Wednesday, October 14, 2015

Benarkah kabut asap akan hilang dalam dua pekan??


Membaca berita Republika tanggal 9 Oktober 2015  tentang target Presiden agar kabut asap hilang dalam dua pekan ke depan, menimbulkan sejumlah pertanyaan dalam diri saya. Alasannya menurut Bapak Presiden adalah karena luas lahan yang terbakar lebih besar dan panas El Nino yang kering. Meskipun istilah panas El Nino yang kering kurang tepat tapi saya tidak bermaksud mempermasalahkannya. In sya Allah saya akan tulis hal tersebut lain waktu. Kembali ke pernyataan di atas, apakah beliau benar-benar sudah dibekali atau setidaknya diberi masukan tentang musim di Sumatera Selatan? Apakah yang diucapkannya sudah benar-benar dipikirkan, atau hanya sekedar tebak-tebakan? Atau seperti yang sudah-sudah seperti pernah beliau katakanan dan seringkali menjadi cibiran orang dalam media sosial yang katanya “ndak mikir”  alias asal ngomong atau asal bertindak tanpa mikir? Saya berpikir positif bahwa ucapan beliau benar-benar telah melalui pemikiran yang matang.
Tujuan tulisan ini adalah setidaknya memberi pandangan bahwa hampir mustahil dengan upaya manusia, misal dengan water bombing, yang akan coba dilakukan pemerintah dengan bantuan Negara-negara lain tanpa memperhitungkan musim hujan. Kejadian kabut asap (kabas) yang terjadi di Indonesia sangat berbeda dengan kejadian asap yang terjadi di Negara lain karena wilayah mereka tidak bergambut. Di Negara kita, kabas banyak diakibatkan oleh masih membaranya gambut di bawah permukaan. Jadi meskipun di atas permukaan titik api sudah tidak terlihat, namun di bawah permukaan masih tersisa titik-titik api yang membutuhkan waktu lama untuk padam bila di atas permukaan tidak benar-benar basah. Pengusahaan areal pertanian, perkebunan, dan hutan yang tidak tepat sering mengakibatkan kejadian yang berulang setiap musim kemarau panjang tersebut. Banyak para pengusaha perkebunan dan pertanian di sana yang membangun saluran air untuk mengeringkan lahan sehingga air dari sekitarnya masuk ke saluran air tersebut. Masalahnya ketika air tersebut terus menerus dialirkan tanpa ditampung/dibendung maka air tidak tersedia ketika  saat dibutuhkan seperti misalnya pada saat kebakaran. Mengingat lahan gambut mempunyai karakteristik tersendiri maka asap masih tetap mengepul meskipun di atas permukaan sudah padam.
Jumlah dua belas ton memang cukup banyak namun bila dibandingkan dengan hasil hujan buatan yang bisa mencapai milyaran liter, tentu bukan angka yang besar. Dengan beberapa (misal 10 pesawat water bombing) dengan kapasitas 12-15 ton, dibutuhkan lebih dari sepuluh ribu kali penerbangan untuk memperoleh jumlah air yang sama dengan hasil yang dicapai dengan hujan buatan. Namun bukan tidak ada salahnya cara ini juga dilakukan mengingat awal musim hujan juga nampaknya belum bisa dengan pasti  kita tentukan meskipun klimatologinya kita sudah tahu. Optimis dengan mengatakan bahwa dalam 2 pekan ke depan permasalahan kabas bisa kita atasi merupakan pernyataan yang berlebihan dan hanya tebak-tebakan belaka. Coba kita lihat bagaimana pola streamline dan satelit di bawah ini. Streamline atau mudahnya garis arah angin bertiup dengan kecepatan tertentu untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan menunjukkan bahwa pola angin tenggara yang kurang membawa uap air bertiup di atas wilayah ini. Saya menduga dalam dua minggu ke depan pola angin ini masih dominan semacam ini. Menguatnya suhu permukaan laut di Pasifik tropis yang diduga sampai bulan Pebruari 2016 mendatang ditambah sedikit lebih rendahnya suhu permukaan laut di Samudra Hindia khususnya di barat Sumatera dibanding wilayah ekuatorial sebelah timur Afrika kurang memberi dampak positif bagi perkembangan awan hujan di Sumatera bagian selatan dan Kalimantan. Namun demikian kita masih bersyukur bahwa pengaruh monsoon/monsun/muson masih jauh lebih perkasa dibanding dengan El Nino, Dipole mode atau yang lain. Pola curah hujan monsunal yang dialami oleh sebagian wilayah Indonesia bagian selatan ekuator memang akan diperlemah oleh keberadaan El Nino, namun bukan tidak mungkin untuk tahun ini akan berbeda dengan dampak El Nino seperti sebelum sebelumnya. Ini mengingat karakteristik El Nino yang tidak sama untuk setiap kejadiannya atau bersifat unik.
BMKG telah melakukan prakiraan atau ramalan musim dimana untuk bulan Oktober ini wilayah Sumatera Selatan masih kecil peluang terjadinya hujan. Hujan yang mungkin terjadi adalah hujan rendah yang kurang dari 100 mm. Dilihat sebarannya maka makin ke arah pantai barat curah hujan bulan Oktober diramal meningkat. Kebanyakan wilayah Sumatera Selatan memang masih akan kurang sekali curah hujannya. Sedangkan makin ke utara dari Sumatera selatan kemungkinan sudah mulai banyak mengalami hujan cukup besar. Meskipun kondisi di Sumatera Selatan belum menggembirakan namun bila wilayah konvergensi makin bergerak ke selatan seiring dengan posisi matahari yang mulai beranjak ke selatan ekuator, maka bukan tidak mungkin ramalan musim akan terjungkirbalikkan. Semoga saja bukan hanya hujan saja yang datang namun musim hujan segera berkunjung ke tanah air tercinta. Bila ini benar maka boleh saja menganggap bahwa kabas segera hilang dari pandangan, namun yang harus diingat bahwa ini bukan hanya atas usaha seseorang atau instansi atau bantuan Negara lain namun  terutama karena memang alam.(dan penciptanya!) memang sudah menunjukkan kuasanya.
Bandung, 10 Oktober 2015

Sunday, October 11, 2015

Jawa Barat, sudahkah memasuki musim hujan??

Keadaan yang selalu didambakan ketika kekeringan melanda wilayah kita adalah kapan musim hujan datang? Sesuatu yang sangat wajar mengingat air merupakan salah satu sumber kehidupan di bumi. Tanpa air, sulit makhluk hidup akan tumbuh dalam jangka waktu lama. Ketika sesuatu menjadi demikian sulitnya diperoleh maka sesuatu tersebut akan menjadi hal yang sangat didambakan banyak orang. Kali ini yang menjadi dambaan semua orang adalah hujan. Tidak hanya para petani yang menginginkan hujan untuk mengairi sawahnya, ibu-ibu rumahtangga pun juga menantikannya. Tidak lain tidak bukan karena biasanya di banyak tempat ketika terjadi kekeringan, mereka harus menyisihkan uang untuk membeli air untuk keperluan mandi, cuci, kakus dan yang terutama untuk minum dan memasak. Bagi mereka-mereka golongan menengah atas, hal semacam ini tidak menjadi masalah namun bagi golongan ekonomi bawah, ini menjadi masalah besar. Permasalahan ini juga mengemuka untuk dinas penyedia air minum karena sumber air yang diolah untuk bisa dikonsumsi manusia melalui pipa-pipa ledeng menjadi berkurang debitnya sehingga kadangkala harus mati bergiliran. Pada skala yang lebih besar, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) juga akan terpengaruh karena debit air untuk menggerakkan turbin menjadi jauh berkurang. Kalau pasokan listrik terganggu maka banyak sector kehidupan manusiapun juga ikut terganggu, bahkan untuk menghidupkan internet atau HP pun akan menjadi masalah.
