Selasa, 07 Mei 2019

Marilah segera bangkit dan sadar ...

Ass.wr.wb …berbeda pemahaman terhadap sesuatu masalah seringkali akibat mindset yang berbeda atau tingkat pemahaman yang berbeda. Kalau tidak benar, ya tinggal dikoreksi saja to?? Diluruskan, seharusnya begini begitu. Tetapi bila sudah memasuki ranah hukum dan melewati batas ambang toleransi, ya tinggal diproses saja. Keluarga sadar hukum (kadarkum), atau kalau masyarakat alergi dengan istilah ini karena dianggap berbau-bau Orba ya tinggal diganti dengan istilah lain saja, juga makin disadarkan pada setiap orang agar makin hati-hati dalam bertindak. Butuh proses untuk memahami itu semua. Tidak ada masalah. Tugas semacam itu tidak mudah dan tidak singkat. Bahkan untuk selevel tingkat pendidikannya saja karena sudut pandang yang berbeda bisa menghasilkan hasil yang berbeda. Berbeda dalam sudut pandang tidak seharusnya kita berantem saling pukul pukulan yang sesungguhnya secara fisik, tapi adu argumentasi dengan tetap menjaga toleransi. Kita pakai kacamata yang bening agar lebih mudah dalam membedakan warna yang sesungguhnya kita lihat. Banyak yang harus dikoreksi terkait masalah SARA yang terjadi sampai dengan saat ini dengan meningkatkan pendidikan, pemahaman dan toleransi dalam batas-batas tertentu. Pendidikan moral Pancasila seharusnya ditanamkan sejak usia dini. Harus kita cegah radikalisme agar kehidupan berbangsa dan bernegara kita ini makin menyejukkan dan mengenakkan untuk membangun negeri kita tercinta. Marilah kita bersama-sama meskipun berbeda-beda tetapi kita harus tetap satu sebagai bangsa Indonesia (Bhinneka Tunggal Ika). Semangat Sumpah Pemuda harus kita kumandangkan terus. Mengapa?? Karena kita adalah satu …INDONESIA. Tentu 4 pilar kebangsaan kita jangan dilupakan. Jangan biarkan urusan dalam negeri kita diobok-obok oleh negara lain; apalagi moment pileg dan pilpres bisa menyebabkan perpecahan di antara kita semua. Mari kita berkaca dari pengalaman negara lain dan sejarah bangsa kita sendiri. Masih ada waktu bagi kita semua untuk makin memperbaiki diri. Tapi harus diingat bahwa kita tidak tahu sampai kapan umur kita ini, oleh karena itu berkali-kali mari kita ingatkan diri kita sendiri dan sanak saudara serta rekan-rekan kita untuk selalu ingat kepada Allah SWT/Tuhan YME. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi muslimin dan muslimat, salam sejahtera bagi kita semua.

