Sunday, January 7, 2024

Pers Release Webinar Sedekah Ilmu "Refleksi Bencana Hidrometeorologi 2023 dan Peluangnya di 2024"

 Pada tanggal 28 Desember 2023 kemarin telah dilaksanakan webinar dengan judul di atas dan menghasilkan beberapa kesimpulan dan peringatan sebagai berikut:

Press Release

Webinar Series on Knowledge Sharing: Reflection on Hydrometeorological Disasters in 2023 and Potential Occurrences in 2024

Bandung, 28th Dec 2023 - The Faculty of Earth Sciences and Technology at Bandung Institute of Technology (ITB), in collaboration with the University of Gadjah Mada (UGM), the Indonesian Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency (BMKG), and the National Research and Innovation Agency (BRIN), successfully conducted a knowledge-sharing webinar titled "Reflection on Hydrometeorological Disasters in 2023 and Potential Occurrences in 2024" on Thursday, December 28, 2023, from 9:00 AM to 12:00 PM WIB.


The webinar with more than 70 attendants, aimed to raise public awareness about the importance of predicting and mitigating hydrometeorological disasters. It featured insights from four distinguished speakers:

  1. Dr. Joko Wiratmo - Bandung Institute of Technology (ITB)
  2. Dr. Siswanto - Indonesian Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency (BMKG)
  3. Prof. Djati Mardiatno - University of Gadjah Mada (UGM)
  4. Prof. Eddy Hermawan - National Research and Innovation Agency (BRIN)

During the webinar, the experts discussed the reflection on hydrometeorological disasters in 2023 and the potential occurrences in 2024. Key topics included the significant impact of the 2023 heatwave in South Asia and the influence of El Nino on rainfall, drought, and the economy in Indonesia. The speakers also emphasized the importance of local wisdom in reducing the impact of hydrometeorological disasters and discussed the predictability of El Nino-Southern Oscillation (ENSO) and its implications on climate impacts.

The event provided participants with a platform for interactive discussions with the experts, enabling them to gain broader insights and knowledge. Attendees had the opportunity to directly ask questions and receive adequate answers related to the discussed topics.

Five key takeaways from the webinar are as follows:

  1. The year 2023 is likely to be confirmed as the hottest year ever recorded, highlighting the importance of addressing climate change through emission reduction strategies and adaptation.
  2. The severe heatwave in South Asia in 2023 had a significant impact on India, Bangladesh, Pakistan, and Nepal, with record-breaking temperatures and substantial consequences such as health issues, crop failures, water scarcity, and increased electricity demand.
  3. El Nino in Indonesia in 2023 resulted in reduced rainfall, higher temperatures, and economic impacts on sectors such as agriculture and tourism. Early warning systems, water management, and climate-resilient agriculture are crucial for adaptation.
  4. Local wisdom plays a vital role in responding to hydrometeorological disasters, integrating traditional knowledge with scientific approaches to reduce disaster risks and enhance resilience.
  5. The recent evolution, current status, and predictions of El Nino-Southern Oscillation (ENSO) have significant implications for climate impacts, including regional rainfall patterns and extreme events.

By participating in this webinar, it is hoped that the public will gain a better understanding of the importance of predicting and mitigating hydrometeorological disasters and actively contribute to protecting themselves and their communities from disaster threats.

For more information, please contact:

Dr. Joko Wiratmo Faculty of Earth Sciences and Technology, Institut Teknologi Bandung wiratmo@itb.ac.id

This press release was prepared by: Dr. Dasapta Erwin Irawan and Stevanus Nalendra Jati, ST., MT.

 Siaran Pers

Seri Webinar tentang Berbagi Pengetahuan: Refleksi Bencana Hidrometeorologi pada tahun 2023 dan Potensi Kejadian pada tahun 2024

Bandung, 28 Desember 2023 - Fakultas Ilmu Bumi dan Teknologi di Institut Teknologi Bandung (ITB), bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia (BMKG), dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berhasil menyelenggarakan webinar berbagi pengetahuan yang berjudul "Refleksi Bencana Hidrometeorologi pada tahun 2023 dan Potensi Kejadian pada tahun 2024" pada hari Kamis, 28 Desember 2023, pukul 9:00 pagi hingga 12:00 siang WIB.

Webinar ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya memprediksi dan mitigasi terhadap bencana hidrometeorologi. Acara yang dihadiri oleh lebih dari 70 peserta ini menampilkan wawasan dari empat pembicara terkemuka:

  1. Dr. Joko Wiratmo - Institut Teknologi Bandung (ITB)
  2. Dr. Siswanto - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia (BMKG)
  3. Prof. Djati Mardiatno - Universitas Gadjah Mada (UGM)
  4. Prof. Eddy Hermawan - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Selama webinar, para ahli membahas refleksi bencana hidrometeorologi pada tahun 2023 dan potensi kejadian pada tahun 2024. Topik utama meliputi dampak signifikan gelombang panas pada tahun 2023 di Asia Selatan dan pengaruh El Nino terhadap curah hujan, kekeringan, dan ekonomi di Indonesia. Para pembicara juga menekankan pentingnya kearifan lokal dalam mengurangi dampak bencana hidrometeorologi dan membahas prediktabilitas El Nino-Southern Oscillation (ENSO) serta implikasinya terhadap dampak iklim.

Acara ini memberikan peserta untuk berdiskusi interaktif dengan para ahli, memungkinkan mereka untuk memperoleh wawasan dan pengetahuan yang lebih luas. Peserta memiliki kesempatan untuk langsung bertanya dan menerima jawaban yang memadai terkait topik yang dibahas.

Berikut adalah lima poin penting yang dapat diambil dari webinar ini:

  1. Tahun 2023 kemungkinan akan dikonfirmasi sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat, menyoroti pentingnya mengatasi perubahan iklim melalui strategi pengurangan emisi dan adaptasi.
  2. Gelombang panas yang parah di Asia Selatan pada tahun 2023 berdampak signifikan bagi India, Bangladesh, Pakistan, dan Nepal, dengan suhu yang mencetak rekor dan konsekuensi serius seperti masalah kesehatan, gagal panen, kekurangan air, dan peningkatan permintaan listrik.
  3. El Nino di Indonesia pada tahun 2023 menyebabkan curah hujan berkurang, suhu yang lebih tinggi, dan dampak ekonomi pada sektor-sektor seperti pertanian dan pariwisata. Sistem peringatan dini, pengelolaan air, dan pertanian yang tahan iklim sangat penting untuk adaptasi.
  4. Kearifan lokal memainkan peran penting dalam merespons bencana hidrometeorologi, mengintegrasikan pengetahuan tradisional dengan pendekatan ilmiah untuk mengurangi risiko bencana dan meningkatkan ketahanan.
  5. Evolusi terkini, status saat ini, dan prediksi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) memiliki implikasi yang signifikan terhadap dampak iklim, termasuk pola curah hujan regional dan peristiwa ekstrem.

Dengan berpartisipasi dalam webinar ini, diharapkan masyarakat akan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya memprediksi dan mitigasi bencana hidrometeorologi serta berkontribusi aktif untuk melindungi diri dan komunitas mereka dari ancaman bencana.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Dr. Joko Wiratmo Fakultas Ilmu Bumi dan Teknologi, Institut Teknologi Bandung wiratmo@itb.ac.id

Siaran pers ini disusun oleh: Dr. Dasapta Erwin Irawan dan Stevanus Nalendra Jati, ST., MT.

 Perlu diketahui sebaran dari peserta webinar tersebut adalah sebagai berikut:





Tuesday, June 20, 2023

Rekaman webinar "Ancaman bahaya kekeringan di bawah bayang bayang El Nino"

 Berikut ini saya sampaikan link rekaman dari webinar dengan judul di atas seperti sudah disebut pada postingan sebelumnya sebagai bagian dari Gerakan Sedekah Ilmu dan pertanggungjawaban PT kepada masyarakat.

1. https://youtu.be/BLdUuhUirOM (Sambutan ketua Panitia)

2. https://youtu.be/Y-LQtQOie2U (Pembukaan oleh Ketua Harian LPPM ITB)

3. https://youtu.be/Py_h-X2NxYc (Materi oleh Dr. Joko Wiratmo MP) - ITB

4. https://youtu.be/UJgqCCHAdnw (Materi oleh Dr. Dasapta E. Irawan) - ITB

5. https://youtu.be/kq8VPbK6wm8 (Materi oleh Prof. Eddy Hermawan) - BRIN

Dokumentasi foto sampai semua sesi selesai dapat dilihat pada foto berikut ini.




Tuesday, June 6, 2023

Kekeringan dan El Nino

 Dalam beberapa hari mendatang, kami mencoba melakukan sedekah ilmu seperti yang selama ini kami lakukan dan upaya mencerdaskan masyarakat terhadap issue dan berita yang berkembang di Indonesia terkait El Nino, kekeringan, karhutla dsb. Upaya ini juga ditujukan agar masyarakat makin memahami bagaimana membaca cuaca, musim dan iklim yang terjadi pada saat kondisi normal dan anomali. Manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya dengan mendaftar pada link yang disajikan di poster berikut.



Wednesday, May 31, 2023

Banjir rob makin marak??

 Rob (tidal flood) merupakan salah satu bencana alam yang terjadi di wilayah pantai yang landai. Berkaitan dengan hal tersebut maka ada 3 hal yang mesti ditinjau, yakni kondisi laut, daratan, dan muara sungai. Kita tinjau satu persatu. Kondisi laut saat ini mengalami peningkatan permukaan air laut (sea level rise) dimana terjadi penambahan beberapa milimeter per tahun yang  dalam jangka panjang angka yang terlihat kecil ini akan menghasilkan peningkatan yang tinggi dari permukaan air laut. Hal ini terjadi karena pemanasan global yang berlangsung  selama ini sehingga banyak es/lapisan kriosfer mencair.  Proses pemanasan global dapat dilihat di:  https://djokowiratmo.blogspot.com/2010/05/adakah-hubungan-antara-el-nino-dan.html

Pemanasan global dan perubahan iklim bisa berdampak pada peningkatan cuaca ekstrim misalnya siklon, angin kencang, waterspout, dan lain-lain. Siklon dan angin kencang meningkatkan ketinggian gelombang yang ketika mencapai pantai barangkali ia akan menjorok jauh ke area daratan yang kemudian kita sebut sebagai rob. Bila tidak ada hutan mangrove, misalnya, di daerah pantai maka rob ini akan makin jauh masuk ke wilayah daratan.

Source: https://www.nu.or.id/nasional/lpbinu-jelaskan-dua-penyebab-banjir-rob-semarang-j4qyO

Daratan yang mengalami subsiden akan meningkatkan peluang air laut yang lagi pasang masuk ke wilayah daratan. Subsidensi ini terjadi karena pengambilan air tanah yang berlebihan, intrusi air laut, beban bangunan atau gedung-gedung di wilayah dekat pantai yang makin besar. Semakin besar tiga hal tersebut maka subsidensi makin meningkat. Beberapa waktu yang lalu dikabarkan bahwa wilayah pantai utara Jawa mengalami subsidensi yang makin meningkat, seperti yang dikemukakan oleh rekan-rekan dari Geodesi ITB. 

Yang ketiga yakni wilayah muara sungai. Pada saat musim hujan peluang terjadinya banjir rob makin meningkat karena aliran sungai yang kencang dan meninggi. Hal ini bisa menyebabkan wilayah pantai yang  dipasang tanggul bisa menjadi jebol. Ini menyebabkan peluang terjadinya banjir meningkat apalagi bila lautan mengalami pasang.

Sehingga bila 3 hal di atas berlangsung bersamaan, dalam hal ini terjadi pasang, daratan landai dan mengalami subsidensi, dan air banjir dari arah hulu sungai maka berdampak pada meningkatnya potensi banjir rob. 


Sunday, May 21, 2023

Perubahan iklim hanya sebatas wacana, rendah realisasi ??

Saat ini sedang dilakukan pertemuan G7 di Jepang yang membahas berbagai macam masalah dunia internasional dimana peran negara-negara G7 signifikan dalam menentukan arah kebijakan global. Salah satu yang dibahas di dalamnya adalah masalah perubahan iklim yang terus menerus mengancam kehidupan di muka bumi bila tidak segera dilakukan terobosan-terobosan baru dan implementasi / realisasi berbagai kerjasama antar negara di dunia yang ada selama ini. Miskinnya realisasi pendanaan negara maju misal dalam perdagangan karbon serta janji-janji manis mereka dalam masalah kehutanan dan ekonomi menyebabkan program-program yang dijalankan negara-negara berkembang jalan di tempat. Ketidakbenaran dan ketidakadilan yang terjadi akibat ulah negara-negara maju yang kurang mengontrol jumlah karbon yang dihasilkan sementara negara-negara berkembang dipaksa untuk menekan tingkat emisi karbon dengan anggaran terbatas atau bahkan hasil jual emisi karbon yang tidak direalisasikan dengan baik selalu terjadi. Bila negara maju juga turut merealisasikan berjuang dengan gigih memitigasi dan mengadaptasi perubahan iklim maka bukan tidak mungkin target mengendalikan peningkatan suhu bumi tidak lebih dari 1.5oC akan terwujud. Langkah-langkah strategis harus terus dilakukan agar negara negara maju mewujudkan pendanaan tersebut. Semoga saja apa yang disuarakan oleh Indonesia dalam berbagai forum internasional terkait masalah ini khususnya yang disuarakan oleh Presiden RI saat ini akan benar benar bisa membuka hati dan pikiran serta mindset baru dari para pemimpin dunia yang hadir dalam pertemuan G7 ini.

Friday, April 28, 2023

Benarkah lapisan ozone di atas Indonesia menipis??

 Pertanyaan menggelitik itu terus menerus ada di benak saya mengingat beberapa waktu ini terasa lebih gerah dan panas di kulit ketika berada di luar ruangan. Di kelas, saya menyampaikan terkait peluang gelombang panas yang selama beberapa waktu ini ditanyakan oleh masyarakat di ruang publik. Saya sampaikan bahwa gelombang panas ini meskipun barangkali istilahnya kurang tepat dan berbeda dengan yang mungkin terjadi di lintang tengah namun bisa terjadi di wilayah-wilayah di dekat pegunungan. Di sini efek Foehn terjadi sehingga daerah bayang-bayang hujan di balik gunung mengalami angin yang lebih hangat dan suhunya lebih tinggi dibandingkan dengan di arah windward pada ketinggian yang sama dari mean sea level. Di kita beberapa istilah lokal digunakan untuk menandai efek Foehn ini, misalnya angin Bohorok, Gendhing, Wambraw dan sebagainya. Di negara-negara lain muncul dengan nama misalnya Foehn, Zonda, Chinook dan lain-lain. Jika terkena kulit, angin Foehn ini memang terasa hangat dan agak panas serta kering tergantung ketinggian dari gunung yang ada di sekitarnya. Makin tinggi gunung, suhu yang bisa ditimbulkannya bisa menjadi lebih signifikan perbedaannya. 

Kalau dilihat saat ini yang menunjukkan matahari berada di Belahan Bumi Utara (BBU) maka seharusnya angin mulai lebih kuat dari BBS daripada dari BBU khususnya untuk yg terkait dengan monsoon di Asia Tenggara - Australia. Mengingat monsoon tenggara dari wilayah Australia lebih hangat maka wajar juga apabila terasa lebih kering meskipun bulan ini merupakan musim peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. 

Kemungkinan yang lain adalah tergantung lokasi lokalnya seperti apa. Jika lokasinya seperti Bandung yang dikelilingi oleh gunung dan perbukitan maka pada saat perawanan di atas wilayah Bandung khususnya awan-awan yang pertumbuhannya lateral seperti jenis-jenis stratus maka panas yang ditimbulkan akibat aktivitas manusia akan tertahan dan hanya sedikit yang keluar dari area tersebut. Ini berakibat pada akumulasi panas yang semakin meningkat sehingga udara makin menghangat dan badan banyak berkeringat.

Satu hal lagi yang tampaknya perlu mendapatkan perhatian adalah tentang lapisan ozone. Ketebalan maksimum lapisan ini di stratosfer berada pada ketinggian 20-30 km. Sifat dari ozone adalah menyerap spektrum radiasi matahari gelombang pendek yakni ultraviolet. Ketika spektrum ini tidak terfilter dengan baik karena menipisnya lapisan ozone maka bisa berdampak tidak baik pada kesehatan. Dalam waktu lama bisa berdampak pada kerusakan kulit dan jaringan serta bahkan bisa menimbulkan kematian. Sejumlah langkah bisa ditempuh untuk menguranginya yakni menggunakan sunblock atau memakai baju lengan panjang atau mengurangi aktivitas luar ruangan antara jam 9-14 WIB. Apakah benar bahwa panas yang terasa di kulit beberapa waktu ini akibat menipisnya lapisan ozone ? ... semuanya butuh penelitian yang intensif.


Saturday, April 1, 2023

Peningkatan kualitas informasi cuaca ekstrim di Indonesia

 Perubahan iklim banyak menyebabkan terjadinya cuaca ekstrim di banyak tempat di dunia, termasuk di Indonesia. Wilayah yang demikian banyak variasi cuaca dan iklimnya ini dipengaruhi oleh banyak fenomena seperti monsoon, ENSO, IOD, MJO, seruak dingin dan berbagai gelombang atmosfer. Musim hujan atau musim kemarau berkepanjangan sehingga sering menyebabkan kerugian harta benda dan bahkan nyawa ini puluhan tahun terakhir sering menimpa wilayah Indonesia. Berbagai peristiwa kebencanaan ini banyak masyarakat yang belum memahaminya dengan benar sehingga hal-hal yang mungkin bisa dicegah dengan melibatkan masyarakat bisa makin disadari oleh mereka-mereka yang duduk di pemerintahan. Semakin banyak masyarakat memahami bagaimana hakikat terjadinya bencana dimana salah satunya adalah cuaca ekstrim maka diharapkan akan makin banyak garda depan dalam menangani dan memitigasi bencana alam tersebut. 

Abad 21 merupakan abad teknologi informasi dimana setiap orang dari mulai balita sampai orang-orang jompo terpapar oleh informasi yang disampaikan melalui media masa dan media sosial. Selama 24 jam sehari, pemberitaan dan pertukaran informasi terjadi melalui media elektronik dan media cetak. Oleh karena itu seolah-olah tidak ada batas negara dalam hal informasi. Namun informasi-informasi tersebut bercampur aduk, ada yang benar dan ada pula yang salah/hoaks. Bahkan tidak jarang informasi diselewengkan untuk tujuan-tujuan yang tidak benar dan merusak. Karenanya dibutuhkan filter dan tameng untuk melindungi masyarakat dari informasi yang tidak benar dan merusak tersebut dengan meningkatkan kualitas pemahaman yang benar dimana salah satunya menyangkut masalah cuaca ekstrim di Indonesia. Dengan perkembangan teknologi yang demikian pesat, peroranganpun bisa menjadi penyampai berita yang sangat cepat. Ini merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, swasta, perguruan tinggi, masyarakat khususnya generasi mudanya dan awak media dalam meningkatkan mutu pemberitaan.

Peningkatan kualitas informasi cuaca ekstrim ini harus makin diarahkan agar masyarakat lebih mudah memahami berbagai macam potensi kebencanaan di Indonesia dan juga agar literasinya tinggi. Penyampaian berita yang mudah dipahami kalangan awam merupakan tantangan tersendiri bagi kalangan akademisi. Kegiatan ini diupayakan dilakukan secara rutin agar literasi masyarakat tersebut makin membaik. Jaringan informasi yang dijalin dengan para peserta kegiatan tahun lalu melalui WAG merupakan salah satu modal dasar dalam menyebarkan informasi sekaligus juga bisa menangkal issue issue yang tidak benar tentang cuaca ekstrim. Diharapkan dengan kegiatan ini kedua tujuan di atas dapat dicapai dengan lebih cepat dan lebih terorganisir.Semakin besar jumlah garda depan informasi cuaca ekstrim akan lebih baik.

Wednesday, January 18, 2023

ITCZ masih di belahan selatan Indonesia

 ITCZ atau intertropical convergence zone hari ini masih berada di belahan bumi selatan Indonesia. Ini tentu saja berpengaruh pada curah hujan di kawasan tersebut dimana peluang terjadi bencana alam banjir dan sejenisnya lebih banyak terjadi di wilayah selatan. Ini terlihat pada link di bawah ini:

 http://inderaja.bmkg.go.id/IMAGE/HIMA/H08_EH_Indonesia.png?id=47463h1fuqvdsvsxjmn89yo

Perlu juga diketahui, meskipun beberapa hari terakhir curah hujan relatif kecil, bukan berarti bahwa kemungkinan hujan sampai dengan akhir bulan ini mengecil. Bisa jadi di wilayah lain curah hujan cukup besar mengingat puncak musim hujan di berbagai tempat di tanah air bisa berbeda-beda. Secara garis besar ada 3 pola curah hujan di Indonesia yakni monsoonal, ekuatorial dan lokal. Bisa jadi pola ini tidak tergambar dengan jelas karena merupakan kombinasi dari ketiganya, hanya saja yang paling dominan yang mana ... itu yang akan tergambar lebih jelas polanya dibanding yang lain. Barangkali anda juga tahu bahwa banyak faktor yang mempengaruhi curah hujan di Indonesia baik yang dalam arah zonal maupun meridional serta lokal. Beberapa yang bisa disebut adalah monsoon, IOD, ENSO, MJO, SAO, PDO, gelombang-gelombang atmosfer, dan berbagai faktor lain yang belum terungkap sampai dengan saat ini.  

Penelitian-penelitian baik yang dilakukan oleh PT maupun BRIN masih belum optimal dalam mengungkap semua fenomena yang disebut di atas. Bahkan barangkali akan muncul fenomena-fenomena alam baru yang belum ditemukan sampai dengan saat ini mengingat demikian kompleksnya hubungan antar sub sistem iklim dalam skala waktu detik sampai waktu tak terhingga. Model-model peramalan cuaca yang ada saat ini merupakan penyederhanaan berbagai proses yang diperhitungkan di sana. Oleh karena itu para peneliti dan akademisi serta praktisi seharusnya makin mendalami hal-hal tersebut.

Dampak curah hujan yang terjadi pada waktu ke depan ini bisa jadi akan menyebabkan banjir, longsor, erosi, banjir bandang dsb sehingga perlu tetap waspada akan kemungkinan bencana-bencana tersebut. Semoga saja, dengan berkaca pada peristiwa yang sudah terjadi, langkah-langkah preventif, adaptif dan kuratif bisa dilakukan sesegera mungkin. Tulisan saya sebelum-sebelumnya banyak menyampaikan masalah ini. 

Tuesday, January 3, 2023

Banjir rob di pantai Utara Jawa

 Beberapa hari ini, banjir melanda berbagai tempat di wilayah pantai utara pulau Jawa. Cukup tinggi bahkan bisa mencapai satu meter. Mengapa hal ini bisa terjadi?? Beberapa hal yang bisa disebut di sini adalah penurunan permukaan tanah akibat penyedotan air tanah yang berlebihan dan aktivitas manusia yang makin banyak di atas permukaan tanah tersebut. Lho kok bisa karena penyedotan air tanah?? Hal ini tidak lain karena fluida atau cairan atau air itu selalu mengisi ruang kosong, pori-pori tanah sehingga bila air ini disedot maka banyak ruang kosong yang tak terisi. Akibatnya karena di atas permukaan tanah dibangun berbagai macam jenis infrastruktur dan aktivitas manusia yang makin meningkat maka menjadi beban bagi tanah dan tanah menjadi dipadatkan. Oleh karena itu maka permukaan tanah menjadi turun.

Faktor lain yang berpengaruh adalah kenaikan permukaan air laut (MSL) akibat pemanasan global. Saat ini suhu udara di bumi semakin meningkat sehingga lempengan dan gunung-gunung es serta gletsyer makin mencair . Karena pencairan lapisan kriosfer tersebut  maka permukaan air laut juga meningkat meskipun ordenya sangat kecil yakni hanya berorde milimeter per tahun. 

Faktor ketiga yang turut berperan dalam hal tersebut adalah peningkatan cuaca ekstrim khususnya hujan deras yang terjadi di daratan yang akhirnya mencapai laut akibat perubahan iklim. Berkali-kali dalam blogspot ini saya menyebut dan menulis tentang perubahan iklim ini sekaligus juga videonya. Perubahan iklim ini membawa dampak signifikan terhadap anomali kejadian cuaca, musim dan iklim turunannya. 

Bila ketiga hal di atas terjadi secara bersamaan, saluran drainase tidak berfungsi dengan baik, terjadi pasang laut yang tinggi maka banjir rob di pantai akan dengan mudah terjadi. Lalu apa yang bisa dilakukan bila hal tersebut terjadi?? Banyak hal!! Contoh kecil adalah aktivitas memerangi perubahan iklim dengan cara perbanyak tanam pohon, kurangi pemakaian energi yang berlebihan, kurangi pemakaian kertas, dan lain-lain. Hal-hal tersebut lebih berupa upaya mitigasi. 

Wednesday, November 2, 2022

Selingan: Toksik??? Jauhi!!

 Beberapa waktu ini, khususnya memang dipicu oleh peristiwa menjelang pemilihan kepala daerah atau Gubernur DKI Jakarta kesan bahwa politik identitas begitu mengemuka. Dilanjutkan dengan pemilihan presiden RI yang juga begitu gegap gempita menggaungkan identitas khususnya masalah SARA (suku, agama, ras, antar golongan) sehingga sempat menyebabkan suasana kebatinan dan kebangsaan Indonesia begitu terkoyak-koyak. Bayangkan, dengan jumlah suku di Indonesia yang ribuan dan menganut berbagai agama menyebabkan begitu rentannya persatuan dan kesatuan NKRI bila hal ini terus menerus dilakukan.

Orang-orang yang merasa paling benar sendiri, menganggap tahu segalanya terhadap kehendak Yang Maha Segalanya, kunci surga berada di tangannya dan pemeluk agama lainnya dimusuhi dan dianggap sebagai kafir yang harus diperangi/dimusuhi bahkan boleh jadi dimusnahkan berperan besar pada terpeliharanya bara api yang setiap saat merenggut bangsa Indonesia. Di kehidupan sehari-hari, infiltrasi berbagai aliran yang selama ini dilarang oleh pemerintah karena bisa mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara demikian masif terjadi. Tidak saja dalam kehidupan beragama, tetapi juga seluruh bidang kehidupan seperti pendidikan, penegakan hukum, politik, ekonomi, dan lain-lain. Semuanya dirasuki melalui media massa dan media sosial baik cetak maupun elektronik. Demikian masifnya aliran/pemikiran/pandangan yang mereka gaungkan setiap saat menyebabkan ada kegoyahan dalam memandang persoalan bangsa dan kehidupan ini oleh para pemuka masyarakat dan pemerintah. Karena sering dibenturkan dengan kitab suci atau kutipan ayat-ayat yang bisa multi tafsir maka kegamangan dalam mengambil keputusan terjadi pada diri pemerintah. Sehingga tidak jarang karena hal tersebut, suatu keputusan tergantung pada dinamika yang berkembang di masyarakat, bukan atas kebenaran yg hakiki.

Yang mesti menjadi perhatian kita semua saat ini  dan nanti adalah bahwa berita atau potongan-potongan pernyataan/ceramah berantai yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat terkait masalah agama sangat tergantung pada tingkat pemahaman penceramah dan atau pendengarnya. Topiknya macam-macam. Misal tingkat pemahaman penceramah setinggi SMP menyampaikan materi setingkat SMA dan disampaikan kepada masyarakat yang pemahamannya setingkat SD maka bagaimana bisa mengerti orang-orang yang mendengarnya. Atau penceramah yang baru level SMA tetapi mengajarkan materi setingkat PT, bagaimana jadinya pemahaman penceramah tersebut dalam mengutarakan materi ceramah meskipun rujukannya sama. 

Majunya orang orang dengan berbagai background pemahaman agama yang diwadahi oleh partai politik menyebabkan seolah-olah ada legitimasi bagi kelompok orang tersebut dalam mengubah tatanan hidup bernegara yang selama ini berideologi Pancasila yang kita cintai ini. Pancasila mampu menjaga keberagaman Indonesia dan bisa menangkal aliran radikal dan rasialis serta teroris. Di bidang pendidikan, waspadai terhadap orang-orang yang berpemahaman tidak sesuai dengan hukum negara. Tetaplah menjaga keberagaman yang ber: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD45. Semoga Indonesia tetap jaya selamanya. Aamiin. Salut kepada NU yang menginisiasi pemahaman masalah ini dan pencarian solusinya dalam forum R20 bulan ini di Bali.

Wednesday, October 12, 2022

Menyongsong kemungkinan rawan pangan dan energi yang lebih hebat

 Salah satu permasalahan utama terkait dengan perubahan iklim ditambah berbagai pertistiwa yang terjadi di dunia ini adalah kerawanan pangan. Faktor lain yang turut terdampak adalah sektor energi. Secara global hal tersebut sudah dirasakan di banyak negara sehingga memicu kekacauan dan kecemasan masyarakat negara-negara tersebut. Alih alih mampu mengatasi masalah, negara tersebut bahkan pemerintahannya sudah ambruk dan warganya berusaha untuk bisa bangkit lagi dengan tertatih-tatih.

https://money.kompas.com/read/2022/07/08/165016126/dunia-krisis-pangan-jokowi-minta-pekarangan-kosong-ditanami?page=all

Peristiwa tersebut tentu saja juga dipikirkan oleh pemerintah Indonesia yang mengajak para pemimpin global untuk mengantisipasi adanya kerawanan pangan akibat pupuk dan perubahan iklim. Pupuk yang dimaksud adalah pupuk kimia yang warga dunia khususnya yang berprofesi petani sangat butuhkan untuk meningkatkan produksi. Perang yang berkecamuk di Ukraina akibat invasi Rusia ke negara tersebut membuat kondisi dunia makin runyam dan belum jelas kapan berakhirnya. Sebagai negara-negara sentra produksi gandum dunia, adanya perang ini menyebabkan pasokan bahan pangan tersebut menjadi terganggu. Karenanya pihak-pihak yang menggantungkan pasokan gandum dari kedua negara tersebut sudah kelabakan dan terganggu perekonomiannya. Apalagi ditambah krisis energi dimana Eropa juga sebagian bergantung pada Rusia. Kondisi yang semakin tidak menentu inilah yang meningkatkan ketidakpastian kondisi dunia yang masih juga berkutat dengan pandemi.

