Obyektif, Independen, Sportif, Berpikir Positif, Berjiwa BESAR
Friday, October 29, 2010
Tsunami itu kembali terjadi ...
Anak Krakatau di selat Sunda beberapa hari terakhir juga meningkat aktivitasnya. Sepertinya jalur patahan ini memang masih labil dan akan terus menerus menuju upaya kestabilan. Entah akan berapa lama keadaan stabil di jalur patahan ini terjadi karena aktivitas di jalur patahan pada suatu tempat tertentu akan memicu penstabilan di tempat yang lain. Ini karena lapisan astenosfer yang lebih lunak di bawah lapisan lithosfer/kerak bumi terus mengalami pergeseran. Arus konveksi terus berlangsung walau dalam gerak yang sangat pelan.
Yang harus makin disadarkan kepada masyarakat adalah pengetahuan tentang alam Indonesia yang begitu unik. Kebanyakan wilayah kita berada di batas lempeng (itu untuk bumi padatnya), kita berada di perbatasan samudra Hindia dan samudra Pasifik (untuk hidrosfernya), dan wilayah kita merupakan wilayah yang unik dari sisi sirkulasi atmosfernya/ cuaca dan iklimnya. Oleh karena itu para ilmuwan khususnya bidang kebumian sangat dituntut untuk mensosialisasikan dan mengajak masyarakat untuk mengenali alam lingkungan Indonesia. Kita mesti harus belajar pada masyarakat Jepang yang juga merupakan masyarakat kepulauan dalam "mengikuti irama" alamnya, bersahabat dengan alam sehingga bencana alam yang sering terjadi tidak banyak memakan korban jiwa. Pengetahuan teoritis, observasi, dan pemodelan yang dikembangkan masyarakat ilmiah di sana patut kita tiru. Pemerintah hendaknya makin peduli akan hal ini.
Thursday, October 28, 2010
Merapi, mbah Marijan, dan wedhus gembel
Merupakan tantangan yang sangat besar bagi dinas vulkanologi untuk dapat mengurangi dampak yang diakibatkan wedhus gembel ini. Tidak ada yang dapat dilakukan selain dari memberikan informasi seakurat mungkin kepada masyarakat untuk segera meninggalkan gunung bila suatu gunung akan segera meletus. Namun perlu kita sadari pula bahwa masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang disampaikan. Masyarakat ilmiah belum dapat meramalkan kapan suatu gunung akan meletus, seakurat ramalan gerhana matahari atau bulan dimana sampai dapat diketahui menit dan detiknya suatu gerhana akan terjadi. Banyak memang teori-teori untuk meramal gempa, tapi tidak ada yang dapat memperkirakan secara persis suatu gunung meletus dan gempa akan terjadi. Memang sebelum gunung meletus ditandai dengan frekwensi gempa yang makin meningkat, tapi kapan meletusnya tidak dapat diketahui. Inilah alam; semuanya serba mungkin dan sulit untuk diprediksi kemauannya.
Informasi tentang gunung meletus ini sering tidak akurat sehingga masyarakat sering mengabaikannya. Mereka seringkali mendasarkan tindakannya dengan kebiasaan yang terjadi. Bila lahar dan awan panas biasanya mengarah ke selatan, maka masyarakat lereng gunung di sisi barat, utara dan timur biasanya tenang-tenang saja. Padahal sikap seperti ini sangat membahayakan diri mereka sendiri karena perilaku gunung dan awan tidak mudah ditebak. Informasi yang sangat penting menjadi seringkali tidak berguna bila masyarakat menjadi apatis. Kekhawatiran kehilangan harta benda, menjadi alasan utama penduduk tidak mau mengungsi. Mereka baru mengungsi setelah semuanya terlambat ...
Oleh karena itu, saya sebagai saintis menghimbau kepada masyarakat untuk mematuhi himbauan yang disampaikan dinas yang berwenang manakala bahaya mulai menjelang. Informasi-informasi yang disampaikan dinas vulkanologi, meteorologi-klimatologi dan geofisika hendaknya disambut secara rasional dan dicerna dengan baik karena barangkali informasi tersebut akan menyelamatkan jiwa kita dan keluarga.
*) turut berduka cita untuk saudaraku mbah Marijan dan saudara-saudara kita yang tertimpa bencana gunung Merapi dan tsunami. Semoga mereka-mereka yang telah meninggal diterima di sisi Nya dan diterima amalnya selama di dunia ini.
Thursday, October 14, 2010
Elemen iklim dan kontrol iklim
Kontrol iklim adalah faktor pengendali terhadap perbedaan/perubahan nilai elemen iklim yang terdiri dari 7 faktor utama dan satu faktor tambahan. Ketujuh faktor utama tersebut adalah posisi matahari, distribusi daratan dan lautan, daerah sel tekanan rendah dan tinggi semi permanen, angin dan massa udara, ketinggian tempat, barisan pegunungan dan arus laut. Sedangkan faktor tambahannya adalah badai. Kontrol iklim yang bekerja pada elemen iklim akan menentukan jenis dan variasi iklim.
Sebagai contoh: posisi matahari. Setiap tahun bumi berevolusi mengelilingi matahari selama kurang lebih 365 hari. Oleh karena itu kita mengenal gerak semu matahari sepanjang tahun. Akibat kemiringan sumbu bumi selama mengelilingi matahari sebesar 23,5o maka matahari seolah-olah bergerak antara 23,5o lintang utara dan 23,5o lintang selatan. Pada tanggal 23 Maret dan 22 September, matahari berada di atas ekuator, sedangkan pada tanggal 21 Juni matahari berada di 23,5o lintang utara, sedangkan pada tanggal 22 Desember matahari berada di 23,5o lintang selatan. Pada 3 Januari, matahari berada pada jarak paling dekat dengan bumi sejauh 147 juta kilometer(perihelion), sedangkan pada 4 Juli matahari berada pada jarak terjauh dari bumi sejauh 152 juta kilometer (aphelion). Pergerakan semu matahari ini membawa dampak pada elemen-elemen iklim yang telah disebut di atas, tergantung pada lokasi dan waktu. Elemen-elemen iklim ini mengalami variasi sehingga menyebabkan terjadinya jenis atau variasi iklim tertentu di suatu wilayah.
Friday, September 24, 2010
Monsoon di Indonesia
Indonesia yang merupakan bagian dari Asia tenggara mempunyai karakteristik monsoon yang luar biasa indahnya. Pada saat BBU musim dingin, massa udara dari dataran tinggi Tibet menuju ke arah tenggara ke benua Australia yang ketika berada di atas laut China selatan berubah arahnya menjadi angin pasat timur laut. Indonesia bagian utara mendapatkan massa uap air yang cukup banyak karena angin tersebut melewati laut dalam waktu lama; dengan demikian maka perawanan juga banyak. Ketika melewati ekuator angin tersebut dibelokkan menjadi arah barat laut oleh gaya Coriolis. Pada saat berada di Indonesia bagian selatan, angin barat laut inipun masih membawa cukup banyak uap air sehingga perawanan banyak. Pada saat BBU musim dingin inilah Indonesia mengalami musim hujan. Ini terjadi pada bulan Desember, Januari, dan Pebruari.
Ketika BBS mengalami musim dingin, pola yang sebaliknya terjadi. Angin bertiup dari daerah bertekanan tinggi di Australia menuju ke arah benua Asia yang bertekanan rendah. Angin tenggara tersebut membawa sedikit uap air ketika melewati wilayah Indonesia sehingga hanya sedikit perawanan yang terbentuk.Akibatnya di sebagian besar (tidak semuanya) wilayah Indonesia mengalami musim kemarau. Ini terjadi pada bulan Juni, Juli dan Agustus.
Selain musim hujan dan kemarau tersebut di atas, kita kenal dua musim yang lain yakni musim transisi pertama yang terjadi pada bulan Maret, April, Mei dan musim transisi kedua yang terjadi pada bulan September, Oktober dan November. Musim transisi pertama terjadi ketika monsoon musim dingin di BBU digantikan oleh monsoon musim panas; sedangkan musim transisi kedua terjadi sebaliknya.
Friday, September 10, 2010
Awan dan perawanan
Arthur Clayden mengumpulan pengetahuan tentang bahaya adanya awan dengan cara fotografi dan pemikiran-pemikiran kritis. Kebanyakan jenis-jenis awan utama dikenal baik oleh Clayden pada tahun 1922, sampai kemudian dengan makin berkembangnya pengkodean awan, dikenal istilah-istilah awan rendah, menengah dan tinggi dimana untuk awan menengah dan tinggi diberikan prefik alto dan cirro. WJ Humphreys menggabungkan pemahaman oleh ahli meteorologi dengan mata tajam seorang pengamat lapangan terbaik. Awan pileus yang oleh Howard telah dilupakan dan dibingungkan dengan anvil es dikoreksi oleh Humphreys dengan menyebutkan awan syal. Dia juga tidak latah dengan menggunakan istilah-istilah latin.
Nama-nama yang digunakan untuk perawanan dipilih untuk menggambarkan proses-proses yang menyebabkan awan terlihat seperti itu. Awan-awan konveksi cumulus terdiri daribagian yang berbentuk tajam dan bagian yang menguap. Awan-awan tersebut menghasilkan pileus ketika tumbuh dan stratocumulus ketika menyebar secara horizontal. Awan cumulonimbus adalah awan hujan walaupun sering digunakan untuk awan-awan dengan puncak yang mengandung es. Penyebaran puncak awan cumulus dan cumulonimbus sering menghasilkan anvil.
Konveksi ke bawah, misal dari dasar lapisan awan atau anvil, disebut mamma. Awan-awan yang berbentuk seperti serat disebut cirrus. Nama ini juga berarti bahwa awan tersebut tidak menguap (terdiri dari es) dan mempunyai partikel yang berbentuk seperti serat karena gerak udara. Awan-awan yang terdiri dari lapisan-lapisan disebut stratus. Lapisan serat disebut cirrostratus. Castellanus adlah cumulus yang tidak berhubungan dengan konveksi dari dasar awan tetapi yang tumbuh hanya karena kondensasi. Awalan alto digunakan karena awan tersebut menjauh dari pengaruh permukaan bumi. Awan gelombang adalah awan yang terbentuk dalam gelombang-gelombang yang dihasilan oleh aliran udara di atas bukit, pantai atau gangguan aliran horizontal yang lain. Awan gelombang bisa ditemukan beberapa kilometer di bawah angin dari bukit yang menciptakannya. Kabut adalah awan di permukaan bumi dan scud adalah awan yang terbentuk di bawah level kondensasi utama.
Friday, September 3, 2010
Kalau wakil rakyat sudah lupa keadaan rakyat yang diwakilinya ...
Kalau kita baca kronologi rencana pembangunan gedung DPR
ini mungkin nampak rasional, tapi apakah mencerminkan rasa keadilan bagi rakyat Indonesia? Saya sangat meragukannya! Wakil rakyat makin ingin ditingkatkan kenyamanann hidupnya sedangkan masyarakat yang diwakilinya tidak banyak dipikirkan kesejahteraan hidupnya. Tidak bisakah kita menghemat anggaran belanja? Tidak bisakah kita menggunakan anggaran tsb untuk meningkatkan layanan pendidikan, kesehatan, sarana prasarana jalan, jembatan, saluran irigasi dan drainase yang nyata-nyata untuk kemakmuran rakyat? Wahai para wakil rakyat ...berpikirlah dan asahlah rasa kalian agar kalian menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya.
Stephen Hawking: Tuhan Bukan Pencipta Alam Semesta
Dia mengklaim tidak ada kekuatan ilahiyah yang dapat menjelaskan mengapa alam semesta ini terbentuk.
Dalam buku terakhirnta, The Grand Design, dikutip oleh The Times, Hawking menjelaskan "Sebab di sana ada hukum gravitasi, alam semesta dapat dan akan menciptakan dirinya sendiri."
Di buku A Brief History of Time, Prof Hawking tidak menafikkan kemungkinan turut campurnya Tuhan dalam penciptan dunia.
Dia menulis di bukunya tahun 1988, "Jika kita menemukan sebuah teori yang lengkap, maka hal tersebut menjadi kemenangan nalar manusia. Oleh sebab itu, kita akan mengenal Tuhan."
Hawking, dalam buku terbarunya, menolak teori Isaac Newton yang menyatakan bahwa terciptanya alam semesta terbentuk tidak secara spontan namun digerakkan oleh Tuhan.
Stephen William Hawking lahir di Oxford, 8 Januari 1942 adalah seorang ahli teori fisika. Ia putra dari seorang guru besar matematika di Universitas Cambridge.
Dalam kiprah keilmuannya, Hawking terkenal karena sumbangannya di bidang fisika kuantum. Di bidang agama, menurut bekas istrinya, Jane, Hawking adalah seorang atheis. Namu Hawking mengaku bahwa ia "tidak religius secara akal sehat" dan ia percaya bahwa "alam semesta diatur oleh hukum ilmu pengetahuan. Hukum tersebut mungkin dibuat oleh Tuhan, tetapi Tuhan tidak melakukan intervensi untuk melanggar hukum." Baca beritanya di sini...
Tuesday, August 31, 2010
Ganyang Malaysia? Ganyang Malaysia! Ganyang Malaysia? ...
Ganyang Malaysia! ...setidaknya itulah yang sering mengemuka jika terdapat perselisihan antara Indonesia dan Malaysia. Sejaka zamannya Soekarno sampai dengan SBY saat ini, hubungan kedua negara mengalami pasang surut. Ratusan ribu TKI bekerja pada sektor formal dan informal di Malaysia. Di Sektor informal, banyak di antara mereka menjadi buruh dengan upah murah di negara tersebut setelah di dalam negeri Indonesia sendiri tidak banyak lapangan pekerjaan yang menjanjikan. Apalagi kalau mengingat kurs kita yang jauh dari nilai kurs ringgit Malaysia, maka meskipun upah mereka tergolong murah di sana, tetapi kalau dikurskan ke rupiah, tetap saja menjadi tinggi untuk ukuran pekerjaan yang sama di Indonesia. Jadi, tidak mengherankan bila banyak pengangguran dan pekerja dengan pendidikan rendah mengais rejeki di negeri jiran, Barangkali karena merasa mereka menjadi majikan banyak rakyat Indonesia, mereka berani memperlakukan bangsa Indonesia seperti gembel-gembel dan babu-babu yang hanya mereka pandang sebelah mata dan sering mereka campakkan begitu saja.
Kesempatan untuk mendapatkan lahan/pulau di dekat negara mereka sangat terbuka luas sejak era reformasi. Pemerintah yang berganti-ganti dengan cepat dan pengawasan pulau-pulau terluar Indonesia yang lemah dimanfaatkan oleh negara tetangga tersebut dengan baik. Sudah berapa luas lahan yang mereka klaim ...ribuan (atau bahkan jutaan??) hekatar sebagai wilayah mereka. TIm diplomasi kita untuk masalah menentukan batas negara sering berganti-ganti dan kurang memahami persoalan, sementara tim diplomasi mereka selalu sama dan sangat menguasai persoalan sehingga sering menyebabkan kita kalah telak. Apalagi kekuatan militer Indonesia melemah dengan semakin usangnya persenjataan dan sarana hankam seiring dengan menciutnya anggaran militer. Menyikapi hal tersebut seringkali terkesan bahwa Pemimpin Indoesia tidak punya nyali untuk menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai martabat yang dijunjung tinggi. Kita asyik dengan euforia demokrasi dan asyik masyuk dengan persoalan KKN. Jatuhnya banyak pesawat apalagi pesawat militer semakin menunjukkan rapuhnya kemampuan Indonesia dalam merawat dan memperbarui pesawat untuk tujuan hankam. Sebagai warga negara saya pun malu melihat peristiwa ini ... tidak untuk bertempur saja sudah jatuh sendiri, apalagi kalau untuk bertempur ... pasti memalukan dan keok. Kalau ketiga angkatan dan kepolisian tidak diberdayakan, bukan tidak mungkin suatu saat nanti kita akan semakin banyak kehilangan lahan (wilayah). Sudah saatnya pemerintah serius untuk melengkapi persenjataan militer dan alat hankamnya dengan produk-produk yang mutakhir sambil berusaha sekuat tenaga meningkatkan kemampuan personil tentara nasional dan industri dalam negeri dalam membuat produk-produk hankam di negeri sendiri. SBY berlatar belakang militer, apalagi seorang jenderal ... tentu tidak perlu diajari lagi bagaimana memperkuat kekuatan hankamrata. Yang perlu kita lakukan hanyalah selalu mengingatkan akan hal ini.
Malaysia mempunyai perjanjian pakta pertahanan dengan beberapa negara, seperti Australia, Selandia Baru, Singapuran, dan Inggris dimana bila salah satu negara tersebut diserang negara lain, maka negara-negara tersebut turut membantunya. Indonesia belum memiliki perjanjian seperti ini. karena itukah pemerintah tidak punya nyali dan gigi berhadapan dengan Malaysia? Menyedihkan sekali. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak mempunyai daya untuk menunjukkan harga dirinya ... bagaimana ini ...
Persoalan dengan Malaysia pada masa mendatang saya pikir akan semakin meningkat. Negara kecil tersebut akan semakin berani menginjak-injak harga diri bangsa Indonesia jika kita tidak berpikir panjang. Sumber daya alam dunia yang semakin sedikit akan semakin menyebabkan suatu negara berusaha untuk menguasai sumber daya alam negara lain. Contoh konkrit adalah bagaimana hutan-hutan di Kalimantan dirambah dan dibabat dengan suruhan cukong-cukong dari Malaysia. Jutaan hektar! Dan Jakarta, dengan tenangnya berusaha menghibur diri dan mengedepankan diplomasi serta tidak berani menggertak negara tersebut dengan sungguh-sungguh.
Sistem hankamrata harus semakin "dipoles" sehingga setiap saat siap bila dibutuhkan. Yang penting pula harus diingat, kita sudah banyak menghasilkan peraturan perundang-undangan, baik dalam keadaan damai maupun darurat. Mengapa kita tidak melaksanakannya secara konsekuen? Moga-moga menjadi bahan renungan dalam bertindak.
Tuesday, August 10, 2010
Ibukota negara Indonesia dipindah?
Ibukota negara memang harus dipindahkan! Wacana ini sebenarnya sudah dibangun Soekarno dan Soeharto, presiden pertama dan kedua RI. Soekarno mewacanakan karena saat masa perjuangan sedangkan Soeharto melihat bahwa perkembangan ibu kota negara yang pesat tidak mungkin didukung oleh Jakarta (CMIIW). Kalau Soekarno melihat Palangkaraya di Kalimantan sebagai tempat yang cocok maka Soeharto merencanakan Jonggol, Bogor, Jawa Barat yang tidak jauh dari Jakarta sebagai lokasi yang cocok. Namun sayang sejak era reformasi, rencana ini berantakan. Bukit Jonggol Asri sebagai penanggungjawab pembangunan Jonggol bangkrut akibat resesi ekonomi menjelang reformasi 1998, seiring dengan tumbangnya rejim Soeharto.
Kini wacana pemindahan ibukota negara tersebut muncul kembali. Sayang memang seandainya rencana semula tersebut tidak diteruskan; kalau diteruskan mungkin kita tidak perlu mulai dari nol lagi. Kita ini memang selalu menganggap untuk membentuk bangunan baru, maka bangunan lama harus diruntuhkan sama sekali, semua yang lama selalu dipandang jelek dan salah semua. Padahal saya pikir, jika ada bagian dari bangunan lama yang sudah baik ya sebaiknya dilanjutkan saja pembangunannya.
Kalau dipindahkan ke Palangkaraya, maka akan makin luas kawasan hutan yang dibabat akibat pengembangan kota dan sarana pendukungnya. Oleh karena itu cara yang paling tepat untuk itu adalah dengan melanjutkan rencana semula. Rencana-rencana yang pada rejim terdahulu sudah baik, dilanjutkan saja. Pelaksanaannya saja yang perlu dimonitor dan dikawal oleh semua lapisan masyarakat dan melibatkan masyarakat secara luas agar hasil pembangunan benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia sehingga sila ke-5 Pancasila yakni "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia" bisa segera terwujud! Aamiin.
Friday, August 6, 2010
Bandung declaration
The leading role of Asian and African nations in development is dated back to the first large-scale Bandung conference on April 18-24, 1955. Fifty five years later, Bandung witnesses a senior policy seminar on Climate Change and Poverty in Asia and Africa, convening a gathering of Asian and African prominent scholars and policymakers in Bandung to discuss the impact of climate change on poverty in Asia and Africa. This event is jointly organized by UNCRD and ITB from 3 to 5 August 2010. The primary objective is to discuss adaptation and mitigation policies that are available to Asian and African countries to combat the adverse impact of climate change. Participants came from Africa - Botswana, Ethiopia, Ghana, Kenya, Nigeria, Tanzania, Zimbabwe, and Asia - Bangladesh, Indonesia, Japan, Myanmar, Singapore, and Vietnam.
Discussion
General - Climate chang eaffects rural and urban poverty, food security, helat, water stess and other urban challenges, especially small island nations and coastal lowland cities by rising sea level and intensifying climate variability including flood and drought. Research is needed to identify the linkages between climate change and poverty, the challenges of adaptation and mitigation, and guide policymakers in dealing with the problem of climate change. Strengthening capabilities at all levels to effectively deal with the adverse impacts of climate change should be promoted. Community empowerment, sensitization and capacity development should be promoted to achieve sustainable development. Effective urban and rural policies and spatial plans should be designed and successfully implemented to address the problem of climate change and poverty reduction. Enforcement of law must be made effective.
Specific - Climate change impacts are complex and multiple with local variation in geofraphic, bio-physical, socio-economic and cultural contexts. Each community has its own coping mechanisms to deal with climate change and develop their own livelihood systems. Local wisdom, indigenous knowledge, options and constraints need to be understood and taken into account when dealingn with climate change. These best practices should be documented, disseminated and shared among countries. Economic growth should be sustainable and integrated with environmental considerations. Each nation should develop a holistic, integrated climate-resilient program. Implementation should be specifically designed and focused on the country's priorities with focus on water resources, food security (i.e agriculture, mariculture), renewable energy, coastal and lowland rural and urban areas, small islands and humid and arid regions, and primary producers (i.e. farmers, fishermen), among others.
Conclusion
The seminar concludes that the following should be umphasized:
- mobilize finance and empowerment of poor community and primary producers;
- promote adaptive capacity of poor nations and strengthen their mitigation ability;
- implement pro-poor policies;
- encourage research, education and sensitization in climate change and poverty;
- mainsteam climate change in national, regional and local policies and plans;
- strengthen partnership between developed and developing countries to enhance resilience of developing countries to deal with adverse impacts of climate change and promote their adaptive capabilities;
- promote climate-mitigation technologies such as wind power, solar energy, etc;
- encourage developed countries to do their part in mitigating green house gas emissions.
Tuesday, May 25, 2010
Maestro keroncong itu telah pergi untuk selamanya
Riwayatmu ini
Sedari dulu jadi
Perhatian insani
Musim kemarau
Tak seberapa airmu
Di musim hujan
Air meluap sampai jauh
Mata airmu dari Solo
Terkurung gunung Seribu
Air mengalir sampai jauh
Akhirnya ke laut
Itu perahu
Riwayatnya dulu
Para pedagang
Selalu naik itu perahu
-----
Selamat jalan mbah Gesang. Semoga amal ibadahmu diterima di sisi Nya dan engkau dikenang sepanjang masa oleh anak negeri ini dan bangsa-bangsa lain. Amin.
Monday, May 10, 2010
Adakah hubungan antara El Nino dan pemanasan global?
El Nino adalah peristiwa anomali memanasnya suhu permukaan laut samudra Pasifik ekuator yang berdampak pada cuaca dan iklim global. Telah kita ketahui bersama bahwa El Nino terjadi setiap 2-7 tahun sekali dan telah ter-record di parameter proksi sejak ribuan tahun yang lalu. Hanya kemudian disadari bahwa peristiwa yang awalnya dikira peristiwa lokal di perairan Peru saja oleh presiden Masyarakat Geografi Lima, Peru pada abad 19 ternyata merupakan peristiwa yang berkawasan luas meliputi samudra Pasifik ekuator. Dampak anomali memanasnya suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur ekuator tersebut menyebabkan pola angin juga berubah, daerah tekanan rendah juga berubah dan sirkulasi Walker juga berubah. Karena wilayah yang berubah ini luas maka juga berdampak pada pola cuaca global. Banyak wilayah yang tadinya banyak hujan seperti Indonesia mengalami pengurangan curah hujan bahkan kekeringan. Atau wilayah yang tadinya jarang hujan, menjadi banyak hujan bahkan banjir terjadi, dll. Selengkapnya tentang El Nino ini dapat dilihat pada beranda website ini.
Pemanasan global terjadi akibat terjebaknya panas dalam selimut atmosfer kita karena gas-gas rumah kaca; radiasi gelombang pendek bisa masuk ke bumi tetapi radiasi gelombang panjang dipantulkan lagi ke bumi dan hanya sedikit yang lolos ke angkasa. Gas-gas rumah kaca ini seperti metana, CO2, NOx, uap air dll yang selalu ada di atmosfer menjaga panas bahkan memanaskan bumi karena sifatnya seperti di atas. Bila gas-gas rumah kaca ini makin banyak terdapat di atmosfer maka dipastikan bumi akan makin panas. Aktivitas manusia dan alamlah yang mensuplai keberadaan gas-gas rumah kaca ini. Sejak era peradaban (revolusi) industri, jumlah gas-gas rumah kaca ini meningkat pesat. Akibatnya seperti kita rasakan sekarang ini: makin banyak bencana alam terjadi di berbagai belahan bumi. Hujan yang makin deras, kekeringan yang makin menyengat, badai dan tornado yang makin sering, hujan salju yang makin menggigit, berbagai penyakit muncul, mutasi genetik pada ikan dll sudah menjadi makanan kita sehari-hari. Berbagai macam pertemuan yang membahas hal ini pada tingkat dunia juga telah dilakukan, tapi yach ... sampai saat ini belum berarti untuk mengatasi fenomena perubahan iklim akibat pemanasan global ini.
Kedua fenomena di atas (El Nino dan pemanasan global) merupakan dua peristiwa yang berbeda dimana kedua-duanya berdampak pada cuaca dan iklim global. Belum ada teori yang mampu menghubungkan kedua peristiwa ini yang pernah saya temui. Namun pengamatan menunjukkan bahwa pada era pemanasan global ini, El Nino makin sering terjadi.
Thursday, May 6, 2010
Kita harus berbesar jiwa bahwa dia memang hebat!
Selamat bertugas bu Sri Mulyani, semoga engkau diberi kekuatan dan ketabahan serta kemampuan yang lebih baik untuk turut membenahi kiprah lembaga dunia tersebut di kancah internasional. Semoga prestasimu tetap cemerlang meskipun banyak tantangan menghadang.
Saya percaya bahwa meskipun engkau akan ada jauh di sana, tetapi engkau akan tetap mematuhi hukum di Indonesia karena aku yakin engkau adalah warga negara yang baik yang taat hukum. Semoga kasus bank Century dapat segera tuntas dan tidak membawamu masuk penjara. Amin.