Minggu, 13 Januari 2013

Indonesia dan pengaruh siklon di sekitarnya

Tak bisa diragukan bahwa cuaca dan iklim di Indonesia meninabobokkan mereka-mereka yang tinggal di Indonesia. Banyak orang asing yang tinggal di Indonesia mengakui hal itu sehingga mereka kerasan tinggal di negara kita. Tetapi sayang akibat cuaca dan iklim yang "menyenangkan" ini maka sebagian besar rakyat Indonesia menjadi kurang berjuang untuk mengubah nasibnya. Berbeda dengan negara-negara maju yang cuaca dan iklimnya sangat keras, rakyatnya sangat tertantang untuk mensiasati kondisi cuaca dan iklim tersebut. Oleh karena itu, kalau kita perhatikan negara-negara maju umumnya terletak di lintang menengah dan tinggi. Amat sangat sedikit negara maju yang terletak di lintang rendah.
Kondisi cuaca dan iklim di suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kondisi atmosfer di negara tersebut tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi atmosfer dan perairan di sekitarnya. Contoh yang sangat baik adalah kondisi saat ini dimana terdapat siklon tropis Narelle di perairan samudra Hindia sebelah barat Australia. Terdapatnya siklon tropis yang merupakan pusat tekanan rendah di selatan Indonesia ini menyebabkan massa udara dari daratan Siberia bergerak menuju daratan Australia melewati wilayah Indonesia. Seakan-akan siklon tropis ini menyedot udara yang ada di sekitarnya menuju siklon tropis tersebut. Tergantung perbedaan tekanan antara siklon tersebut dengan wilayah di sekitarnya. Makin tinggi perbedaan tekanannya maka makin kuat sedotannya. Ini menyebabkan arus udara/ angin menjadi makin kencang.
Karena pengaruh siklon tropis Narelle ini, cuaca di atas wilayah Indonesia menjadi buruk khususnya di bagian selatan katulistiwa. Angin menjadi kencang, hujan menjadi lebih deras yang berpotensi menjadikan banjir di beberapa wilayah di Indonesia. Seperti yang dalam beberapa hari ini diberitakan di media massa; sebagian dermaga di pelabuhan Merak ditutup akibat cuaca buruk. Antrian kendaraan menuju Merak dan Bakauheni mencapai puluhan kilometer karena kapal yang dioperasikan hanyalah kapal-kapal besar yang jumlahnya hanya 50% dari yang biasanya dioperasikan. Apalagi ditambah terjadinya banjir di wilayah Banten   yang mengganggu jalan tol menuju pelabuhan Merak. Di beberapa wilayah lain, para nelayan tidak dapat melaut karena cuaca buruk. Tentu saja ini mengganggu perekonomian nasional.
Sudah selayaknya pemerintah makin memperhatikan masalah cuaca dan iklim dalam pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan. Banyak keputusan di atas meja tidak dapat dilaksanakan di lapangan karena pengaruh cuaca dan iklim ini. Hal ini akan saya sampaikan pada tulisan mendatang.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar