Friday, May 1, 2020

May Day ...Peringatan hari buruh internasional online

Hari buruh internasional atau May Day selalu diperingati oleh seluruh buruh di dunia ini dengan gegap gempita. Biasanya untuk menarik perhatian maka para buruh melakukan aksi mogok kerja, melakukan demonstrasi besar-besaran dan sebagainya. Namun kali ini buruh sedunia melakukan aksinya dengan lebih simpatik karena menggunakan media sosial dalam menyampaikan aspirasinya. Aspirasi yang selalu diulang setiap tahun dimana selalu berisi tuntutan untuk peningkatan kesejahteraan dan kenyamanan hidup. Di tengah pandemi Corona ini memang cara penyampaian yang lain ini patut diberikan apresiasi karena tidak mengganggu banyak pihak. Tiga tuntutan yakni penundaan pembahasan Omnibus Law, menolak pemutusan hubungan kerja dan menuntut tunjangan hari raya penuh ini dalam batas wajar-wajar saja meskipun mereka juga belum mendengarkan keluhan para pengusaha yang usahanya menjadi sangat terdampak oleh pandemi ini. Pengusaha dihadapkan pada situasi dimana tidak ada produksi sehingga tidak bisa menghasilkan pemasukan bagi perusahaan sedangkan tuntutan untuk membayar gaji karyawan dan tunjangan terus menerus dihadapi. Situasi semacam ini tentu saja sangat tidak mengenakkan bagi para pengusaha. Gerusan pada aset perusahaan bisa jadi menguat seiring makin lamanya situasi pandemi corona ini bila tidak segera berakhir. Dilematis memang. Pengusaha yang baik tentu selalu berpikir bagaimana cara meningkatkan kesejahteraan karyawannya dan perusahaannya makin maju. Itu selalu merupakan impian juga bagi karyawannya. Tidak ada PHK, tidak ada pemotongan gaji, THR jalan terus, kesejahteraan meningkat dimana itu semua tidak jauh-jauh urusannya dengan kesejahteraan hidup karyawan/buruh. Semoga ada titik temu antara masyarakat buruh dengan pengusaha yang dimediasi oleh pemerintah sebagai regulator. Saatnya juga bagi Dewan Perwakilan Rakyat untuk memperjuangkan dengan gigih masyarakat yang diwakilinya (baca: tingkat kesejahteraannya) agar keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia benar-benar bisa dirasakan.  

Bencana alam ...

Ada bencana alam yg dicirikan misalnya tidak diketahui datangnya (sulit diprediksi), datang secara tiba tiba, menimbulkan kerugian materi dan non materi dll dan bencana non alam seperti misalnya covid-19 seperti sekarang ini. Video di atas adalah pengantar pada materi perkuliahan atau pelatihan bencana alam. Yang berminat silahkan kontak sekarang juga ke: wiratmo@itb.ac.id. 

Saturday, April 4, 2020

Corona dipengaruhi musim?? ...

Sudah sejak beberapa waktu ini, Corona sudah menjadi pandemi global. Corona yang oleh AS dinamai sebagai virus China yang menyebabkan China marah ini membawa dampak yang luar biasa pada manusia karena menyebabkan seseorang meninggal dengan cepat bila tidak segera ditangani. Ribuan orang telah meninggal dunia dan ratusan ribu orang sudah terpapar oleh virus ini. Yang menarik adalah bahwa virus ini banyak menyerang wilayah yang kemarin mengalami musim dingin, yakni Desember-Januari-Februari di belahan bumi utara. Sedangkan yang saat kemarin mengalami musim panas seperti Australia hanya sedikit korban yang dilaporkan. Ini menarik mengingat apakah itu berarti bahwa musim juga berpengaruh pada penyebaran virus ini? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Dilaporkan sudah 202 negara terpapar virus ini. Terlepas dari benar salahnya hal tersebut, ada baiknya untuk mengingat bahwa peredaran matahari setiap tahunnya adalah sebagai berikut. Pada 21 Maret dan 23 September matahari terletak di ekuator, sedangkan pada 23,5o lintang utara pada 21/22 Juni dan pada 22 Desember matahari berada di 23,5o lintang selatan. Dengan gerak semu semacam ini maka saat bulan DJF, MAM, JJA, SON di belahan bumi utara mengalami musim dingin, semi, panas, dan gugur sedangkan di belahan bumi selatan mengalami musim panas, semi, gugur dan dingin. Selengkapnya tentang hal ini bisa disimak pada video berikut ini:
Pembentukan musim dan lama waktu penyinaran terlihat dengan jelas pada penjelasan tersebut. Dengan demikian waktu dan sudut datang sinar matahari pada setiap lintang mempunyai panjang dan besar yang berbeda kecuali pada saat ekuinoks. Pada saat ekuinoks, semua lintang mempunyai waktu siang hari yang sama yakni 12 jam. Setiap harinya matahari mencapai puncak intensitas maksimum pada jam 9 am sampai dengan 3 pm, oleh karena itu di wilayah tropis khususnya tidak dianjurkan untuk berjemur sinar matahari di antara jam-jam tersebut. Pada saat tersebut radiasi gelombang pendek ultraviolet mengalami penguatan. Ultraviolet merupakan radiasi matahari yang mempunyai panjang gelombang kurang dari 400 nm dan bisa menyebabkan kerusakan jaringan bahkan kematian pada makhluk hidup. Matahari lebih banyak memancarkan sinar matahari pada panjang gelombang cahaya tampak yakni berupa warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Sedangkan pada panjang gelombang lebih dari 700 nm terdapat gelombang panjang infra merah, gelombang mikro dan gelombang radio. Sifat dari gelombang panjang adalah daya tembus terhadap suatu permukaan kecil, sifat yang berbeda dengan gelombang pendek. Kalau di atmosfer gelombang panjang ini banyak diserap oleh gas rumah kaca dan diubah menjadi panas serta dipantulkan ke permukaan bumi kembali dan memicu terjadinya pemanasan global.
Kembali ke pembahasan di atas. Gelombang ultraviolet banyak diserap oleh lapisan ozon pada ketinggian lapisan stratosfer dan sedikit sekali yang mencapai permukaan bumi. Dengan sifatnya yang bisa mematikan jasad renik, maka sebenarnya ia pun  bisa berkontribusi langsung pada virus Corona.  Radiasi matahari pagi sangat baik dalam meningkatkan vitamin D dan menguatkan tulang. Tentu dengan tambahan vitamin dari radiasi matahari ini maka imunitas tubuh menjadi meningkat dan bisa mengurangi kemungkinan untuk terserang covid-19. Olah raga teratur, suasana hati yang gembira, makan makanan dengan gizi seimbang, minum air bening dan istirahat yang cukup, serta tetap produktif ... maka imunitas tubuh akan terjaga dengan baik. Ikhtiar dan doa sudah dan sedang serta akan terus dilakukan, selanjutnya hanya kepada Allah swt saja kita berserah diri dan memohon pertolongan.

Thursday, March 26, 2020

ITCZ masih di selatan ...



ITCZ atau intertropical convergence zone adalah daerah pertemuan antara angin pasat yang umumnya banyak perawanan di sana karena konvergensi ini membawa banyak uap air. Biasanya awan-awan yang terbentuk adalah awan-awan konvergensi yang sering bercampur dengan awan-awan konvektif yang mempunyai potensi pada terbentuknya curah hujan. Seperti terlihat pada gambar ramalan cuaca di samping maka kemungkinan besar bahwa awan-awan yang terbentuk adalah berada di sepanjang Jawa sampai Nusa Tenggara demikian pula di Sumatera dan sekitar kepala burung Papua. Saat ini matahari baru saja meninggalkan wilayah ekuator dan bergerak ke belahan bumi Utara. Ini berarti bahwa ITCZ juga bergerak ke Utara. Hal ini dikuatkan dengan adanya angin yang masih membawa uap air yang banyak di hampir seluruh wilayah Indonesia. Angin pasat timur laut masih mendesak ke selatan katulistiwa yang berarti bahwa pengaruh dari Samudra Pasifik dan benua Asia yang masih dingin masih kuat. Kalau melihat distribusi uap air seperti terlihat di bawah maka tampak bahwa masih banyak wilayah di Indonesia yang mempunyai potensi hujan besar terjadi, misal di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung, Banten, DKI Jaya, Jabar, sebagian Jawa Tengah, Bali, sebagian Kalimantan, dan

sebagian Papua. Awan-awan yang tidak terlalu tebal banyak bertebaran di pulau-pulau di seluruh Indonesia. Oleh karena itu kemungkinan banjir di tengah pandemi Corona ini masih mungkin terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Semoga saja dampak positifnya bagi pengurangan pandemi Covid-19 ini bisa nyata terlihat dengan tersapunya virus bersama air khususnya untuk yang ada di luar ruangan, meski faktanya masih harus diteliti lebih lanjut.

Wednesday, March 18, 2020

Persiapan mengatasi karhutla ...

Minggu lalu diadakan acara persiapan mengatasi karhutla (kebakaran hutan dan lahan) di Riau yang diadakan oleh pihak-pihak BPPT, BMKG, BNPB, Polri dan TNI. Seperti kita ketahui bersama, tahun lalu masih terjadi kebakaran hutan dan lahan yang sangat luas meskipun lebih sedikit luasnya dibanding beberapa tahun yang lalu. Kesiapsiagaan instansi terkait ini untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kejadian yang tidak diinginkan tersebut. Sampai saat ini hutan dan lahan yang terbakar belum pulih seperti sediakala mengingat luasnya hutan dan lahan yang terbakar waktu itu.  Seperti diketahui ratusan ribu hektar hutan dan lahan terbakar tahun lalu sedangkan tahun 2015 karhutla lebih besar lagi, jutaan hektar. Prestasi penurunan karhutla patut diapresiasi meskipun mengingat kelengahan kita dengan adanya masa masa kampanye pilpres yang menyedot banyak perhatian menyebabkan karhutla masih terjadi waktu itu.
Semoga dengan kejadian tersebut kita bisa menarik pelajaran berharga dan tahun ini dengan kesigapan semua pihak maka karhutla bisa dicegah.

Tuesday, March 17, 2020

Masihkah musim hujan?


Merujuk pada gambar yang disajikan oleh BMKG prakiraan curah hujan dasarian ke-3 wilayah Indonesia menunjukkan bahwa sudah mulai banyak wilayah Indonesia mengalami curah hujan menengah dan rendah. Hanya sebagian kecil yang masih mempunyai curah hujan yang tinggi seperti yang terjadi di tengah pulau Papua di sekitar pegunungan Jaya Wijaya.
Bila kita membagi kategori berdasarkan Oldeman maka dikatakan bulan basah bila curah hujannya adalah lebih dari 200 mm, bulan kering adalah kurang dari 100 mm dan bulan lembab adalah bulan dimana curah hujannya antara 100 dan 200 mm. Oldeman ini digunakan untuk patokan dalam menanam padi dan palawija dimana dihitung curah hujan bulanan rata-rata berturut-turut. Kita mengetahui bahwa dalam satu bulan terdiri dari 3 dasarian yakni dasarian pertama dari kalender  tanggal 1 sampai 10, dasarian kedua dari tanggal 11-20 dan dasarian ketiga dari 21 sampai dengan akhir bulan. Dengan demikian bila kita pukul rata satu bulan terdapat 100 dan 200 mm maka dalam satu dasarian kira-kira terdapat 33 mm dan 69 mm curah hujan. Berpatokan dengan hal ini maka bila curah hujan dalam dasarian tersebut adalah kurang dari 33 mm maka dikatakan dasarian kering dan bila curah hujan lebih dari 69 mm maka dikatakan sebagai dasarian basah.  Dengan pembagian semacam itu maka prakiraan dasarian ketiga bulan Maret 2020 versi BMKG dapat diinterpretasikan bahwa masih banyak wilayah Indonesia yang mempunyai dasarian basah dan lembab serta ada sebagian yang sudah kering. Warna-warni yang dikategorikan di atas masuk dasarian dengan curah hujan menengah merupakan dasarian basah sedangkan yang masuk kategori hujan tinggi merupakan dasarian sangat basah.
Bila dilihat pola angin yang diprakirakan untuk hari ini maka tampak bahwa angin di belahan bumi utara sekitar ekuator masih merupakan angin timur laut demikian pula di sebagian pulau yang berada di selatan ekuator. Semakin banyak arah angin tenggara di ekuator seperti yang terjadi di selatan pulau Jawa dan Sumatera pada ketinggian 850 mbar dari citra satelit Himawari 8 IR + GSM. Oleh karena itu sebenarnya sebagian wilayah sedang mulai mengalami musim pancaroba pertama khususnya yang bertipe curah hujan monsoon meskipun diprakirakan masih basah seperti yang diuraikan di atas. 

Sunday, February 2, 2020

Memang lagi waktunya ...

Saat ini banyak kota yang mengalami banjir ataupun genangan. Berbagai sebab memungkinkan hal tersebut terjadi. Saluran drainase yang tersumbat, sungai yang mengalami pendangkalan, perbukitan yang rusak akibat perambahan hutan atau untuk tujuan pertanian, pemukiman, dll. Selain itu tentu saja yang paling utama adalah curah hujan yang tinggi yang datang dalam waktu cukup lama atau curah hujan deras dalam waktu singkat sehingga menyebabkan air tidak dapat tertampung di saluran drainase atau meresap ke dalam tanah. Kalau kita tengok ramalan cuaca yang dilakukan BMKG dan hasil observasi mendekati real time, terlihat bahwa saat ini memang sedang saatnya musim hujan. Musim hujan juga bukan berarti selalu setiap hari hujan, namun bila dalam kurun waktu tertentu mempunyai curah hujan tertentu.
Pusat-pusat tekanan rendah dan area konvergensi banyak terjadi di wilayah Indonesia dan sekitarnya. Ini makin memperkuat adanya pembentukan awan-awan konvektif dan konvergensi di wilayah kita. Hal ini dikuatkan oleh keberadaan awan-awan tebal yang banyak mengandung uap air seperti terlihat pada gambar berikut yang diambil tanggal 2 Pebruari 2020 jam 10 UTC:
Di sebagian Papua, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara tertutup oleh awan potensial. Jadi bila hari ini terjadi banjir lagi di beberapa wilayah di tanah merupakan hal yang wajar, bila hujan yang jatuh tidak mampu tertampung oleh saluran drainase. Upaya mitigasi dan adaptasi sudah harus disiapkan sesegera mungkin karena musim hujan masih akan berlangsung sampai Maret nanti. Ini kalau kita lihat iklimnya lho ya, meskipun tergantung pada wilayahnya apakah curah hujannya mengikuti pola monsoonal, ekuatorial atau lokal. Program-program jangka pendek, menengah dan panjang sudah selayaknya untuk dipersiapkan dan dilaksanakan. Semoga dengan manajemen air yang lebih baik maka di musim hujan kita tidak kebanjiran dan di musim kemarau tidak kekurangan air atau bahkan kekeringan.

Thursday, January 30, 2020

Membangun rumah Indonesia sehat dan Corona

Ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang dengan sangat cepat. Siapa sangka dalam kurun waktu beberapa tahun saja suatu profesi menjadi terangkat dan banyak menjadi pilihan pekerjaan utama, semisal menjadi influencer, motivator atau jualan online. Siapa sangka gadget berkembang dengan sangat pesat dimana banyak menu di dalamnya yang bisa mengusik ketentraman seseorang karena mampu memindai telepon genggam orang lain. Siapa sangka orang dengan cepat berubah dari budaya baca menjadi budaya audio visual. Banyak koran-koran yang tadinya beroplah banyak tetapi kemudian bergeser menjadi berita online. Orang juga lebih suka membaca media sosial karena merupakan hal yang sangat mengasyikkan. Media sosial begitu ramai dan gegap gempita oleh berbagai uneg-uneg atau berita yang suka-suka orang mengirimnya. Kelompok-kelompok kerohanian, warga suatu kompleks, teman-teman masa kecil sampai dewasa, kelompok kegemaran yang sama, dan sebagainya berseliweran di dunia maya. Berbagai jenis media sosial juga berkembang dengan sangat ramainya. Suatu grup bisa mempunyai ratusan ribu bahkan jutaan penggemar. Semua teknologi yang ada saat ini memungkinkan hal itu terjadi.
Ramainya dunia media sosial dan makin bebasnya orang berekspresi di ruang publik menyebabkan tatanan suatu negara bisa berubah cepat. Warga negara suatu bangsa sudah seperti warga dunia yang tidak ada batasan negara. Dunia dapat dengan cepat berubah dari kondisi satu menjadi kondisi yang lain. Dunia yang tadinya aman tentram dan seolah terisolasi antara satu dengan yang lain menjadi demikian liar dan seolah tanpa aturan. Dari perspektif kedaulatan negara, ini merupakan hal yang cukup berisiko. Kebobolan keamanan negara bisa dikendalikan dari beberapa titik tertentu di bumi yang mempunyai sumber daya unggul dan berteknologi tinggi. Pergerakan manusia yang demikian bebas bisa pula mengancam pada kesehatan masyarakat, seperti issue virus Corona saat ini. Virus yang menular dengan sangat cepat ini menggoncangkan dunia karena ditularkan lewat orang per orang, bukan lagi dari hewan ke manusia. Bahkan Wuhan dan beberapa kota di sekitarnya di China sudah diisolasi agar penyebaran virus yang diduga berasal dari wilayah ini tidak sampai menyebar makin luas dan makin cepat. Di beberapa negara juga sudah tertular virus ini. Banyak negara yang kemudian memulangkan para wisatawan China atau mengkarantina orang-orang China yang datang ke suatu negara untuk jangka waktu tertentu untuk memastikan bahwa dia tidak terdampak virus tersebut. Sampai hari kemarin diberitakan ada 131 orang yang sudah meninggal dan ribuan yang tertular di China khususnya. Ada sementara kota yang sudah seperti kota mati karena wabah tersebut yang sangat menakutkan. Aktivitas penduduk bahkan untuk berbelanja memenuhi kebutuhan sehari-haripun sudah cukup sulit mengingat tidak setiap saat toko buka. Sampai sekarang belum ada obat yang ditemukan untuk menangani penyakit ini. Semoga penyebaran virus Corona dan berbagai virus berbahaya lainnya tidak melalui udara atau dipengaruhi cuaca dan musim. Rumah sakit khusus yang dibangun di China ditargetkan selesai dalam waktu 10 hari, suatu pekerjaan infrastruktur yang luar biasa cepatnya. Teknologi ini seandainya bisa juga diterapkan untuk membangun infrastruktur di Indonesia akan merupakan kemajuan pesat dan mempercepat proses pensejajaran negara kita dengan negara maju. Ini mengingat kita masih kalah atau tertinggal beberapa waktu dalam masalah infrastruktur yang memang nyata-nyata dibutuhkan oleh negara kita yang berwujud kepulauan.
Pembangunan infrastruktur banjir juga bisa dikebut dan bencana banjir bisa diminimalisasi dengan adanya percepatan konstruksi. Pembangunan rumah Indonesia sehat baik fisik maupun non fisik bisa cepat tercapai melalui berbagai percepatan bila sumber daya manusia unggul dan sehat. Kesehatan merupakan barang yang mahal, oleh karena itu investasi dalam bidang kesehatan juga penting untuk diprioritaskan. Para petugas kesehatan juga tidak menjadikan pekerjaannya sebagai ladang pengerukan kekayaan dari banyak orang yang menderita karena sakit. cmiiw. Ketahanan tubuh akan berfungsi dengan baik bila cukup makanan bergizi, minum air bening dan vitamin, cukup istirahat, dan olah raga yang teratur. Boleh dikatakan bila fisik ini sudah terjaga maka 50% penyakit akan menjauh. Selebihnya adalah masalah psikologis atau mindset yang terorganisasi dengan baik. Psikologis, keamanan fisik, sandang, pangan, papan, manajemen, informasi, aktualisasi diri yang baik yang berujung pada keikhlasan diri akan menjadikan Indonesia ini sehat lahir batin, bahagia di dunia dan akherat. In sya allah. Aamiin.

Friday, January 17, 2020

Berbagai sudut pandang generasi muda tentang banjir

Banjir telah terjadi di banyak wilayah di tanah air. Tidak jarang kepala daerah bahkan presiden sekalipun dibully oleh sebagian masyarakat. Terdapat pro dan kontra yang berkembang di masyarakat, sebagian menyalahkan dan sebagian membela pihak-pihak tertentu, sesuatu yang biasa dalam negara kita yang demikian majemuk. Namun demikian tidak sedikit yang urun rembug bagaimana mengatasi masalah yang selalu berulang ini. Setiap kali musim hujan dipastikan di berbagai tempat di tanah air menjadi langganan banjir. Berikut ini beberapa sumbangsih pemikiran khususnya dari generasi muda kita yang menarik untuk diperhitungkan dalam membuat kebijakan.
Penanaman vegetasi di sepanjang bantaran sungai akan memperkuat tanah dan mengurangi laju erosi sehingga tidak terjadi pendangkalan sungai patut untuk diperhitungkan. Daerah-daerah aliran sungai dihijaukan demikian pula dengan wilayah sekitar muara sungai yang berbatasan dengan laut menggunakan tanaman bakau. Daerah banjir dan genangan yang meningkat akibat rob bisa dikurangi dampaknya dengan cara ini, selain pembangunan infrastruktur yang sudah seringkali dianggap menjadi cara utama mengatasi banjir. Pada prinsipnya sebenarnya adalah bagaimana caranya agar air yang masuk ke dalam saluran drainase dan sungai tidak sampai meluap. Memperbesar daya tampung saluran drainase dan sungai merupakan salah satu cara utama mengurangi luapan air. Hujan yang jatuh pada suatu permukaan pada suatu wilayah tertentu bisa dihitung berapa volumenya demikian pula dengan daya tampung sungai.85% banjir diakibatkan oleh curah hujan (Ann HS dan PJ Robinson, 1986), oleh karenanya jika kita mengetahui dengan betul bagaimana prinsip siklus hidrologi maka akan banyak mengurangi potensi banjir. Imbas tentang hal tersebut adalah bagaimana menata ruang dan waktu agar terhindar banjir dan genangan.
Sebenarnya banyak kontribusi dari riset-riset yang terkait dengan berbagai bidang termasuk meteorologi, klimatologi dan hidrologi yang bisa dimanfaatkan untuk tujuan mitigasi dan adaptasi terhadap banjir. Masalahnya kita mau atau tidak untuk memanfaatkan hasil riset.
Contoh yang lain terkait dengan peraturan daerah (perda). Peraturan daerah yang mengatur tata ruang dan peruntukannya sering menjadi masalah karena berbagai kepentingan, siapa yang kuat modalnya dan pengaruhnya maka dia lah yang menguasai perda. Agar berbagai kepentingan tidak tumpang tindih maka harus ada payung hukum nasional yang harus dipatuhi oleh pembuat perda di bawahnya, bila menyimpang langsung dicabut. Tajam ke atas tajam ke bawah. Ini semua perlu pembenahan secara bertahap dan revolusioner agar banjir tidak menjadi langganan kejadian di musim hujan. 

Thursday, January 16, 2020

Turut memikirkan ...

Mahasiswa ITB pun turut memikirkan masalah banjir di berbagai tempat di tanah air, seperti terlihat pada video singkat berikut ini.
Hasil pemikiran mereka akan di share nanti.

Monday, January 6, 2020

Belajar dari pengalaman banjir ...

Hari demi hari telah berlalu, banyak yang tidak bisa melupakan peristiwa bencana banjir tahun baru 2020 yang mungkin akan berulang lagi dalam waktu dekat karena biasanya puncak curah hujan monsoonal terjadi pada bulan Januari dan Pebruari. Ambil contoh untuk kasus Jakarta karena di beberapa tempat terdapat curah hujan lebih dari 200 mm/hari pada tanggal 1 Januari kemarin yang merupakan curah hujan ekstrim. Curah hujan di Halim Perdana Kusumah, Taman Mini Indonesia Indah, dan Pulogadung di Jakarta Timur masing-masing adalah 337, 335 dan 265 mm. Di Kembangan dan Tomang Jakarta Barat masing-masing 265 dan 226 mm, sedangkan di Jatiasih Bekasi Jawa Barat 246 mm. Ini berarti bahwa angka-angka tersebut menunjukkan ketinggian permukaan tanah yang tertutupi oleh air (jika dianggap permukaan Jakarta rata) adalah sekitar 28,46 cm. Dilihat dari angka-angka tersebut maka wajar bahwa Jakarta Timur merupakan wilayah yang mengalami banjir paling parah. Ini belum termasuk memperhitungkan sungai-sungai yang masuk ke Jakarta yang berasal dari luar kota yang lebih tinggi ketinggian permukaannya. Daerah khusus ibukota memang rentan oleh bencana banjir apalagi sebagian wilayahnya ada yang berada di bawah permukaan air laut sehingga ketika pasang naik maka air sungai yang akan masuk ke laut akan tertahan sehingga bisa timbul genangan. Ini akan memperparah keadaan. Selanjutnya, silahkan baca di sini dan di sini.  

Friday, January 3, 2020

Bencana banjir

Hadiah khusus tahun baru kali ini adalah bencana banjir. Mungkin banyak yang tidak menyangka bahwa banjir kali ini bisa sebesar itu. Air sungai meluap dan banyak membanjiri pemukiman warga. Tak pelak lagi maka banyak pihak kerepotan akibat banjir yang demikian besar yang melanda beberapa kawasan khususnya ibukota Jakarta. Banyak mobil terendam sehingga banyak kemungkinan harus masuk bengkel. Rumah-rumah warga termasuki air dan perabotan rumah tangga terendam atau mengapung di dalam rumah. Tak terhitung kerugian yang harus ditanggung warga masyarakat.Bahkan ada yang meninggal karena banjir dan dampaknya. Sarana dan prasarana publik juga mengalami kerusakan sebagian. Selama 3 hari ini khususnya banyak berita beredar tentang banjir di Jakarta dan sekitarnya meskipun di beberapa tempat sebelum tahun baru, sudah mengalami banjir besar seperti yang terjadi di Sumatera.
Sebenarnya masalah banjir ini bukan barang baru, hampir setiap tahun terjadi. Kali ini agak lebih super karena terjadi bertepatan dengan tahun baru saat warga kita begitu gembira merayakan malam tahun baru. Hujan deras yang terjadi tanggal 31 Desember 2019 di Jawa Barat dan Jakarta sangat berdampak pada naiknya permukaan air sungai sehingga air melimpah kemana-mana. Apakah ini merupakan banjir 5, 10, 20, 25 tahunan atau bahkan lebih? Masih harus diteliti lebih lanjut. Tapi yang jelas dengan kondisi lingkungan yang semakin berubah dan sering kurang memperhatikan siklus hidrologi maka tidaklah salah kalau mengatakan bahwa banjir ini akibat masalah musim, lingkungan dan perilaku masyarakat. Perubahan cepat pada lingkungan sehingga air tidak banyak meresap ke dalam tanah, sungai yang banyak mengalami sedimentasi karena ada erosi dan sampah, dan sebab-sebab lain misal pasang surut air laut bisa berkontribusi pada kejadian banjir dan genangan. Oleh sebab itu maka beberapa hal yang bisa dilakukan adalah memperbaiki sepanjang daerah aliran sungai, perilaku masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan sehingga saluran drainase terhambat, mempercepat pembangunan/memfungsikan dengan baik waduk/situ-situ/kolam besar/hidropori/sumur resapan,  mengedukasi masyarakat untuk ikut serta dalam penanggulangan dan mitigasi bencana, dan lain-lain.
Ada baiknya untuk melihat kembali tulisan berikut ini, sebagai perbandingan yang mungkin terjadi di tempat lain. Selain itu tidak lupa saya mengingatkan untuk menyesuaikan pembangunan dengan masalah cuaca, musim dan iklim.
Tak lupa saya sampaikan turut berbelasungkawa, semoga Allah SWT/Tuhan YME mengganti kehilangan harta benda saudara-saudara kita yang rusak/hilang dan semoga yang meninggal husnul khatimah. Aamiin.

Tuesday, December 31, 2019

Pergantian malam tahun baru 2020

Hari ini diberitakan hujan terjadi di banyak tempat dan bahkan di jalan tol sampai terjadi air menggenang beberapa waktu yang menyebabkan kemacetan parah. Tak heran karena beberapa waktu sebelumnya hujan deras terjadi. Genangan yang membanjiri tol tersebut mungkin diakibatkan tidak berfungsi dengan baiknya saluran drainase atau saluran tersebut tidak mampu menampung air hujan yang deras. Mengingat kalau kita mengamati distribusi uap air yang ada di atmosfer, banyak wilayah berawan besar dan masif serta juga merata, maka tidak mengherankan bahwa hujan deras dan lama terjadi. Tapi mungkin sebagian sekarang sudah jauh berkurang hujannya atau mungkin rintik-rintik sehingga kemungkinan tengah malam nanti di banyak tempat sudah jauh mereda atau bahkan tidak hujan lagi. Ini mengingat tetes air hujan yang ada di atmosfer sudah banyak jatuh sebagai hujan.
Menutup akhir tahun ini, saya mengucapkan selamat tahun baru 2020. Semoga di tahun baru ini perkembangan pembangunan yang pesat semakin menyertai kehidupan bangsa Indonesia. Indonesia makin disegani bangsa-bangsa lain di dunia karena bergerak pesat menjadi negara maju, makmur dan adidaya dunia. Aamiin. 

Monday, December 30, 2019

Musim dan sampah



Hari ini dikeluhkan bahwa terjadi penumpukan sampah di pantai Kuta Bali akibat pengaruh musim yang menyebabkan arus dan gelombang mengarahkannya ke pantai tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa sampah yang terbawa arus laut dan gelombang akan sampai juga ke daratan mengingat transport Eykman baik di belahan bumi utara maupun di belahan bumi selatan yang dipisahkannya oleh garis khatulistiwa. Sampah yang sampai di pantai bisa diduga dari arah angin. Musim saat ini sudah menunjukkan mendekati puncak musim hujan mengingat angin timur laut di utara katulistiwa lebih dominan dibanding dengan angin tenggara di selatan khatulistiwa. Pusat-pusat tekanan rendah di wilayah Indonesia dan selatan Papua di Utara Australia menyebabkan angin mengarah ke tempat-tempat tersebut. Tiadanya topan di sekitar Philippina juga menyebabkan angin menjadi bergerak leluasa yang terkena pengaruh rotasi bumi (gaya Coriolis). Dapat dengan mudah diduga bahwa pertemuan antara angin timur laut dan tenggara tersebut memberi dampak peningkatan perawanan yang berpotensi menyebabkan hujan. Daerah netral yang terbentuk di dekat pusat tekanan rendah di barat Sumatera dan sebelah selatan selat Sunda membawa dampak pada penumpukan dan peleraian perawanan karena proses konvergensi dan divergensi.
Sampah biasanya berada di wilayah teluk, selain faktor musim seperti yang telah dijelaskan di atas, biasanya juga karena pengaruh wisatawan yang sembarangan dalam membuang sampah. Apalagi kebiasaan ini masih merupakan kultur bangsa Indonesia yang masih belum bisa dikikis habis. Bagaimanapun sampah tersebut bisa berasal dari mana saja dari belahan bumi ini. Untuk suatu benda sampai di tempat semula secara alami oleh arus laut membutuhkan waktu puluhan tahun, setelah keliling dunia, kecuali ada pengaruh signifikan seperti tsunami, angin siklon, angin kencang dan arus kuat yang tidak biasanya. Oleh karena saya berpesan kepada para wisatawan untuk tidak membuang sampah sembarangan khususnya pada tahun baru ini agar lingkungan tetap nyaman untuk dipandang dan dinikmati. Patuhilah rambu-rambu dan petunjuk para pemandu wisata kalian agar selamat saat berwisata. Selamat tahun 2020, semoga tahun baru kali ini membawa harapan baru yang jauh lebih baik. Aamiin.

Thursday, December 26, 2019

Hujan deras dan angin kencang serta gerhana matahari cincin

Ramai diberitakan di media sosial bahwa terjadi hujan deras disertai angin kencang di beberapa daerah kemarin. Hal ini biasa mengingat beberapa waktu ini terjadi beberapa pusat tekanan rendah yang ada di wilayah kita. Ini agak tidak biasa mengapa ada beberapa pusat tekanan rendah di Indonesia. Biasanya pusat tekanan rendah selalu berada di luar wilayah negara kita. Meskipun diramalkan oleh BMKG adanya pusat tekanan rendah namun dilihat dari peta sebaran perawanan dan distribusi uap air, tidak terjadi adanya perawanan yang masif di wilayah tersebut. Dari peta streamline memang terlihat kecepatan angin rendah di sekitar wilayah tekanan rendah tersebut namun agak menjauh dari pusat tekanan rendah tersebut angin dua bahkan tiga kali lebih kencang daripadanya. Semestinya perawanan yang terjadi juga banyak terkumpul di daerah tersebut, tapi nyatanya tidak, seperti yang terjadi di wilayah sekitar Sulawesi dan barat Aceh. 
Hal ini diperlihatkan pada distribusi uap air yang ditunjukkan oleh satelit Himawari 8 berikut ini pada jam 07.20 WIB pagi ini. Mungkin karena waktu masih pagi maka terjadi pola perawanan yang demikian. Semakin siang mungkin akan makin banyak terbentuk perawanan tinggi dan angin kencang.
Apa yang terjadi di beberapa tempat yakni hujan deras disertai dengan angin kencang memang bisa terjadi mengingat kecepatan angin di beberapa tempat mencapai 10-20 knot khususnya di pulau Jawa kemarin. Pusat tekanan rendah di Samudra Pasifik barat dekat Philippina yakni typhone Phanfone dengan tekanan pusatnya 975 mb dan kecepatan angin maksimum 75 knot turut membawa dampak pada tersedotnya angin menuju wilayah tersebut. Pola-pola lain yang terjadi menunjukkan bahwa puncak musim hujan masih belum terjadi. Daerah konvergensi dan divergensi yang berada dekat di wilayah Indonesia semestinya memperbanyak dan mengurangi perawanan yang terjadi. Ini seperti di dekat pusat tekanan rendah barat Aceh dan selatan Nusa Tenggara di barat laut Australia dan utara pulau Kalimantan dekat Brunei Darussalam. Pagi ini perawanan masif baru terjadi di antara pulau Jawa dan Kalimantan. Perawanan banyak terjadi di wilayah tanah air khususnya di wilayah daratan sehingga menghalangi pandangan untuk melihat peristiwa gerhana matahari cincin. Semoga hujan deras dan angin kencang yang mungkin akan terjadi beberapa waktu ini tidak sampai menyebabkan kerugian material yang banyak bahkan kehilangan nyawa. Aamiin.

Monday, December 16, 2019

Mengapa ...??

Mengapa ketika langit tertutup awan, cuaca sering terasa gerah?? Barangkali kalian tidak begitu sering memperhatikan tentang langit ketika cuaca mendung. Yang sering diperhatikan adalah ketika mendung tebal maka "dipastikan" akan terjadi hujan. Bukankah begitu?? CMIIW. Sebenarnya ketika langit tertutup awan cukup tebal, tidak hanya pertanda akan hujan yang akan terjadi namun juga cuaca akan terasa gerah. Kegerahan ini menyebabkan badan kita tidak merasa nyaman atau juga kita mudah tersulut emosi. Pada kondisi yang terik, hal ini juga sering terjadi apalagi kalau banyak debu beterbangan serta berisik/gaduh. Bukan tidak mungkin kita mudah marah-marah ketika terusik sedikit saja. Mengapa? Tidak lain karena ketika kondisi tersebut suhu dan kelembapan udara menjadi terasa tidak nyaman di badan. Mudah lelah, emosi bahkan stroke akibat panas bisa terjadi. Berkali-kali dalam berbagai kesempatan saya mengemukakan hal tersebut. Bahkan bukan tidak mungkin suasana emosi yang tidak stabil bisa menyebabkan angka bunuh diri juga meningkat yang dipengaruhi juga oleh faktor cuaca. Pernahkah kalian mendengar akibat dari efek Foehn. Efek Fohn terjadi ketika hujan terjadi di hadapan gunung sehingga massa udara di balik gunung menjadi lebih panas dan kering dari biasanya. Ini karena massa udara yang melewati depan gunung (windward) mengalami kejenuhan, timbul perawanan dan hujan orografis sehingga ketika melewati pegunungan kelembapan udaranya menjadi lebih rendah atau kering. Di pegunungan Alpen, efek Foehn ini menyebabkan banyak kecelakaan lalu lintas terjadi. Ini tidak lain karena emosi pengemudi kendaraan menjadi tidak stabil akibat panas yang tidak biasanya. Di Indonesia, pengaruh efek Foehn pada kejadian seperti telah disebutkan di atas belum pernah diteliti. Ini kajian yang sangat menarik sebenarnya, kolaborasi antara bidang meteorologi dengan kesehatan.
https://www.google.com/url? ...&ust=1576557822183804
Kembali ke pertanyaan di atas. Mengapa ...? Pada daerah yang berbentuk cekungan dimana wilayah tersebut dikelilingi oleh gunung atau bukit yang tinggi maka lapisan awan yang menutupi cekungan tersebut ibaratnya sebagai tutup terhadap panas atau gelombang panjang dari bumi. Akibatnya maka panas yang dipantulkan dari muka bumi akan terjebak di udara. Ini tentu saja akan menyebabkan panas yang tidak mengenakkan karena setiap aktivitas di muka bumi seperti pembakaran bahan bakar fosil dan penggunaan energi lainnya mengeluarkan panas. Ditambah lagi bila tidak ada atau sedikit pepohonan maka udara yang panas akan makin terasa panas. Agak sedikit berbeda dengan wilayah yang tidak berbentuk cekungan, suhu udara tidak akan terasa sepanas wilayah yang berbentuk cekungan.