Besok tanggal 2 Mei 2010 merupakan hari pendidikan nasional ... saya yakin semua orang Indonesia yang pernah mengenyam dunia pendidikan pasti tahu hal ini. Namun demikian, hari pendidikan nasional ini terasa lain dibanding waktu-waktu sebelumnya. Yang paling mencolok adalah dihapuskannya UU BHP yang dinilai oleh sebagian kalangan akan makin menyuburkan praktek bisnis dunia pendidikan. UU BHP yang membatasi agar maksimum 30% biaya pendidikan dibebankan kepada para calon mahasiswa, dengan dihapuskannya UU ini akan makin membebani kantong orang tua mahasiswa karena penyelenggara pendidikan dapat dengan seenaknya menetapkan besaran uang pendidikan walaupun kualitasnya kadang masih perlu diuji. Di lain pihak, untuk pendidikan dasar dan menengah, dilaksanakannya ujian nasional (UN) seringkali merupakan momok bagi para siswa, orang tua dan guru. Mereka dituntut untuk belajar dan berusaha lebih keras agar siswa, anaknya atau anak didiknya lulus dengan nilai yang baik. Sehingga bagi yang berpikiran pendek dan ingin menguntungkan sekelompok pihak tertentu maka cara-cara yang tidak fair dan sehat serta mendidik dilakukan. Jual beli kunci jawaban, atau guru mata pelajaran yang memberikan kunci jawaban kepada anak didiknya merupakan hal negatif yang juga mengemuka. Dilaksanakannya UN juga menuai protes oleh berbagai kalangan karena kualitas sarana dan prasarana dunia pendidikan di seluruh pelosok nusantara njomplang. Tidak ada buku pegangan yang seragam dan kemampuan guru yang sangat beragam serta sarana yang tidak memadai merupakan hal-hal yang dianggap tidak fair jika anak didik "diperlombakan". Sudah barang tentu di luar Jawa akan mengalami kesulitan dalam menyamai kualitas pendidikan di Jawa, bahkan sesama di Jawa pun juga mengalami disparitas antara kota dengan pelosok pedesaan. Sehingga tidak heran ribuan siswa di Jawa dan luar Jawa tidak lulus, bahkan ratusan sekolah sama sekali tidak ada siswanya yang lulus UN kali ini. Inilah potret buram dunia pendidikan kita.
Di lain pihak, kita sering mendengar prestasi para siswa dan mahasiswa kita dalam berbagai kompetisi internasional. Juara satu, dua dan tiga seolah-olah sudah bukan hal yang luar biasa ditorehkan oleh para putra putri kita. Juara fisika, biologi, kimia, matematika, astronomi, sains kebumian atau rekayasa sudah bukan berita baru lagi. Ini sangat membanggakan bagi kita semua. Di tengah kondisi pendidikan dalam negeri kurang begitu menggembirakan, namun dalam kancah internasional kita cukup disegani. Alhamdulillah.
Mengingat hal-hal di atas, sudah saatnya bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai kendala dalam dunia pendidikan, bersatu padu dengan swasta dan masyarakat untuk menggenjot dunia pendikan agar jauh lebih melesat. Pembangunan sarana dan prasarana serta kualitas pendidikan harus dilakukan. Anggaran pendidikan yang sampai sekarang masih jauh dari 20% seperti yang dicanangkan oleh UU sudah sepatutnya ditingkatkan. Jikalau kualitas pendidikan sangat bagus dan biaya pendidikan terjangkau masyarakat luas maka sumber daya alam yang luar biasa besar potensinya di Indonesia dapat dimanfaatkan sepenuhnya. Tenaga kerja kita harus mampu bersaing dengan tenaga kerja asing sehingga ekonomi kita tidak akan dijajah oleh negara lain yang sedikit sumber daya alamnya tapi kualitas tenaga kerjanya/ SDM nya bagus. Kita memasuki abad informasi, sehingga yang menguasai informasilah yang berjaya. Oleh karena itu sekali lagi, kualitas sumber daya manusia yang unggul dan disertai dengan akhlak yang mulia sangat diharapkan. Tugas kita bersama untuk mewujudkannya!
Obyektif, Independen, Sportif, Berpikir Positif, Berjiwa BESAR
Saturday, May 1, 2010
Friday, April 30, 2010
Kita harapkan peringatan hari buruh internasional tidak rusuh!
Besok adalah hari buruh internasional atau May Day. Belum ada tanda-tanda akan ada gerakan untuk mengumpulkan massa dalam jumlah besar yang tersiarkan di media massa hari ini. Tapi bukan tidak mungkin besok (1 Mei 2010), massa dalam jumlah besar menghiasi jalan-jalan protokol ibukota Jakarta dan bergerak menuju gedung istana negara. Kita harapkan saja para buruh dapat menyampaikan aspirasinya tanpa ada kerusuhan dan tindak perusakan. Kasus-kasus yang terjadi sehari-hari yang sudah menjadi laten diharapkan dapat diungkapkan dan diterima dengan lapang dada oleh pemerintah dan para pengusaha untuk makin memikirkan tindakan-tindakan yang makin mensejahterakan kaum buruh dan rakyat pada umumnya. Para pekerja makin dilindungi hak-haknya, tidak hanya dituntut terus kewajibannya. Keduanya harus balance. Para buruhpun makin tahu diri dan tidak memaksakan kehendaknya. Komunikasi tripartit antara buruh (organisasi buruh), pengusaha dan pemerintah hendaknya makin diintensifkan untuk mencari solusi yang terbaik bagi perkembangan perekonomian bangsa Indonesia. Kejadian-kejadian seperti di Batam beberapa hari yang lalu sebenarnya bisa dicegah seandainya semua pihak saling menghormati perannya masing-masing serta pihak pengusaha tidak merendahkan derajat kaum buruh/ pekerja. Perimbangan gaji pegawai antara buruh bumiputera dengan pekerja asing hendaknya makin mendapat perhatian agar semua pihak merasakan bahwa kita hidup di negeri sendiri dengan aturan yang menguntungkan bangsa sendiri, bukannya justru terlalu menyanjung-nyanjung buruh asing dan merendahkan buruh bumiputera. Sudah sepatutnya Kementrian Tenaga Kerja melindungi buruh migran karena mereka pula yang turut berjasa menyumbang pada devisa negara dan mensejahterakan saudara-saudaranya di kampung. Selama pemerintah belum mampu menyediakan lapangan kerja yang layak, kran suplai buruh migran yang tidak terdidik selayaknya tetap dibuka meski harus sangat selektif agar tidak timbul masalah di negara tujuan. Sering yang menjadi masalah adalah komunikasi yang bisa berujung pada peristiwa penganiayaan bahkan pembunuhan.
Semoga harapan mereka dan juga kita agar terjadi peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia mendapatkan perhatian yang layak dari pemangku kekuasaan dan wakil-wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat/Dewan Perwakilan Daerah/Majelis Permusyawaratan Rakyat. Sehingga jangan sampai aspirasi tidak sampai dan hanya sebagai komoditas politik saja oleh para wakil rakyat. Apalagi kalau sampai buruh hanya diwakili kesejahteraannya oleh wakil rakyat, sementara nasib buruh tidak diperhatikan ... ini benar-benar memalukan dan tak berperikemanusiaan.
Semoga harapan mereka dan juga kita agar terjadi peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia mendapatkan perhatian yang layak dari pemangku kekuasaan dan wakil-wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat/Dewan Perwakilan Daerah/Majelis Permusyawaratan Rakyat. Sehingga jangan sampai aspirasi tidak sampai dan hanya sebagai komoditas politik saja oleh para wakil rakyat. Apalagi kalau sampai buruh hanya diwakili kesejahteraannya oleh wakil rakyat, sementara nasib buruh tidak diperhatikan ... ini benar-benar memalukan dan tak berperikemanusiaan.
