Senin, 14 Februari 2011

Kabut dan mekanisme pembentukannya

Kabut atau fog adalah kumpulan tetes-tetes air yang sangat kecil yang melayang-layang di udara. Kabut bisa juga didefinisikan sebagai awan yang mengurangi jarak pandang (visibilitas) sampai dengan jarak 1 km. Berbeda dengan awan-awan lainnya, kabut adalah yang bersentuhan dengan permukaan bumi. Ada kabut yang memiliki densitas berbeda yang disebut sebagai mist yang mengurangi visibilitas kurang dari 2 km dan haze yang mengurangi visibilitas sampai 5 km. Kabut dan mist terbentuk dari tetesan air, sedangkan haze dan asap bisa terbentuk dari partikel yang lebih kecil dengan ukuran sekitar 10 ┬Ám, sehingga dapat terlihat lebih baik karena radiasi tidak sempurna dibelokkan atau diabsorpsi partikel.
Perawanan adalah massa dari kondensasi tetesan air yang terlihat di atmosfer. Selain perbedaan tempat yakni kabut menyentuh permukaan bumi dan awan tidak, terdapat perbedaan lain yakni bahwa awan dapat menurunkan hujan sedangkan kabut tidak. Awan yang sama yang bukan kabut di dataran rendah dapat menjadi kabut jika menyentuh dataran tinggi seperti puncak bukit atau punggung pegunungan
Biasanya kabut terlihat di daerah yang dingin atau daerah yang tinggi. Tempat paling berkabut di bumi adalah Grand Banks di pulau Newfoundland Kanada. Kabut sering terjadi di Grand Banks karena tempat ini merupakan daerah pertemuan antara udara dingin dari utara (arus Labrador) dan udara panas dari selatan (arus teluk). Area-area paling berkabut lainnya adalah Point Reyes, California dan Argentina dengan jumlah hari berkabut sepanjang tahun sebanyak 200 hari.
Secara mekanis terjadinya kabut dan awan adalah sama yakni sama-sama membutuhkan elemen yang sama yakni inti kondensasi. Hanya bedanya inti kondensasi tersebut ada di permukaan bumi dan di atmosfer. Faktor kuat yang mempengaruhi kabut terbentuk antara suhu dan titik embun kurang dari atau sama dengan 3oC yakni saat uap air di udara mulai berkondensasi menjadi bentuk cairan. Secara normal kabut terbentuk pada kelembapan relative 100% yang terjadi saat kelembapan udara meningkat dan berkurangnya suhu ambient udara.
Namun kabut juga dapat terbentuk pada kelembapan yang lebih rendah. Kadang-kadang kabut juga tidak dapat terbentuk pada kelembapan relative 100% karena udara dapat menambah kelembapannya menjadi superjenuh, sehingga tambahan kelembapan tersebut cenderung menjadikannya embun daripada menjadi uap air. Inti kondensasi harus dalam bentuk debu, aerosol, polutan agar dapat mengembun. Ketika inti kondensasi ada dalam jumlah besar maka uap air dapat mengembun dengan kelembapan relative kurang dari 100%.
Kabut juga dapat terbentuk dari uap air yang berasal dari tanah yang lembab, tanaman-tanaman, sungai, danau dan lautan. Uap air ini berkembang dan menjadi dingin ketika naik ke udara. Udara dapat menahan uap air hanya dalam jumlah tertentu pada suhu tertentu. Udara pada suhu 30oC dapat mengandung uap air sebanyak 30 gr uap air per m3. Volume yang sama pada suhu 20oC udara hanya dapat menahan 17 gr uap air. Udara yang mengandung uap air sebanyak yang dapat dikandungnya disebut udara jenuh.
Ketika suhu udara turun dan jumlah uap air melewati jumlah maksimum uap air yang dapat dikandung udara maka sebagian uap air tersebut mulai berubah menjadi embun. Kabut akan hilang ketika suhu udara meningkat dan kemampuan udara menahan uap air bertambah. Menurut istilah yang diakui secara internasional, kabut adalah embun yang mengganggu penglihatan hingga kurang dari 1 km.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar