Beberapa hari yang lalu, dalam kuliahku ada pertanyaan menarik tentang lokasi turunnya salju di Arab Saudi beberapa waktu yang lalu yang mengingatkanku pada hal yang lebih umum sifatnya. Hal tersebut adalah mengenai pergeseran zone konvergensi dan divergensi dunia. Pada umumnya wilayah ekuator dan kurang lebih lintang 60 derajat baik utara maupun selatan merupakan zone konvergensi sedangkan zone divergensi di permukaan terjadi pada lintang 30 derajat dan kutub. Naik dan turunnya massa udara pada wilayah tersebut sangat berpengaruh pada pembentukan awan-awan. Pada lokasi naiknya massa udara bila disertai dengan banyaknya uap air yang terkandung akan menyebabkan mudahnya terjadi pembentukan awan-awan. Berbeda halnya bila terjadi subsidensi dimana tekanan udara di permukaan tinggi yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan awan. Wilayah Indonesia merupakan wilayah pertumbuhan awan khususnya awan konvektif karena tingginya radiasi yang sampai di permukaan dan ditambah lagi dengan merupakan wilayah konvergensi yang membentuk awan-awan. Selain itu juga banyaknya pegunungan memberi kemungkinan terbentuknya awan orografis dan efek lokal lainnya seperti angin darat dan laut juga berkontribusi pada pembentukan awan. Sedangkan wilayah di 30 derajat lintang yang merupakan wilayah perbatasan zone tropis dan sub tropis seperti yang terjadi di Arab Saudi merupakan zone divergensi. Perlu diketahui bahwa Arab Saudi terletak antara lintang 15 sampai 32 derajat utara yang menyebabkannya mempunyai kawasan tropis dan sub tropis. Oleh sebab itu wilayah Tarbuk misalnya, biasa mengalami musim dingin yang berbeda dengan Mekkah dan Madinah. Terbentuknya salju di wilayah Tarbuk sudah bukan hal yang luar biasa namun kejadian serupa yang mencapai perbatasan Medinah dan Mekkah merupakan kejadian yang agak luar biasa. Terdapat tiga penyebab yang mungkin menghasilkan kejadian tersebut yakni terbentuknya gelombang dingin, pengaruh gelombang Rossby, dan perbedaan tekanan yang tinggi antara Arab Saudi dan kutub. Kejadian-kejadian terbentuknya salju di padang pasir tersebut bersamaan kejadiannya dengan keberadaan matahari di selatan ekuator, misalnya bulan Januari. Jadi merupakan hal yang wajar jika di belahan bumi utara sebagian besar mengalami musim dingin. Namun bila kejadiannya bulan Mei seperti tahun lalu, hal ini menjadi luar biasa. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa hal tersebut bisa terjadi? Interaksi ketiga hal yang telah disebut di atas mungkin adalah jawabannya. Tapi bagaimana mekanismenya? Interaksi yang kompleks di antara ketiganya dan bergesernya zone divergensi mungkin menyebabkan terbentuknya awan-awan jenis stratus yang berpotensi menghasilkan hujan salju. Aku duga demikian. Oleh karena itu, kutunggu masukan dan kritikan kalian semua terhadap informasi yang kusampaikan di atas. Terimakasih.
Obyektif, Independen, Sportif, Berpikir Positif, Berjiwa BESAR
Friday, February 5, 2016
Friday, January 22, 2016
Sesuaikan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan dengan kondisi cuaca dan musim
Sudah menjadi kebiasaan kita bahwa perencanaan dan pelaksanaan pembangunan tidak sesuai dengan cuaca
dan musim pada saat itu. Dana pembangunan biasanya turun pada saat-saat
menjelang pertengahan bahkan akhir tahun. Ketika sudah akhir tahun, sibuk
dengan berbagai kegiatan yang dipaksakan untuk dilaksanakan agar dana tidak
hangus. Itu kalau kita mau jujur. Semua instansi pemerintah melakukan hal
tersebut. Ini sebenarnya membuktikan bahwa tidak ada perencanaan yang matang
dalam mengelola penggunaan dana pembangunan. Celakanya lagi ketika
pembangunan infrastruktur dilaksanakan seringkali memasuki musim hujan
khususnya bagi daerah-daerah yang bertipe curah hujan monsoonal. Hal ini tidak
saja membuat pembangunan tidak efektif dan efisien namun juga membentuk
karakter asal jadi sehingga keluarlah ilmu kepepet dimana semua dipercepat pada
akhir tahun tidak begitu memperdulikan kualitas hasil.
Negara kita adalah
Negara tropis yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai
pulau Rote. Merupakan wilayah kepulauan yang indah yang berada di antara
samudra Hindia dan Pasifik, antara benua Asia dan Australia. Mengalami
pemanasan sepanjang tahun (12 jam/hari) dengan suhu yang cukup tinggi,
kelembapan tinggi, dan tekanan yang rendah serta mengalami sirkulasi Hadley,
Walker dan lokal. Kombinasi berbagai faktor inilah yang menyebabkan wilayah
kita mempunyai perawanan (awan-awan) vertical
yang terbesar di dunia, mengalahkan yang berada di atas Amerika Selatan
dan Afrika tropis. Keberadaan transfer panas melalui udara inilah yang turut
menyumbang pada pola cuaca di belahan bumi berlintang lebih tinggi. Boleh
dikatakan bahwa Indonesia merupakan jantungnya cuaca , musim dan iklim global.
Keberadaan wilayah kontinen maritim ini membawa pengaruh pada terbentuknya
osilasi dan gelombang di atmosfer yang bisa berdampak global.
Gerak semu matahari di
antara lintang 23,5o LU sampai dengan 23,5o LS memberi
pengaruh nyata pada pembentukan pola curah hujan di tanah air. Kita mengenal 3
pola curah hujan yakni monsoonal, ekuatorial, dan lokal. Pola monsoonal
ditandai dengan tingginya curah hujan selama Desember-Januari-Pebruari dan rendahnya curah hujan selama bulan
Juni-Juli-Agustus. Dengan kata lain, bentuk monsoonal ini bila diplot antara
besarnya curah hujan dan waktu (bulan) maka menyerupai bentuk huruf V. Pola
ekuatorial ditandai dengan bentuk plot yang menyerupai huruf M dimana bulan
Maret-April-Mei dan September-Oktober-November curah hujannya tinggi dibanding
bulan-bulan lainnya. Sedangkan tipe curah hujan lokal ditunjukkan dengan pola
yang berkebalikan dengan pola monsoonal. Umumnya wilayah Indonesia bertipe
curah hujan monsoonal diikuti oleh tipe ekuatorial dan paling sedikit yang
bertipe lokal. Area dari tipe curah hujan monsoonal adalah sebagian besar
Sumatera khususnya bagian selatan, seluruh Jawa sampai Nusa Tenggara,
Kalimantan bagian Selatan, sebagian besar Sulawesi, dan Papua bagian tengah.
Pola ekuatorial membentang di sekitar ekuator/katulistiwa dari barat sampai
timur sedangkan pola lokal banyak terjadi di wilayah sekitar pegunungan.
Dengan kondisi semacam
di atas sudah seharusnya hal tersebut diperhitungkan dalam perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan. Di antara sekian banyak parameter cuaca dan iklim maka
curah hujanlah yang paling terlihat dampaknya. Negara-negara di lintang tengah
dan tinggi seluruhnya mempertimbangkan cuaca dan musim dalam keseharian
aktivitas pembangunan. Pada saat musim dingin praktis semua pembangunan
infrastruktur luar ruangan dihentikan sedangkan pada saat musim panas semuanya
dipercepat. Kita kurang belajar dari pengalaman Negara-negara lain tersebut.
Tidak heran kalau pembangunan infrastruktur sering boros anggaran. Seharusnya
dengan 3 tipe hujan tersebut maka ada 3 tipe penganggaran.
Sebenarnya pihak yang
berwenang untuk mengeluarkan ramalan musim (BMKG) telah jauh-jauh hari
mengumumkan ramalannya. Ramalan cuaca bahkan setiap hari disampaikan dalam
media masa cetak dan elektronik. Masyarakat pun diberi keleluasaan untuk
mendapatkan informasi cuaca gratis melalui situs yang dimilikinya. Namun
sayangnya informasi yang diberikan tersebut belum mendapatkan perhatian serius
dari pemerintah dalam semua kegiatan pembangunan. Hanya beberapa instansi saja
yang sudah cukup melek (sadar) akan
pentingya informasi cuaca, musim dan iklim (cusiklim) sedangkan yang lain
kurang begitu peduli. Barangkali BMKG belum menyuguhkan informasi yang bisa
dicerna oleh instansi-instansi tersebut untuk operasional kesehariannya. Bisa
pula disebabkan oleh kasarnya resolusi informasi yang diberikan, dengan kata
lain keakuratannya masih kasar karena mencakup daerah yang luas sementara yang
dibutuhkan adalah yang beresolusi tinggi. Dengan sumber daya manusia yang sudah
makin meningkat namun dengan dukungan instrument dan super computer yang belum
memadai menyebabkan belum optimalnya ramalan yang diberikan.
Sebenarnya dengan
sedikit memodifikasi lembaga semacam BMKG ini maka akan diperoleh hasil yang
optimal. Kebijakan-kebijakan yang mengekang dan membatasi terhadap keterbukaan
data seharusnya dihilangkan. Negara-negara maju banyak menganut sistem “open
data” dimana masyarakat luas dapat mengakses data cuaca dan iklim dengan sangat
mudah. Hal ini berbeda dengan di Negara kita dimana kebijakan/peraturan
perundang-undangan membatasi masyarakat luas untuk memperoleh data. Bahkan
dikeluarkan keppres untuk mengatur harga data. Seharusnya sudah kewajiban
pemerintah untuk mengalokasikan dana bagi “data collecting, processing and
analyzing” yang dilakukan oleh BMKG. Masyarakat yang menggunakan data BMKG
seharusnya cukup dengan mencantumkan bahwa sumber data adalah dari BMKG, misal
dalam makalah-makalah yang ditulisnya. Ini tidak saja merupakan sosialisasi
peran BMKG dalam pembangunan namun juga pelibatan masyarakat dalam peningkatan
mutu layanan kepada masyarakat melalui kegiatan penelitian.
Penelitian-penelitian yang baik akan menunjang pada peningkatan kualitas
layanan informasi cuaca, musim dan iklim sehingga akan terjadi proses simbosis
mutualisma (saling menguntungkan). Sudah saatnya peraturan/keppres tersebut
dicabut.
Kejadian kebakaran
hutan dan lahan tahun 2015 kemarin sudah seharusnya membuka wawasan, cakrawala
berpikir pemerintah dan masyarakat akan begitu pentingnya informasi cuaca,
musim dan iklim. Bila sejak awal pemerintah menyadari pentingnya informasi
cusiklim tersebut maka kejadian kebakaran hutan dan lahan kemarin tidak akan
terlalu parah. Usaha yang dilakukan pemerintah seperti water bombing dan hujan buatan oleh UPT hujan buatan BPPT akan
lebih efektif dan efisien. LAPAN, BMKG, Departemen LHK, BNPB, dan TNI bisa
lebih focus dan tidak saling tunggu komando, apalagi kalau sudah menyangkut
anggaran yang cukup riskan pertanggungjawabannya. Pada saat kunjungan kerja ke
Sumatera Selatan pada saat itu Bapak Presiden tampaknya juga kurang memperoleh
pemahaman yang utuh tentang cusiklim sehingga dengan sangat yakinnya menyatakan
dalam satu pekan kebakaran hutan dan lahan akan teratasi. Semoga saja hal ini
tidak terjadi lagi.
Selain masalah “open
data” di atas, pemerintah harus menambah resolusi spasial dan temporal untuk
data cusiklim dengan mempercanggih teknologi pengumpulan data misalnya dengan
mengotomatisasikan pengambilan data cuaca, penyimpanannya, dan pengolahannya.
Dengan perbanyakan AWS (automatic weather station) di seluruh wilayah tanah
air, katakanlah satu kota mempunyai
10 AWS saja maka resolusi spasial
bisa ditingkatkan dengan signifikan. Meskipun kita mendapatkan citra satelit
namun hasilnya masih harus dikalibrasi dengan data pengamatan permukaan, misal
dengan AWS ini. Industri instrument meteorologi dan klimatologi juga akan makin
berkembang dengan penerapan alat-alat meteorologi dan AWS di seluruh tanah air,
tidak lagi berorientasi impor. Bahkan mungkin akan banyak software-software
produk lokal yang mampu memproses data cusiklim dengan akurat, dan banyak
dampak positif lainnya.
Pelibatan masyarakat dalam pengumpulan data dan informasi kejadian cuaca akan juga sangat penting.Berbagai sarana komunikasi bisa dilakukan, misal melalui sms, fb, twitter, telepon dll. Ini tidak saja akan memperbaiki resolusi spasial dan temporal, namun juga meningkatkan kecintaan masyarakat akan pentingnya data dan informasi cusiklim. Semoga saja hal-hal di atas membuka pemikiran para pengambil
kebijakan demi kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat.
Friday, January 15, 2016
Pertanyaan-pertanyaan tentang El Nino dan La Nina
Sidang pembaca yang budiman ... saya diminta oleh Penerbit ITB untuk memperbarui buku kecil saya "Sudah benarkah pemahaman Anda tentang El Nino dan La Nina?" yang saya tulis tahun 1998. Berkaitan dengan hal tersebut, saya minta bantuan kalian untuk mengajukan berbagai pertanyaan kepada saya terkait dengan El Nino dan La Nina. In sya allah saya akan jawab melalui buku yang akan diterbitkan tahun 2016.
Kunanti ya di: joko.wiratmo@meteo.itb.ac.id
Salam hangat penuh semangat dariku di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.
Kunanti ya di: joko.wiratmo@meteo.itb.ac.id
Salam hangat penuh semangat dariku di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.
Media masa sangat dibutuhkan untuk ...
Saat sekarang ini peran media masa sangat meningkat tajam. Semua berita baik menyangkut kegiatan politik, ekonomi, sosial kemasyarakatan, pertahanan dan keamanan dan lain-lain sudah merupakan sajian sehari-hari dan tidak mengenal waktu. Dari mulai pagi hari, siang, sore, malam bahkan dini hari kita terpapar oleh segala macam berita baik dari media cetak maupun elektronik. Sayangnya kadangkala (atau bahkan mungkin terlalu sering) sisipan-sisipan pesan dari pemilik media terpampang luas di depan mata. Bukan hal sulit untuk membuktikan adanya pertentangan arus antara pihak media yang pro pemerintah dan yang kontra pemerintah. Di media sosial seperti twitter dan facebook juga banyak bertebaran pendapat atau berita antara pendukung dan yang kontra. Ini semua adalah berkah dari efek globalisasi dan keterbukaan informasi di negara kita. Jarang ada orang yang ditangkap karena pendapat-pendapat pribadinya yang menyudutkan pihak tertentu. Meskipun demikian sudah merupakan hal yang wajar jika media masa tidak malah mengompori suatu kasus tertentu namun harus lebih bertanggungjawab atas segala isi yang disampaikan kepada masyarakat. Masyarakat juga seharusnya kritis terhadap berita yang beredar.
Dalam dunia ilmu pengetahuan, teknologi dan seni peran media ini juga sangat dibutuhkan. Ilmu dan teknologi kebumian sangat penting perannya dalam memahami tentang kondisi bumi dan perilakunya. Bencana alam yang sering terjadi di bumi Indonesia dan belahan bumi lainnya seringkali tidak diberitakan dengan baik karena keterbatasan sudut pandang para awak media. Dengan latar belakang yang sangat beragam, maka sulit untuk para awak media mampu mengemas berita tentang bencana alam dengan manis dan kaya informasi. Substansi berita jauh lebih sering memberitakan aspek-aspek sosialnya, bukan masalah bencana alam itu sendiri. Tidak salah memang hal seperti disebut di atas, namun bila aspek-aspek bencana alamnya juga turut dikupas maka masyarakat bisa tercerdaskan dan bisa turut berperanserta dalam mitigasi dan adaptasi terhadap kemungkinan bencana alam serupa terjadi. Oleh karena itu maka pendidikan dan pelatihan untuk awak media sangat diperlukan untuk meningkatkan kemasan berita yang kaya informasi tentang suatu peristiwa bencana alam. Konsultasi dengan para pakar yang didukung oleh pemahaman wartawan yang lebih baik tentang fenomena bencana bisa mengurangi kesalahan dalam pemberitaan.
Saturday, January 9, 2016
Negeri tanggap bencana
Wilayah Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai pulau Rote terletak pada kawasan yang rawan bencana alam, baik dari pengaruh dari dalam bumi maupun dari luar permukaan bumi. Istilah geofisik yang keren untuk itu adalah dalam kawasan "rings of fire". Terletak di wilayah retakan-retakan antara lempeng benua dan lempeng samudra yang sangat aktif. Gempa bumi baik akibat gunung api meletus maupun gempa tektonik merupakan peristiwa yang sudah biasa terjadi dan sering menimbulkan kerusakan hebat. Akhir-akhir ini tsunami juga sering terjadi mengingat sesar turun atau naik yang terjadi di patahan-patahan tersebut pada kedalaman episenter kurang dari 10 km yang mempunyai skala Richter lebih dari 5. Peristiwa di atas permukaan bumi tidak kalah serunya. Imbas dari siklon baik di Australia maupun di Philippina sering menyebabkan ombak besar yang sangat mengganggu aktivitas nelayan dan pelayaran baik di wilayah selatan maupun utara negeri. El Nino di samudra Pasifik juga mempunyai dampak yang kurang baik bagi musim di Indonesia. Kekeringan sering terjadi khususnya untuk wilayah yang berpola curah hujan monsoon. Kebalikan dari El Nino adalah peristiwa La Nina yang sering membawa dampak peningkatan curah hujan di tanah air. Banjir, longsor dan banyaknya petir sering mengiringi kejadian La Nina di samudra Pasifik tropis ini. Kombinasi kejadian El Nino dengan Dipole Mode positif akan lebih memperparah kejadian kekeringan di tanah air yang bisa memicu dan memperparah kejadian kebakaran hutan. Sedangkan bila terjadi La Nina dan Dipole Mode negatif maka peluang peningkatan curah hujan yang besar meningkat tajam. Oleh karena itu sudah sewajarnya bila pemerintah kita tanggap akan bencana-bencana yang sering terjadi ini. Penguatan kelembagaan yang terkait dengan bencana alam ini harus makin ditingkatkan dan sosialisasi serta pendidikan publik terkait dengan hal ini juga harus dilaksanakan sejak usia dini. Kesadaran semacam ini sudah harus dibangun melalui pendidikan formal dan non formal, melalui semua media yang dapat menjangkau masyarakat luas baik di perkotaan maupun tempat-tempat terpencil. Bila hal ini bisa terwujud maka kerugian harta benda dan jiwa akan bisa diminimalisir. Alat-alat early warning system terjaga dari kerusakan dan dari tangan-tangan jahil sehingga ketika saat digunakan dapat berfungsi dengan baik. Sering tidak begitu disadari bahwa kita mampu mengadakan dan membangun sistem peringatan dini namun tidak mampu merawatnya. Sekali lagi, penyadaran masyarakat akan pentingnya alat-alat ini juga harus dibangun. Tanpa keterlibatan aktif mereka, hampir mustahil tujuan mulia tanggap bencana alam akan tercapai.
Wednesday, January 6, 2016
Sudah saatnya ada keterbukaan akses data cusiklim di Indonesia
Menarik mengamati dan memperhatikan jawaban para mahasiswa dalam ujian kuliah Meteorologi Tropis yang saya ajarkan. Salah satu pertanyaan yang saya ujikan adalah tentang apa yang sebaiknya pemerintah lakukan agar informasi cuaca, musim dan iklim (cusiklim) mendapatkan perhatian serius dalam proses pembangunan. Masih disadari bahwa informasi cusiklim ini merupakan informasi yang tidak diperhatikan serius dalam proses pembangunan sehingga banyak terjadi pemborosan anggaran. Ambil contoh misalnya pembangunan infrastruktur luar ruangan seperti jalan raya, jembatan, rel kereta api, bandar udara, pelabuhan dan lain-lain yang sering tidak mempertimbangkan masalah cusiklim. Keterlambatan pencairan dana sehingga pembangunan infrastruktur terjadi pada saat musim hujan tentu menjadikan kegiatan tersebut tidak efektif dan efisien. Di sisi lain informasi tentang ramalan cuaca juga masih harus ditingkatkan. BMKG sebagai ujung tombak dalam layanan ramalan cuaca memang mesti didorong untuk meningkatkan keakuratan pelayanannya. Negara-negara maju amat sangat menyadari pentingnya informasi cusiklim ini, seperti misalnya Jepang, Amerika Serikat, Kanada, Australia, Jerman, Perancis, Inggris dan lain-lain yang memperhitungkan dengan amat sangat serius dalam proses pembangunan. Lembaga cuaca dan iklim di negara-negara tersebut memiliki data yang mereka buka secara luas. Lembaga-lembaga pemerintah memberikan akses yang mudah bagi masyarakat dunia yang membutuhkan informasi cusiklim melalui berbagai website yang mereka luncurkan. Di Indonesia, keterbukaan data ini baru dilakukan beberapa tahun terakhir, misalnya oleh LAPAN yang memungkinkan para mahasiswa dan peneliti dapat dengan mudah mengakses data. Penelitian-penelitian yang dilakukan akan bisa mendukung pada akurasi ramalan cuaca dengan cukup mencantumkan sumber datanya diperoleh dari mana. Simple!
Di Amerika Serikat ada sebuah program yang mengajak masyarakat untuk ikut menyumbangkan informasi atau data cuaca dari manapun mereka berada. Di kitapun ada, yang diinisiasi oleh para mahasiswa program studi Meteorologi ITB. Sebagai bentuk kepedulian para mahasiswa ITB pun diluncurkan program early warning system untuk banjir di wilayah Bandung bekerjasama dengan pemerintah kota Bandung. Oleh karena itu sudah seharusnya jika setiap lembaga pemerintah yang melayani publik melibatkan masyarakat untuk perbaikan pelayanannya dan tidak sekedar mencari untung dengan menetapkan harga tertentu untuk memperoleh data. Bila itu terjadi maka lembaga-lembaga layanan masyarakat dan penelitian akan makin dicintai masyarakat. Semoga demikian.
Thursday, December 17, 2015
Distribusi global presipitasi
Saat ini sedang masanya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Namun tahukah kalian, bagaimana distribusi global presipitasi? Presipitasi adalah endapan dimana bentuknya bermacam-macam, seperti curah hujan, salju, hail, rime ice, dsb. Dengan demikian bila ada anggapan bahwa presipitasi adalah curah hujan maka anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Namun karena di Indonesia bentuk presipitasi umumnya berbentuk hujan maka orang sering menyamakan antara presipitasi dan curah hujan. No problem. Namun sekali lagi harus disadari bahwa presipitasi tidak hanya berbentuk hujan.
Kembali ke pertanyaan di atas. Dibutuhkan pemahaman tentang lokasi tekanan rendah dan tinggi di dunia ini untuk menduga dimana kira-kira secara klimatologis lokasi dari prespitasi yang besar dan yang kurang. Tekanan rendah terdapat pada lintang rendah (sekitar 0 derajat) dan lintang 60 derajat baik lintang utara maupun selatan sedangkan tekanan tinggi terletak pada lintang 30 dan 90 derajat. Pada wilayah bertekanan rendah, massa udara akan bergerak ke arahnya dan bila ia membawa cukup banyak uap air maka awan-awan akan banyak terbentuk. Ini tidak lain adalah proses konvergensi dan lokasinya ditunjukkan oleh intertropical convergence zone (ITCZ) di lintang rendah. Sedangkan di lintang 60 derajat, terbentuk front yang merupakan pertemuan antara dua massa udara yang berbeda. Di wilayah front ini perawanan juga banyak terbentuk yang berpeluang besar menghasilkan hujan seperti halnya di wilayah ITCZ. Sebaliknya wilayah bertekanan tinggi umumnya langit cerah karena adanya proses sinking (massa udara dari atas bergerak vertikal ke bawah) yang disebabkan karena massa udara di permukaan meninggalkan area tersebut. Proses inilah yang menyebabkan wilayah di sekitar lintang 30 derajat banyak terbentuk gurun pasir.
Kedua proses tersebut yakni konvergensi dan divergensi inilah yang sangat berperan pada terbentuknya awan-awan dan hujan di suatu kawasan tertentu. Moga-moga hal ini sedikit banyak menjawab pertanyaan tentang distribusi global presipitasi (soal no 13).
Wednesday, December 16, 2015
Cintailah lingkunganmu!
Tentu kita masih ingat beberapa waktu ini El Nino menjadi perbincangan banyak orang apalagi dengan berbagai bencana yang mengiringinya seperti berdampak pada kebakaran hutan dan kekeringan khususnya di wilayah-wilayah bertipe hujan monsoonal di Indonesia. Tidak lain karena bergesernya dan minimnya awan-awan di atas wilayah Indonesia. Hal ini menyebabkan pula kelembapan relatif yang rendah sehingga berdampak pada mudahnya timbulnya kebakaran. Ketika ramai-ramainya membicarakan El Nino ini, sering kita lupa bahwa setelah El Nino berlalu maka pola monsoonal kembali menguat. Bila ini terjadi maka curah hujan akan kembali normal dan kita harus siap-siap akan datangnya banjir dan tanah longsor. Di beberapa tempat banjir dan longsor telah terjadi. Sering kita tidak siap menghadapi kedua makhluk ini dan terlambat mengantisipasinya sehingga korban harta benda dan nyawa hampir selalu terjadi. Tidak mudah menyadarkan masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, tidak menggunduli hutan, memelihara lingkungan agar tetap asri, menjaga agar sungai tetap lancar aliran airnya dan tidak mempersempit lebar sungai dsb. Yang banyak terjadi adalah aktivitas yang berlawanan dengan yang digambarkan di atas. Oleh karena itu, saya mengajak kalian semua untuk makin mencintai lingkungan dan tidak merusak lingkungan karena kita hanya mempunyai satu bumi yang kita tempati bersama.
Wednesday, November 25, 2015
Jangan selalu menyalahkan El Nino
Siapa tidak kenal El Nino dan La Nina? Selama beberapa puluh tahun kedua makhluk ini telah menjadi bahan pembicaraan yang menarik bagi para ilmuwan khususnya di bidang oseanografi dan meteorologi. Bahkan kemudian menjadi bahan perbincangan pula di bidang-bidang lain, termasuk di bidang pertanian dan ekonomi. Ribuan penelitian sudah dilakukan menyangkut kedua fenomena yang cukup besar dampaknya bagi kehidupan di muka bumi ini. Seringkali dua fenomena ini dianggap sebagai perusak normalitas cuaca dan iklim. Tidak dapat dipungkiri karena yang selama ini diekspos ke permukaan adalah dampak yang tidak baik yang dibawa oleh kedua fenomena tersebut. Sangat sedikit ilmuwan dan peneliti yang menunjukkan efek positifnya. Yang patut dicatat adalah bahwa kedua hal tersebut tidak berdiri sendiri dalam mempengaruhi cuaca dan iklim suatu tempat. Mereka berinteraksi dengan fenomena lain seperti monsoon, dipole mode, pacific decadal oscillation, north atlantic oscillation, berbagai gelombang dan osilasi yang terdapat di atmosfer dan lain-lain. Oleh karena itu tidak seharusnya kita selalu mempermasalahkan dan menyalahkan El Nino dan La Nina sebagai penyebab kerusakan kesetimbangan cuaca dan musim di muka bumi karena mereka akan selalu hadir di antara fenomena-fenomena lain.
Wednesday, November 18, 2015
Serba serbi El Nino dan La Nina
Sebenarnya saya sudah menulis tentang El Nino dan La Nina hampir dua puluh tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1998 dimana saat itu pemahaman tentang kedua fenomena ini dan dampaknya di Indonesia masih sangat minim. Buku saku "Sudah benarkah pemahaman anda tentang El Nino dan La Nina?" saya tulis karena keprihatinan saya atas berbagai pernyataan yang disampaikan oleh para pejabat pemerintahan dan juga media massa yang tidak benar tentang kedua fenomena ini. Buku saku tersebut setidaknya untuk meluruskan pemahaman mereka. Sampai saat ini buku tersebut masih cukup relevan menjelaskan tentang El Nino dan La Nina meskipun sudah tidak lagi dicetak ulang. Apalagi dengan makin menjamurnya internet maka banyak sumber bisa diakses untuk menjelaskan tentang hal tersebut. Buku saku tersebut sudah banyak tersebar baik di perpustakaan-perpustakaan dalam negeri maupun luar negeri khususnya Australia. Tampilan yang sederhana namun cukup berbobot serta penjelasan yang disampaikan secara ilmiah namun populer menjadi daya tarik buku tersebut. Sudah banyak permintaan dari masyarakat yang disampaikan kepada saya langsung yang meminta saya untuk melanjutkan tulisan tersebut namun dengan berbagai pertimbangan maka untuk sementara saya belum memenuhi harapan tersebut. Semoga di masa-masa mendatang saya bisa menulis lebih banyak lagi tentang El Nino dan La Nina yang sebenarnya merupakan fenomena yang terjadi di lautan namun berpengaruh banyak pada cuaca dan iklim di banyak tempat di muka bumi ini.
Friday, November 13, 2015
Banjir dan longsor ...itu sudah biasa??
Beberapa waktu ini diperkirakan di banyak tempat sudah memasuki musim hujan. Hujan dan musim hujan yang sangat dirindukan masyarakat setelah sekian lama tidak kunjung datang akibat ulah El Nino. Sekarang ketika sudah memasuki hujan ...tentu hal yang harus menjadi perhatian adalah banjir dan tanah longsor. Berita banjir skala besar memang belum banyak diberitakan oleh media massa, namun bukan berarti bahwa peluang kejadian semacam itu tidak akan terjadi. Bisa jadi akan terjadi walau mungkin tidak dalam jangka pendek (beberapa hari ke depan) mengingat belum merupakan puncak musim hujan. Banjir dalam skala kecil memang sudah beberapa kali terjadi karena aliran sungai meluap atau karena saluran drainase tidak mampu menampung air permukaan yang masuk ke dalamnya. Sedangkan longsor sudah di beberapa tempat diberitakan.
(http://lintas24.com/wp-content/uploads/2015/11/zJdgaOC8mU.jpg)
Sudah waktunya bagi pemerintah daerah untuk menegakkan aturan bagi perusak lingkungan. Pembabatan hutan, perubahan tata ruang yang tidak memasukkan aspek pertimbangan lingkungan di dalamnya, dan buang sampah sembarangan sehingga berdampak pada terganggunya aliran drainase dan sungai-sungai merupakan sedikit contoh yang harus ditertibkan dan diterapkan law enforcement yang masif. Apalagi bila dibangun pemukiman oleh para pengembang di area yang jelas-jelas untuk area konservasi alam maka sudah seharusnya pihak pemerintah daerah berani bersikap tegas. Dengan demikian maka bila ada yang mengatakan bahwa banjir dan longsor itu biasa, itu adalah pernyataan dari orang yang tidak peduli pada lingkungan. Sudah seharusnya bila pernyataannya dibalik menjadi TIDAK banjir dan longsor itu hal yang biasa. Bila terjadi banjir dan longsor maka itu kejadian LUAR BIASA.
Sunday, November 8, 2015
Awal musim hujan telah datang??
Mengamati beberapa citra satelit Himawari 8 akhir-akhir ini yang menunjukkan bahwa di banyak tempat sudah makin banyak awan yang berpotensi hujan menguatkan bahwa memang kelihatannya musim hujan telah tiba. Meskipun hal ini tidak berarti bahwa seluruh wilayah Indonesia mengalami musim hujan saat ini. Hal ini ditunjukkan bahwa, misalnya, di atas wilayah Nusa Tenggara baik Barat maupun Timur tidak banyak awan yang terbentuk yang berpotensi pada turunnya curah hujan. Hari ini (8/11/2015) citra Himawari menunjukkan bahwa pola awan tersebar di atas pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, sedikit Sulawesi, dan Papua meskipun sebagian besar wilayah perairan tertutup Indonesia (laut Jawa sampai Arafura) menunjukkan suhu permukaan laut yang lebih rendah dari pada di sekitarnya. Samudra Hindia menunjukkan suhu permukaan lautnya yang relatif hangat kecuali di sebelah barat daya Sumatera. Meski dipole mode sedikit positif, namun perairan yang hangat di sebelah barat Sumatera memungkinkan untuk banyak terbentuknya awan di kawasan tersebut. Pola streamline masih menunjukkan pola angin timuran yang merupakan transisi dari angin tenggara menuju angin timur laut. Timbulnya vorteks di dekat pulau Kalimantan memungkinkan banyak awan di wilayah tersebut namun diperkirakan menghambat massa udara yang menuju ke selatan seandainya vorteks ini bertahan beberapa hari ke depan. Moga-moga saja dengan makin mendekatnya awal musim hujan yang menunjukkan bahwa monsun lebih perkasa dibanding El Nino seiring dengan makin mendekatnya matahari ke lintang balik selatan akan memenuhi harapan masyarakat akan hujan setelah sekian lama kekeringan melanda Indonesia. Masih menguatnya El Nino di Pasifik ekuator tampaknya akan tidak banyak lagi berpengaruh pada musim di Indonesia di beberapa waktu ke depan meski harus diwaspadai juga perairan di wilayah tertutup Indonesia yang masih mendingin suhu permukaan lautnya dibanding sekitarnya. Untuk skala lokal, pengaruh pegunungan akan meningkatkan peluang terjadinya hujan orografis meskipun mungkin dalam skala yang lebih luas belum memungkinkan terjadinya hujan monsunal. Dengan kata lain, kehadiran pegunungan di suatu wilayah membawa dampak menguntungkan dalam mengurangi pengaruh dari El Nino. Semoga saja begitu!
Friday, October 30, 2015
Sholat istisqo menjelang musim hujan??
Beberapa hari ini di banyak tempat banyak dilakukan sholat istisqo untuk memohon kepada Yang Maha Segalanya untuk menurunkan hujan di tanah air. Bisa dimaklumi karena setelah sekian lama kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, dan kabut asap melanda wilayah Indonesia dan setelah sekian banyak usaha tidak menghasilkan seperti yang diharapkan, tiada kata lain lagi selain berserah diri kepada Tuhan dan memohon keridhloanNYA agar diturunkan hujan. Tiada yang salah dengan upaya tersebut, namun sedikit yang menggelitik hati saya adalah "mengapa baru dilakukan sekarang ??". Mengapa tidak dilakukan ketika saat-saat kejadian ekstrim?? Bisa dimaklumi karena kita kurang yakin akan keberhasilannya. Mengapa?? Karena alam sulit sekali atau bahkan tidak mungkin menurunkan hujan saat itu atau peluang turunnya hujan amat sangat kecil. Awan-awan potensial tidak banyak terjadi ditambah faktor-faktor lain seperti kelembapan relatif yang rendah dan sedikitnya inti kondensasi yang higroskopis tidak mendukung terjadinya hujan. Saat ini ketika streamline menunjukkan dominasi pola angin timuran dan bergerak menjadi angin timur laut menyebabkan peluang curah hujan meningkat. Apalagi saat ini matahari sudah bergerak cukup jauh ke selatan yang menguatkan monsoon meskipun diperlemah oleh kejadian El Nino yang makin menguat. Di lepas pantai barat Sumatera di sekitar ekuator banyak terdapat perawanan karena diuntungkan oleh cukup hangatnya perairan di wilayah tersebut dan pola angin tenggara yang menyusur lepas pantai barat Sumatera yang banyak membawa uap air. Dengan demikian jika sekarang-sekarang ini dilakukan banyak sholat istisqo, tingkat keberhasilan menurunkan hujan akan jauh lebih besar ...hehehe. Tak lupa sayapun berdoa semoga upaya-upaya yang selama ini dilakukan untuk mengatasi kekeringan, kebakaran lahan dan hutan, kabut asap dan lain-lain membawa hasil yang optimal. Amin.
Friday, October 23, 2015
Menyerah melawan bencana kabut asap??
Tentu tidak!! Segala upaya harus disinergikan untuk mengatasi kabut asap yang melanda banyak tempat di Indonesia dimana kali ini sejak beberapa hari yang lalu kebakaran dan lahan (karhutla) juga melanda pulau-pulau lain selain Sumatera dan Kalimantan. Sepertinya melihat ketidaktegasan dan ketidaknegarawanan pemerintah dalam memerangi pihak-pihak yang melakukan pembakaran hutan dan semak-semak serta lahan untuk persiapan pertanian dan perkebunan maka semakin banyak tempat-tempat lain yang juga dibakar. Boleh dikata perbuatan tersebut memancing di air keruh. Masyarakat terdampak juga sudah apatis dan pasrah terhadap bencana lingkungan yang disengaja ini meskipun sebagian aktivis lingkungan pantang menyerah menghadapi suasana ini. Tidak ada kata lain selain siap tempur melawan api dan asap. Prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) sudah beberapa minggu yang lalu secara bergiliran diterjunkan ke wilayah terdampak untuk mengatasi kabut asap ini. Pembuatan saluran-saluran air yang dibendung untuk menyediakan air jika tempat di sekitarnya terbakar sudah dilakukan meskipun belum merupakan cara jitu dalam mengatasi asap. Hujan buatan juga belum membuahkan hasil optimal karena sedikitnya awan-awan berpotensi hujan. Water bombing terkendala karena sedikitnya armada yang diterjunkan meskipun sudah mendapat bantuan negara-negara sahabat. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa mereka menyadari bahwa kebakaran hutan dan timbulnya kabut asap ini jauh lebih dahsyat dibanding di negaranya. Bahkan dari beberapa sumber saya peroleh informasi ada armada pesawat yang sudah ditarik kembali ke negaranya.
Yang lebih menyedihkan lagi ada peraturan daerah di propinsi Kalimantan Tengah yang mengijinkan pelaku individu atau perusahaan untuk melakukan pembakaran hutan dan lahan dimana untuk ukuran satu hektar cukup hanya minta ijin ketua rukun tetangga (RT), struktur paling rendah di tingkat desa. Benar-benar menyedihkan dan gila! Hanya orang gila yang bisa membuat aturan semacam itu! Oleh sebab itu sudah seharusnya orang-orang semacam ini diseret ke pengadilan dan hukuman yang setimpal adalah dengan diasapi terus menerus sampai mati.
Kalau kondisinya sudah seperti sekarang ini dimana kabut asap tidak lagi berwarna putih tapi sudah berwarna kuning, lalu apa lagi yang bisa dilakukan? Dengan jumlah penduduk Indonesia yang ratusan juta jiwa dan kebanyakan bisa berpikir, moga-moga banyak solusi yang bisa ditawarkan. Bila semua sumber daya manusia tersebut diberdayakan demikian juga dengan institusi pemerintahnya maka diharapkan muncul solusi-solusi segar dan menjanjikan. Pejabat-pejabat juga harus makin menggunakan rasio dan empatinya dalam mengatasi kabut asap ini. Ini permasalahan bersama, bukan hanya persoalan pemerintah dan partai politik. Saya yakin rakyat tidak peduli dan tidak membeda-bedakan apakah warna baju kalian merah, kuning, hijau, biru dll namun yang pasti mereka mengharapkan bantuan kalian untuk lepas dari masalah tahunan yang makin kompleks ini. Masyarakat juga harus dididik agar menjadi lebih cerdas, bukan masalah dukung mendukung, suka dan tidak suka namun kabut asap ini adalah masalah bersama yang harus dipecahkan. Maka saya menyarankan, kalau tidak mampu menjadi problem solver lebih baik tidak menjadi trouble maker!!
Wednesday, October 14, 2015
Semoga segera musim hujan di Jawa Tengah
Bencana alam kekeringan yang
melanda Jawa Tengah saat ini membuat saya ikut ngenes (sedih), apalagi setelah membaca berita bahwa
sekian puluh waduk dengan kapasitas total 1,9 milyar meter kubik kini kurang
dari separuh kapasitasnya yang tersisa. Bukan tidak mungkin bila curah hujan
tidak segera turun, maka banyak waduk yang akan kering kerontang, tidak hanya
waduk yang kecil saja tetapi mungkin akan dialami pula waduk-waduk besar. Bisa
dibayangkan apa akibatnya jika waduk mengering padahal fungsinya untuk mengairi
persawahan dan mungkin pembangkit listrik. Sejak beberapa waktu yang lalu sudah
banyak warga masyarakat khususnya para petani yang teriak-teriak untuk minta
bantuan mengatasi kekeringan di wilayahnya dan sebagian sudah dipenuhi
keinginannya oleh pemerintah pusat dan daerah dengan memberikan bantuan pompa
hidran dan sejenisnya, meskipun belum menuntaskan masalah.
Musim
hujan dan kemarau
Musim adalah peristiwa dimana
sesuatu hal sering terjadi. Musim hujan adalah waktu dimana hujan sering
terjadi, sedangkan musim kemarau adalah waktu dimana tidak ada hujan sering
terjadi. Setiap tahunnya, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika)
merilis dua kali informasi tentang prakiraan musim di awal tahun (sekitar Maret/April)
dan di pertengahan-menjelang akhir tahun (sekitar Agustus/September). Sebelum
merilis prakiraan tersebut, BMKG biasanya mengundang para pakar yang terkait
dengan prakiraan tersebut untuk dimintai pendapatnya terkait hasil ramalam
musim yang akan diluncurkan ke publik. Harus kita akui bahwa mereka telah
bekerja keras untuk menghasilkan ramalan musim meski kadangkala agak meleset.
Oleh sebab itu maka sudah seharusnya kita membantu tugas BMKG agar ramalan
musim mereka jauh lebih akurat.
Terlepas dari hal di atas,
ramalan musim seharusnya bisa sampai kepada petani pada tingkat level bawah.
Yang terjadi selama ini, rasanya belum banyak para pelaku petani yang
memanfaatkan ramalan musim tersebut dalam aktivitas pertaniannya. Mereka masih
sering berpatokan pada pranoto mongso
yang keakuratannya saat ini dipertanyakan. Ini tidak lain karena cuaca, musim
dan iklim sudah mengalami pergeseran dan perubahan dimana pada tingkat global
sudah menjadi bahan pembicaraan sehari-hari para pemimpin dunia dan setiap tahunnya
(sekitar November – Desember) dilakukan pembicaraan bersama mengatasi masalah laju
variabilitas dan perubahan iklim tersebut beserta dampaknya.Mungkin sudah
seharusnya bagi mereka untuk lebih melek cuaca,
musim dan iklim dalam aktivitas bertaninya. Untuk melaksanakan hal tersebut
maka petugas penyuluh pertanian di tingkat kecamatan dioptimalkan fungsi dan
perannya dalam memberikan informasi tentang cuaca, musim dan iklim agar para
petani tidak salah dalam memprakirakan/meramal musim untuk memilih waktu tanam
dan jenis tanaman yang diusahakannya. Ditangan merekalah sebagian keberhasilan
usaha tani terletak. Program-program pertanian di era-era pemerintahan
sebelumnya yang baik-baik dan terbukti sukses cobalah diterapkan kembali.
Kalau dilihat dari citra inframerah satelit Himawari 8 siang ini, terlihat bahwa perawanan hanya sebagian kecil yang menutupi wilayah Indonesia. Hanya sebagian Sumatera, sebagian kecil Papua yang tertutupi oleh awan yang berpotensi hujan. Pulau Jawa praktis relatif bersih dari awan yang berpotensi hujan. Mungkin di atas Jawa Tengah, ada awan-awan rendah namun secara umum sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi hujan. Mengamati pola streamline dalam beberapa hari terakhir dan melihat pola streamline yang dilansir oleh BMKG hari ini untuk prakiraan tanggal 8 Oktober 2015 besok menunjukkan bahwa angin di wilayah Jawa Tengah lebih banyak berasal dari arah timur dan tenggara. Ini berarti bahwa musim kemarau masih akan berlangsung beberapa waktu ke depan. Masih kecil peluang terjadinya musim hujan dalam beberapa waktu ke depan. Belum jelas kapan waktu pastinya. Sebenarnya bila mengingat posisi matahari yang saat ini sudah bergeser ke arah selatan ekuator/katulistiwa maka kemungkinan akan makin mendekat musim hujannya. Apalagi bila mengingat bahwa faktor paling dominan dalam mempengaruhi musim di Jawa Tengah adalah monsoon/monsun/muson. El Nino yang saat ini terjadi di lautan Pasifik tropis pada taraf sedang (moderat) dan Dipole Mode di Samudra Hindia yang menunjukkan tren positif akan memperlemah kekuatan monsoon. Akibatnya secara teoritis monsoon Asia yang biasanya sudah mulai tampak pada bulan-bulan ini menjadi tertunda waktunya. Monsoon Asia ini biasanya menyebabkan musim hujan di wilayah kita. Ia ditunjukkan oleh angin barat laut untuk wilayah Jawa Tengah. Makin bergesernya wilayah ITCZ (intertropical convergence zone) ke arah selatan ekuator akan makin memberikan peluang makin mendekatnya awal musim hujan. Peluang hujan juga diperbesar dari efek orografi atau pegunungan yang tersebar banyak di Jawa Tengah, apalagi yang menjulang tinggi. Semoga saja hal ini menjadi nyata dan menepis anggapan dan ramalan bahwa masih lama awal musim hujan terjadi. Bukan angin surga, namun seringkali metode dan model ramalan yang begitu canggihnya sekalipun bisa dimentahkan oleh mekanisme alam (sesuai kehendak Illahi) yang mempunyai pola tersendiri yang kadangkala juga anomali (tidak biasanya). Oleh sebab itu tiada salahnya kalau kita berdoa atau sembahyang bersama memohon kepada Yang Maha Segalanya untuk segera menurunkan hujan di bumi Jawa Tengah. In sya Allah.