Rawan pangan dan energi merambat kemana-mana, ditambah krisis keuangan. Bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, kondisi ini terasa sangat berat. Semua profesi yang ada di dunia ini terdampak sehingga tidak ada alasan untuk mengeluh. Yang harus dilakukan adalah bagaimana caranya agar semuanya selamat dan lepas dari jeratan berbagai macam krisis tersebut dengan bersatu padu melakukan yang terbaik bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Tidak bisa tidak, yang harus dilakukan adalah meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Yuk bersama sama lakukan yang terbaik bagi negeri kita tercinta.

Saturday, September 3, 2022

Strategi menghadapi dampak perubahan iklim menjelang tahun 2050

Perubahan iklim banyak menyengsarakan seluruh warga dunia karena berbagai dampak negatifnya. 


Berbagai langkah yang bisa ditempuh mengkombat percepatan perubahan iklim bisa diperoleh dari rekaman video webinar di bawah ini. Silahkan akses: https://drive.google.com/file/d/174OUg8Mm1v79bKC9KDKhPogwvgSX-wrs/view?usp=sharing
Semoga bermanfaat bagi semua pihak dalam menghadapi dampak perubahan iklim sampai dengan tahun 2050.

Tuesday, July 5, 2022

100 guru geografi Kalimantan tingkatkan kualitas

 Berikut ini adalah salah satu berita yang memuat tentang kegiatan pelatihan para guru geografi yang telah dipublikasikan sebelumnya dengan mengundang lebih dari 1000 sekolah setingkat SMA di seluruh Kalimantan yang dimuat di Kaltim Post.





Wednesday, June 22, 2022

Berita Hoaks

 Berita hoaks sepertinya bukan merupakan berita yang jarang terjadi. Sering tanpa kita sadari kita terpapar oleh berita semacam itu sehingga timbul keresahan di masyarakat. Hoaks menyasar banyak pihak, apalagi saat ini hampir semua orang terpapar oleh berita-berita yang harus di cek betul kebenarannya dan itu harus ditanyakan kepada ahlinya. Demikian pula dengan berita tentang cuaca, musim dan iklim.

Tanggal 18 Juni 2022 yang lalu, dilaksanakan kegiatan webinar tentang hoaks yang diikuti oleh peserta dari sebagian wilayah  Indonesia dengan berbagai profesi. Menarik bahwa banyak pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menjadi perhatian publik baru kali ini mendapatkan pemaparannya secara lebih detail. Bisa dimaklumi karena background para peserta bukanlah meteorologi atau klimatologi. 

Berikut ini adalah hasil dari webinar tersebut.

·        Perubahan iklim banyak menyebabkan terjadinya cuaca ekstrim di banyak tempat di dunia, termasuk di Indonesia. Wilayah yang demikian banyak variasi cuaca dan iklimnya ini dipengaruhi oleh banyak fenomena seperti monsoon, ENSO, IOD dll. Musim hujan atau musim kemarau berkepanjangan sehingga sering menyebabkan kerugian harta benda dan bahkan nyawa ini puluhan tahun terakhir sering menimpa wilayah Indonesia dan ini tidak boleh dibiarkan saja. Pelibatan masyarakat dalam menangkal hoaks harus terus menerus diupayakan agar issue-issue terkait cuaca, musim dan iklim makin bisa ditangani dan diluruskan secara ilmiah.
·         Dengan perkembangan teknologi yang demikian pesat, peroranganpun bisa menjadi penyampai berita yang sangat cepat dan berpotensi pada terbentuknya berita hoaks. Sehingga hal ini merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, swasta, perguruan tinggi, masyarakat khususnya generasi mudanya dan awak media dalam meningkatkan mutu dan kualitas pemberitaan.
·  Pemanasan global telah terjadi, dan terbukti sebagai fakta dalam data-data pada skala global, regional dan lokal.
· Pemanasan lokal dimungkinkan lebih kuat daripada pemanasan global, terutama di daerah perkotaan.
· Perubahan lingkungan besar-besaran dapat memperburuk efek pemanasan global pada perubahan lokal (misalnya fenomena pulau panas "heat island" perkotaan)
·  96% kejadian bencana di Indonesia terkategorikan sebagai bencana hidrometeorologi, dan sebagian besarnya disebabkan oleh cuaca/iklim ekstrim.
·  Peningkatan suhu udara sebesar 1áµ’C sangat besar pengaruhnya terhadap penguatan siklus hidrologi sehingga meningkatkan kejadian ekstrim (baik intensitas maupun frekuensinya) yang berikutnya dapat menjadi ancaman bencana hidrometeorologi.
·   Musim kemarau basah akan terus berlanjut hingga akhir September 2022 khususnya utk kawasan barat Indonesia yg bertipe hujan monsunal bukan karena efek La-Nina namun karena IOD yg berfase negatif.




Wednesday, June 8, 2022

Peningkatan kualitas guru geografi wilayah binaan se Pulau Kalimantan

 Saudara semuanya khususnya para guru pasti menyadari bahwa pendidikan geografi sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kecintaan pada tanah air dan bangsa. Hal ini yang menjadi salah satu pertimbangan kami untuk turut membina para guru agar menghasilkan siswa yang unggul dari daerah mengingat bahwa selama ini kemampuan akademis banyak dirajai oleh siswa-siswa dari pulau Jawa. Kesenjangan ini harus dipersempit agar kualitas sumber daya manusia di daerah memampukan pengelolaan sumber daya alam  yang profesional. Terkait dengan pertimbangan akan adanya rencana pembangunan Ibu Kota Negara di Kalimantan ini kami berupaya untuk meningkatkan kualitas siswa sekolah menengah dan madrasah aliyah melalui para guru geografi mereka. Bila saudara berminat untuk meningkatkan pemahaman dan kualitas diri maka silahkan untuk mendaftarkan diri pada link di bawah.



Sedekah ilmu cuaca, musim dan iklim

 Seperti sudah disebut sebelumnya, masalah cuaca, musim dan iklim makin menjadi perhatian dunia. Peristiwa yang berubah setiap saat dan mempengaruhi hajat hidup orang banyak ini harus makin menjadi perhatian mengingat berdampak luas pada skala ruang mikro sampai global. Oleh orang-orang tertentu, berita yang sudah benar dipelintir sehingga menjadi berita hoaks. Untuk itulah maka Gerakan Sedekah Ilmu coba saya lakukan karena merasa terpanggil untuk turut meluruskan berita-berita terkait meteorologi dan klimatologi. Bila saudara berminat, silahkan kunjungi link di bawah.

Silahkan disebarkan pada kolega saudara agar makin terbuka mengenai kondisi cuaca, musim dan iklim di Indonesia.



Tuesday, March 22, 2022

Be aware of water, energy and food issues from now on

 Happy Water Day and World Meteorological Day …

We often hear about climate change from various print and online mass media as well as social media, but it doesn't seem to have become an agenda that is considered important for some people. The issue of climate change is still a global elite issue. Although some people in the world realize that the various events that occur in their daily lives are related to climate change with various variations, the steps to combat this problem still seem cloudy. The impact caused by climate change may already be known to many, especially urban residents because information can be obtained from existing gadgets. Three things that must be known and will be very likely to experience change and are vulnerable to disturbances in the present and future are water, energy and food issues.

Various disasters that occur in various parts of the world including Indonesia are often considered to be caused by climate change. Hydrometeorological disasters as part of natural disasters such as cyclones, tropical storms, tropical cyclones, floods, flash floods, droughts and landslides triggered by heavy rains often take property and lives. All of that can be seen from various news sources in the past until recently. Information about natural disasters every day adorns the mass media and social media. Of course everyone does not want to experience it but very few of the community are involved in saving the environment and other preventive measures. Only when natural disasters occur do people rush to take curative actions.

Floods such as those that have occurred recently, whether on the island of Java or outside Java Indonesia, where the water has not receded for several weeks, for example in Sintang, West Kalimantan some time ago, are clear evidence of the effects of climate change. An increase in rainfall to more than 120 millimeters per day will cause the soil to not have time to absorb large amounts of water. The heavy rain will trigger the formation of water flow on the ground (runoff) which then enters the river flow. Unfortunately the drainage channel is not running well and the capacity of the river is not commensurate with the incoming water flow. The latter is exacerbated by erosion upstream of the river and the habit of people throwing all kinds of garbage into the river. The occurrence of cold lava floods on the slopes of Mount Semeru, East Java due to heavy rains on the peaks and slopes, seems to be also influenced by this climate change. In this case, what is influenced by climate change is the rainfall factor. Human activities that account for more than 95% of climate change will be reduced if people's awareness of the environment increases. Small to large steps on various scales of space and time have to be instilled more and more since childhood or early age. The education sector is a good and accurate key for efforts to increase this awareness, for example through teachers or lecturers and students. Human activities that account for more than 95% of climate change will be reduced if people's awareness of the environment increases. Small to large steps on various scales of space and time have to be instilled more and more since childhood or early age. The education sector is a good and accurate key for efforts to increase this awareness, for example through teachers or lecturers and students. Human activities that account for more than 95% of climate change will be reduced if people's awareness of the environment increases. Small to large steps on various scales of space and time have to be instilled more and more since childhood or early age. The education sector is a good and accurate key for efforts to increase this awareness, for example through teachers or lecturers and students.

Landslides which are also common following flooding during the rainy season (Asian monsoon) which are exacerbated by La Nina events in the Pacific Ocean and negative Dipole Mode in the Indian Ocean can actually also be reduced. A number of steps can be taken, for example one of them is strengthening the soil structure by planting trees. The slopes of hills and mountains should also be strengthened by planting trees with deep roots such as pine trees, teak, and various types of horticultural trees. This is so that apart from the stems and twigs that can be used for wood, it can also increase the nutritional security of the community. River borders must also be strengthened and niches or reservoirs and dams that exist in areas higher than rivers/hills/mountains are also treated to prevent flash floods.

At this time, La Nina is predicted to be at a moderate level by NMME so that for the Indonesian region it causes the rainy season to progress and lasts longer. This must also be anticipated through water management so that excess water in the rainy season can be stored to fill groundwater or reservoirs and the dry season does not dry out. The steps taken by the government, such as building reservoirs, are a step forward in securing water availability for various purposes.

The availability of water can also be good energy if it is used from micro-hydro electricity to large-scale hydroelectric power plants. Energy security can be done in this way and developing new renewable energy such as solar and wind energy. We should be grateful that our region is close to the equator so that the length of the day is about 10-12 hours throughout the year. Day length is the time from sunrise to sunset. This causes solar energy can be easily obtained throughout the year. Unfortunately, to install until it can be used by the wider community, it still requires technological revolution. For now, it still requires high costs where only certain people can or want to invest to get this free energy. You can imagine how in the future far more people will enjoy this free energy compared to those who use hydroelectric power as it is today. If the solar energy storage battery can have a large capacity, then even this will make energy security even more powerful. In fact, even this we can do if it is supported by the right regulations so that the investment of thoughts, energy and high technology, low-cost capital is not wasted and is overtaken by the human resources of other countries. If the solar energy storage battery can have a large capacity, then even this will make energy security even more powerful. In fact, even this we can do if it is supported by the right regulations so that the investment of thoughts, energy and high technology, low-cost capital is not wasted and is overtaken by the human resources of other countries. If the solar energy storage battery can have a large capacity, then even this will make energy security even more powerful. In fact, even this we can do if it is supported by the right regulations so that the investment of thoughts, energy and high technology, low-cost capital is not wasted and is overtaken by the human resources of other countries.

Energy can also be used for agricultural cultivation activities. So far, agricultural mechanization has not reached and is evenly distributed in remote rural areas. Smart farming still feels like a dream for traditional farmers, whose numbers are very, very much more than tie farmers or those who are technology literate. The use of agricultural infrastructure based on IoT (internet of things) is still felt as a technology belonging to millennials or young people. This transformation of knowledge and technology in smart farming must be carried out from now on considering the number of Indonesian farmers from year to year is decreasing and is dominated by those aged 47 years and over. This can be a serious threat to the problem of food security in the country.

The quality of human resources will increase, as will their life expectancy if food and nutrition problems can be improved. Hopefully with the increasing attention of the government, the business world, communities, universities and the mass media on water, energy and food security, this will make our beloved country progress and become a world superpower. If this can be accelerated, the impact of climate change on the lives of Indonesian people will be minimized, especially if it is carried out in mutual cooperation and together with other countries around the world.

 

Friday, February 11, 2022

Ibu Kota Negara

 Masih relevankah membangun IKN di Kalimantan Timur?? Kalimantan Timur memang selama ini tidak mengalami kebakaran hutan, kalaupun ada dalam skala kecil dan mengingat pada saat karhutla angin tenggara yang berperan dominan maka masyarakat Kalimantan Timur tidak mengalami masalah kesehatan dan kerugian lain. Ini mengingat asap bergerak menuju barat laut sampai utara ketika musim kemarau yang kering atau kekeringan yang diakibatkan berbagai fenomena seperti monsoon tenggara, El Nino dan El Nino modoki. Dari sisi angin memang relatif aman dari bahaya asap. Dari perspektif air, dengar dengar masih ada masalah. Ini tentu terkait juga dengan vegetasi yang tumbuh di sana, selain faktor tanah yang kebanyakan tanah gambut dan batubara. Jika mampu mengolah air sungai atau payau di sana menjadi air tawar, maka masalah ini masih bisa ditangani meski untuk itu barangkali membutuhkan teknologi tinggi desalinisasi air payau. Selain tentu saja vegetasi dan pepohonan tropis yang mampu menghadirkan sumber-sumber air minum sehingga harus ada konservasi tanah dan air. Pembangunan infrastruktur yang tentu saja akan menyebabkan banyak lahan hutan yang dikonversi menjadi pusat-pusat aktivitas manusia seperti pemukiman, industri, perkantoran dll harus diganti dengan luas lahan vegetasi yang lebih dari yang ditebangi. Ini setidaknya diperkirakan akan memperbaiki siklus hidrologi di kawasan IKN tersebut. Masalah energi sebenarnya bisa dilakukan dengan memanfaatkan energi baru terbarukan yang hijau, artinya yang tidak sampai dampaknya merusak lingkungan. Bisa berwujud energi angin, air, dan radiasi matahari. Meskipun angin tampaknya kecil mengingat kecepatan angin di wilayah IKN kecil namun bila untuk skala mikro pemukiman (Pembangkit Listrik Tenaga Angin Mikro) tampaknya tidak mengalami masalah. Dinamika air sungai dan laut bisa pula dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Potensi lain adalah energi surya yang karena berada dekat wilayah ekuator maka sangat melimpah. Dengan demikian untuk masalah energi bila benar-benar diberdayakan maka mungkin akan cukup melimpah. 

Faktor pangan bisa tercukupi mengingat propinsi Kalimantan Tengah diproyeksikan menjadi lumbung pangan nasional dan bisa mensuplai IKN. Bila saja food estate tersebut berhasil maka masalah pangan yang dipengaruhi oleh perubahan iklim global akan bisa direduksi. Jika permasalahan pangan, energi dan air ini bisa ditangani dengan sebaik-baiknya maka dampak perubahan iklim tidak akan begitu dirasakan oleh bangsa Indonesia. 

Meskipun hal yang disampaikan di atas adalah dalam sudut pandang positif/optimis namun jangan pula dikesampingkan pandangan-pandangan pesimis yang mungkin juga berkembang mengingat lokasi IKN (akan) sangat mempengaruhi hajat hidup orang banyak, bangsa dan rakyat Indonesia tercinta. 

Wednesday, December 15, 2021

La Nina sampai kapan??

 Membicarakan peristiwa La Nina selalu menarik perhatian mengingat dampak yang terjadi akibat peristiwa alam ini pada kehidupan di muka bumi besar. Peristiwa yang terjadi di samudra Pasifik tropis ini untuk Indonesia mempunyai dampak peningkatan jumlah curah hujan mengingat biasanya wilayah perairan Indonesia menghangat sehingga awan konvektif banyak terbentuk. Ditambah lagi peristiwa konvergensi karena tekanan rendah yang terbentuk di wilayah Indonesia. Dari analisis terhadap apa yang disampaikan terkait ENSO dan DM oleh Biro Meteorologi Australia maka prakiraan/prediksi/ramalan kondisi cuaca dan musim di Indonesia dapat dibaca di sini.  Faktor ketidakpastian dalam prediksi tetap akan ada dan nilainya akan membesar seiring dengan bertambahnya waktu dan ruang ke depan. Tingkat resolusi model prediksi yang terus menerus diperbaiki  akan makin mengurangi ketidakpastian ini. 

Perubahan iklim tampaknya juga berpengaruh pada kejadian La Nina dan El Nino meskipun sejauh ini masih belum jelas bagaimana kaitannya. Namun histori dari ENSO tersebut menunjukkan bahwa selama perubahan iklim puluhan tahun terakhir terjadi hubungan atau korelasi yang positif. Kejadian ENSO meningkat seiring dengan peningkatan pemanasan global dan perubahan iklim. Mencairnya es di kutub yang makin cepat kejadiannya sehingga membawa pengaruh besar pada perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut harus dipandang sebagai bagian yang terintegrasi dalam sistem iklim yang memang sedang mengalami perubahan dan upaya natural bumi untuk menjaga kesetimbangannya. Bahwa ada yang percaya dari hasil penelitiannya perubahan iklim yang terjadi sampai tahun 2100 akan menyebabkan kiamat, hal itu sah-sah saja karena kajiannya berdasarkan saintifik. Namun bahwa ada yang meninjaunya dari sudut pandang agama, itupun juga sah-sah saja. Jangan dibentur-benturkan karena basis kajiannya berbeda. 

Wednesday, December 8, 2021

Akankah banjir lahar dingin Semeru terjadi lagi??

 Gunung Semeru yang Sabtu kemarin meletus mengakibatkan puluhan jiwa melayang dan kerusakan yang parah pada bangunan, pekarangan dan kebun serta infrastruktur yang lain di beberapa desa di sekitarnya. Jembatan juga terputus sehingga beberapa wilayah tertentu terisolasi. Hujan yang terjadi di puncak dan lereng gunung tersebut membawa lahar dingin ke bawah dan juga menambah dampak kerusakan di wilayah yang dilaluinya. 

Tinggi gunung yang 3676 meter merupakan salah satu gunung tinggi di Indonesia yang masih aktif. Seperti juga gunung-gunung lain yang masih aktif, banyak lahan subur yang diusahakan oleh penduduk. Ini karena material gunung api yang termuntahkan setiap kali erupsi atau eksplosi menyebabkan kandungan hara yang sangat dibutuhkan tanaman di tanah meningkat. Oleh karena itu tidak heran kalau banyak penduduk yang tinggal di wilayah gunung-gunung aktif mengusahakan lahan untuk tujuan pertanian dan peternakan. Temperatur dan kelembapan relatif yang ada di sekitar gunung api terasa nyaman dan menyehatkan bagi makhluk hidup khususnya manusia.

Situasi gunung Semeru saat ini dapat dilihat pada link berikut ini. Tampak bahwa angin menuju ke arah utara dengan kecepatan rendah. Bila terjadi kepulan asap saat ini maka kemungkinan besar akan menuju ke arah utara. Semoga Semeru segera mereda dan suasana kembali normal terjadi. Masih ada kemungkinan banjir lahar dingin (banjir bandang) terjadi mengingat puncak musim hujan belum terlampaui, oleh karena itu harus tetap waspada. Bukan tidak mungkin terjadi letusan gunung api di tempat lain mengingat beberapa waktu yang lalu gunung Merapi di Jateng juga batuk-batuk kecil. 

Sampai kapan bencana hidrometeorologi terjadi??

Bila ditanyakan sampai kapan artinya tidak dibatasi ruang dan waktu maka sebenarnya bencana hidrometeorologi akan selalu terjadi di dunia ini. Namun bila ditanyakan dalam musim hujan kali ini bencana hidrometeorologi (misalnya banjir, banjir bandang, siklon dst) maka berdasarkan analisis dari model prakiraan yang dikembangkan oleh BMKG dan BoM Australia menunjukkan hasil yang berbeda. Model yang dikembangkan oleh BMKG cenderung menyatakan bahwa sampai dengan bulan depan, baik kondisi ENSO maupun IOD, menunjukkan kondisi normal. Ini artinya bahwa tidak terjadi penyimpangan besar pada suhu permukaan laut baik di samudra Pasifik maupun di samudra Hindia. Pengaruh monsoon terasakan saat ini dengan adanya pusat tekanan rendah di belahan bumi selatan dan utara di samudra Pasifik. Di samudra Hindia khususnya di selatan Jawa ada siklon Teratai yang makin menjauhi wilayah kita. Di dekat Papua Nugini ada pusat tekanan rendah 93P dan di utara Papua ada 93W. Ini semua menyebabkan arah angin monsoon berbelok ke arah timur setelah melewati ekuator dari BBU dan ini banyak membawa uap air. Kalau kemarin (bahkan hari ini) di beberapa tempat terjadi banjir itu tidak lain karena terjadi superposisi dari pengaruh La Nina di samudra Pasifik, Dipole mode netral di samudra Hindia, dan monsoon Asia. Berikut ini adalah bukti bahwa di samudra Pasifik terjadi La Nina.

Terlihat bahwa terjadi anomali negatif suhu permukaan laut di samudra Pasifik di wilayah tengah dan timur ekuator, sedangkan di wilayah Indonesia relatif hangat. Madden Julian Oscillation sekarang sampai dengan akhir bulan ini masih belum memasuki wilayah Indonesia sehingga pengaruhnya pada curah hujan di Indonesia dalam kurun waktu tersebut relatif kecil. Seruak dingin (cold surge) mungkin juga turut berpengaruh. Berdasarkan prakiraan terkait ketiga hal di atas (ENSO, DM, dan monsoon) maka dapat dianalisis bahwa kemungkinan bencana hidrometeorologi akan berlangsung sampai akhir Pebruari 2022. Semoga saja tidak sampai banyak menimbulkan korban baik harta benda maupun nyawa manusia. Berikut ini link youtube webinar terkait kebencanaan yang dimaksud.  


Thursday, November 25, 2021

Pelatihan generasi muda pontren tentang kebencanaan

 Seperti telah disampaikan dalam blog ini beberapa waktu yang lalu, kegiatan pelatihan untuk generasi muda pondok pesantren dilakukan dalam rangka untuk mengerahkan segala potensi yang ada untuk mengcounter berita-berita hoaks yang terkait dengan kebencanaan. Hoaks bencana alam, non alam dan sosial memang saat sekarang masih ada saja yang tersebar  sehingga bila tidak segera dicounter maka bisa ditunggangi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab ataupun menjadikan pengetahuan masyarakat yang salah. Sebagai contoh berita tentang El Nino yang dianggap sebagai badai dan penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ada lagi misal ajakan kepada masyarakat untuk menaruh sebaskom air di halaman agar bisa menghasilkan awan dan hujan untuk mengatasi kekeringan. 

Untuk tahun ini kegiatan pelatihan dilakukan di pondok pesantren Tebu Ireng Jombang Jawa Timur dan diikuti oleh 40 orang peserta. Kegiatan serupa diharapkan dapat dilakukan di pondok pesantren lain di Jawa Tengah. Semoga sesuai dengan tujuan dilaksanakan kegiatan-kegiatan semacam ini akan makin banyak tersebar berita positif dan benar terkait dengan bencana kebumian.


Foto menunjukkan sebagian peserta pelatihan tersebut.


Monday, November 8, 2021

Akankah banjir merupakan peristiwa sehari-hari di musim hujan ??

 Kali ini, menjelang puncak musim hujan telah terjadi banjir di beberapa tempat di Indonesia. Di Jawa Timur ada banjir bandang khususnya di kota Batu. Kemarin banjir juga melanda wilayah pusat ibukota negara kita, Jakarta., sekarang belum surut. Sebenarnya sudah bisa ditebak, jika telah mulai masuk musim hujan maka pasti terjadi surplus air di Jakarta yang merupakan dataran rendah seperti juga sudah disampaikan beberapa waktu yang lalu di blog ini. Langkah-langkah penanggulangannya juga sudah disampaikan. Yang penting harus dilakukan secara konsisten dengan lebih banyak melibatkan masyarakat pada berbagai macam skala ruang dan waktu dalam proses pembangunan. Yuk  bantu pemerintah menangani berbagai masalah keseharian masyarakat agar masyarakat merasa nyaman dan tenang, tidak waswas misalnya pada musim hujan seperti saat ini. Tunggu tulisan berikutnya ya.

Sunday, October 31, 2021

Pelatihan guru geografi Indonesia: nantikan lagi tahun depan

 Sebagai kelanjutan dari pelatihan para guru geografi se pulau Kalimantan bulan Juni yang lalu, maka pada tanggal 18 sampai 22 Oktober 2021 dilakukan pelatihan serupa. Mengingat saat tersebut telah dibuka pertemuan tatap muka sekolah maka peserta silih berganti setiap harinya. Dari pendaftar sejumlah 167 guru, yang aktif dalam satu hari sekitar 50 an peserta. Mengingat pula agar tidak timbul kecemburuan guru dari wilayah lain yang bukan binaan, maka pelatihan ini dibuka untuk para guru seluruh Indonesia. Berikut ini sebagian peserta yang mengikuti pelatihan. Semoga mereka mendapat manfaat yang berarti bagi peningkatan kualitas guru geografi. 





Wednesday, June 30, 2021

Peningkatan kualitas guru geografi SMA se pulau Kalimantan

  Pada tanggal 28 dan 29 Juni 2021 dilaksanakan kegiatan pelatihan guru geografi se pulau Kalimantan yang diikuti oleh 72 orang guru SMA seperti yang tertera dalam daftar peserta dalam link berikut ini.

https://docs.google.com/forms/d/1V3_eRzqxK9wR7V7m1vTkwiQ8oQr6QiHDHs6AjCHxvco/edit?ts=60cb1902#responses

Pembukaan dilakukan oleh ketua Panitia pelatihan yakni Dr. Joko Wiratmo yang memaparkan kenapa perlu dilakukan pelatihan tersebut. Pertimbangannya adalah sebagai berikut. Guru SMA harus ditingkatkan kualitasnya dalam belajar mengajar, khususnya bidang geografi. Hal ini karena perkembangan yang cepat dalam bidang geografi baik menyangkut aspek fisik (iklim, pertanian, geodesi, kebencanaan, dll) maupun sosialnya (ekonomi, kependudukan, dll). Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat seringkali tidak dapat diikuti dengan baik oleh para guru karena berbagai prinsip dasar yang belum diketahui dengan baik. Sumber informasi memang banyak terdapat di dunia online, namun tanpa kehadiran seorang pengajar, rata-rata sulit untuk mengikuti materi geografi dengan baik seperti juga dialami oleh para siswa sekolah berbagai level pendidikan. Di sisi lain, Kalimantan yang diproyeksikan sebagai pusat dimana ibukota negara terletak, membutuhkan sumber daya lokal yang mumpuni. Kebutuhan sumber daya manusia unggul sangat bertumpu pada kemampuan generasi mudanya. Sayangnya bukti SDM unggul dari pulau Kalimantan tidak terwujud misal dalam kegiatan olimpiade/kompetisi sains nasional (OSN/KSN) dimana propinsi-propinsi dari Kalimantan selalu menempati urutan menengah ke bawah. Dalam bidang geografi, selama lebih dari 7 tahun pelaksanaan OSN/KSN, baru satu orang yang masuk dalam pelatihan nasional (pelatnas) tahun 2017 dan gugur pada pelatnas pertama. Ini tentu tidak lepas dari peran guru geografi di sekolah-sekolah menengah atas semua propinsi di Kalimantan. Padahal kecintaan kepada tanah air dan bangsa bisa ditumbuhkan dari pendidikan geografi yang ditularkan dari mulai lingkungan sekolah. Hal ini tidak lepas dari peran para guru dalam membimbing siswanya. Berbagai keluhan yang disampaikan oleh para guru geografi kepada kami dalam berbagai kesempatan tentang keinginan mereka untuk maju dan berkembang serta dengan pertimbangan tersebut di atas maka sangat diperlukan adanya tutorial bagi para guru geografi sepulau Kalimantan agar kualitas mereka meningkat dari waktu ke waktu. Ini sekaligus juga memetakan sebaran kualitas guru di pulau Kalimantan sehingga bisa ditindaklanjuti. Pelatihan ini dilaksanakan secara multi year agar dampaknya bisa dirasakan oleh para guru dan siswa di wilayah binaan pulau Kalimantan. Sebagai langkah antisipatif terhadap Covid-19 maka untuk tahun pertama dilakukan secara daring.