Oleh karena itu maka sekali lagi menjadi amat wajar jika musim hujan yang mensuplai air bagi segenap kehidupan menjadi sesuatu yang sangat dinantikan. Masalahnya, kapan itu terjadi? Di Jawa Barat, kapan musim hujan terjadi ketika El Nino di samudra Pasifik tropis ekuator menguat?
Musim hujan
Musim hujan artinya bahwa hujan menjadi sering terjadi, sama saja dengan istilah musim durian, musim mangga dll yang artinya saat tersebut durian dan mangga menjadi mudah untuk dijumpai.  Hujan merupakan salah satu jenis presipitasi (endapan) yang berwujud air cair. Bentuk presipitasi yang lain adalah salju, hujan es, embun, embun beku, hujan beku dan sebagainya. Di antara sekian banyak jenis presipitasi ini, hujan lah yang paling umum kita kenal dan alami. Di Indonesia kita kenal tiga jenis penyebab hujan yakni hujan karena proses orografis, konvektif dan konvergensi. Sebenarnya ada satu lagi jenis penyebab hujan yakni front namun jenis ini tidak kita kenal atau alami. Jenis hujan front ini banyak terjadi di lintang tengah (30-60o lintang). Hujan orografis banyak terbentuk di wilayah pegunungan akibat dari pengangkatan massa udara yang mengandung uap air karena efek orografi/pegunungan. Setelah mengalami penjenuhan maka terbentuk awan yang berpeluang menjadi hujan di sisi arah angin (windward). Hujan konvektif terjadi akibat proses konvektif ketika suatu permukaan mengalami pemanasan dari radiasi matahari, terjadi penguapan vertical dan akhirnya setelah mengalami kejenuhan maka terbentuklah perawanan konvektif yang bisa menghasilkan hujan. Hujan konvergensi banyak terbentuk di wilayah ITCZ (intertropical convergence zone) yang lokasinya bergantung pada letak semu matahari berada di mana. Bila matahari di sebelah selatan ekuator/katulistiwa maka ITCZ berada di selatan, sedangkan saat matahari berada di utara ekuator maka ITCZ pun berada di utara ekuator. Meskipun demikian secara klimatologis umumnya ITCZ berada di utara ekuator yang disebabkan karena kebanyakan wilayah daratan berada di utara ekuator dan sifat dari daratan yang mempunyai kapasitas panas yang lebih kecil daripada lautan.
Jawa Barat mempunyai jenis pola curah hujan monsoonal yakni pola curah hujan yang sangat dipengaruhi oleh monsoon, sama seperti Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, sebagian Sulawesi, sebagian Papua, seluruh Jawa sampai Nusa Tenggara timur. Monsoon atau monsun atau muson terjadi karena tingkat tanggapan  permukaan daratan dan lautan yang berbeda terhadap radiasi matahari. Monsun tenggara terjadi ketika matahari berada di utara ekuator dan sering menyebabkan musim kemarau di Indonesia. Ini karena monsun tenggara ini tidak membawa banyak uap air. Sebaliknya monsun barat laut (penyebutan untuk yang tinggal di pulau Jawa) banyak membawa uap air sehingga pada saat tersebut biasanya banyak hujan terjadi. Ini normalnya terjadi pada bulan-bulan Oktober sampai April.
Perhatikan citra inframerah satelit Himawari tertanggal 3 Oktober 2015 jam 11 GMT (18 WIB)  ini. Citra ini menunjukkan bahwa tekanan rendah terjadi di belahan utara ekuator yang ditandai oleh distribusi perawanan yang banyak terbentuk di sana. Di sebelah timur laut Papua juga perawanan banyak terjadi meskipun tidak sebanyak yang disebut pertama. Di sebagian pulau memang terbentuk perawanan namun barangkali tidak banyak membawa dampak curah hujan. Di Jawa Barat, barangkali memang terdapat awan-awan namun mungkin awan-awan rendah yang pertumbuhan vertikalnya kecil. Malah bisa dikatakan relative bersih dari awan. Memperhatikan langit beberapa hari ini, di atas Bandung memang terdapat banyak awan meskipun masih belum banyak menghasilkan hujan selain membawa pengaruh lebih lembap dan dingin daripada biasanya. Melihat streamline yang diperlihatkan pada gambar di bawah menunjukkan bahwa masih sulit untuk mengharapkan musim hujan terjadi dalam waktu dekat. Hujan bisa saja terjadi, namun belum tentu telah masuk musim hujan. Ini tidak lain karena massa udara masih bergerak dari tenggara dari wilayah Australia yang masih belum banyak mengandung uap air. Berbeda halnya bila angin telah bertiup dari barat laut kea rah tenggara khususnya di wilayah selatan ekuator. Menurut BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi  dan Geofisika), suatu daerah telah memasuki awal musim hujan bila pada suatu dasa harian (10 hari) curah hujannya lebih dari 50 mm yang diikuti oleh minimal 2 dasa harian berikutnya. Oleh karena itu biasanya untuk mengetahui apakah suatu daerah telah memasuki musim hujan atau belum, baru bisa diketahui minimal satu bulan sesudahnya. Suatu penentuan yang terlalu lama. Harus dicari metode lain yang lebih singkat dalam menentukan awal musim.
Pertanyaan yang kemudian menarik adalah mengapa kemarin-kemarin saat dilaksanakan hujan buatan tidak membawa hasil yang optimal meskipun telah diupayakan agar yang disemai adalah awan-awan potensial seperti awan orografis.  Ini kemungkinan tidak lain karena kelembapan relative udara minimal tidak tercapai atau di dalam awan-awan yang dianggap potensial tersebut tidak terbentuk proses tumbukan dan tangkapan yang memperbesar peluang terjadinya hujan. Perlu diketahui bahwa proses hujan buatan tidak sekedar menabur garam dapur ke udara sehingga terbentuk hujan. Hujan buatan akan berhasil bila syarat-syaratnya terpenuhi yakni adanya awan potensial, kelembapan relative udara cukup tinggi, dan ada inti kondensasi yang higroskopis (menyerap air).  Bila salah satu saja dari ketiganya tidak terpenuhi, sulit untuk mengharapkan keberhasilan hujan buatan. Untuk menghalau asap di Sumatera dan Kalimantan juga sulit karena tidak terpenuhinya semua syarat tersebut.
Kesimpulan
Kembali untuk menjawab pertanyaan di atas. Apakah Jawa Barat khususnya Bandung sudah memasuki musim hujan mengingat beberapa hari yang lalu sudah diguyur hujan? Nampaknya kita masih harus bersabar beberapa waktu ke depan mengingat pola streamline menunjukkan dominasi angin tenggara dan sedikitnya perawanan yang terjadi (khususnya awan vertical semacam cumulus dan cumulonimbus). Apalagi El Nino juga masih menguat (diperkirakan sampai dengan Pebruari 2016) dan Dipole Mode yang ada di samudra Hindia yang menunjukkan nilai positif. Meskipun efek monsun dalam basis bulanan merupakan faktor dominan penyebab hujan di Jawa Barat, namun kekuatannya diperlemah oleh kehadiaran El Nino dan Dipole Mode positif. Kita tidak boleh putus harapan, meskipun mungkin belum memasuki musim hujan namun bila setidaknya dalam seminggu terjadi sekali saja hujan yang deras maka bisa mengurangi dampak kekurangan air atau kekeringan selama ini. Cara seperti sholat istisqa bisa saja dilaksanakan, setidaknya beberapa kali terbukti bahwa hujan terjadi dalam waktu yang berdekatan dengan sholat tersebut. Siapa tahu dengan meminta kepada yang Maha mengatur alam semesta ini, hujan bisa terjadi.
Bandung, 3 Oktober 2015
(diedit dan diterbitkan di harian Pikiran Rakyat 5/10/2015 dengan judul: Kapan Musim Hujan?)