Kalau dilihat dari citra inframerah satelit Himawari 8 siang ini, terlihat bahwa perawanan hanya sebagian kecil yang menutupi wilayah Indonesia. Hanya sebagian Sumatera, sebagian kecil Papua yang tertutupi oleh awan yang berpotensi hujan. Pulau Jawa praktis relatif bersih dari awan yang berpotensi hujan. Mungkin di atas Jawa Tengah, ada awan-awan rendah namun secara umum sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi hujan. Mengamati pola streamline dalam beberapa hari terakhir dan melihat pola streamline yang dilansir oleh BMKG hari ini untuk prakiraan tanggal 8 Oktober 2015 besok menunjukkan bahwa angin di wilayah Jawa Tengah lebih banyak berasal dari arah timur dan tenggara. Ini berarti bahwa musim kemarau masih akan berlangsung beberapa waktu ke depan. Masih kecil peluang terjadinya musim hujan dalam beberapa waktu ke depan. Belum jelas kapan waktu pastinya. Sebenarnya bila mengingat posisi matahari yang saat ini sudah bergeser ke arah selatan ekuator/katulistiwa maka kemungkinan akan makin mendekat musim hujannya. Apalagi bila mengingat bahwa faktor paling dominan dalam mempengaruhi musim di Jawa Tengah adalah monsoon/monsun/muson. El Nino yang saat ini terjadi di lautan Pasifik tropis pada taraf sedang (moderat) dan Dipole Mode di Samudra Hindia yang menunjukkan tren positif akan memperlemah kekuatan monsoon. Akibatnya secara teoritis monsoon Asia yang biasanya sudah mulai tampak pada bulan-bulan ini menjadi tertunda waktunya. Monsoon Asia ini biasanya menyebabkan musim hujan di wilayah kita. Ia ditunjukkan oleh angin barat laut untuk wilayah Jawa Tengah. Makin bergesernya wilayah ITCZ (intertropical convergence zone) ke arah selatan ekuator akan makin memberikan peluang makin mendekatnya awal musim hujan. Peluang hujan juga diperbesar dari efek orografi atau pegunungan yang tersebar banyak di Jawa Tengah, apalagi yang menjulang tinggi. Semoga saja hal ini menjadi nyata dan menepis anggapan dan ramalan bahwa masih lama awal musim hujan terjadi. Bukan angin surga, namun seringkali metode dan model ramalan yang begitu canggihnya sekalipun bisa dimentahkan oleh mekanisme alam (sesuai kehendak Illahi) yang mempunyai pola tersendiri yang kadangkala juga anomali (tidak biasanya). Oleh sebab itu tiada salahnya kalau kita berdoa atau sembahyang bersama memohon kepada Yang Maha Segalanya untuk segera menurunkan hujan di bumi Jawa Tengah. In sya Allah.
Bandung, 7 Oktober 2015
Benarkah kabut asap akan hilang dalam dua pekan??
Membaca berita
Republika tanggal 9 Oktober 2015 tentang
target Presiden agar kabut asap hilang dalam dua pekan ke depan, menimbulkan
sejumlah pertanyaan dalam diri saya. Alasannya menurut Bapak Presiden adalah
karena luas lahan yang terbakar lebih besar dan panas El Nino yang kering. Meskipun
istilah panas El Nino yang kering kurang tepat tapi saya tidak bermaksud
mempermasalahkannya. In sya Allah saya akan tulis hal tersebut lain waktu.
Kembali ke pernyataan di atas, apakah beliau benar-benar sudah dibekali atau
setidaknya diberi masukan tentang musim di Sumatera Selatan? Apakah yang
diucapkannya sudah benar-benar dipikirkan, atau hanya sekedar tebak-tebakan?
Atau seperti yang sudah-sudah seperti pernah beliau katakanan dan seringkali
menjadi cibiran orang dalam media sosial yang katanya “ndak mikir” alias asal ngomong atau asal bertindak tanpa
mikir? Saya berpikir positif bahwa ucapan beliau benar-benar telah melalui
pemikiran yang matang.
Tujuan tulisan ini
adalah setidaknya memberi pandangan bahwa hampir mustahil dengan upaya manusia,
misal dengan water bombing, yang akan
coba dilakukan pemerintah dengan bantuan Negara-negara lain tanpa memperhitungkan musim hujan.
Kejadian kabut asap (kabas) yang terjadi di Indonesia sangat berbeda dengan
kejadian asap yang terjadi di Negara lain karena wilayah mereka tidak
bergambut. Di Negara kita, kabas banyak diakibatkan oleh masih membaranya
gambut di bawah permukaan. Jadi meskipun di atas permukaan titik api sudah
tidak terlihat, namun di bawah permukaan masih tersisa titik-titik api yang
membutuhkan waktu lama untuk padam bila di atas permukaan tidak benar-benar
basah. Pengusahaan areal pertanian, perkebunan, dan hutan yang tidak tepat
sering mengakibatkan kejadian yang berulang setiap musim kemarau panjang
tersebut. Banyak para pengusaha perkebunan dan pertanian di sana yang membangun
saluran air untuk mengeringkan lahan sehingga air dari sekitarnya masuk ke
saluran air tersebut. Masalahnya ketika air tersebut terus menerus dialirkan
tanpa ditampung/dibendung maka air tidak tersedia ketika saat dibutuhkan seperti misalnya pada saat
kebakaran. Mengingat lahan gambut mempunyai karakteristik tersendiri maka asap
masih tetap mengepul meskipun di atas permukaan sudah padam.
Jumlah dua belas ton
memang cukup banyak namun bila dibandingkan dengan hasil hujan buatan yang bisa
mencapai milyaran liter, tentu bukan angka yang besar. Dengan beberapa (misal
10 pesawat water bombing) dengan kapasitas 12-15 ton, dibutuhkan lebih dari
sepuluh ribu kali penerbangan untuk memperoleh jumlah air yang sama dengan
hasil yang dicapai dengan hujan buatan. Namun bukan tidak ada salahnya cara ini
juga dilakukan mengingat awal musim hujan juga nampaknya belum bisa dengan
pasti kita tentukan meskipun
klimatologinya kita sudah tahu. Optimis dengan mengatakan bahwa dalam 2 pekan
ke depan permasalahan kabas bisa kita atasi merupakan pernyataan yang
berlebihan dan hanya tebak-tebakan belaka. Coba kita lihat bagaimana pola
streamline dan satelit di bawah ini. Streamline atau mudahnya garis arah angin
bertiup dengan kecepatan tertentu untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan
menunjukkan bahwa pola angin tenggara yang kurang membawa uap air bertiup di
atas wilayah ini. Saya menduga dalam dua minggu ke depan pola angin ini masih
dominan semacam ini. Menguatnya suhu permukaan laut di Pasifik tropis yang
diduga sampai bulan Pebruari 2016 mendatang ditambah sedikit lebih rendahnya suhu
permukaan laut di Samudra Hindia khususnya di barat Sumatera dibanding wilayah
ekuatorial sebelah timur Afrika kurang memberi dampak positif bagi perkembangan
awan hujan di Sumatera bagian selatan dan Kalimantan. Namun demikian kita masih
bersyukur bahwa pengaruh monsoon/monsun/muson masih jauh lebih perkasa
dibanding dengan El Nino, Dipole mode atau yang lain. Pola curah hujan monsunal
yang dialami oleh sebagian wilayah Indonesia bagian selatan ekuator memang akan
diperlemah oleh keberadaan El Nino, namun bukan tidak mungkin untuk tahun ini
akan berbeda dengan dampak El Nino seperti sebelum sebelumnya. Ini mengingat
karakteristik El Nino yang tidak sama untuk setiap kejadiannya atau bersifat
unik.
BMKG telah melakukan
prakiraan atau ramalan musim dimana untuk bulan Oktober ini wilayah Sumatera
Selatan masih kecil peluang terjadinya hujan. Hujan yang mungkin terjadi adalah
hujan rendah yang kurang dari 100 mm. Dilihat sebarannya maka makin ke arah
pantai barat curah hujan bulan Oktober diramal meningkat. Kebanyakan wilayah
Sumatera Selatan memang masih akan kurang sekali curah hujannya. Sedangkan
makin ke utara dari Sumatera selatan kemungkinan sudah mulai banyak mengalami
hujan cukup besar. Meskipun kondisi di Sumatera Selatan belum menggembirakan
namun bila wilayah konvergensi makin bergerak ke selatan seiring dengan posisi
matahari yang mulai beranjak ke selatan ekuator, maka bukan tidak mungkin
ramalan musim akan terjungkirbalikkan. Semoga saja bukan hanya hujan saja yang
datang namun musim hujan segera
berkunjung ke tanah air tercinta. Bila ini benar maka boleh saja menganggap
bahwa kabas segera hilang dari pandangan, namun yang harus diingat bahwa ini
bukan hanya atas usaha seseorang atau instansi atau bantuan Negara lain namun terutama karena memang alam.(dan penciptanya!)
memang sudah menunjukkan kuasanya.
Bandung, 10 Oktober
2015
Sunday, October 11, 2015
Jawa Barat, sudahkah memasuki musim hujan??
Keadaan yang selalu didambakan
ketika kekeringan melanda wilayah kita adalah kapan musim hujan datang? Sesuatu
yang sangat wajar mengingat air merupakan salah satu sumber kehidupan di bumi.
Tanpa air, sulit makhluk hidup akan tumbuh dalam jangka waktu lama. Ketika
sesuatu menjadi demikian sulitnya diperoleh maka sesuatu tersebut akan menjadi
hal yang sangat didambakan banyak orang. Kali ini yang menjadi dambaan semua
orang adalah hujan. Tidak hanya para petani yang menginginkan hujan untuk
mengairi sawahnya, ibu-ibu rumahtangga pun juga menantikannya. Tidak lain tidak
bukan karena biasanya di banyak tempat ketika terjadi kekeringan, mereka harus
menyisihkan uang untuk membeli air untuk keperluan mandi, cuci, kakus dan yang
terutama untuk minum dan memasak. Bagi mereka-mereka golongan menengah atas,
hal semacam ini tidak menjadi masalah namun bagi golongan ekonomi bawah, ini
menjadi masalah besar. Permasalahan ini juga mengemuka untuk dinas penyedia air
minum karena sumber air yang diolah untuk bisa dikonsumsi manusia melalui
pipa-pipa ledeng menjadi berkurang debitnya sehingga kadangkala harus mati
bergiliran. Pada skala yang lebih besar, pembangkit listrik tenaga air (PLTA)
juga akan terpengaruh karena debit air untuk menggerakkan turbin menjadi jauh
berkurang. Kalau pasokan listrik terganggu maka banyak sector kehidupan
manusiapun juga ikut terganggu, bahkan untuk menghidupkan internet atau HP pun
akan menjadi masalah.
Oleh karena itu maka sekali lagi
menjadi amat wajar jika musim hujan yang mensuplai air bagi segenap kehidupan
menjadi sesuatu yang sangat dinantikan. Masalahnya, kapan itu terjadi? Di Jawa
Barat, kapan musim hujan terjadi ketika El Nino di samudra Pasifik tropis
ekuator menguat?
Musim hujan
Musim hujan artinya bahwa hujan
menjadi sering terjadi, sama saja dengan istilah musim durian, musim mangga dll
yang artinya saat tersebut durian dan mangga menjadi mudah untuk dijumpai. Hujan merupakan salah satu jenis presipitasi
(endapan) yang berwujud air cair. Bentuk presipitasi yang lain adalah salju,
hujan es, embun, embun beku, hujan beku dan sebagainya. Di antara sekian banyak
jenis presipitasi ini, hujan lah yang paling umum kita kenal dan alami. Di
Indonesia kita kenal tiga jenis penyebab hujan yakni hujan karena proses
orografis, konvektif dan konvergensi. Sebenarnya ada satu lagi jenis penyebab
hujan yakni front namun jenis ini tidak kita kenal atau alami. Jenis hujan
front ini banyak terjadi di lintang tengah (30-60o lintang). Hujan
orografis banyak terbentuk di wilayah pegunungan akibat dari pengangkatan massa
udara yang mengandung uap air karena efek orografi/pegunungan. Setelah
mengalami penjenuhan maka terbentuk awan yang berpeluang menjadi hujan di sisi
arah angin (windward). Hujan
konvektif terjadi akibat proses konvektif ketika suatu permukaan mengalami
pemanasan dari radiasi matahari, terjadi penguapan vertical dan akhirnya
setelah mengalami kejenuhan maka terbentuklah perawanan konvektif yang bisa
menghasilkan hujan. Hujan konvergensi banyak terbentuk di wilayah ITCZ
(intertropical convergence zone) yang lokasinya bergantung pada letak semu
matahari berada di mana. Bila matahari di sebelah selatan ekuator/katulistiwa
maka ITCZ berada di selatan, sedangkan saat matahari berada di utara ekuator
maka ITCZ pun berada di utara ekuator. Meskipun demikian secara klimatologis
umumnya ITCZ berada di utara ekuator yang disebabkan karena kebanyakan wilayah
daratan berada di utara ekuator dan sifat dari daratan yang mempunyai kapasitas
panas yang lebih kecil daripada lautan.
Perhatikan citra inframerah
satelit Himawari tertanggal 3 Oktober 2015 jam 11 GMT (18 WIB) ini. Citra ini menunjukkan bahwa tekanan
rendah terjadi di belahan utara ekuator yang ditandai oleh distribusi perawanan
yang banyak terbentuk di sana. Di sebelah timur laut Papua juga perawanan
banyak terjadi meskipun tidak sebanyak yang disebut pertama. Di sebagian pulau
memang terbentuk perawanan namun barangkali tidak banyak membawa dampak curah
hujan. Di Jawa Barat, barangkali memang terdapat awan-awan namun mungkin
awan-awan rendah yang pertumbuhan vertikalnya kecil. Malah bisa dikatakan
relative bersih dari awan. Memperhatikan langit beberapa hari ini, di atas
Bandung memang terdapat banyak awan meskipun masih belum banyak menghasilkan
hujan selain membawa pengaruh lebih lembap dan dingin daripada biasanya.
Melihat streamline yang diperlihatkan pada gambar di bawah menunjukkan bahwa
masih sulit untuk mengharapkan musim hujan terjadi dalam waktu dekat. Hujan
bisa saja terjadi, namun belum tentu telah masuk musim hujan. Ini tidak lain
karena massa udara masih bergerak dari tenggara dari wilayah Australia yang
masih belum banyak mengandung uap air. Berbeda halnya bila angin telah bertiup
dari barat laut kea rah tenggara khususnya di wilayah selatan ekuator. Menurut
BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan
Geofisika), suatu daerah telah memasuki awal musim hujan bila pada suatu dasa
harian (10 hari) curah hujannya lebih dari 50 mm yang diikuti oleh minimal 2 dasa
harian berikutnya. Oleh karena itu biasanya untuk mengetahui apakah suatu
daerah telah memasuki musim hujan atau belum, baru bisa diketahui minimal satu
bulan sesudahnya. Suatu penentuan yang terlalu lama. Harus dicari metode lain
yang lebih singkat dalam menentukan awal musim.
Kesimpulan
Kembali untuk menjawab pertanyaan
di atas. Apakah Jawa Barat khususnya Bandung sudah memasuki musim hujan
mengingat beberapa hari yang lalu sudah diguyur hujan? Nampaknya kita masih
harus bersabar beberapa waktu ke depan mengingat pola streamline menunjukkan dominasi angin tenggara dan sedikitnya
perawanan yang terjadi (khususnya awan vertical semacam cumulus dan
cumulonimbus). Apalagi El Nino juga masih menguat (diperkirakan sampai dengan
Pebruari 2016) dan Dipole Mode yang ada di samudra Hindia yang menunjukkan
nilai positif. Meskipun efek monsun dalam basis bulanan merupakan faktor
dominan penyebab hujan di Jawa Barat, namun kekuatannya diperlemah oleh
kehadiaran El Nino dan Dipole Mode positif. Kita tidak boleh putus harapan,
meskipun mungkin belum memasuki musim hujan namun bila setidaknya dalam
seminggu terjadi sekali saja hujan yang deras maka bisa mengurangi dampak
kekurangan air atau kekeringan selama ini. Cara seperti sholat istisqa bisa
saja dilaksanakan, setidaknya beberapa kali terbukti bahwa hujan terjadi dalam
waktu yang berdekatan dengan sholat tersebut. Siapa tahu dengan meminta kepada
yang Maha mengatur alam semesta ini, hujan bisa terjadi.
Bandung, 3 Oktober 2015
(diedit dan diterbitkan di harian Pikiran Rakyat 5/10/2015 dengan judul: Kapan Musim Hujan?)Wednesday, September 23, 2015
Meteorologi itu ilmu penunjang kehidupan
Cuaca adalah
keadaan udara pada suatu tempat dan
waktu tertentu. Setiap hari tidak ada satu makhluk hiduppun yang tidak
mendapatkan pengaruh cuaca. Respon manusia terhadap cuaca ini bermacam macam. Manusia
memakai payung saat panas atau hujan, memakai baju dengan bahan tertentu, membangun rumah dan gedung,
berekreasi, melaksanakan perjalanan jauh dengan menggunakan pesawat udara atau
kapal laut dan sebagainya selalu memperhatikan cuaca. Pendek kata, setiap
kegiatan di luar dan di dalam gedung/ rumah selalu bersinggungan dengan
pengaruh cuaca. Orang mengenal cuaca umumnya adalah dari televisi, radio, koran
dan internet. Kita bisa saksikan di TVRI setiap hari ditayangkan berita cuaca,
demikian pula di stasiun-stasiun televisi yang lain walau hanya sekilas. Di koran-koran
juga berita ramalan cuaca ini disampaikan kepada masyarakat dalam bentuk yang
sederhana sekali. Biasanya ramalan cuaca ini menyatakan kondisi temperatur,
perawanan/ hujan, arah dan kecepatan angin dan kadang-kadang kelembapan relatif. Berbeda dengan lintang menengah atau tinggi
yang biasanya menyatakan juga kondisi front, di Indonesia tidak menyampaikan
hal ini karena memang tidak mengalami adanya front. Kadangkala disampaikan pula kondisi khusus tentang
kemungkinan adanya puting beliung. Penyampai berita cuaca di televisi sebenarnya merupakan profesi yang bisa menghasilkan uang, namun di negara kita hal ini belum lumrah. Banyak pembawa berita cuaca di negara-negara tertentu adalah para wanita cantik dan sexy untuk menambah daya tarik acara yang disampaikan. Bahkan karena profesi ini menarik, putra mahkota kerajaan Inggris yakni Pangeran Charles mencoba menjadi penyampai berita cuaca di BBC. Lihatlah foto di bawah ini ketika ia beraksi di depan kamera.
Kondisi cuaca yang kita kenal biasanya menyatakan keadaan perawanan, hujan, arah dan kecepatan angin, radiasi matahari, kelembapan, suhu atau temperatur, dan tekanan. Di antara parameter-parameter cuaca ini, tampaknya yang paling mendapatkan perhatian di negara kita adalah curah hujan, terutama akibat yang ditimbulkannya yang sering membawa dampak merugikan. Bila hujan tidak turun dalam jangka waktu tertentu, hampir pasti kekeringan terjadi dimana-mana, sedangkan bila hujan terus menerus terjadi maka akan menyebabkan banjir yang bisa menelan korban jiwa. Sehingga adalah wajar bila curah hujan ini mendapat perhatian utama masyarakat dan pemerintah, selain juga bahwa curah hujan inilah yang secara meteorologis dan klimatologis merupakan parameter paling penting di daerah tropis, khususnya di wilayah kita. Darinya kita bisa mengungkap sejumlah fenomena lain yang terjadi di atmosfer, seperti misalnya osilasi dan gelombang-gelombang di atmosfer, fenomena skala sinoptik, bahkan untuk mengungkap kejadian di lautan seperti El Nino dan La Nina (ENSO : El Nino and Southern Oscillation) di samudra Pasifik dan Dipole Mode di samudra Hindia dll. Oleh karena itulah maka biasanya di antara parameter cuaca yang lain, parameter curah hujan inilah yang paling sering diamati. Kemarin (21/9) hujan merata di Bandung terjadi namun ini tidak berarti telah memasuki musim hujan karena berdasarkan kriteria yang ditetapkan BMKG, awal musim hujan itu baru dapat kita ketahui sebulan yang akan datang. Untuk mengetahui lebih jelasnya, anda bisa kontak saya.
Kecelakaan-kecelakaan
transportasi di berbagai tempat banyak juga yang disebabkan oleh faktor cuaca
yang buruk. Pesawat jatuh di Papua banyak terjadi akibat cuaca yang
berubah-ubah dengan cepat. Tabrakan kapal sering terjadi karena kabut yang
tebal yang membatasi jarak pandang horizontal (visibilitas). Daerah-daerah yang berbukit-bukit atau daerah
pegunungan sering diselimuti oleh kabut sehingga biasanya kendaraan yang
melintasinya harus berhati-hati dan menyalakan lampu yang berwarna kuning.
Di AS selama
musim dingin tahun 1977, 1978 dan 1979 cuaca dingin yang sangat hebat terjadi
khususnya di Amerika bagian tengah dan timur sehingga menyebabkan impor minyak
menjadi sangat tinggi. Hal ini semakin memperburuk neraca perdagangan yang saat
itu sedang tidak menguntungkan dan menyebabkan anjloknya nilai dollar sampai
sangat rendah dalam pertukaran internasional (Neiburger, 1995).
Dengan demikian
maka sadar ataupun tidak sadar setiap kegiatan manusia sangat terkait dengan
cuaca. Ilmu yang mempelajari cuaca disebut sebagai meteorologi. Meteorologi ini mencakup terapan yang sangat
luas dan biasanya penamaannya sesuai dengan aplikasinya. Misalnya ada
meteorologi pertanian, meteorologi penerbangan, meteorologi maritim,
meteorologi kesehatan, meteorologi rekayasa, hidrometeorologi, meteorologi asuransi dan lain-lain.
Meteorologi yang mempelajari wilayah tropis kita sebut meteorologi tropis. Meteorologi yang mempelajari ruang lingkup dari mulai skala kecil sampai besar kita sebut meteorologi mikro, meteorologi meso, meteorologi regional dan meteorologi global. Tidaklah mengherankan karena menguasai hajat hidup orang sedunia maka didirikan wadah untuk mengaturnya
yakni World Meteorological Organization (WMO), satu-satunya organisasi profesi di bawah naungan
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Saturday, September 19, 2015
Mungkinkah??
Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan SMS berantai yang isinya berupa ajakan untuk menempatkan satu ember air bercampur garam di depan rumah mulai jam 10 (mengingat penguapan banyak terjadi jam 11-13 wib) serempak pada hari Sabtu minggu lalu. Ini dimaksudkan agar segera tercipta jutaan kubik uap air di atmosfer sehingga terbentuk hujan untuk menghadapi kemarau panjang dan kabut asap yang kian parah. SMS ini bergulir liar ke siapa saja. Masalah apakah himbauan ini dilaksanakan atau tidak, bukan tujuan saya tulis dan bahas hal ini.
Perlu diketahui bahwa sepanjang waktu, terjadi penguapan dari laut dan badan-badan air di daratan serta seluruh permukaan bumi yang terkena sinar matahari. Oleh karena itu maka jutaan meter kubik setiap harinya menguap ke atmosfer dan memperlembap udara khususnya di lapisan troposfer. Jumlah uap air di atmosfer kurang lebih 0-4% ppmbv. Di wilayah tropislah uap air banyak terdapat di atmosfer. Jadi jika dibandingkan dengan langkah-langkah himbauan di atas, maka boleh dikatakan akan kurang membawa hasil apalagi tidak banyak yang mengikuti himbauan tersebut. Air garam yang ada di ember akan lebih sulit menguap dibanding dengan air biasa dan bilapun menguap maka garam akan terendapkan. Mengapa air garam?? Saya pikir orang atau organisasi yang melakukan himbauan tersebut mungkin berpikir bahwa cara tersebut sama seperti proses hujan buatan dengan menebar garam dapur di atmosfer. Dengan luas area yang sangat kecil (ember) sulit untuk terjadi penguapan mengingat semakin lebar permukaan maka semakin cepat terjadinya peluang penguapan. Waktu penguapan terbesar biasanya terjadi pada tengah hari ketika matahari ada di atas kepala kita dan penguapan tersebut membutuhkan proses. Ini tidak lain karena selain radiasi matahari, penguapan juga dipengaruhi oleh angin yang membawa panas serta temperatur udara. Dibutuhkan waktu yang lama agar terjadi penguapan serta hanya sedikit yang bisa teruapkan dari ember, misal katakanlah 1 mm. Dengan diameter ember 50 cm dan hanya diikuti seratus orang misalnya maka bisa dihitung hanya berapa meter kubik (tidak sampai 1 meter kubik) uap air yang teruapkan ke udara. Kalaupun diikuti satu juta orang, dengan ukuran ember yang sama maka baru ribuan meter kubik yang menguap. Asumsi itupun sangat amat sulit terealisir karena amat sangat tidak mudah menggerakkan masyarakat untuk turut berpartisipasi untuk hal semacam itu. Saya tidak bermaksud untuk meremehkan orang atau organisasi yang membuat SMS berantai tersebut, tetapi saya berkeyakinan mustahil hal ini terealisir. Boleh-boleh saja menghimbau masyarakat untuk berbuat sesuatu menanggapi permasalahan nasional kekeringan panjang dan asap namun seharusnya memilih cara-cara yang lebih cerdas tidak sekedar hanya mencari popularitas. Cara yang lebih cerdas untuk mengatasi kekeringan misalnya dengan gerakan hemat air, pengolahan dan pemanfaatan air limbah untuk tujuan pertanian, desalinisasi air laut dll. Untuk mengatasi asap dilakukan dengan law enforcement, pencegahan pengusahaan area lahan gambut, penciptaan teknologi pelenyap asap dll. Meskipun usaha-usaha semacam itu membutuhkan effort yang sangat besar, namun sudah tugas pemerintah untuk melaksanakannya dengan partisipasi dari masyarakat luas. Untuk saudara-saudara kita yang masih mengalami permasalahan kekeringan dan asap, jika tidak bisa lagi yang bisa dilakukan maka berdoalah agar hujan segera mengguyur wilayah Indonesia tercinta. Amin.
Perlu diketahui bahwa sepanjang waktu, terjadi penguapan dari laut dan badan-badan air di daratan serta seluruh permukaan bumi yang terkena sinar matahari. Oleh karena itu maka jutaan meter kubik setiap harinya menguap ke atmosfer dan memperlembap udara khususnya di lapisan troposfer. Jumlah uap air di atmosfer kurang lebih 0-4% ppmbv. Di wilayah tropislah uap air banyak terdapat di atmosfer. Jadi jika dibandingkan dengan langkah-langkah himbauan di atas, maka boleh dikatakan akan kurang membawa hasil apalagi tidak banyak yang mengikuti himbauan tersebut. Air garam yang ada di ember akan lebih sulit menguap dibanding dengan air biasa dan bilapun menguap maka garam akan terendapkan. Mengapa air garam?? Saya pikir orang atau organisasi yang melakukan himbauan tersebut mungkin berpikir bahwa cara tersebut sama seperti proses hujan buatan dengan menebar garam dapur di atmosfer. Dengan luas area yang sangat kecil (ember) sulit untuk terjadi penguapan mengingat semakin lebar permukaan maka semakin cepat terjadinya peluang penguapan. Waktu penguapan terbesar biasanya terjadi pada tengah hari ketika matahari ada di atas kepala kita dan penguapan tersebut membutuhkan proses. Ini tidak lain karena selain radiasi matahari, penguapan juga dipengaruhi oleh angin yang membawa panas serta temperatur udara. Dibutuhkan waktu yang lama agar terjadi penguapan serta hanya sedikit yang bisa teruapkan dari ember, misal katakanlah 1 mm. Dengan diameter ember 50 cm dan hanya diikuti seratus orang misalnya maka bisa dihitung hanya berapa meter kubik (tidak sampai 1 meter kubik) uap air yang teruapkan ke udara. Kalaupun diikuti satu juta orang, dengan ukuran ember yang sama maka baru ribuan meter kubik yang menguap. Asumsi itupun sangat amat sulit terealisir karena amat sangat tidak mudah menggerakkan masyarakat untuk turut berpartisipasi untuk hal semacam itu. Saya tidak bermaksud untuk meremehkan orang atau organisasi yang membuat SMS berantai tersebut, tetapi saya berkeyakinan mustahil hal ini terealisir. Boleh-boleh saja menghimbau masyarakat untuk berbuat sesuatu menanggapi permasalahan nasional kekeringan panjang dan asap namun seharusnya memilih cara-cara yang lebih cerdas tidak sekedar hanya mencari popularitas. Cara yang lebih cerdas untuk mengatasi kekeringan misalnya dengan gerakan hemat air, pengolahan dan pemanfaatan air limbah untuk tujuan pertanian, desalinisasi air laut dll. Untuk mengatasi asap dilakukan dengan law enforcement, pencegahan pengusahaan area lahan gambut, penciptaan teknologi pelenyap asap dll. Meskipun usaha-usaha semacam itu membutuhkan effort yang sangat besar, namun sudah tugas pemerintah untuk melaksanakannya dengan partisipasi dari masyarakat luas. Untuk saudara-saudara kita yang masih mengalami permasalahan kekeringan dan asap, jika tidak bisa lagi yang bisa dilakukan maka berdoalah agar hujan segera mengguyur wilayah Indonesia tercinta. Amin.
Subscribe to:
Posts (Atom)