencapai lebih dari 2 triliun dollar AS itu untuk meningkatkan kebutuhan hidrokarbonnya dan akan lebih mendorong China untuk melakukan pengurangan emisi melalui ekonomi baru seperti yang dicapai dalam Protokol Kyoto 1997.

Organisasi ASEAN yang akan dipimpin Indonesia tahun 2011 sudah waktunya memberi perhatian khusus isu perubahan iklim dan bencana, terutama pertemuan ASEAN+3 (China, Jepang, dan Korea Selatan). Banyak negara kawasan Asia dan Australia menghadapi ancaman meningkatnya suhu karena fitur geografis setiap negara, termasuk ancaman meningkatnya air laut membawa air garam ke daratan.

Dampak peningkatan air laut akan mengganggu dan mengurangi berbagai potensi industri di setiap negara karena perubahan kadar keasinan pada air. Atau meningkatnya intensitas badai tropis, menyebabkan munculnya berbagai penyakit seperti gangguan pernapasan ataupun penyakit tropis lainnya seperti demam atau malaria karena suhu panas menyebabkan meningkatnya populasi serangga penyebab penyakit.

Pertemuan tingkat tinggi ASEAN+3 menjadi forum ideal untuk mencari solusi dan kesepakatan membahas persoalan perubahan iklim dan pengurangan emisi karbon dalam rangka kepentingan dan kemajuan bersama. Dan ini menjadi persoalan bersama yang akan menentukan masa depan bersama.

Source:Planetark

Tidak ada komentar:

Posting Komentar