Sabtu, 09 Januari 2016

Negeri tanggap bencana

Wilayah Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai pulau Rote terletak pada kawasan yang rawan bencana alam, baik dari pengaruh dari dalam bumi maupun dari luar permukaan bumi. Istilah geofisik yang keren untuk itu adalah dalam kawasan "rings of fire". Terletak di wilayah retakan-retakan antara lempeng benua dan lempeng samudra yang sangat aktif. Gempa bumi baik akibat gunung api meletus maupun gempa tektonik merupakan peristiwa yang sudah biasa terjadi dan sering menimbulkan kerusakan hebat. Akhir-akhir ini tsunami juga sering terjadi mengingat sesar turun atau naik yang terjadi di patahan-patahan tersebut pada kedalaman episenter kurang dari 10 km yang mempunyai skala Richter lebih dari 5. Peristiwa di atas permukaan bumi tidak kalah serunya. Imbas dari siklon baik di Australia maupun di Philippina sering menyebabkan ombak besar yang sangat mengganggu aktivitas nelayan dan pelayaran baik di wilayah selatan maupun utara negeri. El Nino di samudra Pasifik juga mempunyai dampak yang kurang baik bagi musim di Indonesia. Kekeringan sering terjadi khususnya untuk wilayah yang berpola curah hujan monsoon. Kebalikan dari El Nino adalah peristiwa La Nina yang sering membawa dampak peningkatan curah hujan di tanah air. Banjir, longsor dan banyaknya petir sering mengiringi kejadian La Nina di samudra Pasifik tropis ini. Kombinasi kejadian El Nino dengan Dipole Mode positif akan lebih memperparah kejadian kekeringan di tanah air yang bisa memicu dan memperparah kejadian kebakaran hutan. Sedangkan bila terjadi La Nina dan Dipole Mode negatif maka peluang peningkatan curah hujan yang besar meningkat tajam. Oleh karena itu sudah sewajarnya bila pemerintah kita tanggap akan bencana-bencana yang sering terjadi ini. Penguatan kelembagaan yang terkait dengan bencana alam ini harus makin ditingkatkan dan sosialisasi serta pendidikan publik terkait dengan hal ini juga harus dilaksanakan sejak usia dini. Kesadaran semacam ini sudah harus dibangun  melalui pendidikan formal dan non formal, melalui semua media yang dapat menjangkau masyarakat luas baik di perkotaan maupun tempat-tempat terpencil. Bila hal ini bisa terwujud maka kerugian harta benda dan jiwa akan bisa diminimalisir. Alat-alat early warning system terjaga dari kerusakan dan dari tangan-tangan jahil sehingga ketika saat digunakan dapat berfungsi dengan baik. Sering tidak begitu disadari bahwa kita mampu mengadakan dan membangun sistem peringatan dini namun tidak mampu merawatnya. Sekali lagi, penyadaran masyarakat akan pentingnya alat-alat ini juga harus dibangun. Tanpa keterlibatan aktif mereka, hampir mustahil tujuan mulia tanggap bencana alam akan tercapai.

2 komentar:

  1. Indonesia sangat rentan bencana alam semoga edukasi tentang penangulangan bencana bisa bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga demikian, dimulai dari pendidikan usia dini.

      Hapus