Dahsyatnya puting beliung
Tak ada yang mengetahui dengan pasti siapa yang pertamakali menggunakan kata ini untuk menyatakan fenomena yang menyerupai tornado di lintang tengah ini. Masyarakat Jawa sering menyebut fenomena ini sebagai angin lesus atau cleret taun. Kata puting beliung ini begitu populer beberapa tahun belakangan ini akibat banyaknya kejadian yang menimpa masyarakat kita berkaitan dengan angin yang berputar yang menyentuh tanah dengan kecepatan (bila diskalakan dengan skala Beaufort) masuk pada skala 8 atau dengan kecepatan lebih dari 34 knot (17 meter per detik). Kerusakan yang ditimbulkannya mulai dari ranting-ranting pohon patah, genting atau atap rumah diterbangkan sampai dengan pohon-pohon tercerabut dari tanah/ tumbang atau bahkan rumah yang kurang permanen roboh. Kalau dibandingkan dengan skala Fujita yang dapat digunakan untuk mengetahui kekuatan tornado dari kecepatan angin dan kerusakan yang ditimbulkannya maka puting beliung kira-kira masuk pada skala 1-2.
Puting beliung terbentuk bila dua massa udara dengan ketinggian berbeda dan sifat yang berbeda serta berlawanan arah bertemu. Udara di lapisan bawah yang mempunyai sifat hangat dengan kecepatan lebih rendah dibandingkan dengan udara di beberapa ketinggian di atasnya yang lebih dingin yang kecepatan anginnya lebih besar bersimpangan sehingga akan terbentuk gerak rotasi yang menyerupai pipa vorteks. Updraft akibat pemanasan permukaan yang kuat dalam awan badai guruh (thunderstorm) yang biasanya merupakan awan-awan jenis kumulonimbus akan mengubah orientasi gerak rotasi pipa vorteks tersebut dari horizontal menjadi vertikal. Jika pipa vorteks ini menyentuh tanah maka terbentuklah apa yang masyarakat sebut sebagai puting beliung, suatu bentuk yang menyerupai belalai gajah.
Puting beliung ini kadang tak dapat terlihat pada citra satelit karena skalanya yang sangat kecil, hanya sampai puluhan meter saja, berbeda dengan tornado yang skala horizontalnya bisa ratusan meter. Bahkan tornado yang kuat dapat menyebabkan rumah yang kokoh terangkat dari pondasinya dan terlempar pada jarak yang cukup jauh atau juga mobil yang bisa terlempar hingga belasan kilometer. Ini berarti kecepatan anginnya bisa mencapai 500 km per jam. Anda bisa bayangkan sendiri bagaimana dahsyatnya tornado ini.
Beruntunglah di negara kita, peristiwa yang mirip dengan tornado (yakni puting beliung) tidak mempunyai kekuatan sedahsyat ini. Ini dikarenakan massa udara yang bersimpangan arah pada ketinggian yang berbeda tersebut tidak mempunyai sifat yang terlalu jauh berbeda dan perbedaan tekanan udara tidak terlalu besar seperti di lintang tengah akibat kontras temperatur yang tidak besar. Gaya Coriolis tidak banyak pengaruhnya karena kita di lintang rendah dan skala horizontal fenomena ini sangat kecil (jauh di bawah 1 derajat lintang).
Menurut Amanda Katili (2010), bencana alam puting beliung di Indonesia mencapai 33% bencana alam tahun 2008. Sayangnya di Indonesia belum terdata dengan rapi fenomena-fenomena semacam ini. BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) juga belum mempunyai metode yang akurat dan paten untuk memprakirakan kejadian puting beliung ini. Ke depan diharapkan dengan makin meningkatnya kualitas dan kuantitas sumber daya manusia, peralatan observasi yang mendukung maka akan tercipta metode-metode yang lebih akurat dalam memprakirakan puting beliung ini.
Puting beliung terbentuk bila dua massa udara dengan ketinggian berbeda dan sifat yang berbeda serta berlawanan arah bertemu. Udara di lapisan bawah yang mempunyai sifat hangat dengan kecepatan lebih rendah dibandingkan dengan udara di beberapa ketinggian di atasnya yang lebih dingin yang kecepatan anginnya lebih besar bersimpangan sehingga akan terbentuk gerak rotasi yang menyerupai pipa vorteks. Updraft akibat pemanasan permukaan yang kuat dalam awan badai guruh (thunderstorm) yang biasanya merupakan awan-awan jenis kumulonimbus akan mengubah orientasi gerak rotasi pipa vorteks tersebut dari horizontal menjadi vertikal. Jika pipa vorteks ini menyentuh tanah maka terbentuklah apa yang masyarakat sebut sebagai puting beliung, suatu bentuk yang menyerupai belalai gajah.
Puting beliung ini kadang tak dapat terlihat pada citra satelit karena skalanya yang sangat kecil, hanya sampai puluhan meter saja, berbeda dengan tornado yang skala horizontalnya bisa ratusan meter. Bahkan tornado yang kuat dapat menyebabkan rumah yang kokoh terangkat dari pondasinya dan terlempar pada jarak yang cukup jauh atau juga mobil yang bisa terlempar hingga belasan kilometer. Ini berarti kecepatan anginnya bisa mencapai 500 km per jam. Anda bisa bayangkan sendiri bagaimana dahsyatnya tornado ini.
Beruntunglah di negara kita, peristiwa yang mirip dengan tornado (yakni puting beliung) tidak mempunyai kekuatan sedahsyat ini. Ini dikarenakan massa udara yang bersimpangan arah pada ketinggian yang berbeda tersebut tidak mempunyai sifat yang terlalu jauh berbeda dan perbedaan tekanan udara tidak terlalu besar seperti di lintang tengah akibat kontras temperatur yang tidak besar. Gaya Coriolis tidak banyak pengaruhnya karena kita di lintang rendah dan skala horizontal fenomena ini sangat kecil (jauh di bawah 1 derajat lintang).
Menurut Amanda Katili (2010), bencana alam puting beliung di Indonesia mencapai 33% bencana alam tahun 2008. Sayangnya di Indonesia belum terdata dengan rapi fenomena-fenomena semacam ini. BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) juga belum mempunyai metode yang akurat dan paten untuk memprakirakan kejadian puting beliung ini. Ke depan diharapkan dengan makin meningkatnya kualitas dan kuantitas sumber daya manusia, peralatan observasi yang mendukung maka akan tercipta metode-metode yang lebih akurat dalam memprakirakan puting beliung ini.
Friday, April 23, 2010
Massa udara dan cuaca
Massa udara yang dimaksud di atas bukanlah massa yang berkaitan dengan bobot misal gram, kilogram, ton dsb tapi "massa" yang berarti "kumpulan atau badan (body)". Jika udara menetap pada waktu yang cukup lama di atas suatu permukaan bumi, sifatnya cenderung menjadi ciri khas untuk permukaan itu. Jika sifat permukaan tersebut kurang lebih sama untuk daerah yang sangat luas (ribuan kilometer persegi) maka sifat suatu badan udara yang besar akan menjadi hampir sama/ seragam dalam bidang horizontal. Badan udara dengan sifat (khususnya dicirikan oleh temperatur dan kelembapan) yang hampir seragam dalam jarak horizontal ribuan kilometer disebut sebagai massa udara.
Dengan demikian, agar terbentuk suatu massa udara maka udara harus diam atau bergerak untuk waktu yang lama dan terdapat di atas daerah yang luas yang memiliki sifat seragam. Sifat dan tingkat keseragaman tersebut bergantung pada sumber massa udara, riwayat (modifikasi) massa udara dan waktu hidup massa udara. Pembentukan massa udara yang seragam dapat diperoleh melalui proses percampuran dan radiatif yang memerlukan waktu selama 3-7 hari.
Massa udara juga bisa mengalamai perubahan baik akibat proses termodinamik maupun proses dinamik. Proses termodinamik seperti misalnya pemanasan/ pendinginan permukaan dan penambahan/ hilangnya kelembapan. Sedangkan proses dinamik misalnya adalah percampuran turbulen dan pengangkatan/ penurunan skala besar.
Massa udarapun juga bisa diklasifikasikan didasarkan pada daerah sumber dan jenis permukaannya. Terdapat 4 klasifikasi dasar dari massa udara, yakni continental (c) yang secara tipikal kelembapannya rendah, maritime (m) yang kandungan uap airnya tinggi, polar (P)yang sifatnya dingin dan tropikal (T) yang sifatnya hangat. Dari keempat tipe dan sifat permukaan di atas, terdapat 4 kombinasi yakni continental polar (cP), continental tropic (cT), maritime polar (mP), dan maritime tropic (mT). Ada lagi tambahan jenis massa udara yakni Arctic (A) yang sifatnya sangat dingin dan sering tidak bisa dibedaan dengan massa udara polar (kutub) di dekat permukaan. Massa udara ini berasal lebih banyak dari atas tutupan es kutub daripada massa daratan lintang tinggi. Oleh karena itu terdapat 2 lagi tambahan massa udara yakni continental arctic (cA) dan maritime arctic (mA). Beberapa skema klasifikasi menambahkan indikasi pada udara tersebut yakni warmer (w) dan cooler (k) setelah nama massa udaranya, seperti misalnya cPk (continental polar cooler) dan mPw (maritime polar warmer). Sifat-sifat masing-masing massa udara ini sesuai dengan namanya. Oleh karena itu untuk mengetahui sifat-sifat masing-masing massa udara dengan lebih detail dipersilahkan para pembaca mencari referensi untuk itu.
Massa udara arctic terasakan sampai ketinggian 650 mb, cP dan mP terasakan sampai beberapa milibar di atas ketinggian A. Massa udara mT terasakan sampai ketinggian hampir 500 mb sedangkan cT kurang lebih terasakan sampai ketinggian 700 mb. Di antara semua massa udara tersebut, massa udara A mempunyai kadar kebasahan yang paling rendah dan mT adalah yang paling tinggi kadar kelembapannya.
Seperti telah disebut di atas, massa udara bisa mengalami perubahan sifat. Ini terjadi ketika ia meninggalkan sumbernya karena berinteraksi degan permukaan yang dilalui yang mengubah kestabilan dan berinteraksi dengan massa udara lainnya. Ketika bergerak menuju ekuator, massa udara A akan mendapatkan pemanasan dari bawah (suplai uap air dari permukaan yang hangat dan basah) sehingga menjadi tidak stabil sehingga bisa timbul awan besar. Jika ia bergabung dengan aliran mensiklon maka udara menjadi makin tidak stabil dan perawanan yang menghasilkan hujan curah (shower) makin bertambah. Namun yang sering terjadi adalah bahwa massa udara ini bergabung dengan aliran mengantisiklon sehingga pertumbuhan vertikal awan terbatasi walaupun dia mendapat suplai pemanasan dari bawah.
Sebaliknya massa udara mT yang bergerak menuju kutub di musim dingin cenderung makin stabil sehingga yang terbentuk hanya awan-awan jenis stratus. Sedangkan di musim panas, di atas daratan di lintang rendah, massa udara ini menjadi makin tidak stabil sehingga terbentuk awan-awan kumulus (Cu), hujan curah dan badai guntur.
Cuaca dalam suatu daerah bergantung pada berbagai sifat massa udara yang melaluinya terutama kestabilan dan kandungan uap airnya. Umumnya massa udara maritim memiliki perawanan dan hujan curah yang lebih besar, sedangkan massa udara continental cenderung membawa sifat cerah pada daerah yang dilaluinya.
Meskipun pada sebagian besar waktu, cuaca pada suatu tempat ditentukan oleh sifat massa udara yang berkuasa atau menyelimuti wilayah tersebut, namun cuaca sangat buruk sering berhubungan dengan interaksi dari dua massa udara yang bertemu (front) khususnya di batas pertemuan kedua massa udara tersebut. Indonesia tidak dilalui oleh front ini.
OK segini dulu ya. Nantikan cerita selanjutnya ...
Dengan demikian, agar terbentuk suatu massa udara maka udara harus diam atau bergerak untuk waktu yang lama dan terdapat di atas daerah yang luas yang memiliki sifat seragam. Sifat dan tingkat keseragaman tersebut bergantung pada sumber massa udara, riwayat (modifikasi) massa udara dan waktu hidup massa udara. Pembentukan massa udara yang seragam dapat diperoleh melalui proses percampuran dan radiatif yang memerlukan waktu selama 3-7 hari.
Massa udara juga bisa mengalamai perubahan baik akibat proses termodinamik maupun proses dinamik. Proses termodinamik seperti misalnya pemanasan/ pendinginan permukaan dan penambahan/ hilangnya kelembapan. Sedangkan proses dinamik misalnya adalah percampuran turbulen dan pengangkatan/ penurunan skala besar.
Massa udarapun juga bisa diklasifikasikan didasarkan pada daerah sumber dan jenis permukaannya. Terdapat 4 klasifikasi dasar dari massa udara, yakni continental (c) yang secara tipikal kelembapannya rendah, maritime (m) yang kandungan uap airnya tinggi, polar (P)yang sifatnya dingin dan tropikal (T) yang sifatnya hangat. Dari keempat tipe dan sifat permukaan di atas, terdapat 4 kombinasi yakni continental polar (cP), continental tropic (cT), maritime polar (mP), dan maritime tropic (mT). Ada lagi tambahan jenis massa udara yakni Arctic (A) yang sifatnya sangat dingin dan sering tidak bisa dibedaan dengan massa udara polar (kutub) di dekat permukaan. Massa udara ini berasal lebih banyak dari atas tutupan es kutub daripada massa daratan lintang tinggi. Oleh karena itu terdapat 2 lagi tambahan massa udara yakni continental arctic (cA) dan maritime arctic (mA). Beberapa skema klasifikasi menambahkan indikasi pada udara tersebut yakni warmer (w) dan cooler (k) setelah nama massa udaranya, seperti misalnya cPk (continental polar cooler) dan mPw (maritime polar warmer). Sifat-sifat masing-masing massa udara ini sesuai dengan namanya. Oleh karena itu untuk mengetahui sifat-sifat masing-masing massa udara dengan lebih detail dipersilahkan para pembaca mencari referensi untuk itu.
Massa udara arctic terasakan sampai ketinggian 650 mb, cP dan mP terasakan sampai beberapa milibar di atas ketinggian A. Massa udara mT terasakan sampai ketinggian hampir 500 mb sedangkan cT kurang lebih terasakan sampai ketinggian 700 mb. Di antara semua massa udara tersebut, massa udara A mempunyai kadar kebasahan yang paling rendah dan mT adalah yang paling tinggi kadar kelembapannya.
Seperti telah disebut di atas, massa udara bisa mengalami perubahan sifat. Ini terjadi ketika ia meninggalkan sumbernya karena berinteraksi degan permukaan yang dilalui yang mengubah kestabilan dan berinteraksi dengan massa udara lainnya. Ketika bergerak menuju ekuator, massa udara A akan mendapatkan pemanasan dari bawah (suplai uap air dari permukaan yang hangat dan basah) sehingga menjadi tidak stabil sehingga bisa timbul awan besar. Jika ia bergabung dengan aliran mensiklon maka udara menjadi makin tidak stabil dan perawanan yang menghasilkan hujan curah (shower) makin bertambah. Namun yang sering terjadi adalah bahwa massa udara ini bergabung dengan aliran mengantisiklon sehingga pertumbuhan vertikal awan terbatasi walaupun dia mendapat suplai pemanasan dari bawah.
Sebaliknya massa udara mT yang bergerak menuju kutub di musim dingin cenderung makin stabil sehingga yang terbentuk hanya awan-awan jenis stratus. Sedangkan di musim panas, di atas daratan di lintang rendah, massa udara ini menjadi makin tidak stabil sehingga terbentuk awan-awan kumulus (Cu), hujan curah dan badai guntur.
Cuaca dalam suatu daerah bergantung pada berbagai sifat massa udara yang melaluinya terutama kestabilan dan kandungan uap airnya. Umumnya massa udara maritim memiliki perawanan dan hujan curah yang lebih besar, sedangkan massa udara continental cenderung membawa sifat cerah pada daerah yang dilaluinya.
Meskipun pada sebagian besar waktu, cuaca pada suatu tempat ditentukan oleh sifat massa udara yang berkuasa atau menyelimuti wilayah tersebut, namun cuaca sangat buruk sering berhubungan dengan interaksi dari dua massa udara yang bertemu (front) khususnya di batas pertemuan kedua massa udara tersebut. Indonesia tidak dilalui oleh front ini.
OK segini dulu ya. Nantikan cerita selanjutnya ...
Monday, April 19, 2010
Kalau gunung api Islandia bikin ulah
Inilah dampaknya jika suatu gunung api sedang demam dan batuk-batuk. Asap yang membawa debu mengepul ke angkasa membentuk awan tebal yang hitam. Tidak saja mengganggu pemandangan, namun pernafasan bahkan transportasipun terpengaruh. Kejadian gunung meletus di Islandia beberapa waktu yang lalu makin membuktikan bahwa gunung api tidak bisa begitu saja dapat dianggap remeh dalam mempengaruhi stabilitas dan visibilitas atmosfer. Ribuan penerbangan dari dan menuju negara-negara Eropa dibatalkan gara-gara debu ini. Bisa dibayangkan berapa trilyun rupiah kerugian akibat debu ini.
Gunung api di Islandia yang terletak di lintang tinggi dekat kutub utara tersebut terutama dirasakan dampaknya di negara-negara pada arah selatan sampai timur negera tersebut. Ini dapat dipahami karena angin yang berkuasa di sekitar lintang tersebut berarah tersebut. Pembentukan perawananpun bisa terjadi meskipun tidak sebesar di daerah ekuator tropis. Massa udara kutub dan arctic mempengaruhi pola sebaran debu gunung tersebut.
Apakah debu gunung tersebut mempengaruhi suhu dalam jangka panjang di benua Eropa atau tempat lain, tampaknya memerlukan penelitian lebih lanjut. Kalau dilihat bahwa jumlah debu yang dilontarkan ke atmosfer tidak mencapai ribuan kilometer kubik, barangkali tidak akan banyak berdampak pada temperatur udara di Eropa/ belahan dunia lainnya meskipun debu tersebut disebarkan di lapisan stratosfer yang stabil. Berbeda dengan letusan Krakatau (1883) dan Tambora yang debunya menjulang ke atmosfer setinggi 25 km dalam jumlah besar (ratusan dan ribuan kilometer kubik) sehingga mempengaruhi suhu bumi.
Gunung api di Islandia yang terletak di lintang tinggi dekat kutub utara tersebut terutama dirasakan dampaknya di negara-negara pada arah selatan sampai timur negera tersebut. Ini dapat dipahami karena angin yang berkuasa di sekitar lintang tersebut berarah tersebut. Pembentukan perawananpun bisa terjadi meskipun tidak sebesar di daerah ekuator tropis. Massa udara kutub dan arctic mempengaruhi pola sebaran debu gunung tersebut.
Apakah debu gunung tersebut mempengaruhi suhu dalam jangka panjang di benua Eropa atau tempat lain, tampaknya memerlukan penelitian lebih lanjut. Kalau dilihat bahwa jumlah debu yang dilontarkan ke atmosfer tidak mencapai ribuan kilometer kubik, barangkali tidak akan banyak berdampak pada temperatur udara di Eropa/ belahan dunia lainnya meskipun debu tersebut disebarkan di lapisan stratosfer yang stabil. Berbeda dengan letusan Krakatau (1883) dan Tambora yang debunya menjulang ke atmosfer setinggi 25 km dalam jumlah besar (ratusan dan ribuan kilometer kubik) sehingga mempengaruhi suhu bumi.
Saturday, April 10, 2010
Adakah hubungan gempa bumi dengan cuaca dan iklim?
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin sering negara kita diguncang gempa bumi baik dengan intensitas kecil maupun besar. Bahkan semakin sering pula gempa bumi ini terjadi di dasar laut dan menimbulkan tsunami. Gempa bumi yang menimbulkan tsunami besar yang melanda Aceh merupakan peristiwa paling memilukan dalam sejarah gempa bumi di Indonesia. Ribuan orang melayang jiwanya,belum lagi kerusakan bangunan dan harta benda yang tak terkira jumlah dan besarnya. Sampai sekarangpun masih cukup banyak masyarakat yang trauma terhadap peristiwa ini, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di negara-negara lain yang kala itu (Desember 2004) terlanda tsunami.
Di Indonesia setiap kali ada gempa bumi, masyarakat pantai sudah semakin sadar untuk melakukan penyelamatan jiwa dengan melarikan diri ke wilayah yang lebih tinggi dan jauh dari pantai. Berita dan peringatan dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) makin sering terdengar dan terbaca dari media massa televisi dan radio. Ini tentu saja merupakan berita yang menggembirakan karena masyarakat sudah makin menyadari pentingnya informasi tentang gempa bumi dan tsunami. Kalangan pejabat baik pusat maupun daerah juga telah mendapatkan layanan khusus berita tentang gempa bumi dan tsunami dari BMKG, yang bisa pula diakses oleh masyarakat luas.
Semakin seringnya terjadi gempa bumi khususnya tektonik untuk kalangan awam tertentu menimbulkan pertanyaan: apakah hal ini ada kaitannya dengan cuaca dan iklim dunia yang selama ini dipercaya mengalami perubahan. Tentu saja merupakan informasi yang mengada-ada jika ada yang menyatakan terdapat hubungan antara gempa bumi dengan peristiwa di atmosfer yakni cuaca dan iklim. Sama sekali tidak ada kaitan antara peristiwa di dalam bumi tersebut (gempa bumi tektonik) dengan cuaca dan iklim yang berada di permukaan bumi khususnya pada lapisan gas/ atmosfer. Peristiwa gempa bumi tektonik tidak berpengaruh pada cuaca dan iklim bumi dan sebaliknya. Bagaimana pula dengan gempa bumi vulkanik; apakah ada dampaknya pada cuaca dan iklim? Sama juga seperti gempa bumi tektonik; gempa bumi vulkanik juga tidak berdampak pada cuaca dan iklim. Yang berdampak pada cuaca dan iklim adalah jika gunung api yang meletus tersebut memuntahkan material ke atmosfer dalam jumlah banyak, yang bisa mencapai jutaan kubik ton material, sehingga dapat menutupi atmosfer dalam waktu lama. Apalagi jika material tersebut sampai mencapai lapisan stratosfer, maka bisa berdampak pada cuaca dan iklim dunia. Kita tentunya pernah mendengar letusan gunung Tambora di Indonesia, gunung Pinatubo di Philippina, dan gunung El Chichon di Meksiko yang berdampak pada cuaca dan iklim dunia. Musim panas yang dingin di Amerika bagian utara terjadi ketika gunung Tambora meletus; tak lain karena material yang dimuntahkan gunung tersebut diterbangkan oleh angin dan terbawa dalam sirkulasi udara di lapisan stratosfer sehingga menutupi sebagian atmosfer Amerika bagian utara sehingga radiasi matahari terhalang untuk sampai ke permukaan bumi.
Di Indonesia setiap kali ada gempa bumi, masyarakat pantai sudah semakin sadar untuk melakukan penyelamatan jiwa dengan melarikan diri ke wilayah yang lebih tinggi dan jauh dari pantai. Berita dan peringatan dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) makin sering terdengar dan terbaca dari media massa televisi dan radio. Ini tentu saja merupakan berita yang menggembirakan karena masyarakat sudah makin menyadari pentingnya informasi tentang gempa bumi dan tsunami. Kalangan pejabat baik pusat maupun daerah juga telah mendapatkan layanan khusus berita tentang gempa bumi dan tsunami dari BMKG, yang bisa pula diakses oleh masyarakat luas.
Semakin seringnya terjadi gempa bumi khususnya tektonik untuk kalangan awam tertentu menimbulkan pertanyaan: apakah hal ini ada kaitannya dengan cuaca dan iklim dunia yang selama ini dipercaya mengalami perubahan. Tentu saja merupakan informasi yang mengada-ada jika ada yang menyatakan terdapat hubungan antara gempa bumi dengan peristiwa di atmosfer yakni cuaca dan iklim. Sama sekali tidak ada kaitan antara peristiwa di dalam bumi tersebut (gempa bumi tektonik) dengan cuaca dan iklim yang berada di permukaan bumi khususnya pada lapisan gas/ atmosfer. Peristiwa gempa bumi tektonik tidak berpengaruh pada cuaca dan iklim bumi dan sebaliknya. Bagaimana pula dengan gempa bumi vulkanik; apakah ada dampaknya pada cuaca dan iklim? Sama juga seperti gempa bumi tektonik; gempa bumi vulkanik juga tidak berdampak pada cuaca dan iklim. Yang berdampak pada cuaca dan iklim adalah jika gunung api yang meletus tersebut memuntahkan material ke atmosfer dalam jumlah banyak, yang bisa mencapai jutaan kubik ton material, sehingga dapat menutupi atmosfer dalam waktu lama. Apalagi jika material tersebut sampai mencapai lapisan stratosfer, maka bisa berdampak pada cuaca dan iklim dunia. Kita tentunya pernah mendengar letusan gunung Tambora di Indonesia, gunung Pinatubo di Philippina, dan gunung El Chichon di Meksiko yang berdampak pada cuaca dan iklim dunia. Musim panas yang dingin di Amerika bagian utara terjadi ketika gunung Tambora meletus; tak lain karena material yang dimuntahkan gunung tersebut diterbangkan oleh angin dan terbawa dalam sirkulasi udara di lapisan stratosfer sehingga menutupi sebagian atmosfer Amerika bagian utara sehingga radiasi matahari terhalang untuk sampai ke permukaan bumi.
Wednesday, April 7, 2010
Cuaca, iklim dan penerbangan
Sebagian dari kita tentu telah pernah naik pesawat terbang, bukan? Tentu kita tahu (semoga!) bahwa pesawat terbang tersebut tidak akan diterbangkan dalam kondisi cuaca tidak memungkinkan misal cuaca buruk sehingga tidak aneh jika saat bandara dan sekitarnya diselimuti kabut tebal, pesawat akan mengalami delay.
Penerapan meteorologi dan klimatologi terhadap dunia penerbangan sebenarnya dimulai dari ketika pembangunan lapangan terbang/ bandara. Dengan menganggap perlunya bandara di bangun di suatu tepat, lokasi terbaik bergantung pada sejumlah faktor yang saling berhubungan. Tinggi permukaan daratan dari permukaan laut, tidak adanya halangan di sekitarnya, akses ke pusat kota relatif mudah merupakan faktor-faktor yang diperhatikan. Namun tentu saja aspek penting yang ditinjau adalah iklim di wilayah tersebut. Faktor-faktor yang disebut tadi bisa merupakan faktor yang berkaitan dengan angin dan visibilitas/ jarak pandang horizontal. Kabut lebih sering terbentuk di wilayah lembah yang luas,dan jika lokasi bandara terdapat pada sisi gunung dimana terdapat industri-industri yang banyak mengeluarkan asap maka visibilitas akan makin terganggu. Pengetahuan tentang iklim di suatu lokasi memungkinkan kita untuk mengurangi dampak yang mungkin ditimbulkan oleh adanya cuaca dan iklim yang merugikan seperti visibilitas yang rendah, turbulensi, badai guruh, geser angin, dan downburst. Angin menentukan orientasi terbaik landas pacu agar pesawat terbang dapat lepas landas dan mendarat dengan selamat. Arah dan laju angin (kecepatan) rata-rata perlu dipertimbangkan dan angin yang datang dari banyak arah namun tidak dominan tidak banyak mempengaruhi pesawat apalagi yang berbadan besar. Jika suatu lokasi sedang tidak cocok untuk tempat pendaratan misal cuaca sedang buruk, biasanya pesawat akan mendarat di bandara di sekitarnya (bandara alternatif).
Sebelum dan selama penerbanganpun, seorang pilot dibekali dengan informasi cuaca di bandara dan sekitarnya, dalam jalur penerbangan dan di lokasi tujuan. Pilot yang benar-benar profesional tidak akan berani menerbangkan pesawat jika mendapatkan informasi cuaca yang diperkirakan akan membahayakan penumpang. Telah ratusan kali kejadian pesawat terbang jatuh akibat fenomena cuaca di dunia ini. Oleh karena itu informasi cuaca merupakan informasi yang sangat penting dalam dunia penerbangan.
Ketinggian penerbangan juga diperhatikan agar pesawat tidak terlalu dipengaruhi oleh fenomena cuaca khususnya perawanan, turbulensi, downburst dsj. Semua jenis pesawat menghindari awan-awan jenis Cumulonimbus. Bahkan beberapa tahun yang lalu, Concord sempat beberapa waktu selalu terbang pada lapisan stratosfer. Namun mengingat dampaknya pada pencemaran di lapisan tersebut dan kemungkinan perusakan ozone maka kemudian dibekukan penerbangannya.
Penerapan meteorologi dan klimatologi terhadap dunia penerbangan sebenarnya dimulai dari ketika pembangunan lapangan terbang/ bandara. Dengan menganggap perlunya bandara di bangun di suatu tepat, lokasi terbaik bergantung pada sejumlah faktor yang saling berhubungan. Tinggi permukaan daratan dari permukaan laut, tidak adanya halangan di sekitarnya, akses ke pusat kota relatif mudah merupakan faktor-faktor yang diperhatikan. Namun tentu saja aspek penting yang ditinjau adalah iklim di wilayah tersebut. Faktor-faktor yang disebut tadi bisa merupakan faktor yang berkaitan dengan angin dan visibilitas/ jarak pandang horizontal. Kabut lebih sering terbentuk di wilayah lembah yang luas,dan jika lokasi bandara terdapat pada sisi gunung dimana terdapat industri-industri yang banyak mengeluarkan asap maka visibilitas akan makin terganggu. Pengetahuan tentang iklim di suatu lokasi memungkinkan kita untuk mengurangi dampak yang mungkin ditimbulkan oleh adanya cuaca dan iklim yang merugikan seperti visibilitas yang rendah, turbulensi, badai guruh, geser angin, dan downburst. Angin menentukan orientasi terbaik landas pacu agar pesawat terbang dapat lepas landas dan mendarat dengan selamat. Arah dan laju angin (kecepatan) rata-rata perlu dipertimbangkan dan angin yang datang dari banyak arah namun tidak dominan tidak banyak mempengaruhi pesawat apalagi yang berbadan besar. Jika suatu lokasi sedang tidak cocok untuk tempat pendaratan misal cuaca sedang buruk, biasanya pesawat akan mendarat di bandara di sekitarnya (bandara alternatif).
Sebelum dan selama penerbanganpun, seorang pilot dibekali dengan informasi cuaca di bandara dan sekitarnya, dalam jalur penerbangan dan di lokasi tujuan. Pilot yang benar-benar profesional tidak akan berani menerbangkan pesawat jika mendapatkan informasi cuaca yang diperkirakan akan membahayakan penumpang. Telah ratusan kali kejadian pesawat terbang jatuh akibat fenomena cuaca di dunia ini. Oleh karena itu informasi cuaca merupakan informasi yang sangat penting dalam dunia penerbangan.
Ketinggian penerbangan juga diperhatikan agar pesawat tidak terlalu dipengaruhi oleh fenomena cuaca khususnya perawanan, turbulensi, downburst dsj. Semua jenis pesawat menghindari awan-awan jenis Cumulonimbus. Bahkan beberapa tahun yang lalu, Concord sempat beberapa waktu selalu terbang pada lapisan stratosfer. Namun mengingat dampaknya pada pencemaran di lapisan tersebut dan kemungkinan perusakan ozone maka kemudian dibekukan penerbangannya.
Friday, April 2, 2010
El Nino sampai pertengahan tahun 2010
Setidaknya itulah yang dikemukakan oleh WMO (World Meteorological Organization) beberapa hari yang lalu. Sebenarnya informasi serupa juga jauh-jauh hari sudah dikemukakan oleh NOAA Amerika Serikat. Indonesia yang cukup tanggap dengan adanya informasi tersebut dan dengan adanya pengalaman akan dampak EL Nino di Indonesia, sudah mengingatkan masyarakat akan dampak yang mungkin ditimbulkannya. Bahkan sampai Presiden sendiri menginstruksikan kepada para menteri kabinetnya serta seluruh masyarakat Indonesia untuk siap sedia mengantisipasi datangnya EL Nino berupa kekeringan. Namun alam tetaplah alam ... meskipun telah diprediksi akan kemunculan EL Nino dalam intensitas sedang (bahkan sampai hari ini sudah mulai meluruh) dan kemungkinan dampaknya pada musim kemarau yang panjang di Indonesia serta memendeknya musim hujan, namun tetap saja tidak terprediksi bahwa musim hujan kali ini "biasa-biasa" saja. Dipole mode yang ada di samudra Hindia menunjukkan pola negatif yang memberikan dampak pada peningkatan curah hujan. Jadilah interaksi yang demikian kompleks dengan berbagai fenomena lain menyebabkan curah hujan kali ini "normal-normal" saja (baca posting sebelumnya: "El Nino sedang kok Bandung hujan terus ya ...").
Meskipun informasi El Nino kali ini dampaknya tidak separah yang diduga, namun peringatan Presiden SBY beberapa waktu yang lalu tetap harus diperhatikan. Kita masih belum paham betul terhadap perilaku alam ini. Informasi yang sepotong-sepotong tentang fenomena cuaca, iklim dan alam lainnya hendaknya dihindari. Masyarakat hendaknya disadarkan bahwa fenomena cuaca, iklim dan fenomena alam tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Ada rangkaian sebab akibat yang kadangkala ilmu pengetahuan sampai saat ini belum mampu menjelaskannya. Ini merupakan tantangan kita bersama khususnya dunia pendidikan dalam menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pengetahuan alam khususnya bidang meteorologi, klimatologi dan geofisika.
Meskipun informasi El Nino kali ini dampaknya tidak separah yang diduga, namun peringatan Presiden SBY beberapa waktu yang lalu tetap harus diperhatikan. Kita masih belum paham betul terhadap perilaku alam ini. Informasi yang sepotong-sepotong tentang fenomena cuaca, iklim dan alam lainnya hendaknya dihindari. Masyarakat hendaknya disadarkan bahwa fenomena cuaca, iklim dan fenomena alam tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Ada rangkaian sebab akibat yang kadangkala ilmu pengetahuan sampai saat ini belum mampu menjelaskannya. Ini merupakan tantangan kita bersama khususnya dunia pendidikan dalam menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pengetahuan alam khususnya bidang meteorologi, klimatologi dan geofisika.
Saturday, March 20, 2010
Dampak urbanisasi pada iklim kota
Kota merupakan tempat dimana orang-orang berkumpul karena memberikan kesempatan yang lebih untuk memperoleh kesenangan hidup. Ini definisi saya lho ... mungkin rekan-rekan dari Planologi tidak setuju dengan definisi saya tersebut ... ya monggo saja. Akibat aktivitas manusia dalam konsentrasi yang besar menyebabkan polutan juga meningkat. Area urban tidak sama dengan area rural khususnya dalam materi permukaan, bentuk permukaan, sumber panas dan kebasahan. Hal-hal ini mempengaruhi pada radiasi, visibilitas (jarak pandang horisontal), temperatur, angin, kelembapan, perawanan dan presipitasi.
Konsentrasi polutan di udara di wilayah urban akan membuat aerosol (partikulat di atmosfer) mempengaruhi insolasi (incoming solar radiation). Aerosol ini berkembang dengan baik saat udara stabil, calm, angin berkecepatan rendah. Urbanisasi menyumbang artikel solid polutan 10 kali lipat lebih daripada lingkungan rural; bahkan polutan berwujud gas bisa lebih dari 25%. Tutupan awan dan curah hujan juga 5-10% lebih besar di daerah urban daripada di daerah rural. Temperatur rata-rata tahunan daerah urban juga lebih besar 0.5 sampai 1oC dibanding daerah rural. Kelembapan relatif di lingkungan urban lebih rendah 2-8% dibanding lingkungan rural. Laju angin rata-rata tahunan urban 20-30% lebih kecil dibanding di rural. Sedangkan angin calm di lingkungan urban lebih besar 5-20% dibanding di rural. Ini menurut Critchfield tahun 1979. Sayang saya belum menemukan referensi terbaru masalah ini ... mungkin anda punya (?) ... beritahu saya ya; terimakasih sebelumnya.
Pulau panas (heat island)pada kota-kota besar terbentuk dimana ukuran dan bentuknya tergantung dari morphologi urban, bangunan-bangunan dan industri-industri yang mempengaruhi simpanan dan pembangkitan panas urban. Temperatur umumnya tertinggi di pusat kota dan menurun secara bertahap ke daerah pinggiran atau rural. Perbedaan temperatur ini umumnya terlihat dengan jelas pada malam hari. Jarak antar gedung dan macam serta jumlah aktivitas juga memnegaruhi perkembangan pulau panas. Akibat efek selimut polutan pada bujet radiasi matahari menyebabkan variasi temperatur di urban juga lebih kecil dibanding di rural atau sekitarnya.
Pulau panas juga membangkitkan sirkulasi udaranya sendiri. Pada permukaan, aliran udara dari rural menuju ke pusat urban sedangkan di lapisan udara atasnya terjadi aliran sebaliknya. Udara di pusat urban naik, sedangkan aliran udara turun terjadi di wilayah rural sehingga membentuk sirkulasi. Kecenderungan udara naik di pusat urban inilah kemungkinan yang bisa menjelaskan mengapa perawanan di urban lebih besar dibanding rural. Mengingat kota juga merupakan sumber inti kondensasi yang baik, maka awan yang menghasilkan hujan/ presipitasi juga berkembang dengan lebih baik. Barangkali inilah yang terjadi di setiap kejadian hujan di jalan Pasteur, Bandung ya ...
Konsentrasi polutan di udara di wilayah urban akan membuat aerosol (partikulat di atmosfer) mempengaruhi insolasi (incoming solar radiation). Aerosol ini berkembang dengan baik saat udara stabil, calm, angin berkecepatan rendah. Urbanisasi menyumbang artikel solid polutan 10 kali lipat lebih daripada lingkungan rural; bahkan polutan berwujud gas bisa lebih dari 25%. Tutupan awan dan curah hujan juga 5-10% lebih besar di daerah urban daripada di daerah rural. Temperatur rata-rata tahunan daerah urban juga lebih besar 0.5 sampai 1oC dibanding daerah rural. Kelembapan relatif di lingkungan urban lebih rendah 2-8% dibanding lingkungan rural. Laju angin rata-rata tahunan urban 20-30% lebih kecil dibanding di rural. Sedangkan angin calm di lingkungan urban lebih besar 5-20% dibanding di rural. Ini menurut Critchfield tahun 1979. Sayang saya belum menemukan referensi terbaru masalah ini ... mungkin anda punya (?) ... beritahu saya ya; terimakasih sebelumnya.
Pulau panas (heat island)pada kota-kota besar terbentuk dimana ukuran dan bentuknya tergantung dari morphologi urban, bangunan-bangunan dan industri-industri yang mempengaruhi simpanan dan pembangkitan panas urban. Temperatur umumnya tertinggi di pusat kota dan menurun secara bertahap ke daerah pinggiran atau rural. Perbedaan temperatur ini umumnya terlihat dengan jelas pada malam hari. Jarak antar gedung dan macam serta jumlah aktivitas juga memnegaruhi perkembangan pulau panas. Akibat efek selimut polutan pada bujet radiasi matahari menyebabkan variasi temperatur di urban juga lebih kecil dibanding di rural atau sekitarnya.
Pulau panas juga membangkitkan sirkulasi udaranya sendiri. Pada permukaan, aliran udara dari rural menuju ke pusat urban sedangkan di lapisan udara atasnya terjadi aliran sebaliknya. Udara di pusat urban naik, sedangkan aliran udara turun terjadi di wilayah rural sehingga membentuk sirkulasi. Kecenderungan udara naik di pusat urban inilah kemungkinan yang bisa menjelaskan mengapa perawanan di urban lebih besar dibanding rural. Mengingat kota juga merupakan sumber inti kondensasi yang baik, maka awan yang menghasilkan hujan/ presipitasi juga berkembang dengan lebih baik. Barangkali inilah yang terjadi di setiap kejadian hujan di jalan Pasteur, Bandung ya ...
Friday, March 12, 2010
El Nino moderat kok Bandung hujan terus ya ??
Pertanyaan semacam itu wajar-wajar saja. Selama ini dikenal bahwa El Nino membawa dampak pada penurunan curah hujan di Indonesia. Perawanan yang terbentuk di wilayah Indonesia akan bergeser ke timur ke arah samudra Pasifik sehingga umumnya Indonesia mengalami kekeringan dan musim hujan yang pendek. Itupun wilayahnya bervariasi. Wilayah tipe monsoonal lebih kuat dipengaruhi oleh kejadian El Nino ini, sedangkan yang mempunyai tipe curah hujan ekuatorial kurang dipengaruhi. Wajar saja bila Bandung pada kondisi El Nino mengalami kekeringan. Tapi kenapa kali ini justru walaupun El Nino menunjukkan intensitas sedang, tetapi Bandung kok hujan terus ... bahkan terjadi banjir di wilayah selatan? Ini dikarenakan kondisi curah hujan di Bandung tidak hanya dipengaruhi oleh El Nino saja. Kita tahu bahwa terdapat 3 sirkulasi atmosfer yang berdampak pada kondisi cuaca dan iklim di Indonesia. Sirkulasi tersebut adalah sirkulasi Walker yang berarah zonal, sirkulasi Hadley yang berarah meridional dan sirkulasi lokal. Dalam arah timur-barat terdapat fenomena seperti El Nino/ La Nina, Dipole Mode, Pacific Decadal Oscillation, Madden-Julian Oscillation, QBO, gelombang Kelvin, gelombang Rossby-gravity dll. Sedangkan dalam arah utara-selatan terdapat fenomena monsoon, seruak dingin,dll. Sirkulasi lokal yang dimaksud adalah seperti angin darat, angin laut, angin lembah, angin gunung, dll. Fenomena-fenomena tersebut dapat dilihat dengan jelas dari analisa sinyal curah hujan. Interaksi yang sangat kompleks dari fenomena-fenomena (masing-masing fenomena tidak berdiri sendiri) itulah yang menyebabkan cuaca (baca: curah hujan) semakin sulit untuk diprediksi. Meskipun telah diketahui sejak lama bahwa El Nino dengan kekuatan sedang membawa dampak kekeringan namun kali ini kekeringan ini tidak terjadi. Barangkali juga akibat pemanasan global, fenomena ini terjadi. Kita belum tahu bagaimana interaksi yang kompleks antara pemanasan global ini dengan ketiga sirkulasi ini. Namun paling tidak, kita telah "ketahui" bagaimana dampak pemanasan global pada cuaca dan iklim dunia berdasar laporan IPCC.
Saturday, March 6, 2010
Telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri
Mengamati perkembangan musik di tanah air sangatlah membanggakan hati. Tak ada kata-kata yang cukup untuk dapat menggambarkan bahagianya hati ini. Musik Indonesia telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Hampir tidak dapat dijumpai lagu-lagu barat dalam kancah dunia musik yang disiarkan televisi. Kotak ajaib ini benar-benar mengekspos dunia musik Indonesia dari musik yang dimainkan oleh band-band yang tidak begitu dikenal sampai yang sudah sangat dikenal masyarakat seperti Peterpan, Wali, ST12, Gigi,dll. Apresiasi masyarakat terhadap dunia musik juga luar biasa. Gelora dan hasrat generasi muda untuk mempelajari musik dan dunia tarik suara membumbung tinggi. Sebagian artis dan aktor sinetron dan film ramai-ramai mempelajari dan mengembangkan bakatnya di dunia hingar bingar ini.
Tapi di sisi lain, terselip kesedihan melihat begitu terpuruknya lagu anak-anak. Kita jumpai banyak anak lebih fasih menyanyikan lagu-lagu dewasa yang bertutur tentang percintaan daripada lagu anak-anak seperti waktu era jaya-jayanya Papa T Bob, misalnya. Kita lihat acara lomba anak-anak di stasiun televisi, anak-anak menyanyikan lagu-lagu dewasa tanpa diubah sedikitpun syairnya. Anak-anak "dipaksa" untuk mengerti lebih dini tentang kisah-kisah orang dewasa. Apa jadinya anak-anak kita nanti? Kudengar bahwa tidak berkembangnya industri musik dan lagu anak-anak karena merebaknya dan membudayanya industri bajakan di tanah air. Tampaknya pembajakan ini sangat sulit diberantas karena masyarakat luas sendiri sudah menganggap bahwa bajakan merupakan solusi alternatif yang "wajar" untuk mendapatkan barang dengan kualitas yang serupa dengan cara yang mudah, murah dan terjangkau.
Tapi di sisi lain, terselip kesedihan melihat begitu terpuruknya lagu anak-anak. Kita jumpai banyak anak lebih fasih menyanyikan lagu-lagu dewasa yang bertutur tentang percintaan daripada lagu anak-anak seperti waktu era jaya-jayanya Papa T Bob, misalnya. Kita lihat acara lomba anak-anak di stasiun televisi, anak-anak menyanyikan lagu-lagu dewasa tanpa diubah sedikitpun syairnya. Anak-anak "dipaksa" untuk mengerti lebih dini tentang kisah-kisah orang dewasa. Apa jadinya anak-anak kita nanti? Kudengar bahwa tidak berkembangnya industri musik dan lagu anak-anak karena merebaknya dan membudayanya industri bajakan di tanah air. Tampaknya pembajakan ini sangat sulit diberantas karena masyarakat luas sendiri sudah menganggap bahwa bajakan merupakan solusi alternatif yang "wajar" untuk mendapatkan barang dengan kualitas yang serupa dengan cara yang mudah, murah dan terjangkau.
Sunday, January 3, 2010
Prakiraan cuaca dan iklim sepanjang tahun 2010
Pada tahun 2010 ini cuaca dan iklim akan sedikit banyak mengalami perubahan dibanding waktu-waktu sebelumnya. Dengan berkembangnya El Nino pada intensitas sedang diprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami kekeringan/ musim kemarau yang panjang. Namun bila dipole mode di samudra Hindia berkembang menuju negatif maka kemungkinan dampak El Nino ini bisa teredam, khususnya untuk kawasan Indonesia bagian barat. Sementara itu untuk Indonesia bagian timur, karena pengaruh samudra Pasifik lebih besar dibanding Indonesia bagian barat, maka kekeringan mungkin akan lebih terasakan.
Jikalau Dipole Mode ini sangat negatif, bukan tidak mungkin efeknya lebih terasakan khususnya di pulau Sumatera dan Jawa. Ada kemungkinan banjir di beberapa wilayah di kedua pulau tersebut mengingat meskipun curah hujan kecil namun kondisi lingkungan telah rusak.
Pada pertengahan tahun, ketika El Nino telah reda maka kemungkinan kemarau akan seperti biasa. Hujan tidak banyak terjadi dan kantong-kantong kekeringan seperti biasanya akan mengalami kekeringan. Nusa Tenggara merupakan wilayah yang potensial untuk hal ini. Di sekitar ekuator, curah hujannya mempunyai pola yang agak berbeda dengan daerah yang jauh ke selatan dari ekuator. Pada bulan September dan sekitarnya akan mengalami curah hujan lebih banyak. Di beberapa tempat seperti di Maluku, kemungkinan hujan akan bertambah pada bulan-bulan sekitar Juni-Juli-Agustus sehingga kemungkinan banjir di Maluku dan sekitarnya bisa terjadi. Sementara itu, Indonesia bagian utara ekuator akan banyak terpengaruh oleh El Nino dimana curah hujannya akan berkurang dibanding normalnya. Namun setelah El Nino berlalu maka curah hujan akan kembali normal.
Jikalau Dipole Mode ini sangat negatif, bukan tidak mungkin efeknya lebih terasakan khususnya di pulau Sumatera dan Jawa. Ada kemungkinan banjir di beberapa wilayah di kedua pulau tersebut mengingat meskipun curah hujan kecil namun kondisi lingkungan telah rusak.
Pada pertengahan tahun, ketika El Nino telah reda maka kemungkinan kemarau akan seperti biasa. Hujan tidak banyak terjadi dan kantong-kantong kekeringan seperti biasanya akan mengalami kekeringan. Nusa Tenggara merupakan wilayah yang potensial untuk hal ini. Di sekitar ekuator, curah hujannya mempunyai pola yang agak berbeda dengan daerah yang jauh ke selatan dari ekuator. Pada bulan September dan sekitarnya akan mengalami curah hujan lebih banyak. Di beberapa tempat seperti di Maluku, kemungkinan hujan akan bertambah pada bulan-bulan sekitar Juni-Juli-Agustus sehingga kemungkinan banjir di Maluku dan sekitarnya bisa terjadi. Sementara itu, Indonesia bagian utara ekuator akan banyak terpengaruh oleh El Nino dimana curah hujannya akan berkurang dibanding normalnya. Namun setelah El Nino berlalu maka curah hujan akan kembali normal.
Friday, January 1, 2010
Renungan tahun baru 2010
Tak terasa tahun 2009 telah berlalu. Banyak kejadian yang mengesankan selama tahun tersebut. Di penghujung tahun, marak pembicaraan orang tentang kiamat 2012, kasus cicak-buaya antara KPK dan kepolisian yang mengibarkan nama Bibit-Chandra, kasus Antasari yang terjerat kasus pembunuhan Nasruddin, kasus Prita Mulyasari yang terjerat pelaksanaan UU ITE, dan kasus bank Century.
Hingar bingar peristiwa2 tersebut menyedot perhatian publik sehingga program-program 100 hari kabinet Indonesia bersatu jilid 2 tidak begitu terdengar. Kita tidak tahu seberapa jauh program 100 hari kabinet tersebut terlaksana padahal program2 tersebut sebagai salah satu ukuran keberhasilan program pemerintah untuk 5 tahun ke depan.
Bencana alam juga tidak henti-hentinya melanda negeri tercinta ini. Gempa bumi di beberapa tempat yang menewaskan ribuan orang dan akhir-akhir ii banjir di beberapa tempat menambah derita rakyat negeri ini. Pesawat jatuh akibat cuaca buruk atau kesalahan teknis manusia disamping usia pesawat yang telah lanjut merupakan contoh sederetan peristiwa lain yang menambah sedih relung hati kita.
Peristiwa global semacam KTT perubahan iklim di Kopenhagen Denmark yang masih menyisakan banyak masalah dan tidak menghasilkan kesepakatan yang mengikat secara hukum merupakan peristiwa yang menyesakkan hati kita dan kita harus siap-siap menanggung akibatnya jika tidak ada kesepakatan baru yang mengerem laju perusakan bumi akibat ulah manusia.
Pengetahuan, teknologi dan seni ... semuanya harus diaplikasikan agar umat manusia ke depan dapat menikmati hidupnya dengan lebih tenang, damai, aman dan sejahtera.
Masihkah ada harapan itu untuk tahun 2010 ini? Kita akan melihatnya pada awal 2011 nanti. Semoga harapan itu masih ada!
Hingar bingar peristiwa2 tersebut menyedot perhatian publik sehingga program-program 100 hari kabinet Indonesia bersatu jilid 2 tidak begitu terdengar. Kita tidak tahu seberapa jauh program 100 hari kabinet tersebut terlaksana padahal program2 tersebut sebagai salah satu ukuran keberhasilan program pemerintah untuk 5 tahun ke depan.
Bencana alam juga tidak henti-hentinya melanda negeri tercinta ini. Gempa bumi di beberapa tempat yang menewaskan ribuan orang dan akhir-akhir ii banjir di beberapa tempat menambah derita rakyat negeri ini. Pesawat jatuh akibat cuaca buruk atau kesalahan teknis manusia disamping usia pesawat yang telah lanjut merupakan contoh sederetan peristiwa lain yang menambah sedih relung hati kita.
Peristiwa global semacam KTT perubahan iklim di Kopenhagen Denmark yang masih menyisakan banyak masalah dan tidak menghasilkan kesepakatan yang mengikat secara hukum merupakan peristiwa yang menyesakkan hati kita dan kita harus siap-siap menanggung akibatnya jika tidak ada kesepakatan baru yang mengerem laju perusakan bumi akibat ulah manusia.
Pengetahuan, teknologi dan seni ... semuanya harus diaplikasikan agar umat manusia ke depan dapat menikmati hidupnya dengan lebih tenang, damai, aman dan sejahtera.
Masihkah ada harapan itu untuk tahun 2010 ini? Kita akan melihatnya pada awal 2011 nanti. Semoga harapan itu masih ada!
Subscribe to:
Posts (Atom)