Selasa, 08 September 2015

Bencana asap dan kemungkinan pelenyapannya

Sudah beberapa waktu ini, sebagian pulau Sumatera dan Kalimantan diselimuti oleh asap cukup tebal. Berita-berita yang disampaikan melalui harian Kompas menunjukkan bahwa aktivitas penerbangan dan aktivitas masyarakat luas lainnya sangat terganggu. Seorang saudara yang tinggal di Pekanbaru Riau misalnya, mengeluhkan kondisi ini. Sudah sejak hari Rabu kemarin, udara panas sekali, gerah, sesak napas, menjemur selimut cepat kering, dan dikhawatirkan beberapa waktu ke depan sumurnya cepat kering. Jadi lengkaplah sudah penderitaannya, apalagi kadangkala listrik mati secara bergilir. Dia mengatakan bahwa bila orang tidak punya genset maka akan makin merana.
Asap banyak berasal dari pembakaran hutan, semak belukar, lahan yang dilakukan oleh banyak pihak baik pengusaha besar dan kecil maupun oleh masyarakat sendiri. Sadar tidak sadar dampaknya sebenarnya mereka juga rasakan, namun sepertinya hal itu tidak membuat kapok untuk melakukannya. Seolah-olah itu sudah merupakan agenda rutin setiap musim kemarau untuk membuka lahan baru pertanian/perkebunan atau sekedar membersihkan ladang dengan ongkos yang murah. Mungkin juga masyarakat sudah apatis dengan agenda tahunan yang tidak disukai ini. Pemerintah daerah pun sepertinya sudah kehabisan akal bagaimana mencari solusi terbaik, toh nantinya juga akan hilang dengan sendirinya seiring dengan datangnya musim hujan.
Tinjauan meteorologis
Dilihat dari citra satelit Himawari 8 infra merah di bawah ini terlihat bahwa pada hari Sabtu 5 September 2015, wilayah Asia tenggara sebagian diliputi oleh awan. Sebagian Sumatera bagian Utara, Kalimantan bagian Utara (Negara tetangga), dan Papua bagian Utara terdapat area yang diselimuti oleh perawanan yang berpotensi hujan. Namun kita lihat bahwa wilayah Indonesia bagian selatan ekuator, praktis tidak terlihat perawanan yang timbul. Mungkin pula terdapat awan-awan rendah di beberapa tempat meskipun tidak berpeluang terjadinya hujan. Mengingat bahwa di Samudra Pasifik sedang terjadi El Nino pada taraf sedang, maka hal ini bisa dimaklumi karena El Nino berpengaruh pada bergesernya perawanan di wilayah Indonesia menuju ke timur, meskipun pada citra satelit di bawah tidak begitu terlihat. Biasanya bila El Nino terjadi pada taraf lemah sampai sedang, maka terjadi kekeringan di wilayah selatan Sumatera, Kalimantan bagian selatan, sebagian Sulawesi, Maluku dan Papua bagian selatan, serta Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Kekeringan makin menguat seiring dengan peningkatan taraf El Nino, seperti yang terjadi saat ini. Karenanyalah maka kekeringan yang terjadi memperbesar peluang terjadinya kebakaran hutan baik di wilayah Sumatera maupun Kalimantan, bahkan juga di Jawa Tengah seperti yang dilaporkan harian ini beberapa waktu yang lalu.
Hujan buatan
Sebagian masyarakat seringkali mempertanyakan kepada pemerintah daerahnya mengapa tidak dilakukan hujan buatan. Ini bisa dimaklumi mengingat persepsi masyarakat bahwa yang namanya hujan buatan ya membuat hujan dengan menaburkan garam di langit, tidak peduli kapanpun waktunya. Pemahaman ini sebenarnya salah besar. Yang namanya hujan buatan itu tidak lalu membuat hujan seperti halnya membuat kue yang semua bahannya bisa disediakan, namun dibutuhkan “bahan-bahan” yang tidak selamanya tersedia di alam. Awan potensial, kelembapan relative udara  yang besar, dan inti kondensasi yang bersifat higroskopis artinya yang mudah menyerap uap air. Awan potensial adalah awan-awan yang mempunyai pertumbuhan vertical cukup besar dan mengandung tetes-tetes awan yang cukup mudah untuk ditingkatkan ukurannya menjadi tetes hujan dengan inti kondensasi. Inti kondensasi yang dipilih biasanya adalah garam dapur dan urea. Dengan menaburkan garam dapur tersebut ke dalam awan potensial (biasanya awan jenis cumulus) maka diharapkan tetes-tetes awan tersebut akan tumbuh menjadi tetes hujan melalui proses tumbukan dan tangkapan. Proses updraft dan gravitasi dalam awan berpeluang untuk memperbesar ukuran tetes sehingga hujan bisa terjadi.