Jumat, 03 Mei 2019

Pendidikan dan tenaga kerja Indonesia

Hari ini, Kamis tanggal 2 Mei adalah hari pendidikan nasional dimana temanya adalah "Menguatkan pendidikan, memajukan kebudayaan". Boleh-boleh saja kalau mempermasalahkan tema tersebut, misalnya apakah memang pendidikan di Indonesia tidak kuat? Seberapa kuat pendidikan di Indonesia? Apakah kebudayaan kita belum maju? Bukankah warga negara lain mengakui bahwa Indonesia mempunyai budaya yang sudah maju sejak sekian abad yang lalu seperti misalnya saat jaman Sriwijaya dan Majapahit? Apakah memang telah terjadi kemunduran dalam pendidikan dan kebudayaan di Indonesia? Berbagai pertanyaan bisa dilontarkan terkait dengan dua hal tersebut.
Yang jelas bahwa masih banyak ketimpangan pendidikan antara Jawa dan luar Jawa, antara perkotaan dan pedesaan bahkan dalam pulau yang sama yang dengan adanya kemajuan teknologi ketimpangan tersebut makin melebar, meski langkah-langkah untuk mengatasinya juga sudah dilakukan namun kecepatannya tidak seperti yang diharapkan. Berbagai kendala dan alasan dimungkinkan. Tenaga pengajar yang terus diupayakan untuk ditingkatkan mutunya dan demikian juga anak didiknya kadangkala terkendala oleh birokrasi yang belum sepenuhnya saling menerima dan memberi (legowo saling mengisi). Dengan kata lain, sepertinya masih belum ada kekompakan dalam menggalang semua potensi yang ada agar kualitas guru dan anak didiknya makin meningkat di berbagai jenjang pendidikan. Sifat keakuan di level birokrasi tertentu masih tinggi sehingga menghambat jalannya roda organisasi. Sebenarnya bila desentralisasi pendidikan maju makin tersebar maka bisa diharapkan kualitas sumber daya manusia Indonesia juga akan semakin meningkat dan tidak menumpuk di pulau Jawa saja. 
Kemarin hari buruh (May day) yang dalam demonstrasinya di berbagai kota menyerukan adanya perubahan pada beberapa kebijakan yang dipandang merugikan kaum buruh. Beberapa hal yang mengemuka misalnya adalah bahwa pemerintah sekarang memprioritaskan kepentingan pemodal saja, terjadi PHK massal, aturan-aturan minim berpihak pada buruh serta tuduhan adanya perbudakan berkedok outsourcing, pemagangan dan honorer selain issue tenaga kerja asing tak terdidik yang makin membanjiri negara kita khususnya dari Tiongkok. Tentu muaranya adalah tentang kesejahteraan para buruh. Hal ini sudah menjadi permasalahan laten/sejak dahulu yang setiap kali hari buruh dikumandangkan/diteriakkan. Selama kondisi ekonomi perusahaan memungkinkan sebenarnya tidak ada masalah. Yang menjadi masalah kadangkala adalah apakah perusahaan mau untuk mengurangi keuntungannya dengan berbagi pada buruh, bersediakah para pemilik/top manajer menurunkan gaya hidupnya, bersediakah pemerintah makin mendengarkan keluhan para buruh dan menjembatani kepentingan pengusaha dan buruh?? Bersediakah pula pemerintah merevisi aturan-aturan yang sangat merugikan buruh seperti tuntutan mereka?? Bersediakah para wakil rakyat memberikan solusi nyata (tidak hanya wacana) dalam menyelesaikan permasalahan buruh tanpa memikirkan diri sendiri, memperkaya diri atau popularitas diri?? Perdebatan yang tak akan kunjung selesai karena berbagai faktor yang saling terkait dan rumit. Perlu jiwa besar semua pihak untuk itu.
Teknologi informasi sudah demikian berkembang dengan pesat. Setiap buruh pasti mempunyai handphone untuk berkomunikasi, semiskin apapun, karena sejak beberapa tahun terakhir barang tersebut tidak pernah lepas dari sisi manusia Indonesia. Sudah saatnya bagi buruh untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilannya dalam menghasilkan uang atau kebutuhan hidup lainnya dari HP yang mereka miliki serta berbagai media sosial yang mereka ikuti. Selama ini HP lebih banyak digunakan untuk ber- haha hihi, ketawa ketiwi, serta bersendagurau yang tidak banyak manfaatnya. Sudah waktunya untuk merubah kebiasaan menjadi hal-hal yang positif. Ketrampilan kewirausahaan sudah harus makin ditingkatkan jumlah dan mutunya agar tujuan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang berbudaya maju segera terwujud sehingga Indonesia menjadi salah satu negara adidaya dunia. Keunggulan komparatif berupa sumber daya alam yang demikian luar biasa seringkali tidak dapat diolah dengan baik karena keterbatasan pendidikan para pekerja (SDM)nya. Banyak di antara kita yang demikian tergantung pada perusahaan atau institusi kita. Kita kurang banyak memanfaatkan kecanggihan teknologi dalam meraup penghasilan. Kreativitas kita diuji sampai dengan batas ini, tidak hanya business as ussual saja. Sudah sewajarnya bila kita mampu berimprovisasi dan berinovasi dengan kegiatan-kegiatan yang lebih baik dan makin berkembang. Dalam hal-hal tertentu sudah bukan jamannya lagi untuk terlalu bergantung pada pemerintah. Setiap insan Indonesia harus berupaya untuk mandiri dalam ikatan 4 pilar kebangsaan kita yang dijiwai oleh semangat Sumpah Pemuda.
Momen hari buruh dan hari pendidikan nasional yang berurutan ini sangat penting dalam memupuk kembali rasa persatuan dan kesatuan kita, senasib sepenanggungan sebagai bangsa Indonesia yang sempat terusik karena pilpres dan pileg kemarin. Semoga ke depan adem ayem saja, tidak timbul gejolak yang berarti. Keinginan bangsa Indonesia yang tercantum dalam pembukaan UUD45 sudah demikian jelas. Oleh karena itu maka SDM merupakan sentral pemberdayaan bagi pembangunan nasional. Tidak ada kata lain selain marilah kita bersama-sama bergotong royong membangun bangsa ini agar makin melesat dan hasil pembangunannya dirasakan merata di seluruh wilayah tanah air. In sya allah, aamiin.