Selasa, 23 November 2010

Pola curah hujan di Indonesia

Pada dasarnya terdapat tiga pola curah hujan di Indonesia. Kita menyebutnya sebagai tipe A, B dan C. Tipe A adalah tipe monsoonal, tipe B adalah tipe ekuatorial, dan tipe C adalah tipe lokal. Tipe monsoonal ini mempunyai pola curah hujan yang berbentuk cekung, menyerupai huruf U dimana curah hujan tinggi pada bulan Januari, Pebruari dan makin lama makin turun dimana pada bulan Juli, Agustus hampir nol, kemudian meningkat lagi sampai bulan Desember.Curah hujan dengan pola ini dipengaruhi oleh monsoon barat dan monsoon tenggara/ timur. Monsoon barat berkaitan dengan curah hujan yang tinggi, sedangkan pada monsoon timur curah hujannya rendah. Mengenai monsoon ini, anda bisa baca pada posting sebelumnya di sini. Sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan mempunyai pola curah hujan tipe monsoon ini. Tipe monsoon ini sangat terpengaruh oleh fenomena El Nino di samudra Pasifik ekuator bagian timur. Pada saat El Nino, umumnya pola monsoonal ini melemah, dalam arti curah hujannya turun drastis. Daerah tersebut meliputi Jawa, sebagian Sumatra bagin selatan dan timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian Sulawesi dan Papua bagian Selatan dan Utara, serta seluruh Nusa Tenggara sampai negara Timor Leste.
Di pulau Jawa, pada kondisi normal curah hujan di pantai utara umumnya ditandai dengan curah hujan bulan Januari yang lebih besar daripada bulan Desember. Sedangkan makin ke selatan, curah hujan bulan Desember lebih besar daripada bulan Januari dan Pebruari (Boerema). Curah hujan selama musim kemarau di sisi utara pulau Jawa lebih kecil dibanding sisi selatan karena slope pegunungan bagian selatan menghadap monsoon timur yang meningkatkan curah hujan, sedangkan di sisi utara mengalami efek Fohn.
Pola curah hujan ekuatorial banyak terdapat di Indonesia bagian tengah dekat ekuator. Wilayahnya membentang dari sebagian Sumatera, kebanyakan Kalimantan, sebagian Sulawesi dan sebagian besar Papua. Tidak ada pola ekuatorial yang terjadi di pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Pola ini ditandai dengan 2 puncak curah hujan setiap tahunnya yakni di sekitar Maret dan April serta September dan Oktober. Di luar bulan-bulan tersebut curah hujan juga masih tinggi dan praktis tidak terdapat musim kemarau. Boleh dikatakan pola curah hujannya menyerupai huruf M.
Pola yang ketiga yakni pola lokal hanya terdapat di sedikit wilayah di Indonesia. Pola ini ada di beberapa bagian pulau Sulawesi dan Maluku. Pola curah hujannya tidak mengikuti pola A ataupun B tetapi menunjukkan pola yang hampir kebalikan dari tipe monsoonal atau bisa jadi sepanjang tahun curah hujannya datar-datar saja, tidak ada lembah ataupun punggung (ridge) curah hujan. Pola yang terakhir ini hanya terdapat pada spot-spot daerah tertentu yang sangat kecil luas wilayahnya. Pola lokal ini kebanyakan disebabkan oleh efek topografi.