Materi pelatihan sendiri dapat dilihat pada link-link berikut ini. Pembukaan disajikan dalam https://drive.google.com/file/d/1LzttGLRWteV97zgj93i_EVvw_tIplaOF/view?usp=sharing

Dokumentasi https://drive.google.com/drive/folders/13mWgk_eC2w7v_COo8xOeuhuaal2hdfBk?usp=sharing

Pemateri Hari Pertama terdapat dalam link  https://drive.google.com/file/d/1fQOV5IccwJHpNkPYpE-ud2nWcnIwrv_v/view?usp=sharing

Pemateri Hari Kedua  dapat ditemukan dalam link  https://drive.google.com/file/d/1oPCUZKYZBN-AdDC8ih7XTi-jbikXvWO8/view?usp=sharing

 

Tuesday, April 6, 2021

Perkuat jaringan observasi dan tingkatkan SDM

 Kemarin malam kami berdiskusi dengan beberapa kolega dari instansi pemerintah seperti LAPAN dan BMKG serta PT meskipun tidak mewakili lembaga-lembaga tersebut secara resmi. Bincang-bincang santai meskipun yang dibicarakan adalah permasalahan yang sangat serius yakni mengenai peristiwa banjir di Nusa Tenggara Timur. Kami bicara tentang siklon tropis yang terbentuk sampai dengan hari ini dan menurut Badan Meteorologi Australia akan makin menjauh dari wilayah Indonesia dan meluruh di arah barat laut dekat Australia. Siklon Seroja, itu nama yang diberikan BMKG atas siklon yang terbentuk di wilayah Indonesia tersebut. Seperti mungkin anda sudah ketahui, Indonesia mempunyai wewenang untuk memberikan nama pada siklon yang terbentuk di sebelah lintang selatan wilayah Indonesia. Kami memperbicangkan bagaimana siklon tersebut terbentuk, bagaimana kemungkinan perkembangannya, dan bagaimana cuaca dan musim dalam beberapa waktu ke depan. Siklon terbentuk jika syarat Palmer terjadi yakni jika suhu permukaan lautnya lebih dari 26,5oC dimana ini terjadi di wilayah tropis sehingga kelembapan atmosfer tinggi dan perawanan konvektif terbentuk (dalam hal ini awan-awan Cumulonimbus). Skala untuk menggambarkan siklon ini adalah skala Saffir Simphson. 

Berbagai dampak kejadian siklon tropis Seroja tersebut sudah banyak didengar, dilihat dan dibaca dari media massa baik cetak maupun elektronik serta media sosial berantai. Perbincangan selain menyangkut aspek atmosfer, juga mencakup aspek daratan dimana kemungkinan lingkungan juga rusak meskipun harus dilihat faktualnya seperti apa. Hujan tinggi yang terjadi di wilayah Florest Timur yang mencapai 154 mm sementara di sekitarnya jauh lebih kecil menunjukkan bahwa wilayah tersebut merupakan wilayah dekat dengan dinding mata siklon. Meskipun angka ini masih dirasa kecil dibandingkan kejadian curah hujan yang menyebabkan banjir di Jakarta tahun lalu. 

Beberapa hal yang akhirnya kemudian menjadi rekomendasi dari kami adalah peningkatan kualitas SDM bidang meteorologi yang mendukung pada peningkatan kualitas layanan meteorologi dan klimatologi, memperkuat jaringan pengamatan baik menggunakan satelit, radar, maupun automatic weather station (AWS). Selain itu juga mendorong keberanian BMKG untuk menyampaikan informasi (early warning system, EWS) secara lebih akurat agar masyarakat makin menyadari bahwa memang wilayah Indonesia merupakan supermarket bencana alam. Kerjasama dengan negara lain (misal dengan Australia) juga didorong untuk meningkatkan kualitas layanan EWS. 

Thursday, March 25, 2021

Webinar Hari Meteorologi sedunia

Webinar ini dilaksanakan dalam rangka memperingati hari Meteorologi Sedunia yang jatuh pada tanggal 23 Maret 2021. Tahun ini tema yang diangkat adalah The Ocean, Our Climate and Weather. Silahkan mendaftarkan diri dalam webinar ini. Gratis. Pelaksanaan pada Minggu, 28 Maret 2021 jam 14 WIB sampai dengan selesai. Pendaftaran bisa dilakukan sampai dengan hari Sabtu, 27 Maret 2021 jam 23.59 WIB via link: bit.ly/webinarmeteo           
Disediakan e-sertifikat. 


Ditunggu kedatangannya ya. Salam hangat untuk kita semua.

 

Tuesday, March 23, 2021

Hari Meteorologi Sedunia: meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan

 Hari ini merupakan hari Meteorologi sedunia yang diperingati oleh berbagai negara di dunia ini dengan beragam cara. Tema peringatan tahun ini adalah "Lautan, iklim dan cuaca kita" yang mengingatkan kepada kita peran dari lautan pada iklim dan cuaca dunia. Kita mengetahui bahwa antara hidrosfer dan atmosfer mempunyai konektivitas yang demikian kompleks sehingga mewarnai kehidupan di muka bumi. Interaksi sub-sub sistem iklim yang terdiri dari hidrosfer, atmosfer, lithosfer, kriosfer, biosfer dan humanosfer yang membentuk ikatan dan interaksi yang demikian kompleks sangat dipengaruhi oleh keberadaan matahari yang ada di luar sistem bumi. Tanpa adanya radiasi matahari, tidak mungkin sistem iklim di bumi seperti saat ini. 

Dari tema di atas terlihat betapa pentingnya lautan akan masa depan iklim di muka bumi. Statement dari WMO (World Meteorological Organization) dan bahkan Perserikatan Bangsa Bangsa adalah bahwa laut merupakan masa depan umat manusia. Terlihat bahwa para ahli meteorologi dan negara-negara di seluruh dunia sepakat memandang penting keberadaan laut di tengah-tengah kita. Tanpa lautan maka sistem iklim akan pincang dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam siklus hidrologi misalnya, sebagian besar penguapan berasal dari permukaan laut. Dengan luas lautan yang mencapai 70% permukaan bumi maka peristiwa yang terjadi di laut akan berdampak pula pada peristiwa di darat. Penguapan yang tinggi memicu terbentuknya perawanan yang bila didorong oleh angin menuju daratan maka bisa membentuk hujan orografis ketika membentur pegunungan. Dengan kata lain bila dari massa udara yang bertiup dari wilayah lautan ke arah daratan dan membawa cukup uap air untuk mengalami proses kondensasi di ketinggian atmosfer dekat pegunungan maka terbentuk awan-awan orografis yang notabene bisa menghasilkan efek Foehn pada sisi balik gunung (leeward). 

Peristiwa pembentukan awan-awan konvergensi pun juga dipengaruhi oleh keberadaan lautan. ITCZ yang merupakan zone dimana konvergensi di wilayah tropis terjadi merupakan faktor penting yang sangat berpengaruh pada cuaca dan musim serta iklim di suatu negara. Indonesia yang terletak di sekitar ekuator banyak dipengaruhi oleh sistem tekanan rendah ini. Gerak semu matahari yang memicu penguapan di suatu tempat (daratan dan lautan) akan menyebabkan adanya pergeseran dari wilayah ITCZ. Wilayah perawanan ini bergeser sesuai dengan gerak semu matahari.

Peristiwa cuaca ekstrim seperti siklon tropis terbentuk ketika salah satunya yakni syarat Palmer terjadi. Suhu permukaan laut harus lebih dari 26.5 derajat Celcius sampai kedalaman 60 meter. Ini hanya dimungkinkan terjadi di wilayah tropis. Beberapa syarat lain agar siklon tropis terjadi antara lain geser angin vertikal rendah, dan kelembapan cukup untuk terbentuknya ketidakstabilan yang besar di atmosfer khususnya pada ketinggian 5 kilometer. Sementara itu untuk wilayah lintang tengah pembentukan siklon luar tropis terjadi dipicu oleh keberadaan sistem frontal.

Pemanasan global yang disebabkan oleh meningkatnya gas-gas rumah kaca di atmosfer membawa dampak besar pada sub sistem di bumi. Mencairnya es di kutub sehingga permukaan air laut meningkat, merendam daratan di wilayah-wilayah kepulauan bahkan dikhawatirkan sepertiga dari wilayah Bangladesh bisa tenggelam bila suhu udara mengalami peningkatan beberapa derajat. Pemanasan global ini menyebabkan sistem iklim dunia berubah. Dengan kata lain pemanasan global yang diakibatkan oleh aktivitas manusia dan alam menyebabkan adanya perubahan iklim dunia. Inilah yang kemudian banyak disadari oleh para saintis, masyarakat umumnya dan para pemimpin dunia akan pentingnya menjaga lingkungan khususnya lautan agar tetap bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Langkah-langkah kecil namun pasti itu lebih baik daripada langkah besar namun tidak dilaksanakan, hanya sekedar wacana atau mimpi besar saja. Marilah mengambil bagian dalam upaya menyelamatkan makhluk hidup di muka bumi dengan mengambil sejumlah langkah baik kecil maupun besar bersama-sama. Bergandengan tangan di antara pihak pentahelix yakni pemerintah, swasta, perguruan tinggi, komunitas, dan media sangat diharapkan agar terlaksananya pembangunan yang berwawasan lingkungan sehingga dunia masih nyaman dan lestari. 

Tuesday, March 16, 2021

Hujan hari ini

 Kalau hari ini di tempat anda hujan cukup deras, khususnya di pulau Jawa, maka hal tersebut wajar mengingat perawanan cukup tebal terjadi sepanjang pulau Jawa. Hanya sebagian kecil yang tidak tertutup awan bahkan mungkin bebas sama sekali. Ini terlihat pada citra satelit berikut ini:

Sebagian wilayah Sumatera pun juga mengalami hujan demikian pula Kalimantan bagian selatan, sebagian Sulawesi dan Maluku serta Papua. Sebenarnya jika menilik pada kondisi angin yang umumnya relatif kalem (calm) maka hal tersebut wajar saja. Pembentukan awan-awan yang disebabkan oleh awan konvektif yang bercampur dengan awan konvergensi menyebabkan hal tersebut terjadi. Untuk wilayah di sekitar pegunungan juga pengaruh orografi cukup mendukung pembentukan awan hujan. Matahari yang makin mendekati ekuator (namun hari ini masih di selatan ekuator) mendorong perawanan juga makin menuju ekuator. Gangguan tekanan rendah di selatan sampai barat daya pulau Jawa yang terjadi beberapa waktu yang lalu sudah mereda dan ini lebih mendorong pada pergeseran awan yang makin menuju utara. Banjir yang terjadi hari ini di Gresik Jawa Timur diakibatkan oleh hujan deras yang terjadi sejak tadi malam. Oleh karena itu maka tidak boleh tidak, semua pihak harus waspada mengingat sampai dengan bulan April mendatang, bulan basah masih mendominasi wilayah Indonesia, seperti yang diramalkan oleh BMKG. Kalau melihat apa yang tertulis sebelumnya yang menunjukkan bahwa ENSO menunjukkan trend normal dan Indeks Dipole Mode yang menunjukkan nilai netral maka sekali lagi perlu ditegaskan bahwa kondisi saat ini lebih didominasi oleh pengaruh monsoon barat. Bila itu terjadi maka Oktober sampai Maret merupakan musim hujan dan April sampai September merupakan musim kemarau untuk yang mempunyai tipe curah hujan monsoonal. Sedangkan yang mempunyai pola curah hujan tipe ekuatorial yang berada di wilayah sekitar khatulistiwa akan mengalami puncak hujan sekitar bulan April dan Oktober sementara yang mempunyai tipe curah hujan lokal akan mempunyai puncak curah hujan sekitar Agustus. 


