Tuesday, March 29, 2016

Pedulilah pada masalah perubahan iklim

Tulisan ini merupakan tanggapan dari artikel berjudul “ Pesan Leonardo bagi pemimpin negeri” yang dimuat dalam harian Kompas pada hari ini (Minggu 27 Maret 2016). Tulisan tersebut mengupas tentang berbagai masalah terkait perubahan iklim yang melanda dunia saat ini sampai-sampai mengundang aktor Hollywood Leonardo de Caprio untuk turut berpartisipasi menyuarakannya. Bahkan beberapa waktu yang lalu ia menyampaikan akan menyumbang pemerintah Indonesia untuk tujuan reklamasi dan reboisasi hutan di negeri kita. Bukan kali ini saja para artis Hollywood menyuarakan kepeduliannya pada hutan di Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, aktor Harrison Ford bahkan sempat marah-marah kepada Menteri Kehutanan waktu itu (Ir. Zulkifli Hasan) yang dinilainya tidak serius memberantas penjarahan dan pembalakan hutan di Riau dan berbagai propinsi yang lain. Berita tersebut bisa dilihat di youtube.
Memang harus kita sadari bahwa saat ini perubahan iklim sepertinya makin meningkat lajunya seiring dengan makin meningkatnya jumlah penduduk dengan segala aktivitasnya. Menurut para ahli cuaca dan iklim, perubahan iklim saat ini selain disebabkan oleh faktor alam, juga disebabkan faktor antropogenik. Menurut IPCC (Intergovermental Panel on Climate Change) perubahan iklim ini lebih banyak disebabkan faktor manusia. Setiap tahun, pemanasan dan perubahan iklim global dibahas oleh para pemimpin dunia meskipun dari waktu ke waktu tidak banyak perkembangannya. Bisa dimaklumi karena pengereman laju emisi karbon dioksida yang diluncurkan ke atmosfer mempunyai dampak ekonomi. Setidaknya banyak pelaku usaha ekonomi yang harus mengeluarkan dana ekstra untuk mengurangi laju peningkatan gas buang yang mencemari lingkungan. Seperti yang anda ketahui terdapat korelasi yang erat antara peningkatan karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya dengan pemanasan dan perubahan iklim global.  Gas rumah kaca akan menyerap dan memantulkan radiasi gelombang panjang dari bumi sehingga suhu atmosfer menjadi meningkat. Inilah yang disebut sebagai pemanasan global, yang ternyata berpengaruh pada terjadinya perubahan iklim global. Meskipun ada sebagian peneliti dan pelaku ekonomi yang apatis terhadap masalah ini, tapi bukti menunjukkan bahwa perubahan iklim telah terjadi dimana-mana yang disertai dengan dampak luasnya.
Berdasarkan catatan pengamatan permukaan, tahun 2015 merupakan tahun terpanas dibanding rata-rata tahun 1880 sampai 1899. Pengamatan permukaan tersebut dilaporkan dari 6300 stasiun cuaca, pengamatan menggunakan kapal, buoy (pelampung untuk tujuan riset), dan stasiun-stasiun riset di Antartika. Peningkatan temperature rata-rata permukaan global sebesar 1oC terjadi sejak akhir abad 19 akibat peningkatan konsentrasi karbon dioksida dan emisi antropogenik ke atmosfer. Kebanyakan pemanasan terjadi sejak 35 tahun terakhir dimana 15 dari 16 tahun-tahun terpanas terjadi sejak tahun 2001. Menurut IPCC, abad yang lalu kenaikan temperature rata-rata global mencapai 0,8oC.
Peristiwa El Nino dan La Nina juga mempengaruhi pada temperature global. Peristiwa El Nino dan La Nina yang terjadi di lautan Pasifik tropis ternyata dapat menyumbang pada variasi jangka pendek temperature rata-rata global. Variasi yang dimaksud adalah perubahan fluktuasi terhadap nilai rata-rata temperature global. Hal ini bisa dilihat bahwa pada saat El Nino terjadi maka banyak Negara yang kelimpungan mengatasi peningkatan kekeringan dan suhu udara permukaan yang dirasakan cukup panas. Bahkan tahun 2015 kemarin, Indonesia mengalami dampak yang luar biasa dari kekeringan yang terjadi yang berakibat pada sulitnya pemadaman kebakaran hutan, yang disumbang oleh lapisan tanah yang terdiri dari gambut. Kebakaran hutan inipun juga menyumbang pada peningkatan gas rumah kaca di atmosfer yang memicu peningkatan laju pemanasan global di bumi. Bayangkan berapa banyak aerosol dan gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer oleh peristiwa tersebut, pasti jutaan meter kubik ekuivalen karbon.
Pesan yang dikemukakan para pemimpin dunia seperti misalnya Ban Ki Moon (sekretaris jendral Perserikatan Bangsa-Bangsa) pada berbagai kesempatan seharusnya juga bisa menggugah kepedulian kita bersama terhadap ancaman nyata perubahan iklim bagi kelangsungan kehidupan makhluk di bumi. Sayangnya hal ini masih belum mampu diwujudkan dalam kehidupan nyata. Pembangunan sarana dan prasarana yang sering merusak hutan, tidak diimbangi dengan laju penanaman kembali tanaman-tanaman yang berdaun lebar dan banyak. Tidak sedikit kerusakan hutan ini menyebabkan banjir. Jadi sebenarnya kalau dirunut sejak awal, aktivitas  manusia akan berpengaruh pada alam, dan aktivitas alam berpengaruh pada manusia sehingga  dapat dikatakan fenomena tersebut merupakan peristiwa feed back positif perubahan iklim. Semakin intensif kegiatan manusia merusak alam, semakin menguat perubahan iklim yang terjadi. Semoga ke depan kita makin bijaksana dalam menggunakan energi dan mengurangi kerusakan alam lingkungan serta makin peduli pada alam sekitar.

Friday, March 18, 2016

Mungkinkah??

Sebagai satu-satunya instansi yang berhak mengeluarkan informasi cuaca, musim dan iklim di Indonesia, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) mempunyai cara dalam menentukan awal musim. Biasanya mereka merilis berita tentang awal musim tersebut pada bulan Maret dan Agustus karena sebagian besar wilayah Indonesia khususnya yang menganut pola monsoonal mengalami musim kemarau mulai bulan April dan musim hujan mulai bulan September/Oktober. Untuk menentukan awal musim kemarau dan hujan biasanya mereka menentukan ambang batas curah hujan dasa harian (10 harian) minimal 50 mm. Bila suatu dasa harian telah mencapai nilai minimal 50 mm yang kemudian diikuti oleh minimal 2 dasa harian berikutnya juga minimal 50 mm, maka awal mula dasa harian menunjukkan angka lebih dari 50 mm tersebut disebut awal musim hujan. Untuk menentukan awal musim kemarau, digunakan angka kurang dari 50 mm.
Sebenarnya ada cara lain untuk menentukan awal musim dari kemunculan monsoon khususnya di wilayah tropis, salah satunya yakni metode HOWI (Hydorological Onset and Withdrawal Index) yakni suatu metode yang memperhitungkan berapa precipitable water di atmosfer dari ketinggian permukaan sampai ketinggian tertentu, bergantung pada rentang ketinggian atau tekanan yang kita tinjau. Mengingat bahwa umumnya awan-awan terbentuk dalam rentang antara 850 dan 500 mb, mungkin ketinggian inilah yang kita tinjau. Kebasahan dalam rentang isobar tersebut menunjukkan seberapa besar jumlah air dalam kolom udara yang terdapat di dalamnya. Bila telah mencapai nilai tertentu maka awal monsoon musim hujan atau kemarau bisa diketahui dengan lebih tepat. Metode ini digunakan di India dan beberapa negara di Afrika tropis. Namun yang patut menjadi catatan adalah bahwa awal kemunculan monsoon belum tentu sama dengan awal kemunculan musim (baik musim hujan maupun kemarau seperti di wilayah kita).  Sayangnya litbang BMKG tampaknya belum mencari dan membanding-bandingkan metode yang tepat dan cepat dalam penentuan awal monsoon dan awal musim. Mungkin dengan memperbanyak kerjasama antara BMKG dengan perguruan tinggi maka tujuan tersebut bisa tercapai. Perguruan tinggi sebagai think tank penelitian mereka. Sayangnya hal ini belum terlaksana dengan baik mengingat masalah komitmen dan pendanaan. Meski harus diakui bahwa sejak tsunami di Aceh banyak berseliweran dana mengalir ke BMKG namun mereka kebingungan dalam mengaplikasikan dan memanfaatkannya. Mungkinkah BMKG bisa melakukan revolusi berpikir??