Namun masalahnya dalam kasus kebakaran hutan yang menghasilkan asap di Sumatera dan Kalimantan adalah kelembapan udara yang belum memungkinkan untuk terjadinya proses di atas. Meskipun aerosol banyak dihasilkan dari kebakaran hutan, namun ia tidak bisa bertindak sebagai inti kondensasi yang higroskopis. Dibutuhkan kelembapan relative yang lebih tinggi agar tercapai kejenuhan untuk aerosol-aerosol yang berukuran besar dalam lingkungan atmosfer yang tidak homogen. 
Dilihat dari pola angin yang saat ini bertiup dari Tenggara maka kecil peluang untuk terjadinya hujan di banyak tempat di Indonesia. Ini karena umumnya angin tenggara tidak banyak membawa uap air. Dibanding dengan El Nino, sebenarnya pengaruh monsoon ini jauh lebih besar bagi pembentukan musim di Indonesia. Tetapi El Nino menyebabkan pengaruh monsoon melemah di sebagian besar wilayah berpola curah hujan monsoonal. Curah hujan umumnya berkurang beberapa puluh persen dari nilai normalnya sehingga biasanya sampai timbul kekeringan bila El Nino berlangsung pada musim kemarau. Pada kondisi saat ini, pola angin tenggara yang bertemu dengan angin timur laut terjadi di belahan bumi utara. Hal ini akibat gerak semu matahari yang saat ini berada di belahan bumi utara. Seiring dengan makin mendekatnya matahari menuju ekuator dan kemudian berlanjut ke selatan, maka peluang curah hujan di wilayah kita juga akan meningkat. Oleh karena itu maka mungkin masih butuh sebulan sampai dua bulan (bahkan bisa lebih lama) agar curah hujan sampai di pulau Jawa. Masyarakat wilayah Sumatera dan Kalimantan yang saat ini masih banyak diselimuti asap hendaknya bersabar jika ingin asap hilang dari pandangan. Pemerintah daerah seyogyanya mengupayakan agar pembakaran hutan dan semak belukar oleh oknum pengusaha dan masyarakat bisa dihentikan. Law enforcement harus benar-benar ditegakkan agar tidak ada lagi oknum nakal penyebab asap berkeliaran dan menimbulkan efek jera. Teknologi penindasan atau pelenyapan asap sudah kita miliki (padahal di dunia internasional belum ada) meskipun tingkat keberhasilannya masih harus ditingkatkan. Mungkin dengan kasus yang setiap tahun berulang ini, bisa diciptakan teknologi dengan tingkat keberhasilan yang sama atau bahkan lebih tinggi dibanding operasi hujan buatan.
Ketika tidak ada lagi upaya yang berhasil kita lakukan, mungkin dengan cara berdoa bisa mengurangi dampak yang ditimbulkan asap, setidaknya bisa menentramkan hati. Beberapa waktu yang lalu, di Bogor dilaksanakan sholat istisqa minta hujan untuk mengatasi kekeringan dan entah kebetulan entah tidak, hari itu hujan deras terjadi. Bukankah tidak ada salahnya hal demikian juga dilakukan di wilayah terkena asap agar asap tersapu oleh hujan?? Mungkin pernah dicoba dan tidak berhasil, namun tidak ada salahnya dicoba dan dicoba lagi.

Bandung, 5 September 2015
Joko Wiratmo, dosen Prodi Meteorologi ITB dengan bidang keahlian Meteorologi Tropis. 
Bisa dijangkau dengan email: joko.wiratmo@meteo.itb.ac.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar