Tuesday, January 18, 2011

Cuaca buruk dan dampaknya pada tangkapan ikan laut

Hari-hari belakangan ini, sebagian besar wilayah Indonesia mengalami cuaca buruk. Angin barat bertiup kencang sehingga gelombang lautpun tinggi. Tidak jarang dari berita media massa kita dengar para nelayan tidak berani melaut dan lebih banyak menganggurnya daripada melautnya. Tangkapan ikan menurun, dan akibat hukum pasar permintaan dan penawaran maka harga ikanpun melonjak, bisa mencapai 50%. Ini hal yang wajar saja, karena permintaan tetap tetapi penawaran/ ketersediaan barang (ikan) berkurang maka tentu saja harga akan terdongkrak naik.
Sudah bukan berita baru lagi, jika masa-masa angin barat seperti saat ini, harga ikan naik. Tidak ada solusi yang jitu yang dapat mengatasinya, karena memang cara penangkapan ikan di negara kita masih sangat tergantung pada cuaca. Cuaca buruk maka tangkapan juga buruk. Kita masih belum bisa menyesuaikan diri dengan kondisi alam. Kita belum bisa menjaga pasokan ikan laut yang konstan yang tidak tergantung pada musim. Kapal-kapal nelayan kita masih tradisional sehingga hanya mampu menangkap ikan-ikan yang hanya beberapa mil dari garis pantai. Belum banyak yang mampu mengusahakan kapal pengolah hasil tangkapan ikan di laut yang mampu mengolah ikan saat berlayar. Kita masih kalah dengan negara-negara lain yang kekayaan lautnya kurang tapi teknologinya sudah sangat maju. Bahkan di banyak negara lain, pengangkapan ikan sudah menggunakan teknologi penginderaan jauh dimana digunakan untuk mengetahui daerah-daerah upwelling yang kaya ikan.
Kita sudah mampu mengidentifikasi daerah-daerah upwelling yang kaya ikan, namun teknologi ini masih sangat terbatas diakses oleh masyarakat. Apalagi kalau kita lihat, resolusi daerah tangkapan masih terlalu kasar sehingga hanya kapal tertentu dengan kemampuan tinggi bermanuver yang bisa memanfaatkannya. Andaikata resolusinya tinggi maka akan makin banyak para nelayan yang mampu memanfaatkannya.
Selain teknologi penginderaan jauh dikembangkan untuk tujuan penangkapan ikan tersebut, pranata mangsa untuk penangkapan ikan sudah sewajarnya dikembangkan pula oleh para nelayan. Pengetahuan-pengetahuan tradisional yang selama ini para nelayan peroleh dari praktek sepatutnya untuk dicatat dan dijadikan patokan. Ini mirip dengan pranata mangsa yang dikembangkan para petani di pulau Jawa. Moga-moga dengan cara demikian maka tangkapan ikan juga akan terjaga kestabilannya dan masyarakat nelayan meningkat taraf hidupnya.

Sunday, January 16, 2011

Death toll rises to nearly 600 in Brazil flooding

January 15, 2011|By the CNN Wire Staff



The death toll from flooding caused by torrential rains in Brazil's Rio de Janeiro state rose to 591 people Saturday, Brazil's official news agency reported.

Most of the deaths were reported in the cities of Nova Friburgo and Teresopolis, located in a mountainous region northeast of Rio, according to Agencia Brasil.

Rescuers have not been able to reach some hard-hit areas and many more people are feared dead, the agency said Friday.

The rain is predicted to continue for several days in areas already submerged in water or slathered with mud.

Monday, January 3, 2011

Australia - Cyclone Tasha causes Flooding in Queensland

A cyclone has caused widespread flooding in Queensland leaving thousands without shelter and water.

The vast rural area is as big as Germany and France combined and so a massive evacuation has been launched to help residents in the north east of Australia.

Many have had their cars and caravans swamped and have taken to kayaks and boats to evade the water.

It is the wettest December on record in Brisbane in 150 years. The flooding in Queensland has affected around 20 towns in the region such as Bundaberg, Rockhampton and others around the Great Barrier Reef.


Rising floodwater is currently threatening 4,000 homes in Rockhampton. One tenth of the population of the town of Emerald were evacuated. It is expected water will swamp 80% of the town. A further 300 people were airlifted from the town of Theodore.

The storm was caused by Cyclone Tasha and has devastated the agricultural and industrial areas of Brisbane. Coal mining and farming communities have been hit hard by the disruption of rail and road transport.

BHP Billiton and Rio Tinto have had major production problems because of the flooding while millions of crops are ruined which will push up the prices of sugar and bananas. Bundaberg port and Rockhampton airport are also closed.

The damage will already run into several billions of dollars to repair and there are predictions of worse to come.

Queensland premier Anna Bligh said the situation was dire and that the crisis was far from over, with relief operations lasting for weeks afterwards. Contaminated water is one of the biggest threats.

"Three major river systems are flooding which has meant the need for 17 evacuation centres active.

“There are more than 1,000 people in those evacuation centres, and they will likely be joined by more from towns such as Rockhampton as floodwaters increase. We have a lot to do before we can really say we are in full recovery mode."

Source:http://www.rhinocarhire.com/CorporateSite/media/Car-Hire-News/Dec2010/Flooding-in-Queensland.jpg

Friday, December 31, 2010

Renungan tahun baru 2011

Tahun 2010 beberapa jam lagi akan berlalu meninggalkan kita. Tahun 2010 merupakan tahun-tahun dimana tindak asusila Ariel-Luna Maya-Cut Tari menyeruak di permukaan. Tahun 2010 pula kasus mafia pajak yang melibatkan Gayus Tambunan dll yang menunjukkan bobroknya system perpajakan di negeri ini mengemuka. Belum lagi pemberitaan tentang bencana alam seperti banjir Wasior Papua, tsunami Mentawai dan gunung Merapi meletus yang mempengaruhi Yogyakarta dan sekitarnya serta penyiksaan yang menimpa para tenaga kerja wanita di luar negeri mengisi halaman-halaman surat kabar dan media massa televisi dan radio di seantero negeri. Di penghujung tahun ditutup dengan meningkatnya rasa nasionalisme bangsa Indonesia dengan adanya pertandingan sepakbola piala AFF yang menghantarkan tim nasional Indonesia dengan gelar runner-up. Hanya sedikit sekali pemberitaan tentang masalah lingkungan menyita perhatian public, seperti misalnya gerakan menanam pohon nasional dan konferensi perubahan iklim di Cancun Meksiko.
Kita berharap di tahun 2011 ini segalanya menjadi lebih baik. Tidak ada lagi praktek-praktek asusila dan penyelewengan hukum yang terjadi. Korupsi diberantas tuntas dengan memberikan hukuman yang berat (kalau perlu hukuman mati seperti halnya Bandar narkoba), tidak ada lagi bencana di tanah air sehingga perhatian public untuk dicurahkan pada pembangunan bisa focus, serta nasib semua pekerja termasuk tenaga kerja Indonesia di luar negeri makin membaik.
Terkait dengan berbagai masalah lingkungan, diharapkan terjadi perbaikan dalam pola dan sikap hidup yang makin ramah lingkungan agar lingkungan makin ramah pula terhadap umat manusia. Bencana-bencana alam seperti banjir, tanah longsor, badai salju, angin kencang dan puting beliung/ tornado/siklon yang makin menggila saat ini menjadi makin berkurang. Ini tidak lepas dari upaya kita untuk makin memperhatikan lingkungan sampai sekecil-kecilnya. Aktivitas menghasilkan CO2 dan metana serta gas-gas buang diperkecil, eksploitasi sumber daya alam yang efisien dan efektif, serta pelestarian hutan dan lahan gambut yang makin baik seharusnya menjadi focus. Gerakan penanaman pohon menjadi gerakan nasional yang benar-benar direalisasikan, kalau perlu setiap orang diwajibkan menanam minimal 1 pohon di halaman rumahnya atau di tempat-tempat yang telah disediakan. Pembalak liar ditindak tegas dan tidak hanya sekedar himbauan agar menghentikan kegiatannya saja dan sebagainya.
Bila saja setiap insan manusia peduli maka bisa diharapkan segalanya akan menjadi lebih baik. Semoga!

Thursday, December 30, 2010

Mencari solusi perubahan iklim

Rabu, 29 Desember 2010 | 03:51 WIB

RENÉ L PATTIRADJAWANE

Perubahan iklim global dan bencana alam yang terjadi di kawasan Asia Tenggara dan Australia mengkhawatirkan semua pihak dan menyedot dana dalam jumlah relatif besar anggaran setiap negara yang mengalaminya. Letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah, hujan salju di Australia, gempa di Selandia Baru, sekali lagi menunjukkan betapa tidak ramahnya alam terhadap kehidupan manusia modern.Para penguasa dunia masih tidak sadar krusialnya ancaman perubahan iklim dan bencana yang setiap saat muncul di mana-mana. Pertemuan para negosiator perubahan iklim yang berlangsung awal Desember ini di Cancun, Meksiko, merupakan pertemuan UN Climate Change Conference sangat rendah dibandingkan dengan pertemuan tingkat tinggi terakhir yang berlangsung di Kopenhagen, Denmark.

Banyak faktor memengaruhi perubahan iklim dan bencana alam menyebabkan berbagai negara dan pemerintahan menguras dana dalam jumlah masif, seperti sekarang terjadi akibat badai salju di Eropa dan Amerika Utara. Ribuan jadwal penerbangan terhenti, jalur transportasi tidak mampu digunakan untuk mendorong logistik bagi ekonomi dan perdagangan, tersumbatnya sumber energi, dan berbagai persoalan lain.

Dari Kopenhagen muncul persoalan negara berkembang tidak ingin menghentikan atau memperlambat pertumbuhan ekonominya sampai dunia mampu menghasilkan hitungan ekonomi kompetitif terhadap alternatif pembangkit listrik berbasis batu bara. Pertemuan Cancun yang lalu pun tidak mampu menghasilkan kesatuan agenda perubahan iklim yang bisa disepakati oleh negara berkembang dan negara kaya.

Salah satu faktor penting dalam kebijaksanaan perubahan iklim adalah China sebagai pengguna energi terbesar di dunia, dan juga pasar otomotif paling besar di dunia. Posisi China ini menyebabkan negara dengan penduduk terbesar dan cadangan devisa mencapai lebih dari 2 triliun dollar AS itu untuk meningkatkan kebutuhan hidrokarbonnya dan akan lebih mendorong China untuk melakukan pengurangan emisi melalui ekonomi baru seperti yang dicapai dalam Protokol Kyoto 1997.

Organisasi ASEAN yang akan dipimpin Indonesia tahun 2011 sudah waktunya memberi perhatian khusus isu perubahan iklim dan bencana, terutama pertemuan ASEAN+3 (China, Jepang, dan Korea Selatan). Banyak negara kawasan Asia dan Australia menghadapi ancaman meningkatnya suhu karena fitur geografis setiap negara, termasuk ancaman meningkatnya air laut membawa air garam ke daratan.

Dampak peningkatan air laut akan mengganggu dan mengurangi berbagai potensi industri di setiap negara karena perubahan kadar keasinan pada air. Atau meningkatnya intensitas badai tropis, menyebabkan munculnya berbagai penyakit seperti gangguan pernapasan ataupun penyakit tropis lainnya seperti demam atau malaria karena suhu panas menyebabkan meningkatnya populasi serangga penyebab penyakit.

Pertemuan tingkat tinggi ASEAN+3 menjadi forum ideal untuk mencari solusi dan kesepakatan membahas persoalan perubahan iklim dan pengurangan emisi karbon dalam rangka kepentingan dan kemajuan bersama. Dan ini menjadi persoalan bersama yang akan menentukan masa depan bersama.

Source:Planetark

Sunday, December 19, 2010

Peramalan musim sampai dengan Maret 2011

Diprakirakan bahwa La Nina di samudra Pasifik tropis akan berlanjut sampai musim semi di belahan bumi utara tahun 2011 dan mencapai puncaknya pada bulan November sampai Januari ini. Ini membawa dampak pada peningkatan perawanan konvektif di atas wilayah Indonesia sehingga wilayah ini akan mengalami banyak hujan konvektif yang disertai petir kalau pemanasan permukaan bumi oleh radiasi matahari juga cukup kuat.
Namun jika melihat bahwa diprakirakan Indian Ocean Dipole Mode yang negatif sampai akhir tahun 2010 ini dengan pola anomali hujan yang sangat jelas, maka ini menambah curah hujan di Indonesia khususnya di wilayah Indonesia bagian barat seperti Jawa dan Sumatera. Kombinasi yang kuat antara La Nina dan IOD negatif ini membawa dampak pada turunnya curah hujan yang cukup besar di sebagian wilayah Indonesia. Apalagi mengingat monsoon barat laut yang melanda sebagian wilayah Indonesia bagian barat. Pola IOD negatif yang diprakirakan meluruh pada tahun depan, akan cukup banyak mempengaruhi curah hujan di Jawa dan Sumatera serta Kalimantan bagian barat. Di wilayah-wilayah tersebut curah hujan akan berkurang, namun mengingat pengaruh monsoon yang juga kuat yang membawa hujan di wilayah Indonesia maka dampak pengurangan hujan akibat IOD tersebut tidak akan banyak terasakan. Di wilayah Indonesia timur yang banyak dipengaruhi oleh La Nina daripada oleh IOD menyebabkan terjadinya peningkatan curah hujan di wilayah tersebut. Bukan tidak mungkin di sebagian wilayah Indonesia akan terjadi banjir, puting beliung, angin kencang, dan petir. Masyarakat harus lebih waspada untuk itu dan lebih memperhatikan masalah lingkungan agar musibah dan dampak yang terjadi dapat diminimalisir.

Catatan: prakiraan ini didasarkan atas analisa dari prakiraan La Nina dan IOD yang dikeluarkan oleh NOAA dan JAMSTEC.

Wednesday, December 15, 2010

Radiasi matahari

Radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi disebut insolasi (incoming solar radiation). Kira-kira 99,9% semua energi yang ada di atmosfer bumi berasal dari radiasi matahari. Hanya sangat sedikit energi atmosfer disuplai oleh bumi sendiri baik oleh aktivitas vulkanik atau peluruhan material radioaktif dan pembakaran material organik yang secara klimatologi hanya bersifat lokal. Semua pergerakan dan perubahan di dalam atmosfer disebabkan oleh variasi jumlah insolasi yang diterima. Variasi ini kemudian merupakan penyebab utama perbedaan iklim (baca postingan sebelumnya).

Durasi insolasi tentu saja adalah panjang hari. Ini dikontrol oleh rotasi bumi pada sumbunya tetapi karena sumbu tersebut membuat sudut 67,5o dengan bidang orbit bumi mengelilingi matahari maka tempat-tempat di belahan bumi musim panas menikmati hari lebih panjang daripada yang mengalami musim dingin. Waktu eksposur tahunan total terhadap matahari adalah sama di semua tempat di bumi ini tetapi perbedaan di antara hari-hari musim panas dan dingin meningkat dengan lintang. Waktu ekstrimnya dicapai dekat kutub dimana terdapat siang hari sepanjang 6 bulan kontinyu dilanjutkan dengan malam hari selama 6 bulan kontinyu. Hanya saat ekuinoks pada tanggal 23 Maret dan 22 September, panjang siang dan malam di mana-mana sama.

Di ekuator, semua hari dalam satu tahun mempunyai panjang 12 jam 7 menit. Secara astronomis, durasi 12 jam tersebut sudah pasti sedangkan 3,5 menit tercapai saat separuh bagian atas matahari tidak nampak di bawah horizon saat matahari terbenam dan 3,5 menit saat matahari terbit sebelum pusat cakram matahari berada di horizon.

Di lintang rendah perbedaan hari terpendek dan terpanjang meningkat kira-kira 7 menit per derajat lintang; kira-kira 71 menit di lintang 10 derajat dan 146 menit di lintang 20 derajat (List, 1958). Di lintang rendah variasi musiman panjang hari sangat kecil. Di lintang tengah temperatur tinggi berhubungan dengan hari-hari musim panas yang panjang, sedangkan di tropis hari-hari selalu pendek dan matahari jarang terbenam lebih dari jam 7 pm waktu lokal.

Intensitas insolasi
Orbit bumi mengelilingi matahari adalah eliptik (tidak lingkaran) sehingga ada saat bumi berjarak sangat dekat dengan matahari dan ada saat dimana bumi berada pada jarak terjauhnya. Pada sekitar 3 Januari matahari berada pada jarak minimum (perihelion) yakni 147 juta km dan pada 4 Juli pada jarak maksimumnya (aphelion) yakni 152 juta km. Sebagai akibatnya radiasi matahari di puncak atmosfer pada bulan Januari kira-kira 7% lebih intensif daripada pada Juli, dan perbedaan ini sama untuk semua lintang. Secara teoritis, hal ini menyebabkan musim panas di belahan bumi selatan lebih panas dan musim dinginnya lebih dingin daripada di belahan bumi utara. Namun demikian efek ini diimbangi oleh efek kontinentalitas yang lebih kuat di belahan bumi utara. Secara klimatologi, perbedaan intensitas insolasi ini jauh lebih besar dipengaruhi oleh variasi elevasi matahari, yakni posisi matahari di langit di atas horizon. Ini biasanya ditunjukkan oleh waktu lokal siang hari dimana matahari mencapai elevasi maksimum hariannya.

Ada tiga alasan mengapa posisi tinggi dari matahari menyebabkan insolasi lebih intensif daripada pada elevasi rendah. Pertama adalah bahwa sinar yang datang pada matahari tinggi disebar pada permukaan yang lebih kecil dibanding pada matahari rendah. Intensitas insolasi bervariasi sebanding dengan sinus sudut datang radiasi. Alasan kedua adalah bahwa posisi tinggi matahari berarti lebih pendeknya melewati atmosfer sehingga radiasi matahari lebih sedikit dipencarkan (proses scattering)yang disebabkan oleh partikel debu atmosferik. Efek ini dengan jelas ditunjukkan oleh efek yang kurang merusak pada mata manusia telanjang pada saat matahari rendah daripada saat matahari pada posisi tinggi. Alasan ketiga adalah berhubungan dengan albedo yakni perbandingan antara radiasi matahari yang dipantulkan dengan radiasi yang datang. Albedo dipengaruhi oleh sifat permukaan khususnya warna dan dia menurun dengan elevasi matahari yang lebih tinggi. Efek ini sangat terlihat di atas air sehingga secara klimatologi sangat penting di daerah tropis dimana tiga per empat permukaan bumi didominasi oleh laut dan lautan.

Sunday, December 12, 2010

Oleh-oleh dari Cancun, Mexico

Seperti sudah diduga sebelumnya, pertemuan di Cancun Meksiko untuk membahas hal yang terkait dengan pemanasan global dan perubahan iklim kali ini tidak banyak beranjak dari pertemuan di Copenhagen Denmark. Ada kesepakatan, tetapi tidak mengikat secara hukum artinya boleh dilaksanakan boleh juga tidak; yang menyerukan negara-negara kaya untuk mengurangi emisi gas rumah kacanya seperti yang telah ditetapkan di Copenhagen Accord dan untuk negara-negara sedang berkembang merencanakan untuk mengurangi emisinya untuk membatasi pemanasan global sampai kurang dari dua derajat celcius di atas level pra industri. Termasuk juga persetujuan untuk mengajukan $100 milyard setahun dana untuk membantu negara-negara miskin dalam mengurangi emisi GRK dan beradaptasi.

Dari pembicaraan di forum pertemuan, yang berkembang saat ini sudah bukan masalah saintifik lagi namun sudah menyangkut masalah hukum. Debat bukan lagi masalah ilmiah tentang pemanasan global dan perubahan iklimnya namun sudah menjurus bagaimana setiap negara mempertahankan diri jikalau negara tersebut diserang dari segi hukum. Oleh karena itulah wajar seandainya banyak negara khususnya negara-negara yang maju industrinya dan banyak mengeluarkan emisi gas rumah kaca berusaha agar kesepakatan yang terjadi tidak mengikat secara hukum. Karena jikalau kesepakatan tersebut mengikat secara hukum, bukan tidak mungkin suatu negara yang telah menyepakatinya akan dapat dituntut di pengadilan internasional. Ini yang nampaknya dikhawatirkan oleh negara-negara maju tersebut. Kesadaran bahwa bumi kita satu dan kesadaran lingkungan memang sudah menjadi gerakan global, namun tidak sangat cukup kuat untuk dilaksanakan dengan kegiatan nyata karena berimbas pada banyak aspek suatu negara. Namun walaupun tidak terjadi kesepakatan yang mengikat secara hukum, saya yakin suatu negara dengan kesadaran diri dan masayarakatnya berusaha untuk mengurangi dampak aktivitas kehidupannya dengan pola ramah lingkungan, walaupun belum secepat yang kita harapkan bersama.

Bagaimana tanggapan surat kabar asing mengenai kesepakatan di Cancun ini dapat dibaca pada surat kabar berikut ini.

"The New York Times described the agreement as being both a "major step forward" given that international negotiations had stumbled in recent years, and as being "fairly modest" as it did not require the changes that scientists say are needed to avoid dangerous climate change".

Friday, December 10, 2010

Peramalan La Nina: Terjadi peningkatan perawanan di atas Indonesia

During November 2010, the ongoing La Niña was reflected by below-average sea surface temperatures (SSTs) across the equatorial Pacific Ocean. For the second straight month, only small changes were evident in the Niño SST indices, which ranged from –1.3°C to –1.7°C at the end of the month. The subsurface oceanic heat content (average temperatures in the upper 300m of the ocean) also remained well below-average in association with a shallower-than-average thermocline across the central and eastern equatorial Pacific. Convection remained enhanced over Indonesia and suppressed over the western and central equatorial Pacific. Enhanced low-level easterly trade winds and anomalous upper-level westerly winds continued over the equatorial Pacific. Collectively, these oceanic and atmospheric anomalies reflect a moderate-to-strong La Niña.

Consistent with nearly all ENSO forecast models, La Niña is expected to peak during November-January and to continue into the Northern Hemisphere spring 2011. Thereafter, the fate of La Niña is more uncertain. The majority of forecast models and all of the multi-model combinations (thicker lines) indicate a return to ENSO-neutral conditions during the Northern Hemisphere spring and early summer. However, a smaller number of models, including the NCEP Climate Forecast System, suggest that La Niña could persist into the summer. Historically, there are more multi-year La Niña episodes than El Niño episodes, but other than support from a few model runs, there is no consensus for a multi-year La Niña at this time. Consequently, La Niña is anticipated to continue into the Northern Hemisphere spring, with no particular outcome favored thereafter.

Likely La Niña impacts during December 2010-February 2011 include suppressed convection over the central tropical Pacific Ocean, and enhanced convection over Indonesia. Impacts in the United States include an enhanced chance of above-average precipitation in the Pacific Northwest, Northern Rockies (along with a concomitant increase in snowfall), Great Lakes, and Ohio Valley. Below-average precipitation is most likely across the southern states, extending into the Mid-Atlantic region. An increased chance of below-average temperatures is predicted for the northernmost western and central states, and a higher possibility of above-average temperatures is forecast for much of the southern and central U.S.

Source: Climate Prediction Center, National Centers for Environmental Prediction, NOAA/National Weather Service

Monday, December 6, 2010

Setiap pertemuan selalu terjadi hal yang bertolak belakang dengan tujuan ... (Cancun, Mexico)

Kekhawatiran-kekhawatiran selalu terjadi, karena pencapaian hasil pertemuan seperti di Cancun, Mexico ini diprediksi tidak seperti yang kita inginkan. Komitmen baru diperkirakan akan mengawang-awang. Akankah komitmen baru tercapai sehingga membawa suasana segar bagi kemaslahatan umat manusia? Akankah komitmen baru tersebut akan mengikat secara hukum sehingga betul-betul ada sanksi bila melanggarnya? Kita nantikan sampai dengan tanggal 10 Desember ini.

Saturday, November 27, 2010

Banjir merupakan persoalan lingkungan

Akhir-akhir ini sering terjadi banjir di banyak kota di Indonesia. Mulai dari yang menggenangi jalan-jalan dengan ketinggian beberapa centimeter sampai menggenangi pemukiman dengan kedalaman dua meter lebih. Sebagai contoh di wilayah Bandung Selatan, Jawa Barat. Setiap tahun sudah dapat dipastikan bahwa kawasan tersebut selalu dilanda banjir. Pemerintah daerahpun sepertinya sudah bosan menangani masalah ini, terbukti sampai sekarang tidak ada upaya yang sangat serius untuk menanggulanginya. Masyarakat sendiri sudah apatis dan memandang banjir sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Herannya mereka tetap tinggal di tempat tersebut meskipun selalu dilanda banjir. Tak ada upaya pindah lokasi atau bahkan transmigrasi bila memungkinkan. Walaupun memang ada masyarakat juga yang kreatif seperti misalnya memanfaatkan kelebihan air untuk beternak lele dan ikan.
Bila kita tinjau bagaimana suatu banjir bisa terjadi maka kita akan berkesimpulan bahwa banyak banjir diakibatkan oleh ulah manusia yang tidak menjaga keharmonisan dengan alam. Mereka tidak memperdulikan kerusakan lingkungan yang terjadi; mereka hanya menyalahkan pihak-pihak penyebab banjir skala besar. Tak ada upaya untuk memperbaiki lingkungan sendiri dengan memanfaatkan semangat gotong royong.Banjir di Jakarta, misalnya. Selain memang diakibatkan kiriman air dari Bogor, juga karena lingkungan Jakarta sudah rusak dan tidak mampu menampung jutaan meter kubik air hujan yang jatuh. Setiap wilayah Jakarta sudah penuh oleh gedung dan lantai beton atau aspal. Ruang terbuka hijau makin sempit, saluran-saluran air dan sungai tidak dapat berfungsi normal akibat pendangkalan dan sampah yang menumpuk yang menyumbat. Tidak ada wilayah peresapan air yang memadai yang mampu menampung air dalam jumlah besar. Permukaan lautpun makin lama makin naik akibat pemanasan global. Air sungai tidak mampu menggelontor ke laut karena kemiringan permukaan dasar sungai yang makin sejajar dengan permukaan laut. Pengambilan air dalam skala besar-besaran sudah lama terjadi dan mengakibatkan intrusi air laut ke darat. Beberapa waktu yang lalu diberitakan bahwa intrusi air laut sudah berkilo-kilometer ke arah daratan Jakarta. Ini sesuatu yang mengerikan. Jadi adalah wajar ada wacana bahwa ibukota negara Indonesia dipindahkan dari Jakarta, selain karena masalah kemacetan lalu lintas seperti dirilis dalam posting sebelumnya.
Tidak ada rumusan yang jitu untuk mengatasi banjir ini. Pembenahan aspek lingkungan memang merupakan salah satu solusi, tetapi seringkali hanya menyangkut ruang lingkup mikro. Yang diinginkan adalah pembenahan ruang lingkup makro dengan penataan kota yang lebih terintegrasi dengan daerah-daerah lainnya. Tidak boleh ada ego sektoral dalam menangani kasus seperti masalah banjir ini. Kebijakan di tingkat nasional haruslah didorong dan diterapkan dengan law enforcement yang konsisten. Dalam era perubahan iklim global dimana di Indonesia diproyeksikan banyak terjadi hujan lebat dengan intensitas tinggi di banyak wilayah setidaknya harus membenahi lingkungannya dari ruang lingkup mikro sampai makro. Kita tidak dapat mengharapkan terlalu banyak jika persoalan lingkungan hanya dibicarakan dalam taraf makro atau mikro saja. Tentu saja kita tidak bisa berharap alam akan bersahabat dengan kita dan mengharapkan hujan terjadi sesuai dengan yang kita butuhkan saja. Semua kementrian harus bahu membahu dalam mengelola masalah lingkungan ini, tidak hanya kementrian kehutanan, pekerjaan umum, pertanian, atau  pertambangan dan energi saja. Oleh karena itu diperlukan leadership yang kuat untuk membawa Indonesia sesuai dengan cita-cita kita bersama. Tak lupa, keterlibatan masyarakat dalam seluruh upaya pembangunan harus pula mendapatkan perhatian serius.

Tuesday, November 23, 2010

Pola curah hujan di Indonesia

Pada dasarnya terdapat tiga pola curah hujan di Indonesia. Kita menyebutnya sebagai tipe A, B dan C. Tipe A adalah tipe monsoonal, tipe B adalah tipe ekuatorial, dan tipe C adalah tipe lokal. Tipe monsoonal ini mempunyai pola curah hujan yang berbentuk cekung, menyerupai huruf U dimana curah hujan tinggi pada bulan Januari, Pebruari dan makin lama makin turun dimana pada bulan Juli, Agustus hampir nol, kemudian meningkat lagi sampai bulan Desember.Curah hujan dengan pola ini dipengaruhi oleh monsoon barat dan monsoon tenggara/ timur. Monsoon barat berkaitan dengan curah hujan yang tinggi, sedangkan pada monsoon timur curah hujannya rendah. Mengenai monsoon ini, anda bisa baca pada posting sebelumnya di sini. Sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan mempunyai pola curah hujan tipe monsoon ini. Tipe monsoon ini sangat terpengaruh oleh fenomena El Nino di samudra Pasifik ekuator bagian timur. Pada saat El Nino, umumnya pola monsoonal ini melemah, dalam arti curah hujannya turun drastis. Daerah tersebut meliputi Jawa, sebagian Sumatra bagin selatan dan timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian Sulawesi dan Papua bagian Selatan dan Utara, serta seluruh Nusa Tenggara sampai negara Timor Leste.
Di pulau Jawa, pada kondisi normal curah hujan di pantai utara umumnya ditandai dengan curah hujan bulan Januari yang lebih besar daripada bulan Desember. Sedangkan makin ke selatan, curah hujan bulan Desember lebih besar daripada bulan Januari dan Pebruari (Boerema). Curah hujan selama musim kemarau di sisi utara pulau Jawa lebih kecil dibanding sisi selatan karena slope pegunungan bagian selatan menghadap monsoon timur yang meningkatkan curah hujan, sedangkan di sisi utara mengalami efek Fohn.
Pola curah hujan ekuatorial banyak terdapat di Indonesia bagian tengah dekat ekuator. Wilayahnya membentang dari sebagian Sumatera, kebanyakan Kalimantan, sebagian Sulawesi dan sebagian besar Papua. Tidak ada pola ekuatorial yang terjadi di pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Pola ini ditandai dengan 2 puncak curah hujan setiap tahunnya yakni di sekitar Maret dan April serta September dan Oktober. Di luar bulan-bulan tersebut curah hujan juga masih tinggi dan praktis tidak terdapat musim kemarau. Boleh dikatakan pola curah hujannya menyerupai huruf M.
Pola yang ketiga yakni pola lokal hanya terdapat di sedikit wilayah di Indonesia. Pola ini ada di beberapa bagian pulau Sulawesi dan Maluku. Pola curah hujannya tidak mengikuti pola A ataupun B tetapi menunjukkan pola yang hampir kebalikan dari tipe monsoonal atau bisa jadi sepanjang tahun curah hujannya datar-datar saja, tidak ada lembah ataupun punggung (ridge) curah hujan. Pola yang terakhir ini hanya terdapat pada spot-spot daerah tertentu yang sangat kecil luas wilayahnya. Pola lokal ini kebanyakan disebabkan oleh efek topografi.

Tuesday, November 16, 2010

Kirim tenaga kerja yang terdidik dan terlatih ke luar negeri

Berita tentang nasib tenaga kerja wanita yang teraniaya di luar negeri sudah merupakan sesuatu yang biasa. Selama ini ratusan ribu tenaga kerja wanita kita berangkat ke luar negeri untuk mencari nafkah dengan bekal pengetahuan yang minim tentang negera asal tujuan serta pendidikan yang rendah. Kemampuan bahasa asingpun tidak memadai untuk berkomunikasi dengan atasan mereka/ majikan mereka. Jadi tidaklah aneh jikalau banyak tenaga kerja wanita kita yang dianiaya, dilecehkan, bahkan "terbunuh". Yang mengherankan pula, pemerintah tidak kuasa untuk mencegah tenaga kerja wanita tersebut diperlakukan demikian karena sebagian dari mereka merupakan pekerja ilegal, tanpa dokumen resmi. Lapangan pekerjaan di dalam negeri yang makin sulit untuk para pekerja wanita serta iming-iming gaji besar (kalau dikurskan ke rupiah) di negara lain menyebabkan berbondong-bondong mereka berangkat keluar negeri. Para makelar tenaga kerja yang menyalurkan kepada PJTKI dan PJTKI yang nakal banyak memanfaatkan keadaan mereka dan bahkan memeras mereka. Kita sering dengar dan baca dari media massa, para calon tenaga kerja yang disekap dan diisolir di kamp-kamp penampungan sebelum berangkat ke luar negeri selama berbulan-bulan. Kita juga sering baca di media massa, sejumlah tenaga kerja wanita yang baru pulang dari luar negeri dengan membawa dollar, ringgit, atau dinar diperas sebelum pulang ke kampung halamannya. Itu adalah perlakuan saudara-saudara sebangsa. Bagaimana dengan perlakuan bangsa lain ... sudah sering kita dengar pula. Ada yang cacat seumur hidup, diperkosa, dijual ke tempat pelacuran, meninggal, masuk penjara atau menjadi gelandangan di negeri orang.
Pemerintah seyogyanya tanggap akan masalah ini. Ekspor tenaga kerja tak terdidik dan tak terampil dan hanya menjadi babu-babu di negeri orang sangat merusak citra dan martabat bangsa Indonesia. Sudah sepantasnya jika pemerintah memberikan lapangan pekerjaan yang layak bagi mereka, misal dengan membuat program padat karya di banyak daerah. Uang-uang hasil korupsi harus disita dan digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Pendidikan harus menjangkau sampai masyarakat kecil dan pelosok desa dengan biaya murah atau digratiskan. Kesempatan menempuh pendidikan untuk rakyat miskin harus dibuka lebar. Pembangunan tidak hanya berpusat di kota-kota besar saja tapi harus menjangkau daerah terpencil. Dengan demikian pembangunan akan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.
Para pejabat harus sering turun ke bawah dan mendengarkan aspirasi rakyat, tidak hanya sering bepergian ke luar negeri dengan dalih sudah dianggarkan dimana sebenarnya hanya untuk menghabiskan sisa anggaran. Sumpah jabatan dan sumpah pegawai negeri seharusnya dipegang teguh dan benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata, tidak hanya sekedar di lidah saja. Law enforcement benar-benar ditegakkan dengan jujur dan adil. Andai ini semua diwujudkan, bukan tidak mungkin tujuan bangsa Indonesia untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila sudah diambang pintu. Semoga harapan seperti ini tidak hanya merupakan mimpi di siang bolong.