Thursday, March 11, 2021

Pola umum cuaca dan musim

 Prediksi berdasarkan kondisi ENSO (El Nino and Southern Oscillation) dan IOD (Indian Ocean Dipole) dapat disampaikan sebagai berikut. Selama bulan Maret 2021, kita telah melampaui puncak La Nina dan menuju kondisi netral demikian pula dengan Dipole Mode nya, hal ini bisa dilihat pada kedua link di bawah ini yakni http://www.bom.gov.au/climate/model-summary/images/ms_nino_07.png dan  

http://www.bom.gov.au/climate/model-summary/images/ms_iod_11.png . Ini berarti bahwa kondisi cuaca dan musim di Indonesia lebih dipengaruhi oleh aktivitas monsoon khususnya dalam hal ini diprediksi sampai bulan Juli. Dan itu berarti bahwa cuaca dan musim akan biasa-biasa saja.  Pada saat ini cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia dipengaruhi oleh angin barat sampai barat laut di belahan bumi selatan dan angin timur laut di belahan bumi utara. Ini menunjukkan bahwa bulan basah masih bisa terjadi, apalagi pada hari-hari ini berkembang pusat tekanan rendah di lepas pantai selatan Jawa, meskipun belum begitu masif yang ditunjukkan dengan belum kuatnya perawanan yang terjadi di wilayah tersebut. Di Nusa Tenggara juga terdapat angin barat daya yang berasal dari Australia yang bertemu dengan angin baratan dari benua Asia. Pola angin sangat terlihat pada wilayah perairan sedangkan di wilayah daratan agak mengalami pola acak akibat gesekan dengan permukaan daratan. Ini terdapat di semua pulau dimana angin permukaan tidak mengikuti betul pola angin umum seperti yang terdapat di atas permukaan laut, terutama di pulau-pulau besar. 

Monday, March 1, 2021

Kejar tayang ...

 Beberapa waktu ini terdapat kesan bahwa apa yang dipublish di media massa seperti kejar tayang, kurang begitu memperhatikan kevalidan data dan informasi. Mungkin ada juga peneliti yang tampaknya juga mengejar publikasi pokoknya berlomba-lomba memberikan keterangan kepada masyarakat tanpa begitu memperhatikan keakuratannya dan dampaknya kepada masyarakat. Pokoknya sudah seperti selebritis atau wartawan yang mengejar sensasi semu. Euforia demokrasi yang menjangkiti banyak pihak menyebabkan seolah seenak sendiri dalam memberitakan dan menyampaikan pendapat tanpa didasari kaidah ilmiah. Dalam kebencanaan misalnya, dengan menganggap bahwa peristiwa yang sama bisa berulang pada tempat yang sama maka seorang yang tidak berkompeten pada bidangnya akan mencari arsip dan pada tanggal tertentu terjadi bencana anu. Maka dengan mendaur ulang tanpa pertimbangan yang matang dia publish informasi tersebut sebagai berita terkini. Orang yang tidak teliti akan menganggap bahwa berita semacam itu baru saja terjadi (tidak melihat tanggal kejadian) sehingga bisa menimbulkan analisa-analisa atau bahkan tindakan yang tidak tepat. Pokoknya bersuara, itu sepertinya yang menjangkiti sebagian masyarakat kita. Padahal yang harus diingat bahwa peristiwa bencana tidak berlangsung secara eksak, misal pada tanggal tertentu tahun lalu atau beberapa tahun lalu, maka tahun ini akan terjadi peristiwa yang sama pada lokasi yang sama. Bumi mempunyai mekanisme sendiri dalam mengatur dirinya dalam mencapai kesetimbangan dan sulit untuk diprediksi dengan tepat kemauannya. Di sisi yang lain, wartawan yang merupakan salah satu garda depan dalam mengawal demokrasi dan rasa nasionalisme serta jiwa membangun, sering terjebak pada keberpihakan pada salah satu pihak, tidak merdeka dalam pemberitaannya. Prinsip kehati-hatian dalam pemberitaan akan mendorong pencapaian keadilan sosial lebih terjaga. 

Thursday, February 25, 2021

Bersiap terhadap bencana mendatang

 Dalam beberapa waktu ini telah terjadi bencana alam banjir di beberapa wilayah di Indonesia. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa telah terjadi banjir di wilayah Kalimantan Selatan yang merusak banyak sarana prasarana di propinsi tersebut akibat berbagai masalah lingkungan. Peristiwa banjir juga melanda Jakarta, Nganjuk (Jawa Timur), Pekalongan, Kudus dan Semarang (Jawa Tengah). Semuanya diakibatkan oleh curah hujan yang lebat, tidak tertampungnya air oleh saluran drainase, permasalahan kerusakan lingkungan akibat perubahan tata guna lahan dan perilaku masyarakat, Semoga peristiwa ini tidak berulang lagi dalam waktu mendatang mengingat curah hujan makin berkurang dari waktu ke waktu khususnya untuk wilayah yang mempunyai curah hujan monsoonal.

Di wilayah Sumatera Utara sudah mulai terjadi kebakaran hutan. Ini menunjukkan ada daerah-daerah yang sudah menginjak musim kemarau dan bila mengingat apa yang diramalkan oleh BMKG maka hal ini memang patut untuk diwaspadai dan ditindaklanjuti. Perhatikan gambar berikut ini:

Terlihat bahwa wilayah Indonesia yang berada di Utara ekuator diprakirakan pada dasarian ketiga bulan Pebruari ini sudah mengalami curah hujan yang rendah kurang dari 50 mm sehingga peluang dari terjadinya kering dan kekeringan meningkat. Kalau dilihat baru pada bulan Maret, April dan Mei 2021 terjadi El Nino lemah dan Dipole Mode menunjukkan arah menuju IOD positif maka kemungkinan kering meningkat dan menjadi bulan-bulan kering meskipun tidak ekstrim.


Sunday, January 17, 2021

Kita kurang ajar

  Kurang ajar ... kata itu sering disampaikan oleh orang tua kepada anaknya atau seseorang kepada orang lain yang melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan atau menyinggung perasaan. Sering diartikan pula sebagai umpatan terhadap seseorang. Tapi maksudnya dalam hal ini adalah "kurang belajar" ... kita kurang belajar dari teori atau praktek yang sudah berlangsung beberapa waktu atau jauh-jauh hari sebelumnya. Misalnya dari kasus longsor. Longsor terjadi pada area yang memiliki kelerengan tertentu, penguat tanah tidak berfungsi dengan baik (vegetasi), karakteristik tanah (tekstur dan struktur) yang memudahkan hujan menggerus dan membawa tanah ke tempat lain atau lebih rendah atau sebab gempa. Lingkungan yang rusak  ditandai dengan kondisi kalau musim hujan banjir atau longsor sedangkan saat musim kemarau kekeringan serta sedikitnya/berkurangnya jumlah mata air yang ada. Siklus hidrologi pada berbagai skala menjadi berubah dan makin menyulitkan memperoleh air bersih secara alami merupakan tanda-tanda alam yang sudah selayaknya untuk dipahami dan dibaca serta ditindaklanjuti bahwa alam sudah mengalami kerusakan.

Pembangunan infrastruktur yang tidak terkendali dan penataan ruang yang tidak terkontrol merupakan sebab lain yang cukup besar pengaruhnya pada bentang alam dan siklus hidrologi. Perhatikan gambar berikut ini yang menunjukkan bahwa luas hutan dari waktu ke waktu mengalami pengurangan yang sangat signifikan. Kebakaran hutan dan lahan, konversi hutan menjadi lahan pertanian dan perkebunan, penebangan liar dan kalahnya laju penghijauan kembali dengan laju kerusakannya merupakan penyebab yang sampai sekarang belum mendapatkan porsi perhatian yang lebih dari semestinya. cmiiw


Menyimak dari gambar tersebut maka wajar bila seandainya di Kalimantan akan makin sering terjadi banjir di wilayah-wilayah yang selama waktu sebelumnya belum pernah mengalaminya. Bila tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin bencana alam akan merupakan langganan bagi mereka yang menghuni kawasan tersebut. 

Mari belajar dari pengalaman dan mengambil langkah konkrit dalam mengupayakan agar kawasan pulau Kalimantan dan pulau-pulau lain di Indonesia tidak menjadi langganan bencana alam. 

Monday, December 28, 2020

Bencana nasional 2020

 Akhir tahun 2020 ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis berita bahwa selama kurun waktu satu tahun ini telah terjadi 2921 bencana alam di seluruh tanah air dimana 1064 kejadiannya berupa bencana alam banjir. Jadi lebih dari sepertiga bencana alam berupa banjir. Ini tentu saja peristiwa yang tidak mengenakkan dan menyengsarakan bagi masyarakat terdampak. Rinciannya adalah 16 gempa bumi, 7 letusan gunung api, 326 kebakaran hutan dan lahan, 29 kejadian kekeringan, 570 kejadian tanah longsor, 872 putting beliung, 32 gelombang pasang dan abrasi dan kejadian non alam yakni pandemi Covid-19 dimana sampai dengan hari ini kecenderungan jumlah penderitanya bertambah. Sebanyak 713.365 orang terkonfirmasi terkena Covid. Lebih dari 21 ribu jiwa meninggal dunia dengan tingkat kesembuhan mencapai lebih dari 580 ribu orang.

 

Urutan kejadian bencana alam didominasi oleh Sumatera, diikuti oleh Jawa, Kalimantan dan Papua. Kerusakan total fasilitas public mencapai 1543 unit dimana 672 buah di antaranya berupa fasilitas pendidikan, 728 fasilitas ibadah dan 143 fasilitas kesehatan. Lebih dari 6 juta jiwa mengungsi dan 370 jiwa meninggal dunia, 39 hilang dan luka-luka sebanyak 356 orang.